Hari Perayaan

Hari ini aku melihat banyak anak-anak di desaku, baik putri maupun putra terlihat berbeda. Yang putri terlihat cantik dengan setelan kebaya dan rok batik, yang putra mengenakan batik dan sarung. Lucu sekali wajah mereka ketika mengikuti upacara tadi pagi. Mereka menyanyikan lagu kebangsaan, lagu perjuangan, dan lagu yang menyiratkan bangga kepada salah satu perempuan Indonesia.
Ibu kita Kartini, putri sejati. Putri Indonesia, harum namanya

Selarik nada sumbang dengan lepas mereka serukan di depan kelas yang tak begitu bagus. Mereka bersalaman, kemudian menari di lapangan.

Hari ini menjadi hari perayaan, seorang pahlawan perempuan. Kartini. Ia menjadi pelopor kebangkitan perempuan Jawa untuk mengenyam pendidikan, sehingga perempuan tidak lagi lekat dengan dapur saja.

Di antara banyak pahlawan perempuan yang kubanggakan, Kartini selalj menjadi sosok kekuatan perempuan. Meskipun masih banyak panglima perang kerajaan di Indonesia yang besar namanya pada zamannya. Kartini selalu hadir dalam sebutan-sebutan pergerakan wanita. Kartini telah melahirkan digdaya bagi seluruh kaum perempuan.

Hari ini perayaannya, Raden Ayu. Terlalu sering kita simbolkan dengan kebaya bagi putri, dan beskap bagi putra. Namun, apakah kita temui semangat itu di balik sanggul yang kita kenakan? Di balik jahitan kebaya mahal sewaan? Di mana Kartini hidup di zaman ini?

Kalau kamu jadi Kartini, dan hidup di zaman ini, apa yang kamu lakukan?

Menulislah, karena Kartini pun didengar pemikirannya, hidup jiwanya, terkabul keinginan untuk memberi perempuan Indonesia jalan menuju kemajuan, karena menulis surat.
Menjadi Kartini

Di hari penuh kebahagiaan.

April Mop Kenegaraan

Kepada rakyatku yang melarat

sudahi saja perlawananmu

biarkan aku merebah dan istirahat

kembalilah pada gubug-gubug reot itu

Biarkan aku melepas penat

Kau pikir aku juga tidak sekarat

Melihat godaan yang keparat.

Selagi laknat ini masih terasa nikmat,

mengapa buru-buru bertobat?

Ayo lah, jangan menilaiku nista

menuduhku dusta dan hina.

Sesungguhnya ini hanya bualan belaka

April mop kenegaraan semata,

yang berlanjut hingga aku sendiri lupa.

Surakarta, bertukar posisi

Sepenggal Bulan

Malam tanpa bulan itu seperti nasi goreng tanpa telur. Tetaplah nikmat, tapi kurang lengkap.

Aku ingin malam dengan sepenggal bulan saja, jangan terlalu terang, jangan terlalu redup, Tuhan. Biarkan semu-semu keemasan seperti bakwan habis dari penggorengan.

Aku tak pernah melihat sepenggal bulan terang, ia selalu murung. Entah kenapa. Padahal anak kecil suka cita bermain di luar, menikmati cahaya indahnya. Mungkin ia sedih karena merasa tak utuh, terbelenggu bumi.

Jangan berikan aku bulan yang utuh, aku ingin sepenggal saja, Tuhan.
-Pesanku pada Tuhan di suatu malam. Sembari menutup buku menu makanan.

Surakarta, menjelang tengah malam

ayo tidur sayang~

Sesat

Di bawah pengaruh

Terbelenggu ruh

Tumbuh, tidak utuh

Sudah kuucapkan pada Tuhan

Dalam setiap aliran darah

Kuingin penunjuk arah
Aku adalah kesesatan, yang kau benarkan. 

Kau adalah lara dalam duka masa lama, 

aku lembar baru penyambung cita.

Meski masih jauh melangkah, 

selama sesat yang kita ciptakan berupa nikmat,

bahkan dosapun aku tanggung.

Surakarta, melangkah dalam kesesatan yang nikmat

Untuk Mereka, Nilai yang Tak Boleh diabaikan

Kita tidak pernah mengira hendak berdiri atas nama siapa, dengan kepentingan apa, dengan keadaan seperti apa di hari esok kelak. Bisa jadi hari ini kita sama rata seperti rakyat biasa. Pun bisa jadi besok kita sama seperti petinggi negeri itu. Tapi sudah jadi ajaran dari manusia tertua, bahwa kebenaran, keadilan, kesejahteraan jadi alasan, jadi tujuan, jadi pegangan kita untuk hidup.

Oleh karena itu, kita perlu belajar dan membiasakan melakukan hal kebenaran sejak saat ini. Agar besok, ketika apa yang kita sandang, apa yang kita bawa di pundak, apa yang orang lain percayai atas nama kita, kita selalu membawanya dalam jalan yang benar.

Terkadang kita tidak pernah mengira akan berdiri di barisan yang mana, dengan identitas apa, dengan tujuan apa. Tapi selagi yang ada dan tumbuh di pikiran, hati, serta tindakan kita adalah kebenaran, maka berkumpullah semua energi kebaikan-kebaikan itu melawan ketidakbenaran yang ada, selalu muncullah kesempatan itu untuk melawan, akan ada waktu di mana kita harus menyuarakan.

Sebuah jalan perjuangan, cerita-cerita yang menggebu, teriakan-teriakan lantang, mimbar-mimbar terbuka, nyala api yang tegak. Kita memang mengenakan banyak sekali warna berbeda. Kita dari bagian Indonesia yang jauh, berkumpul di satu tempat. Kita berpikir banyak hal, tapi ada satu soal yang membuat kita harus bergerak. Kita berasal dari banyak sekali sumbu-sumbu logika, idealisme, tapi yang menyatukan kita selama ini adalah sebuah nilai kebenaran. Sebuah tindakan haus keadilan.

Sering kali pula kita lupa. Dari banyak warna kita melihat perbedaan, dari banyak tempat kita mengukur jarak, dari sekian banyak otak kita buat standarnya. Kita atau lebih tepatnya aku, sering terbawa. Pada ingatan-ingatan lama. Aku untukku, kamu milikmu. Dan semuanya membuat pagar-pagar, rantai-rantai, garis-garis tak berujung. Tanda-tanda untuk menandai kekuasaan, daerah teritorial, dan haknya masing-masing. Tapi sebuah nilai yang tak boleh habis meski takdir kita kian tragis. Nilai-nilai itu untuk mereka, nilai keadilan, kebenaran, menjadi satu. Maka berkumpullah banyak kebaikan, kemudian hancurlah pagar-pagar penyiksa itu. Beralih menjadi ikatan antar tangan berwarna baju beda. Kami mengikat untuk melindungi, untuk membuka kenyataan-kenyataan. Untuk menjadi satu kesatuan.

Maka, jika dianalogikan seperti ini; untuk menjadi pahlawan, kamu tidak perlu menganggap orang lain sebagai penjahat. Untuk menjadi dermawan, kamu tidak perlu memandang orang lain sebagai seorang yang kekurangan. Untuk menjadi dirimu, kamu tidak perlu berbuat seperti orang lain. Untuk berbuat baik, kamu tidak perlu menghardik orang yang belum berniat berbuat baik. Kamu adalah kamu, lakukan saja yang baik untukmu. Niscaya, jika orang lain itu bisa berpikir, ia akan mengikuti jejakmu.

Kita berjuang pada sumbu masing-masing, pada pucuk api yang berkobar di ujungnya. Tapi kita masih dalam satu kompor yang sama. Di mana kompor inilah yang memberikan semangat, amunisi, kekuatan yang besar, yang mempersatukan. Sebuah ketetapan, dari apa yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya.

Meskipun tidak menjadi perencana yang baik, alangkah lebih baiknya kita menjadi eksekutor yang apik!

Melewati malam, di kota yang diam.

Bermain Cantik Tidak Selalu Membuatmu Panen Kritik

Akhir-akhir ini keadaan negara memang sedang bergoyang. Seperti ombak mendayung, lebih sering mengombang-ambingkan bahkan membuat kapal karam. Banyak polemik hilir mudik, tak kenal lelah, tak mau permisi, langsung ambil posisi. Tak pilih kasih, siapa saja dirundung masalah dan intrik. Mulai dari Jaksa besar, Mentri, Ketua dewan, Gubernur, bahkan sekelas Bupati. Lucunya, justru masyarakat kecil yang tetap bergidik dingin ketika malam, dan mengurut perut kala siang. Kami lapar, kami tepar. Bahkan hingga rakyat kecil mengungkapkan telah dibelenggunya kebenaran di negeri ini, mereka tetaplah berpaling muka. Kejadian buruk tak sekali dua kali menampar rakyat kecil. Kukira rakyat Indonesia adalah manusia paling tegar dan mudah menaruh percaya juga pemberi maaf. Mereka tak sungkan memaafkan dan tetap menyambut hangat petinggi negeri yang sedang mampir ke daerah mereka. Pun ketika musibah terjadi, mereka tak sungkan juga untuk mendoakan yang terbaik dan tetap berbuat baik demi kelangsungan hidup. Sedangkan ada jenis manusia lain yang tetap anteng-anteng saja di antara banyak gonjang-ganjing perkara dan nasib negara yang seakan sudah di ujung tanduk saja. Saya pikir, mereka tetap fokus pada masa jabatan mereka masing-masing.

Tapi Indonesia tetap bisu, hanya rakyatnya yang bisa bicara. Mewakilkan sebagian orang dari berbagai organisasi berkebutuhan tak ubahnya seperti titip absen di perkuliahan. Bagi yang nitip ya nggak dapet apa-apa, bagi yang dititipi ya maruk sebanyak-banyaknya. Bukan berarti mereka yang nitip absen nggak boleh dapet bagian dari perkuliahan. Yaa, memang begitu konsekuensinya kalau diwakilkan. Pasti ada lebih dan kurangnya. Nah, apa iya rakyat harus urun rembug semua? Indonesia itu luas, lho. Rakyatnya berjuta-juta, tapi yang penghasilannya ribuan rupiah per hari juga masih banyak. Saya bukan ahli tata negara, hukum, atau peradilan. Tapi beginilah adanya. Saya sedang berada di surga, yang jika mau menikmatinya harus rekasa dulu.

“Indonesia sedang tidak baik-baik saja, kawan. Mari kita kerjakan. Bukan saatnya tidur atau duduk ngopi saja. Mahasiswa itu garda terdepan perjuangan. Hari Minggu bukan berarti tanggal merah untuk pergerakan. Ayo kita diskusi biar kalau aksi nggak kosong mlompong, plonga-plongo, dan keliatan goblok.”

Propaganda menjadi racun-racun dan bius yang indah di masa seperti  ini. Media memegang arti penting apa itu sebuah informasi. Ada yang berdalih netral, ada pula yang enggan mengusut tuntas polemik negara karena perusahaannya dipegang orang partai. Banyak orang menilai propaganda sebagai ujaran bernafsu dan berpengaruh signifikan, instan, bahkan terkesan grusa-grusu. Sebenarnya jangan. Jangan nodai nama antik propaganda sebagai bentuk kiasan untuk memengaruhi secara massiv tapi pasif. Membentuk massa yang instan, tapi kurang berkembang. Biasanya yang seperti ini bisa gampang goyah pendiriannya, pemikirannya, apalagi semangatnya. Kalau sudah goyah, dikira memecah belah, dan akhirnya kubu ini memang akan pecah. Jangan sampai. Sangat disayangkan. Propaganda ditujukan agar sebuah pandangan, pemikiran dari seorang, atau suatu golongan agar terang terhadap orang lain atau golongan lain. Bisa bersifat memengaruhi dan mengarahkan pandangan. Namun, belakangan propaganda sebagai ujaran yang instan, prematur, dan seruan yang kosong. Ini tidak boleh diteruskan. Tapi ada pula propaganda yang semangat, berkobar, berapi-api, tulis sana sini, mengumbar opini lugas, tapi lupa satu perkara. Perkara publik, perkara bahwa publik tak mesti mudah menerima ujaran itu, menerima opini itu. Atau, kubu-kubu lain akan terbentuk. Yang akhirnya, propaganda bukan menghasilkan kesepahaman, melainkan melahirkan perlawanan. Mari dicermati kembali. Bukan hanya propaganda mahasiswa yang terkadang loyo atau malah menggebu. Terkadang memang pengenalan pandangan kepada masyarakat atau sesama itu sulit. Bukan hanya terjadi pada mahasiswa, pun seperti Tan Malaka yang mencoba mengenalkan dirinya pada masyarakat, untuk lebih mendekatkan diri pada elemen pembentuk negara ini. Namun, belum selesai pula, masalah lain sudah melintang, membatasi gerak aktor Marxis ini. Tak banyak masyarakat yang sepakat dengan pemikiran Tan sendiri. Meski berkali-kali melakukan diskusi dan perundingan.

Maksud saya, bukan berarti propaganda itu salah, tidak baik, atau berdosa. Yang jelas, dalam menerangkan pikiran masyarakat luas, mari kita sejajarkan harkat kita sebagaimana tujuan propaganda kita. Halus, tapi masuk. Tidak menimbulkan kecemburuan, tapi merajut persatuan. Jika memang terdapat beberapa linting pemikiran atau individu yang alot, tetapkan janji bahwa pergerakan bukan mematahkan persaudaraan sesama rakyat, sesama mahasiswa, tapi tetap memanggul tanggung jawab untuk kebenaran dan keadilan bagi rakyat banyak. Bukan juga amlem, toh jangan disangka mereka yang dingin tidak tahu apa-apa, tidak bisa urun rembug apa-apa. Bisa jadi, mereka menjadi pendengar dalam diam, mata yang nyalang dalam gelap, atau sosok yang hadir dan pulang bawa cerita. Jangan remehkan itu.

Bergerak itu harus cepat, iya. Berpikir juga harus teliti. Apa lagi menyangkut hal banyak, orang banyak, soal banyak, bukan cuma biar terlihat gerak karena yang lain sudah gerak. Jadi bukanlah saya mengajakmu bersantai ria, bersanjung hati, atau bernyanyi menirukan artis di TV. Tapi ayo, mbok kita banyak belajar dulu. Katanya nggak mau dikontrol media, berarti kita harus lebih cerdas dari media. Kalau sekadar gerak tanpa ada yang tahu, itu seperti sholat tanpa niat. Terlaksana, tapi kosong.


Sekelumit saja. Jika salah banyak, keliru pula. Maafkan.

Mari segera tuntaskan, jangan gegabah. Kesannya seperti koruptor kalau liat uang proyek. Gas-gasan, angah-angahen, war wor. Cuma untuk korupsi. Jangan sampai.

Kalau bisa mengelus ayam sambil membakar dagingnya, kenapa tidak?



Sepanjang siang memikirkan apa itu propaganda~

Hera Pangastuti

Mengisahkan Cinta

Siapa makhluk yang tidak merasakan cinta, kasih sayang? Hewan pun menciptakan interaksi dan kondisi untuk saling menyayangi, hidup berdampingan, saling menjaga ekosistem dan lain sebagainya. Manusia pun sama bahkan lebih dari itu. Manusia menjadi makhluk paling sempurna secara fisik maupun mental. Dan oleh karena itu, seharusnya cinta dan kasih sayang yang timbul dari interaksi manusia akan lebih bermakna dibanding cinta yang ada di antara kawanan hewan.
Mengisahkan cinta adalah kelucuan. Bahwa cinta hadir di beberapa waktu berbeda bahkan tak pernah bisa dikira. Tapi cinta selalu ada, selalu berwujud, dan memiliki makna. Indahnya seperti bunga di musim mekar, energinya seperti matahari, dan ranumnya bak rembulan di pertengahan bulan. Banyak yang menafsirkan cinta menurut perasaan, pengalaman, dan pengertiannya masing-masing. Tapi mengisahkan cinta hanya perlu satu kalimat; merindu adalah pekerjaannya,  menjaga seperti kekuatannya, dan tumbuh seiring waktu memakannya.


Cinta menyoal hati, menerjemahkan rindu, dan menafsirkan keadaan hati. Cinta itu mampu memilih, dan tidak buta. Cinta dapat memilih siapa yang menurutnya pantas. Bukan menutup segala logika, tapi logika yang telah mengizinkannya untuk menetapkan pilihan. Cinta tidak membuat manusia gelap mata, tapi nafsu yang sedang berkobar menguasai pikiran. Cinta tidak pernah berteman dengan cemburu, tapi ego yang menguasai kalbu. Menyoal cinta itu seperti memberi wujud keikhlasan. Ini berlaku dalam cinta terhadap apapun. Orang, atau saya dengan mudah mengelus dada dan berkata “saya ikhlas, kok” tapi selalu mengungkit, berpikir, atau sekadar terbayang hal itu. Tapi ketika ditanya benci atai tidak? Terkadang kita mengangkat frasa manusiawi, sebagai tameng untuk membenci, untuk tidak suka, untuk merusak hati ini perlahan -merusak cinta. Seharusnya frasa manusiawi-lah yang menjadi alasan mengapa kita harus menguatkan cinta menjadi ikhlas yang sebenarnya. Mengapa membalikkan faktanya? 


Membuktikan cinta tak melulu pada pasangan, tapi banyak objek yang bisa kita bagi kebahagiaan padanya. Mengisahkan cinta tidak luput dari perhatian, simpati, dan mempekerjakan hati. Cinta tidak menutup hati untuk satu objek saja. Tidak. Tapi cinta menumbuhkan banyak variabel dan alasan untuk membagi rasa suka, bahagia, atau sekadar simpati. Jika kita mampu mengejawantahkan cinta sebagaimana porsinya, saya yakin interaksi antar makhluk hidup semakin membaik dan terjalin hubungan positif. Bahkan saya kira akan mampu mengembangkan diri terhadap banyak individu di ranah yang lebih luas.

Mengisahkan cinta, seperti menceritakan nikmat Tuhan. Seperti diriku yang pernah sakit hati. Dada ini terasa nyeri, tapi tidak satupun urat atau otot ini putus. Lalu apa yang membuatku nyeri? Terkadang cinta pun berwujud kesedihan. Bukan berarti menjatuhkan, tapi cinta akan menguat seiring usaha kita untuk bangkit. Karena tanpa jatuh, bangkit tidak ada artinya.


Mengisahkan cinta, sama seperti mengisahkan kehidupan. Bahwa tujuan hidup adalah hidup yang memiliki tujuan.

Mengisahkan cinta seperti mengeja rencana Tuhan, terkadang benar, lebih sering keliru. Tapi cinta adalah perwujudan dari kasih sayang, yang tak perlu diragukan, tak melulu soal degup jantung yang “sar ser” di depan dia, juga tak selalu genggaman tangan yang menjerat. Cinta itu perkara ikhlas, terhadap apapun.

Surakarta.