Syair Penyembuh Luka

Dibawanya kenangan-kenangan lampau

angin dan dedaunan menyemarakkan

semak dan ilalang jadi akur menari

yang terisak dan tersesak oleh luka kini menyembuh

yang terluka menganga memilih rela tanpa dusta

dia yang bersajak untuk kawan, kekasih, dan kecintaannya

hidup dalam syair-syair baru

menyudahi elegi dan rintih nyeri

padanya langit ia mengadu hingga senja iri

padanya surya ia meminta iba

pada badai ia memohon untuk diterbangkan

jauh.

yang terisak dan tersesak, berlalu, terlahir dalam syair penyembuh luka.

 

Solo, 2018

“Kau boleh membenciku, kau boleh memakiku hingga akhir napasmu.

Tapi dengan begitu, aku makin mencintaimu.”

Iklan

Berkisah Soal Perjuangan

Suatu saat yang susah payah hingga terengah-engah juga akan lelah dan merebah. Entah untuk sekadar bersandar menghela napas panjang, atau menepi selamanya tanpa mau kembali pulang.

Ada kala bintang memilih redup meski bulan begitu bersinar. Angin tak ambil bagian untuk menyemarakkan dedaunan, sedangkan hujan gerimis menenangkan.

Pada waktunya, sebuah perjuangan tidak bisa hanya dinilai dari permulaannya saja, atau habisnya. Naik turun dan dinamika yang begitu progresif justru menjadi nilai lebih yang pantas diapresiasi. Jika pada setiap dinamiknya, dilalui dengan baik tanpa menyingkirkan keniscayaan.

Ada waktunya jangkrik bernyanyi, juga diam. Ada masanya kutilang hinggap dan menari di dahan, juga terbang mencari makan.

Dia yang paling peduli bisa menjadi paling apatis dan tak tahu diri. Dengan segala perubahan, sifat manusia akan cenderung mengikutinya, menyamakan dengan apa yang dia dapatkan, yang disematkan oleh banyak orang, kelompok masyarakat.

Roda waktu akan terus berputar, hanya saja yang tergilas akan kandas, yang lantang akan semakin garang, yang tenang tak pernah hilang kendali dan arah tujuan.

Kalau hidup hanya soal datang, menetap, atau pergi, sejatinya kita perlu tahu bahwa semua perubahan, pergerakan atau pergeseran dalam perjalanan ini tak lebih dari pilihan dan kuasa kita sendiri. Apa yang kemari ditemui, dihadapi, itulah yang mengakibatkan esok terjadi. Apa yang dipikirkan, direncanakan saat ini, besar kemungkinan besok akan terwujud. Juga segala keputusan untuk keluar, hijrah, atau sama sekali tak kembali, murni dari pribadi masing-masing.

Menggilas kenangan, membongkar visi ke depan. Semua manusia yang pandai seharusnya siap dengan segala perubahan, dan kembali sibuk merencanakan, melaksanakan. Begitu seterusnya. Kesulitan, cobaan itu menguatkan, bukan sebaliknya.

Kepada matahari yang bangkit dari sujudnya subuh tadi, berharap hanganya menyelimuti keadilan di sini. Perjuangan bukan terbatas soal panggung-panggung kekuasaan, nama besar dan sanjungan, penghargaan apalagi pengakuan. Bahwa sebenarnya perjuangan adalah pengorbanan. Berkorban untuk jangan sampai hilangan angan, bekerja meruntuhkan rintangan, hingga mencapai sejatinya kemenangan; asa yang jadi kenyataan.

Kepada bulan semalam yang malu bercadar mendung, berharap teduhnya melindungi semesta yang linglung. Perjuangan yang abadi tak pernah menakar untung rugi, hadirnya menjadi sebab bertahan dan memperbaiki diri. Baik buruk hasilnya, perlu diapresiasi.

Solo, 2018.

“Orang gila tidak pernah menyebut dirinya gila, begitu juga dengan orang ikhlas”

Kebebasan Pers Bukan Seremoni

Sebuah nama kusematkan di saku kiri, sebuah pertanda aku berada di sini dengan entitas pasti. Tapi di ujung kakiku yang melangkah, di ujung tanganku yang menulis, di ujung mataku yang menyaksikan, tak ubahnya tombak yang tajam. Dia tidak menyakitkan, tapi benar dalam penggunaan. Merobek dugaan-dugaan, memoar kenyataan.

Pers merupakan mata tombak penyampaian berita dan fakta kepada khalayak umum. Pers menjadi penting perannya, sebab kehadirannya dapat membuka pemikiran kritis, empati, dan keterbukaan pada kebenaran. Pers bukan lagi sekadar mengabarkan, tapi juga menguak fakta, berperan sebagai tokoh tanpa tendensi dalam memberikan kronologi peristiwa tanpa rekaan, memberi informasi sesuai kenyataan dan menghilangkan dugaan-dugaan.

Kebebasan Pers senyatanya bukan hanya seremoni belaka. Diinisiasi pada 1993, Sidang Umum Perserikatan Bangsa-bangsa menetapkan 3 Mei sebagai hari untuk memeringati prinsip dasar kemerdekaan pers, demi mengukur kebebasan pers di seluruh Internasional. Sejak itu, 3 Mei diperingati demi memertahankan kebebasan media dari serangan atas independensi dan memberikan penghormatan kepada para jurnalis yang meninggal dalam menjalankan profesinya.

3 Mei menjadi hari untuk mendorong inisiatif publik untuk turut memerjuangkan kemerdekaan pers. Hari Kebebasan Pers Sedunia juga menjadi momentum untuk mengingatkan pemerintah untuk menghormati komitmennya terhadap kemerdekaan pers. Pada 3 Mei ini pula, komunitas pers di seluruh dunia akan mempromosikan prinsip-prinsip dasar kebebasan pers dan untuk memberikan penghormatan kepada para wartawan yang gugur dalam tugas.

Di Indonesia sendiri, kebebasan pers sempat “hilang” pada zaman orde baru. Pemerintah seakan memberedel dan menutup akses pers untuk memberi informasi terkait penguasa pada zaman itu. Media-media yang masih berjalan hanya media yang sejurus dengan pemerintah. Pers yang berseberangan dengan pemerintah dianggap subversif meski menyatakan kebenaran dan fakta aktual.

Selain itu, kebebasan pers di Indonesia masih menjadi nota catatan yang belum sepenuhnya menjadi nyata. Kasus-kasus kekerasan hingga pembunuhan pada jurnalis selama ini masih terjadi. Bahkan beberapa dari kasusnya tidak rampung, dan tidak menemukan titik terang. Hal ini membuktikan adanya praktik impunitas pada kasus-kasus kekerasan terhadap jurnalis. Pihak berwenang seakan tidak berdaya mengungkap penjahat kebenaran, atau bertindak ogah-ogahan dalam menelusuri kasus ini.

Dalam catatan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia, dari 12 kasus pembunuhan jurnalis itu terdapat delapan pembunuhan jurnalis yang terbengkalai dan para pelakunya belum diadili.

Delapan kasus pembunuhan jurnalis itu yang kasusnya tak terselesaikan adalah kasus pembunuhan Fuad Muhammad Syarifuddin alias Udin (jurnalis Harian Bernas di Yogyakarta, 16 Agustus 1996), Naimullah (jurnalis Harian Sinar Pagi di Kalimantan Barat, ditemukan tewas pada 25 Juli 1997), Agus Mulyawan (jurnalis Asia Press di Timor Timur, 25 September 1999), Muhammad Jamaluddin (jurnalis kamera TVRI di Aceh, ditemukan tewas pada 17 Juni 2003), Ersa Siregar, jurnalis RCTI di Nangroe Aceh Darussalam, 29 Desember 2003), Herliyanto (jurnalis lepas tabloid Delta Pos Sidoarjo di Jawa Timur, ditemukan tewas pada 29 April 2006), Adriansyah Matra’is Wibisono (jurnalis TV lokal di Merauke, Papua, ditemukan pada 29 Juli 2010) dan Alfred Mirulewan (jurnalis tabloid Pelangi, Maluku, ditemukan tewas pada 18 Desember 2010).

Hal ini seharusnya dapat dihindari. Kebebasan Pers menjadi hal penting sebab dengan kebebasan pers tidak hanya dinikmati oleh kalangan jurnalis atau pers sebagai penghimpun dan penyalur informasi, tapi juga dan seluruh rakyat Indonesia. Media memiliki kebebasan dalam menyampaikan informasi dalam bentuk apapun, dan rakyat berhak menerima segala jenis informasi.

Pasal 19 dari Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia (DUHAM) mengatakan bahwa hak fundamental dari kebebasan berekspresi mencakup kebebasan “untuk mencari, menerima dan menyampaikan informasi dan buah pikiran melalui media apa pun dan dengan tidak memandang batas negara”. – Aji Indonesia

Oleh karena itu, kasus kekerasan, pelecehan, dan segala macam tindak melanggar konstitusional terhadap jurnalis merupakan hal yang tidak bisa dibenarkan. Pers berperan penting dalam pembentukan pemikiran masyarakat. Selama jurnalis masih terus terang dalam menyampaikan berita, menyuguhkan fakta, mengorelasikan peristiwa dengan kronologi nyata, saya rasa masyarakat masih bisa mempercayai kebenaran berita yang dipublikasikan melalui media. Sikap kritis pers dapat membuka naluri masyarakat akan kredibilitas suatu isu, pernyataan, atau kejadian. Pers sebagai penyambung kebenaran agar mencapai khalayak umum.

Melalui kebebasan pers hari ini, saya memiliki harapan bahwa saat ini hingga kapanpun, komunitas pers tetap memegang teguh kredibilitas, kejujuran, dan idealismenya. Jangan sampai baik media, maupun jurnalis dibeli oleh pihak-pihak tertentu demi memberi sudut pandang yang berbeda, menyimpang dari fakta, sehingga menguntungkan atau dapat merugikan sebelah pihak. Ingatlah pada kode etik jurnalis yang menjadi batasan sekaligus pedoman dalam berperan sebagai jurnalis. Jurnalis cerdas bukan hanya dia yang giat melaporkan, menyiarkan, menghimpun berita atau informasi. Tapi mereka yang berani menyibak fakta yang tertimbun, tertutup, tersamarkan oleh kepentingan sepihak, mereka yang berani mempertaruhkan nyawa demi kebenaran dan meringkus penjahat-penjahat berita. Saya pun berharap, baik media apapun dan kepada jurnalis di seluruh Indonesia untuk menjaga kejujuran dalam meramu informasi. Jadilah poros kepercayaan publik terhadap apapun kejadian di muka bumi ini. Selain itu, untuk masyarakat luas, mari bersama-sama menyaring informasi dari berbagai lini. Kita mesti pandai dalam menyerap berita, menyinggungnya lewat media sosial. Akrabnya media sosial di tangan kita, seakan telah merebut semua sudut pemberitaan di hidup kita. Padahal, banyak berita bohong justru berasal dari oknum-oknum masyarakat, yang sengaja atau tidak, menyebarkankan melalui media sosial. Terlebih 2 tahun ke depan merupakan tahun dengan isu pilkada, pilpres, yang “empuk” untuk dibahasa secara dangkal oleh oknum tidak bertanggungjawab. Mari bersama-sama melawan hoax, membangun kepercayaan atas berita dan media yang kerdibel, sehingga masyarakat masih mendapat haknya atas kemerdekaan pers. Seperti yang menjadi sorotan dalam konferensi memperingati World Press Freedom Day 2018 di Ghana 2-3 Mei 2018. Untuk menangkal fake news, media perlu melakukan verifikasi data dan fact checking.

Selain tetap menjunjung tinggi kredibilitas pada komunitas pers, saya berharap segala jenis tindakan merugikan yang dilakukan pada jurnalis saat melakukan tugasnya dapat berkurang atau bahkan tidak lagi terjadi. Termasuk pelecehan dan kekerasan, baik pada jurnalis laki-laki maupun perempuan. Terlebih jurnalis perempuan, yang masih sering menjadi objek pelecehan saat bertugas. Beberapa kasus pelecehan terhadap jurnalis perempuan dapat memberikan dampak negatif baik pada jurnalis tersebut. Serta pengusutan secara tuntas atas kasus pelecehan terhadap jurnalis. Selain tindak pelecehan yang bisa menimpa jurnalis, kekerasan pada saat peliputan atau usaha pembunuhan pada jurnalis sepantasnya mendapat jerata hukum yang jelas. Lindungi hak-hak pers dan lindungi hak-hak jurnalis.

Kebebasan Pers bukan seremoni, lahirnya untuk menegakkan kemerdekaan berinformasi, kebebasan berekspresi dalam bentuk dan melalui perantara apapun. Lahirnya peringatan kebebasan pers bukan semata melindungi komunitas pers, tapi juga melindungi hak masyarakat untuk mendapat informasi dan pencerdasan.

Jurnalistik mengajarkan saya kesabaran, kejujuran, keikhlasan, meskipun banyak hal kemudian lantak. Tapi nilainya tidak luntur.

Tidak lupa saya berterima kasih banyak kepada semua teman-teman saya di Lembaga Pers Mahasiswa Erythro FK UNS yang telah menampung cita-cita saya, tetaplah menjadi kebanggaan, tetaplah mengudara meski angin ribut menjatuhkan, tetaplah menebar berita tanpa pilih, dengan sepenuhnya kasih. Juga Ruri yang sedang menempuh belajar di jurusan Jurnalistik, juga kedokteran, aamiin. Kepada mimpi-mimpi saya, yang sempat mati-hidup-pingsan-hingga entah seperti apa rupanya saat ini. Bagi saya, jurnalis adalah aktor kebenaran, pemeran utama dalam penokohan kehidupan. Bagi saya pekerjaan jurnalis adalah ladang kebaikan, selama yang kita pegang sebagai idealisme adalah kebenaran dan ikhlas mencerdaskan.

img_20180306_191053_578433634780.jpg

Aku yang terempas, menyinggung pun tak pantas. Kalian kaum atas, aku biarlah meretas.

Ada langkah yang jauh mesti kutempuh. Aspal panas kurasa di permukaan telapak kakiku hingga melepuh. Matahari angkuh tak peduli seberapa tipis kulitku yang terbakar dan tubuhku yang lemah tak mungkin berteduh. Juga hujan yang tidak tahu malu, datang dengan titik besar dan gelegar riuh. Atau mataku yang mesti merekam semua kejadian secara utuh.

Ada hal yang sulit untuk kulakukan. Menjadi jujur tanpa tendensi dan/atau tekanan. Lebih lagi menanggalkan segala identitas demi posisi yang serba netral dan berdiri atas asas kebenaran. Melawan ribuan dugaan dengan fakta yang dirangkai dalam kronologi peristiwa tanpa rekaan. Sulit, karena ini membuatku berada di ruang sempit. Bagiku, seorang yang suka menerabas kewajaran, bahkan kadang oleng hilang iman.

Kartasura-Solo-Klaten. 2018

Izinkan Hera jadi jurnalis, Tuhan.

 

Rindu dan Pengkhianatan Gadis Tanpa Mimpi

Aku Rindu. Merayap melalui kalbu, memoar kenangan yang lalu, sungguh akulah penguasa hati mereka yang sendu. Setiap senja aku bersepeda, mengelilingi kota, menangkap banyak pasangan muda sedang bercengkrama di taman kota. Beberapa dari mereka baru saja mengikat cinta, ada pula yang bertemu karena menuntaskan perkara, juga merundingkan tujuan hubungan mereka. Aku Rindu, yang hadir bersama titik-titik hujan yang syahdu. Rintiknya mengingatkan pada memori tempo dulu, seakan perasaan dibawa pada masa lalu; entah baik, atau sakit. Aku Rindu, yang tak pernah merasakan rindu pada siapapun kecuali kau. Aku yang mengulangi namaku berkali-kali untuk menjelaskan perasaanku padamu, tapi kau tak pernah mengenalku. Aku Rindu.

Gadis belia itu tak pernah tersenyum, semenjak keinginannya untuk sekolah menjadi jurnalis hancur lebur. Kedua orangtuanya memaksanya menjadi seorang yang lain, cita-cita lain. Setiap kelas dimulai wajahnya murung, langkahnya lesu, ayunan tangannya tidak menandakan ada peredaran darah di dalamnya. Dia selalu duduk di belakang, ketika yang lain khusyuk mendengarkan, dia asik membaca buku yang bukan bidang kuliahnya. Gadis itu selalu berat melangkahkan kaki ke kampus setiap hari. Dia yang dikenal sebagai gadis tanpa mimpi. Karena pengkhianatannya pada mimpi yang telah ia bangun sejak kecil.

Sungguh, betapa aku memiliki rindu yang tak terbendung. Juga kesal yang tak terlampiaskan. Keduanya menjerat hatiku, mencekik akalku. Ego atau nurani yang bekerja dan menang? Aku pun belum tahu. Aku tersiksa oleh hujan yang kuberi aroma rindu, aku sendiri merindu. Kepada tulisan-tulisan, diskusi-diskusi basi, atau lingkar-lingkar nadi perekat harmoni. Sungguh, bila kau bisa merobek dada ini dan membaca isi hatiku, aku benar-benar rindu padamu, pada diskusi kita, pada topik-topik konyol yang sebenarnya tak perlu dibicarakan. Tapi itu membuatku menjadi Rindu!

Setegar apapun aku melewati hari, mencoba menyembunyikan rasa, bahwa aku hanya bisa menulis kata, mengeja rupa dari rindu. Kau tak pernah muncul. Hanya ekspektasi saban hari, bahwa kita masih berhubungan, kita masih sepenanggungan, kita adalah rindu yang tertuntaskan! Kau tetap hilang.

Hadapilah kenyataan-kenyataan bahwa gadis ini lemah, tapi bodohnya dia tak mengenal lelah pun rupanya belum menjumpai sosok menyerah untuk mematikan langkah. Terlihat sia-sia belaka, dan dia tak pernah tahu ujungnya. Mungkin saja indah atau sekadar melepas kata “ah” dengan sisa amarah. Gadis tanpa mimpi adalah sebutan paling baik, paling adil, sangat bijak. Katanya, dia selalu bermimpi, tapi selalu patah. Mungkin Tuhan iri pada usahanya, pada doa-doanya, pada tekadnya. Tuhan tak ingin memiliki pesaing dalam hal ketekunan. Termasuk ketekunan untuk mimpi.

Aku dan Gadis Tanpa Mimpi adalah setali tiga uang. Sama. Senasib. Rindu dan Gadis Tanpa Mimpi hanyalah produk Tuhan untuk melengkapi masalah-masalah di dunia, membuat syetan sibuk bekerja, juga malaikat sibuk mencatat amal. Tuhan begitu adil, disainginya ketekunan kami. Hingga pernah kami saling berbicara lirih.

“Kau, Gadis Tanpa Mimpi. Tidakkah hidupmu hampa, tanpa tujuan, tanpa arah, tanpa ambisi?”

“Manusia sejatinya hanya budak mimpi. Mereka tidur, bermimpi, bangun, dan mewujudkan mimpinya. Begitu kata orang bijak. Kata orang yang sukses mencapai mimpinya. Tapi kataku, Gadis Tanpa Mimpi, mimpi hanyalah pelarian dari mereka yang berambisi. Mimpi hanyalah sebuah aikonik semata dari tujuan hidup manusia di dunia. Mereka kemudian lambat menyadari, mimpi mereka bisa menjadi 2 hal.”

“Apa itu keduanya?” Tanyaku heran.

“Usaha baik, usaha buruk. Perkara bahagia, perkara susah. Nasib baik, nasib buruk. Tergantung pada mereka yang mendapatinya.”

“Lantas, apa kau masih percaya pada mimpi? Tapi selama ini kau telah melupakannya, beralih pada yang lain. Kau pengkhianat!”

“Aku adalah orang yang paling dibenci mimpi. Tapi aku masih percaya padanya.”

“Seperti apa?”

“Setelah logikaku lumpuh dihadapkan oleh usaha-usaha kerasku yang luluh lantak. Aku masih memiliki satu hal; hati. Bukan mimpi yang kutempatkan di sana. Tapi Tuhan. Seberapa Tuhan membenciku, membenci mimpiku, biarlah Dia tetap bersarang di hatiku.”

“Mengapa?”

“Seperti kata orang bijak kala seorang sedang bimbang, susah, nan lara. Ikutilah kata hatimu. Jika di hatiku bersarang Tuhanku, niscaya Tuhan yang membimbingku. Jika itu mimpi duniawi, ambisilah yang menggiringku entah kemana.” Jawabnya sambil berdiri hendak pergi.

“Bagaimana dengan aku?”

“Aku merasa, kau bukan merindukan seorang, dua orang. Kau merindukan dirimu sendiri.”

“Apakah kau pernah begitu?”

“Sering, saat mimpiku hilang. Aku pun hilang. Terlebih cintaku pada mimpi itu lenyap oleh ambisi dan amarah manusia. Amarahku.” Gadis Tanpa Mimpi kembali duduk,dia menunduk, matanya membesar menahan air mata.

“Suatu waktu, aku ingin menulis tentang kita; Rindu dan Pengkhianatan Gadis Tanpa Mimpi.”

“Ya, kau bisa mengganti tokohnya dengan nama Hera.”

“Setuju!”

Kami bersalaman dan sepakat. Seterusnya kami bertemu untuk menulis hal itu, untuk memenuhi hati yang kosong, jiwa yang kopong dari seorang tokoh yang kami munculkan; Hera.

 

[Refleksi]: Menempatkan Tuhan

Persepsi bahwa dengan beragama, seseorang sudah mendapat legitimasi atas kebenaran di dunia dan di akherat. Apakah demikian? Berbagai persoalan mengenai agama, Tuhan, dan kepercayaan benar salah justru semakin menjadi bola minyak yang siap terbakar kapan saja ketika dipercikkan api. Apakah demikian Tuhan menafsirkan agama?

Ritus-ritus kepercayaan, menjadi bulan-bulanan ketika kelompok lain menasbihkan hal tersebut tidak rasional, gila, dan menyalahi kodrat. Sulit, benar-benar sulit.

Kita justru disibukkan dengan persepsi-persepsi dan mencoba mengaitkan dengan akal budi, tapi hasilnya nihil. Manusia lebih sering terjebak dalam konsep surga-neraka ketimbang ikhlas. Manusia kemudian juga menjadi lebih malas karena bergantung pada takdir yang abu-abu. Lucu. Sebenarnya manusia-manusia itu beragama untuk siapa? Kepada siapa?

Apa gunanya mengaji, menghapal kitab suci saban hari, jika emosi dan ambisi duniawi masih bercokol di hati? Apa guna menyembah Tuhan sampai sujud berlama-lama, jika tiada sedikit malu di hati saat berbuat nista? Apa guna berkata lillahi ta’ala, jika lebih takut pada api neraka ketimbang tulus ikhlas bertaubat pada Tuhan. Bukankah Tuhan yang menentukan di mana kamu kelak, surga atau neraka.

Kita sering bias terhadap pemahaman dan konsep dalam berkeTuhanan. Menjalankan syariat sebab takut dibakar di neraka. Atau berlaku kebaikan sebab ingin bertemu bidadari di surga. Lebih lagi menjalankan syariat hanya demi mengejar nafsu dunia, pujian-pujian orang banyak, atau sekadar menanggalkan tanggung jawab. Lantas di mana letak Tuhan dalam konsep beragamamu?

Untuk apa mengimani Tuhan, jika kau sendiri tidak bisa menghadirkan Tuhan dalam hatimu.

Di mana letak Tuhan sebenarnya bagi umat beragama? Di surgakah? Di nerakakah? Di ladang, di pantai, di bukit, di kota, di gedung, di pemakaman, di sekolah, di warung, atau di hatimu? 

Cobalah wahai manusia yang sempat membaca tulisan bodoh nan bodong ini. Pejamkan matamu dan selami dalam-dalam kalimat berikut:

Jika kau menempatkan Tuhanmu di hatimu, bukan di surga yang susah-susah kau capai dengan ribuan syariat itu. Percayalah, bahkan tanpa larangan, anjuran, kau akan tetap menjalankan kewajiban beragamamu, bahkan lebih dari yang biasanya. Karena Tuhan selalu ada, hadir, dan turut andil dalam hidupmu. Begitu dekat.

 

Agama, kepercayaan, Tuhan, adalah hal gaib yang tumbuh disengaja dalam pribadi kita; manusia. Jika kau masih memperdebatkan hal-hal fisik darinya, semestinya aku bertanya mengapa kau iman kepada Tuhan yang tidak berupa. Jika kau masih mengejar hal-hal tersurat darinya, semestinya aku bertanya bagaimana caramu menuliskan hapalan kitab sucimu di dalam ingatanmu. Jika kau masih menimbang antara perilaku baik dan tingkat religiusitas, semestinya aku bertanya apakah masih kurang puitiskah bahasa kitab sucimu? Sehingga kau benar-benar tolol untuk memahaminya.

 

Untuk apa menguasai agama secara fisik, jika Tuhan sendiri adalah gaib. Hatimu; semestinya manusia kembali pada hatinya ketika berbicara konsep keTuhanan. Bukankah Muhammad sebelum dinobatkan menjadi nabi, terlebih dahulu hatinya dibersihkan oleh malaikat-malaikat? Hatimu; di mana Tuhanmu bersarang, berdiam, mengeja kekuatan-Nya yang Mahamengetahui.

 

Solo, 2018.

Menempatkan Tuhan.

[Surat Terbuka]; Tentang bagaimana air mata bercerita

Bersantailah, aku yang akan menerima penyiksaan dari Tuhan. Bukan kalian, wahai pemangku jabatan pemilik kekuasaan!

Bersantailah, aku yang akan menanggung penyiksaan dari Tuhan. Bukan kalian, wahai pemangku jabatan pemilik kekuasaan.

Bukan maksudku untuk membenci, menoreh luka di hati, atau banyak bicara tanpa solusi. Aku sebagaimana aku yang telah melewati sedikit kesusahan, beberapa permasalahan, dan penyesalan hingga membuatku tak mungkin lagi berniat mengulanginya. Aku menghargai segala bentuk kata maaf, permohonan ampunan, dan perbaikan. Tapi aku akan lebih memberi harga mahal pada maaf yang tidak disertai kesalahan yang sama lagi. Begitulah aku, dengan segala kekuranganku dan kekhilafan dari sifatku. Namun begitu bukan berarti aku yang paling benar, kau yang salah atau sebaliknya. Kurasa kita sedang dalam lingkaran api yang dingin, memanas karena kita yang menyulutnya, mengobarkannya, dan melukai diri kita sendiri. Sadar atau tidak, surat ini adalah ungkapan hati, bukan untuk menyudutkan pihak-pihak lagi. Sesungguhnya, selalu ada ruang putih di antara hatiku yang terlanjur keruh karenamu.

Aku tidak pernah merumuskan masa depanku, bahkan mengenai rekam jejak pendidikanku. Sungguh, mungkin aku adalah satu di antara sedikitnya manusia yang bertahan pada kehendak Tuhan, menanggalkan keinginan pribadi dengan memutuskan mimpi. Yakin, aku hanyalah manusia penerima takdir, tidak lebih. Bisa dikatakan aku adalah pengemis kemurahan Tuhan, tapi lebih sering mencaci-Nya karena keputusan-Nya yang tak kuharapkan. Jadi, ketika suatu hari aku menjalani jalan takdir dengan setengah hati, atau sepenuh hati tapi terlalu kaku, itu murni karena aku ingin membuktikan pada Tuhan, bahwa aku semakin kuat ketika diuji, bukan sebaliknya. Semata-mata hanya itu, bahkan tidak sedikitpun aku berpikir untuk mencari nama, jabatan, kekuasaan, dan saudara-saudaranya. Jika dikatakan lillah, menurutku belum sepenuhnya. Sebab lillah adalah benar-benar untuk Tuhan, tapi di sini aku pun berniat mengeksploitasi kemampuanku sendiri sampai di tahap mana. Maka, kemudian aku harus berbuat sesuatu dan pada akhirnya aku dapat mengevaluasi diri. Oleh karena itu juga, terkadang aku lebih urakan, tidak teratur, dan nekat. Sebab dengan begitu kemampuanku akan terukur, dari dalam diriku akan memunculkan ciri khas, dan lebih lagi aku jadi paham tentang diriku sendiri. Sekali lagi, atas semua keputusanku sesungguhnya semuanya telah melalui pemikiran panjang, keresahan berkelanjutan, dan aku telah memutuskan dari banyak sisi dan lini.

Bukan soal mudah untukku membenci orang. Ibuku tidak pernah mengajarkannya. Bahkan di setiap jenjang pendidikan yang baru kutempuh, Papaku selalu menitipkan pesan, “Cari sebanyak-banyaknya teman, maka kamu akan diikuti banyak kemudahan”. Bukan nilai, prestasi, tugas, yang selalu ditanyakan oleh Papaku. Tapi satu demi satu teman-temanku. Itulah mengapa, aku selalu mencoba untuk berteman dengan semua orang, dengan latar belakang beragam, kemampuan yang tidak seragam, dan aku bahagia atasnya. Namun, tidak menutup kemungkinan bagi kita dalam bergerak bersama, bebas dari masalah dan pertikaian. Terlebih visi yang harus diwujudkan bersama, bergotong-royong, saling mengikat, membuat sumbu perbedaan itu mudah tersulut. Juga isi kepala dan idealis yang kadang bertolak belakang, bukan bermaksud saling menenggelamkan tapi beginilah belajar membangun persamaan. Organisasi adalah wujud gerak dalam persamaan, kesetaraan, dan kemapanan. Kita bisa kembali menilainya ketika sudah purna. Apakah semuanya telah terwujud, atau justru semakin ribut?

Tidak mudah bagiku untuk meneteskan air mata. Aku, yang terlalu sering tertawa. Aku, yang selalu memilih menutupi perasaan dan mengalah. Ibuku bilang, “Haram hukumnya menangis untuk kesalahan sendiri, untuk orang yang menyakitimu, untuk mereka yang berdosa padamu. Jadilah tegar dan kuat, menangis hanya membuatmu lega tanpa menaikkan derajat kehormatan”. Tapi di sini, tentang bagaimana air mata yang bercerita. Menyoal segala amanah yang berat dipikul di pundak, pertanggungjawaban yang terngiang di otak. Air mata yang begitu jujur mengucur tanpa izinku. Ketahuilah, aku mencoba menguatkan, tapi terkadang memang tak bisa tertahankan.

Teruntuk pemangku jabatan, pemilik kekuasaan. Kutitipkan segala mimpi yang kurajut sejak dulu, meski Tuhan hanya memberiku secuil ladang dan kesempatan untuk mewujudkannya. Kemudian luluh lantak. Ya, aku yang keliru mengartikannya. Bukan kalian. Aku yang tak becus menerimanya. Bukan kalian. Aku yang bodoh, terlalu tinggi memimpikannya. Bukan kalian. Aku, aku yang terlalu jalang menyebutnya mimpi. Membebani kalian dengan idealisku yang rendahan, tidak relevan. Akulah pendosa, akulah tersangka. Selamat melanjutkan jalan.

Solo, 2018.

Aku telah berjabat tangan tanda sepakat, pada mimpi yang hendak berangkat. Tanpaku, menuju akherat.

Anekdot Idealisme

Pada hari Kamis yang manis, seperti biasa aku kuliah sebagaimana mestinya. Hari itu, kelas selesai jam 2 siang. Karena hujan dan aku kelaparan, akhirnya aku mengajak teman-teman untuk makan di kantin. Hingga malam tiba, tersadar motorku masih terparkir di gedung F FK UNS. Ditemani salah satu temanku, aku mengambil motor pada pukul 18.45. Betapa kagetnya aku ketika helmku hilang, tinggallah motorku sendirian. Karena dalam kondisi bingung, aku memilih pulang ke kos. Aku bercerita tentang kehilanganku pada salah satu sohibku.

Aku: “Anjir helmku ilang.”
Choi: “Astagfirullah, tenanan?”
Aku: “Genah, saiki aku ra nganggo helm. Biasane piye?” (Bener, sekarang aku nggak pake helm. Biasanya gimana?)
Choi: “Kok isoh sih? Tapi emang udah sering, dan banyak yang kehilangan juga.”
Aku: “Aku yo nggak tau, aku ambil motor udah nggak ada. Mana aku besok harus pulang Klaten. Mosok aku pulang motoran, sirahku gundulan?”
Choi: “Ya pinjem.”
Aku: “Terus kesehariannya, aku nggak pake?”
Choi: “Ya nggak usah. Kan kosmu deket.”
Aku: “Apakah aku masih pantas menyebut diriku mahasiswa K3 yang tiap hari ngomong risiko, kecelakaan, keselamatan, opolah kui, kalau aku sendiri naik motor nggak helm-an?”
Choi: “Jangan terlalu idealis, nanti gila.”
Aku: “Oke. Kalau gitu tak balik. Apakah aku masih pantas mengaku Islam, kalau aku nggak sholat 5 waktu? Apa aku nggak malu sama Tuhan? Helm itu aturan, kewajiban untuk keselamatan, sholat itu aturan, kewajiban untuk ummat.”
Choi: Hening
Aku: “Kalau manusia sekarang punya tanggung jawab moral dan menerapkan segala keilmuan yang dia dapat dalam kehidupan. Aku rasa mereka nggak akan membenturkan diri mereka pada peraturan. Apalagi menerobosnya secara urakan. Sekarang aku tanya, kamu punya tanggung jawab moral nggak sebagai seorang warga negara terhadap peraturan di negara ini? Oke itu klise. Sekarang kamu punya tanggung jawab moral nggak sama Tuhan, atas otakmu, kepalamu, kedua mata, hidung, pipi, mulut, gigi, dagu, telinga, bahkan kulit wajahmu yang Tuhan berikan lebih dari yang lain?”
Choi: …

Solo, 2018.