Semoga Pagimu Baik-Baik Saja

Tidakkah kau merasa rindu pada rumah? Atau merindukan sosok yang menunggumu dengan ramah? Aku yakin, kau tak benar-benar menghapusnya dari ingatanmu. Aku menyadari bahwa kau sedikit membencinya, sebab kau tak pernah lagi menemui kehangatannya. Atau kau terlalu sibuk berada di luar, hingga kau terlalu merasa dingin dengan rumah.

Tidakkah kau merasakan berbeda saat sendiri? Benar-benar berada di ruang sepi. Kau hanya menunggu seorang yang tak kunjung datang. Kau hanya dijanjikan sebuah perkara yang tak pernah menjadi nyata. Kau hanya seorang pecundang yang selalu dibodohi keadaan. Tidakkah kau merasa semua ini perlu diakhiri? Apakah kau masih ingin bertahan denan sembilu yang selalu menusuk kalbu?

Sebab aku tak sanggup melihatmu dalam pusara luka. Aku tak ingin kau berlarut dalam waktu yang mencekikmu terus menerus. Aku percaya, bahwa kau lebih dari yang kau lakukan saat ini. Percayalah, langit tak pernah benar-benar melemparmu ke bumi untuk sekadar bercanda. Yakinlah.

Kaulah teman baik. Semoga pagimu baik-baik saja. Seperti malam yang menidurkanmu tanpa sengaja. Lelah yang melelapkanmu tanpa bersusah payah. Tuhan yang bersembunyi meski kau selalu mencari. Aku yang tak pernah peduli meski selalu memenuhi ruang dan waktumu saat ini. Aku yang hanya bisa menulis dan menulis, meski tak pernah sampai padamu. Meski tulisan ini kemudian tertimbun lupa dan luka, hingga aku sendiri menganggapnya telah tiada.

 

Semoga pagimu selalu baik-baik saja.

Solo, 2018

IMG_20171105_193841_566.jpg

Percayalah, langit tidak benar-benar melemparmu ke bumi hanya untuk sekadar bercanda. Aku ada, meski tak pernah terwujud keberadaannya; Tuhan. Selalulah dalam naungan-Nya.

Advertisements

Menimbang Keadilan

Terima kasih, telah memberi pelajaran lebih.

Aku adalah seorang mahasiswi di salah satu universitas negeri di Surakarta. Berbeda dengan mimpiku, yang menginginkan kuliah di Jakarta atau di Bogor. Mungkin ini sudah jalan dari Tuhan, dengan beberapa alasan yang baru kusadari sekarang. Di sini, kemudian aku tuliskan, betapa perihnya hidup sebagai mahasiswa.

Aku adalah penderita edema cerebri. Sejak kelas 3 SMP, aku mulai terjangkiti virus Herpes dan mengakibatkan sistem imun menurun. Kemudian muncullah bengkakkan di pembuluh darah pada otakku. Rasanya benar-benar sakit. Pusing yang tidak terkira, seperti kepala ini akan pecah rasanya. Kemudian, aku dirawat di rumah sakit hampir sebulan lamanya. Mendapat manitol untuk mengurangi pembengkakan ini, yang justru membuat nyeri di pembuluh darah tepat pada jarum infus. Benar-benar sakit. Akhirnya, aku menjalani terapi untuk membersihkan virus itu. Dengan catatan lain, virus memang tidak pernah bisa mati atau hilang. Namun, bisa ditekan pertumbuhannya agar tidak membabi buta. Singkat cerita, aku bersih dari virus kala itu.

Sampai akhirnya, memasuki semester 3 di dunia perkuliahan. Beberapa kali sering terjadi kumat, tapi tidak terlalu gawat. Hanya dikarenakan capek atau kurang istirahat. Terutama ketika menstruasi menjelang. Perubahan hormonal memicu pertumbuhan virus, ditambah lagi dengan kegiatan dan pola makan yang tidak tertata. Hingga suatu saat, aku benar-benar jatuh. Hampir 3 penyakit menyerangku secara bersama-sama dalam satu kurun waktu yang bergantian, berantai. Diawali dengan gastritis, kemudian usus buntu, dan puncaknya adalah penyakit itu lagi. Sampai akhirnya, aku meninggalkan kuliah selama 1 bulan lamanya. Selama itu, tidak sama sekali aku merasa bahagia karena tidak mengerjakan tugas, meninggalkan rapat, meninggalkan kewajiban kepanitiaan, dan lainnya. Selama itu juga, aku terbaring kesakitan di ranjang rumah sakit yang empuk, tapi tak kutemui canda tawa temanku. Selama itu pula, setiap pagi aku selalu bertanya pada Mamaku. Kapan aku pulang, aku ingin sekolah. Dan Mama hanya mengucap kata sabar.

Sampai akhirnya aku kembali pada bangku ruang kuliah. Seminggu sebelum UTS. Kemudian saat salah satu dosen memanggil namaku, sebab absensiku yang hanya terisi 3 kali dari 7 kali. Yang dalam arti lain, absensiku tidak memenuhi persyaratan untuk mengikuti UTS. Dan dosenku telah berkata, kalau nilai UTSku tidak akan keluar. Dan itu terjadi juga pada Wedel, temen satu kosku dan mahasiswa yang sama menderita penyakit edema cerebri.

Kami yang kemudian memperjuangkan nilai UTS itu, dengan jadwal remedial kemarin Kamis. Namun, Selasa kemarin Wedel pulang ke Klaten untuk kontrol rutin. Sayang, hingga hari ini Wedel tidak kembali ke kos. Ternyata, Wedel kembali dirawat di rumah sakit.

Menimbang keadilan. Aku dan Wedel seperti mahasiswa biasa. Ya terkadang kami malas datang ke kelas. Tapi nyatanya, kami tidak pernah titip absen untuk hal-hal menye dan tidak berfaedah. Bahkan hanya untuk kontrol, Wedel melampirkan surat ijin. Menimbang keadilan. Di mana banyak sekali mahasiswa di luar sana, yang terlalu sehat untuk tidak datang ke kelas, terlalu bugar tubuhnya untuk sekadar mendengatkan dosen berbicara, atau berdiri saat presentasi, memilih untuk titip absen hanya untuk hal-hal sepele. Yang akhirnya, nilai mereka tetap keluar tanpa halangan suatu apapun. Sedangkan aku dan Wedel, yang telah siap melampirkan surat ijin asli dari dokter pun tak mampu mencetak nilai kami yang kami perjuangkan di tengah masa penyembuhan untuk datang pada saat ujian. Ini bukanlah sebuah sentilan atau pembanding. Aku menyadari bahwa penyakit ini pun tak bisa memilih siapa inangnya, sebab semua karena rencana Tuhan. Tapi, yang aku sayangkan ialah keadilan yang mana di dunia ini, ketika aku mencoba bertahan hidup dari banyak kesakitan yang bahkan seumur-umur baru aku rasakan saat ini, dan tetap berjuang untuk mengejar nilai. Sedangkan yang lain, dengan keanugrahan yang baik, tapi menyianyiakannya. Dan mengapa, hingga tanpa dosa, mereka melakukannya.

Aku, memang memiliki derita sakit yang tak pernah bisa hilang. Bahkan akan berdampak pada masa depan. Tapi aku yakini, bahwa dengan aku berpasrah dan menyerah, bahkan untuk merancang mimpi pun aku tak berhak, apalagi mewujudkannya. Aku dengan sakit atau tidak sakit, akan tetap beraktivitas, mendulang pengalaman di sana sini, belajar dengan baik dan semampuku. Karena aku sadar, dengan penyakit ini, kinerja otakku pun sering berkurang.

Karena yang kami butuhkan ialah doa dan senyuman. Bahagia bathin lebih baik untuk kesakitan raga.

Cepat sembuh Wedel, cepatlah berkumpul dan makan di kos bersama lagi! Aku di sampingmu, menunggu dan menuntunmu.

Surakarta, 27 November 2017.

Kini aku menghargai yang namanya kesempatan dan kesempitan

Menjawab Pertanyaan

Waktu berjalan cepat. Kita menganggap bahwa langkah kaki ini lebih cepat daripada waktu. Namun, sayang, kita salah. Waktu tak pernah berhenti melaju, sedang kita terkadang atau bahkan lebih banyak meminta kasihan untuk sekadar menghela, istirahat, yang kemudian jadi kemalasan.

Beberapa waktu lalu, Ruri membuat instastory pada akun instagramnya. Yang isinya kurang lebih seperti ini.

Apakah Yuti dan Hera masih menulis di blog untuk mengurangi luka di hatinya?

Dan inilah jawabannya. Izinkan aku menulis bagaimana keadaanku saat ini, yang tertampar habis, terluka hatinya, tercabik batinnya.

Beberapa pekan yang lalu, aku mengikuti lomba menulis di sebuah acara bulan bahasa di universitas impianku. Aku mengikutinya dengan kemampuan yang seadanya. Bahkan aku mengirimkan karya tepat pada pukul 23:59 di menit dan hari terakhir pengumpulan. Doa kupanjatkan lebih lama, lama, dan lama. Kuharap aku bisa menjadi juara. Membanggakan Mama Papa.

Boleh kalian tahu, bahwa alasanku mengikuti lomba menulis di bidang sastra tak lain adalah membuatku lebih produktif, mencari sertifikat, dan yang terpenting ialah membuktikan bahwa mahasiswa Fakultas Kedokteran boleh berpikir secara humaniora dan mampu membuktikan prestasinya. Alasan ini dilandasi oleh kecemburuanku karena pihak BEM Fakultas maupun Dekanat seakan mengapresiasi prestasi-prestasi di bidang keilmiahan dan lomba yang dipresentasikan. Namun, teman-teman bisa tahu sendiri bahwa tidak banyak, bahkan selama aku berkecimpung di dunia sastra secara otodidak, tak pernah menemui lomba sastra yang dipresentasikan, terkecuali musikalisasi puisi dan lomba baca puisi. Oleh sebab itu, aku berusaha semaksimal mungkin untuk membuktikan, bahwa sastra dan kedokteran erat kaitannya seperti keilmuan lainnya. Juga membuktikan, bahwa sastra tetap dapat hidup di manapun juga. Dalam garis besar, aku punya mimpi untuk mensastrakan kedokteran.

Tapi, Tuhan belum menerima kerja kerasku. Takdir memilih nama-nama lain dan aku jatuh lebih buruk. Aku kalah dan mimpiku terbang menghilang. Aku terkesima, di mana banyak orang dengan judul yang sangat baik, bahkan di luar prediksiku. Aku semakin kehilangan mimpi, semakin jauh dari masa depan.

Aku pernah berpikir, aku ingin berhenti dari kebiasaanku saat ini. Seperti aku melupakankebiasaanku sebelumnya, hingga aku mempunyai kebiasaan yang saat ini masih kulakukan. Sempat terpikir, apakah aku salah mengambil keputusan? Apakah jalan yang kulalui tak pernah berarti apapun? Yang kemudian hanya mengombang-ambingkan kemampuan dan waktuku. Apakah aku mesti berhenti menulis?

Kemudian, suatu hari, aku menemukan banyak orang yang setelah malam itu, justru mampu menguatkanku. Mampu membuatku kembali mengatur mimpi dan strategi. Aku kembali dihadapkan pada pilihan dan membuat pilihan, setelahnya mewujudkannya. Aku tersadar, inilah saatnya.

Aku tetap akan menulis, di blog, di akun instagram, di Line, atau di mana saja. Kalah ialah kesempatan untukku berbenah. Jika yang kurasa hanyalah kemenangan, maka aku tak pernah mengenal cara untuk memperbaiki diri. Jika kemudian aku menyerah, aku tak pernah mencapai titik batas kemampuanku yang sebenarnya, yang kudapatkan hanyalah titik terlemah. Jika kemudian aku menganggap ini semua sia-sia belaka, aku tak pernah belajar untuk menghargai, bahkan menghargai diriku sendiri.

Aku pernah mencoba untuk tak pernah bermimpi, tak pernah memiliki tujuan, karena aku mencoba menghindar dari rasa takut akan kekalahan, kegagalan. Tapi, ketika aku mencoba sekali untuk bermimpi dan mencoba terbang menjemputnya. Dan yang kudapat ialah luka, karena terjatuh dari langit. Mengapa? Sesulit inikah bermimpi? Bahkan sebelum mewujudkannya pun, aku telah jatuh. Sesudahnya, aku terluka. Dan tak pernah ada obat luka, selain apa yang kutuliskan di sini. Bersama sakit dan nyeri, juga harapan untukku agar selalu bisa menulis dengan apa adanya, dengan cinta yang tidak seadanya, yang kucinta, yang penuh luka, sedih dan lara. Agar kau semua tahu, aku menulis karena mengobati luka, dan mengucurkan doa.

Suatu ketika kita akan sadar, bahwa bermimpi dan memulai saja itu tidaklah cukup untuk menguatkan mimpi. Tapi menyiapkan diri untuk tidak berkata, “aku gagal, tidak mampu, dan semuanya sia-sia” adalah kebaikan, untuk menghargai diri sendiri, setidaknya mengobati luka di hati.

Karena tanpa menghargai diri sendiri, bahkan kemenangan 1000 kali pun tak pernah berarti.

Terima kasih, telah banyak mengajarkanku untuk kembali rendah hati dan merendah, bukan untuk tiba-tiba meroket. Tapi aku harus membuat roket, yang kemudian akan menerbangkanku. Semoga.

Bulan Bahasa UGM, 2017.

Bersama kawan lama, Ruri, dan Opik. Cinta kalian lebih berharga dari penyesalan dan rasa kecewa akan kegagalan.

Catatan Tengah Semester

Sudah saatnya, aku terbangun dari tidurnya puteri tidur. Sudah waktunya, jangan lagi bergantung pada kebiasaan lama. Kelak, aku akan hidup lebih keras lagi, besok tak ada lagi kenyamanan, bahkan sekadar untuk mengulum senyum pada diri sendiri. Sebab dunia mampu berubah kapan saja, dampaknya pada siapa saja.

Aku tak pernah mampu membayangkan suatu keburukan terjadi, siapa yang ingin hidupnya dirundung sedih? Tapi kenyataan berkata lain, Tuhan berencana lain. Aku tak pernah tahu bagaimana semua hal bisa terjadi semudah waktu berlalu. Silih berganti, sampai aku sendiri tak mampu menyamakan langkah hingga terseok-seok, terluka, bahkan hingga hampir mati. Baiklah, biarkan luka itu membekas. Bukti bahwa hidup memang harus menyisakan sebuah pelajaran. Di sini, aku akan mencatat sedikit yang kulalui, selama setengah semester yang tak tahu sejak kapan terjadi dan pada saat apa diakhiri. Kuharap kau tak pernah meninggalkan laman ini dengan otak kosong tanpa mengambil pelajaran dari tulisanku. Aamiin.

Percayalah, dunia tidak seburuk yang kita semua kira. Keadaan yang menyudutkan kita tidak sepenuhnya bersalah atas kegagalan atau keterpurukan yang menimpa kita. Pun kebahagiaan belum tentu memberi keabadian. Yakinlah, semuanya moderat, ta pernah timpang sebelah.

Suatu hari, aku merasakan posisi terbawah dalam hidup. Posisi di mana yang tak pernah kuinginkan. Tempat di mana mimpi yang tak pernah mau aku wujudkan. Tapi, Tuhan memberi kesempatanku, untuk menyelam lebih jauh. Jauh ke dalam kenyataan yang begitu pahit. Sesungguhnya kekuatan yang sebenarnya, yang mampu membangkitkanku saat itu ialah kebaikan. Kebaikan dari banyak orang yang bahkan tak pernah kusangka. Aku yang kecil hatinya, tak pernah mampu membendung kebahagiaan ini. Cinta dan kasih sayang yang begitu luar biasa dari siapapun saat itu. Begitulah hingga aku mampu kembali berdiri, menatap langit kembali, mengucap syukur padaNya lagi dan terus.

Aku sejatinya hanyalah sajak-sajak yang tersesak antara kata dan rasa. Sisanya, aku hanya cinta yang tiada arti, tiada timbal balik, hanya langit dan sajak yang mampu menerjemahkan itu.

Aku adalah waktu yang mungkin terus melaju, dan meninggalkan banyak kenangan sekejap, tapi mampu menciptakan kerinduan dalam setiap kedip mata. Aku juga waktu, yang entah sejak kapan dimulai, dan tak pernah tahu kapan Tuhan ingin hentikan. Waktu banyak mengubahku menjadi pribadi yang sebelumnya tak pernah memahami diri, menjadi menghargai diriku lebih lagi. Sebab aku pun juga tak pernah tahu, kapan waktu akan memangkas harapan yang kubangun, atau mengganti kebahagiaan orang yang kusayangi dengan tangisan duka. Juga karena waktu seharusnya menjadi batas kemampuan, bukan kesempatan untuk memaksakan. Dan raga ini adalah perantara untuk tumbuh, bukan senjata untuk membunuh.

Aku adalah hujan di tengah siang. Banyak yang menyayangkan datangku. Tapi merindukanku ketika kerontang menyerbu.

Dari hujan atau panas, kering atau basah, mereka adalah aset. Semuanya tak mampu kuberikan, tapi langit berikan dengan cuma-cuma. Pelangi mampu berwarna, sedang mendung tidak sekadar abu-abu. Langit pagi terkadang putih, sering pula biru. Aku selalu mencintai mereka, warna dan suguhan paling indah. Bahkan saat aku terkapar, saat aku tak mampu bernapas. Yang aku takutkan adalah, aku tertidur lebih lama, dan tak kunjung melihat mereka. Apakah mereka juga merindukanku?

Aku ingin menjadi langit. Sungguh. Kekalnya benar, hadirnya tak diragukan, meski langit hanya menjadi tempat terakhir dari persembahan, dari doa, dari kesusahan, dari keterpurukan. Langit jauh dari bahagia, jauh dari senyum dan tawa. Meskipun begitu, langit tak pernah kemudian pergi meninggalkanmu kan? Sampai ia sendiri diruntuhkan Tuhan suatu saat nanti. Sepertiku, yang suatu saat kemarin atau kemudian hari, runtuh dan lebur dalam masanya.

Aku adalah manusia biasa, gadis menjelang dewasa. Masih sering berdosa, kurang berdoa. Aku sadari, aku yakini, bahwa akan lebih banyak lagi kenangan pahit selama tengah semester kemarin. Tapi aku enggan bagi pada kalian dalam kalimat negatif dan menyalahkan keadaan. Sesungguhnya, sesuatu terjadi karena dua belah pihak menyepakatinya; Tuhan dan aku. Keadaan dan lingkungan hanya perantara yang menguatkan keduanya berjanji dan berkongsi.

Catatan Tengah Semester kuakhiri. Meski sedikit, memang. Karena ada banyak yang tak ingin kubagi. Biar kusimpan sendiri bersama Tuhan. Kelak saat aku kembali dan menghadapNya, aku akan tanyakan jika aku belum paham. Seperti sebelumnya, aku berharap kau semua mendapat sedikit atau barang satu kalimat yang mampu mengubah pikiranmu atau membuatmu tersadar. Kita hanyalah sepersil bagian dari kehidupan di dunia. Percayalah, menjadi kecil bukan berarti tak diindahkan. Tuhan selalu ada, dalam hati, pikiran, dan akal. Bahkan mengalir dalam darah, jika kau selalu menyadarinya.

Terakhir. Seperti kata orang baik, yang sedang maju dalam pemilihan sebuah organisasi besar di sebuah kampus ternama, aku selalu ingin menulis kebaikan karena…

Kata-kata adalah kualitas dirimu. Kelak semoga kamu akan mengerti bahwa menahan diri untuk tidak membuat orang lain tersinggung karena lisanmu, adalah lebih mulia daripada sekadar mengutarakan isi hati.

Ya, meskipun dalam kesehariannya ucapanku belum terlampau baik. Maka, seringlah membaca tulisanku. Hehe:)

Surakarta. Masih hujan.

November 2017.

Lirik Kesakitan

Udara malam menyapa

Gelap tak kunjung reda

Cerah tanpa suara

Namun pecah.

Hening hilang

Lepas mengudara teriakan-teriakan

Membumbung tangisan-tangisan

Pinta dia yang kesakitan.

Bekas yang tersisa

Luluh lantak hati ibunda

Hancur rencana dunia

Ia tergolek tak berdaya.

Aku yang kesakitan.

Tuhan tak kunjung ampunkan

Dosa-dosa tetap enak bersemayam

Aku yang hampir menjemput kematian.

Surakarta hingga Klaten,

Bersama Mama yang setia, langit yang kucinta.

Separuh Nikmat Merdeka

Seperti kata banyak orang, bahwa merdeka adalah hal yang mahal. Di dalamnya terkumpul perjuangan, keteguhan, dan tantangan, bahkan korban. Tak luput dari semua jenis kemerdekaan, yang jelas untuk mendapatkannya adalah hal yang sulit, jalannya pun rumit. Tapi kemudian aku berpikir bahwa, bisakah seseorang memenjarakan dirinya sendiri dari sebuah kemerdekaan?

Jika arti merdeka sendiri adalah terlepas dari perhambaan, terlepas dari tuntutan, atau tidak terikat, maka boleh jadi semua orang sebenarnya tak pernah merasa merdeka sepenuhnya.

Jika yang dimaksud merdeka hanyalah lepas dari perhambaan akibat penjajahan, tapi tidak termasuk perhambaan atas perbudakan yang seakan menjadi biasa belakangan ini. Lantas sebenarnya merdeka ini apa?

Jika yang dimaksud merdeka ketika kita telah bebas dan berhak sepenuhnya atas diri ini; mengatur, menjalankan, merumuskan arah kehidupan masa mendatang, benarkah ini merdeka? Ketika banyak dari kita kemudian lupa, masih mungkinkah kita saat ini terjajah oleh sesuatu yang tidak ketara, yang dianggap biasa, dan kita masih menyebut diri ini telah merdeka.

Sebuah pertanyaan kembali muncul, apakah cita-cita merdeka Indonesia cukup mengusir pergi penjajah, menghilangkan luka peperangan? Sedangkan masih banyak di kemudian hari muncul polemik di banyak lini; politik, masyarakat, keamanan, ideologi. Dan bertumpuklah pekerjaan-pekerjaan rumah itu, hingga meneruskan generasi dengan PR yang lebih berat; moral. Jika yang dimaksud merdeka cukup menurunkan senjata tanda penjajah telah pergi, menghormat bendera bersama dan bernyanyi, maka cukupkah perjuangan itu (nyawa) dibayar dengan kedunguan generasi selanjutnya? Yang bahkan masih menyebut diri ini telah merdeka tapi membelenggu diri dalam kebodohan, bahkan fakir moral yang berimbas pada rusaknya perilaku, pikiran, hingga hati yang membatu.

Masih mengenang kemerdekaan, sambil merengkuh nikmatnya separuh, aku mencoba kembali menemukan arti merdeka baik dalam diriku, maupun untuk negeriku.

Surakarta, 20 Agustus 2017

Di bawah langit cerah, lantai 3 kos sederhana, milik warga sipil biasa.

Narasi Pembuktian

Aku dan kakakku masih berbisik berisik sehabis sholat Isya berjamaah. Mukena yang kukenakan belum juga kulepas, kubalik bagian jilbabnya, kusibakkan ke belakang seperti rambut yang terurai. Kami berdiskusi dan berpikir, menimbang hadiah yang cocok untuk Papa kami yang esok pagi berkurang usianya.

“Bagaimana kalau roti?” Kataku.

“Jangan, kita nggak punya uang yang cukup.” Tegas saudaraku.

“Hmm, yasudah, kasih kata selamat dan ciuman saja.” Balasku.

Kami menyudahi malam dengan bergurau bertiga; aku, kakakku, dan papaku. Mamaku sedang jaga malam di ICU RSUP Soeradji Tirtonegoro. Kami menanti pagi yang sumringah karena Papa akan berumur 49 tahun.

Aku belum bangun, ketika adzan Subuh memanggil. Tapi Papaku sudah. Ia segera mejalankan ibadah sholat Subuh selepas iqomah terdengar. Biasanya aku dan kakakku akan sholat Subuh pukul 05.00, sedangkan adzan Subuh berbunyi pukul 04.35. Baru saja hendak membangunkanku, suara gemuruh dan goyangan tanah mengagetkan Papaku. Dengan segera ia menarik tanganku dan kakakku, padahal kami benar-bemar belum bangun dan belum tahu apa yang terjadi. 11 tahun berlalu. Gempa membangunkan kami lebih pagi, Mamaku menangis sepanjang jalan dari tempatnya bekerja hingga rumah. Banyak korban dibawa ke UGD, dia tak sanggup membayangkan keadaan keluarganya di rumah. Untung kami berempat selamat di dua tempat. 11 tahun berlalu, kami tinggal di rumah yang dulu sempat separuh hancur, dan sisanya berdiri dengan bantuan bambu penyangga. Rumah ini adalah warisan dari kakek buyutku dari keluarga Papaku. Separuh yang hancur telah berdiri baru dengan konstruksi yang hampir sama. Separuhnya masih utuh semenjak gempa terjadi.

Kesempatan dan amanah menjadi Lurah, tidak dimanfaatkan Papaku untuk memperkaya diri. Bolak-balik ditawarkan sejumlah investasi berwujud tukar guling ditolaknya. Beliau tahu bahwa hal ini tidak benar. Maka ia tidak setuju. Bantuan selalu diwujudkan. Tidak ada ceperan yang dia minta atau dapatkan seperti perangkat desa lainnya. Meskipun keadaan rumah kami yang sebagian kian mengenaskan.

11 tahun meninggalkan retakan gempa, semua rumah yang mendapatkan bantuan setahun setelah gempa terjadi, berdiri kokoh lebih bagus dari sebelumnya. Sedangkan rumah kami tidak. Papaku tidak memanfaatkan posisi Lurahnya untuk memperbaiki rumah. Baginya, gajinya hanya hasil dari sawah bengkok milik desa.

Fenomena dan gejolak politik tingkat desa pernah kualami. Jangankan masalah memilih pemimpin seiman atau pekerja keras, isu agama, hingga pengkhianatan. Semua kurasakan pada pemilihan Lurah selanjutnga setelah periode Papaku habis. Papaku mencalonkan diri lagi, melawan mantan Lurah yang ia tumbangkan sebelumnya. Duel hebat terjadi. Isu agama lebih kengerikan daripada masalah Ahok. Fitnah keji sampaj penjemputan dan doktrin paksa oleh lawan main mewarnai pemilihan Lurah yang dilakukan 2 ronde ini. Tapi takdir memang memihak kami. Meski Papaku tak lagi diamanahi menjadi Lurah, kakakku tetap bisa kuliah di universitas ternama, dan aku masuk SMA favorit di Klaten.

Selama ini juga, aku berlindung dari hujan dan panas terik. Guntur dan gemuruh petir menyambar sesekali di atas awan hitam desaku. Selama itu juga, terkadang dapurku banjir air hujan. Sedekade lebih, aku tidur dengan usikan tikus, kodok, kecoa, dan cicak setiap malamnya. Terkadang aku menangis dan sedih. Rumah kami bagaikan suaka margasatwa mini. Belum lagi, sebagian tanah pekarangan warisan ini direbut saudara kakekku. Sayangnya, setelah mengambilnya secara paksa, sang empunya justru menjadikannya ruang yang kotor, jogangan sampah rumah tangga, dan sama sekali tidak mau mengurusnya. Rumah kami kian hari semakin menjijikkan.

11 tahun berjalan setelah gempa, hampir 5 tahun meninggalkan goresan luka pemilihan Lurah. Rumah kami tetap sama. Berdiri reot, dihiasi lurik retak, dan hewan liar. Selama itu juga, kastanisasi terjadi. Dirasa tidak menjadi tokoh di desa, Papaku tersingkir. Bukan bermaksud selalu ingin dihormati atau gila hormat. Tapi semua berubah, keluarga kami tak lagi diindahkan seperti yang lain. Entah karena apa, mungkin karena Papaku tak bekerja lagi, tak berpenghasilan, di rumah, menganggur. Sedangkan Mamaku semakin giat bekerja, sadar bahwa menguliahkan kakakku di UGM dan aku di SMA tidaklah sedikit biayanya. Siang malam, pagi sampai sore, jarang mengambil cuti, hanya untuk mendapat uang lauk pauk dan gaji yang cukup untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya. Karena tekunnya bekerja, hingga terkadang Mamaku tidak mengikuti kegiatan ibu-ibu di desa yang memang kurang produktif menurutku. Kegiatan itu bukan meningkatkan kualitas dari ibu-ibu, tapi hanya ajang berkumpul dan bergosip, memutar uang dengan arisan, dan menghabiskan waktu. Karena memang ibu-ibu ini bekerja sebagai pencetak batu bata dan ibu rumah tangga. Jadi, tidak heran juga jika Mamaku tidak mengikuti kelas sosialita seperti arisan itu. Karena memang Mamaku pulang ke rumah sudah hampir waku Magrib, dan harus mengurus rumah. Hal ini membuat Mamaku justru dijauhi oleh sebagian ibu-ibu. Aku juga tak tahu sebab jelasnya. Mungkin karena Mamaku tidak mengikuti kegiatan semacam itu, sehingga dianggap tidak gaul menurut mereka.

Perkara ini tidak berhenti di situ. Orang-orang kebanyakan menjadi memicingkan mata kepada keluargaku. Karena jarang bahkan tak pernah bergabung dalam arisan itu, rumah kami tak kunjung diperbaiki, dan motor tetap itu itu aja. Sedangkan yang lain, semakin menumpuk arisan ibu-ibu, gonta-ganti motor, geber sana sini, dan berlagak bak sosialita kelas desa. Semakin ke sini kami semakin terpojok. Hadirku di kumpulan muda-mudi juga semakin tersudut karena politisasi seorang pemudi yang mendominasi kepengurusan. Itulah sebabnya aku menjadi sedikit pasif. Karena sewaktu aku aktif pun, aku disindir dan disingkirkan. Maka biarkan aku menjadi penonton setia, dari dirinya yang seakan menjadi penguasa. Ini sungguh. Aku tak mengada-ada. Maka dari itu, aku lebih suka berorganisasi, berkegiatan di luar wilayah rumahku. Sangat disayangkan. Sebenarnya aku sangat terinspirasi oleh teman sejawatku; Ruri. Aktivis baik hati, berani, dan cerdas. Menulis cadas, tajam, dan penyayang.

Sudah lebih dari 10 hari, separuh rumahku sudah dihancurkan dan dibangun ulang. 13 hari yang lalu, aku dan keluargaku memboyong perabotan dari rumah ke gubuk tempat penyimpanan sementara. Saat itu juga, sedang berlangsung arisan heboh ibu-ibu sosialita itu. Dan kami pun asik sendiri, dengan guyonku yang lucu tapi retjeh. Haha. Dan kau tahu, bagaimana ekspresi ibu-ibu itu? MEMICINGKAN MATA! Terlebih si Mbak yang selalu memimpin, eh sok memimpin. Semua terheran, kaget, dan terbelalak, jika Mamaku mampu mengumpulkan uang, dan membangun rumah kami dari 0. Semua tak pernah mengira, bahwa uang yang selama ini tak pernah diikutkan pada arisan, selama ini telah menjadi tabungan haji dan tabungan untuk material membangun rumah. Semua terbelalak, ketika yang mereka pikir “Si Miskin” ialah Mamaku, yang jarang terlihat glamour dan nongki-nongki sosialita, ternyata terlalu visioner.

Hampir 5 tahun, dan semuanya terjawab. Bahwa Mamaku yang bekerja seorang diri, bukanlah sosok yang sepele. Selama ini, tak pernah ia cemburu dengan keadaan orang lain. Ia selalu fokus dengan biaya kehidupan dan pendidikan anak-anaknya. Ia tak goyah, meski banyak cibiran datang menerpa wajahnya.

“Jare gajine jutaan. Mosok ramelu arisan.”

“Laiyo, omah e yo ra didandani.”

“Gene, aku sing mung buruh kasar isoh nganggo gelang emas.”

“Iyo, anak e wadon yo ora dinggoni ali-ali.” (Ali-ali berarti perhiasan)

Mengerikan dan sungguh menyakitkan. Aku selalu membujuknya untuk melawan, tapi ia enggan.

“Biarkan saja. Mama itu masih kuat. Yang penting kamu sekolah, selesai, bisa mandiri, Mama dah senang. Insha Allah Mama bisa berangkat haji juga karena Mama nabung sendiri.”

Terkadang tidak jarang Mamaku berkata, ia rela menjual perhiasannya untuk memenuhi UKT atau biaya pembangunan rumah. Juga niat untuk menjuap rumah kami di Denpasar. Tapi selalu kucegah.

Aku selalu banyak belajar bersamanya. Meskipun pemikirannya sangat praktis. Lulus kuliah kemudian bekerja dan menikah. Sedangkan aku lebih cenderung bersantai. Tapi kegigihannya, keteguhannya, cita-cita mulia yang ia pegang selama ini adalah mengantarkan anak-anaknya menjadi sarjana, mapan, dan berkeluarga. 

Sekalipun banyak cuitan yang menyakitkan, jawabnya hanya singkat, “Yang terpenting, aku nggak minta makan sama dia. Jadi kenapa harus repot-repot ngurusin mereka.”

Inilah narasi pembuktian. Bahwasanya Mamaku bukanlah penimbun harta, pecinta dunia. Mamaku sangat baik budinya. Meskipun dari kanak-kanak hingga renta ia masih saja belum tergolong kaya, ia tabah menerima. Ia tahu, Tuhan Mahaadil, rizqiNya tak mungkin salah alamat, waktunya selalu akurat, dan jumlahnya tepat.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk merendahkan orang lain, atau meninggikan sepihak. Melainkan untuk membukakan mataku, bahwa perjuangan belum berakhir. Perjuangan Mama masih sedikit lagi.

Tulisan ini aku dedikasikan penuh untuk semua kalangan. Agar kita paham, bahwa setiap orang memiliki cita-cita dalam kehidupannya masing-masing. Jangan samakan isi pikiran seorang dengan yang lain. Jangan seragamkan kehidupan seorang dengan yang lain. Karena sejatinya setiap insan memiliki hak hidupnya masing-masing. Namun, jangan sampai meninggalkan kontak sosial dengan masyarakat. Karena kita selalu hidup berdampingan, saling membutuhkan. Juga sayangilah orang tuamu. Tak pernah ada orang tua yang berniat baik menjerumuskanmu. Dan hargai penuh perjuangan mereka. Meskipun sering kali tak sejalan dengan zaman dan idealisme kita kaum muda.

Untukmu, Mama. Meski aku belum bisa berlaku apa-apa, dan hanya kata terima kasih, uh, dan sedikit bentakan yang kuberikan, bukan berarti aku tidak paham perjuangan Mama. Aku juga akan segera menjadi seperti Mama. Memiliki cita-cita besar untuk anak-anakku. Karena aku tahu, jika Mama tak berkenan menguliahkan aku dan kakakku, maka dari dulu mungkin dirimu sudah mengenakan tas branded, perhiasan beraneka rupa, membeli mobil, arisan dengan banyak nama, dan berhura-hura semaunya. Tapi aku tahu, Mama memang bukan orang kaya, bahkan sampai Mama menjadi tua. Maka dari itu, Mama ingin aku lebih dari Mama. Tak ada harta yang mampu kau wariskan, sehingga kau bekali aku dengan ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Agar kelak, aku hidup bukan untuk meneruskan harta, tapi meneruskan generasi yang lebih gemilang.

Album: foto separuh rumahku yang direnovasi

Penampakan depan sebelum dihancurkan

Penampakan dalam rumah

Penampakan samping rumah