Narasi Pembuktian

Aku dan kakakku masih berbisik berisik sehabis sholat Isya berjamaah. Mukena yang kukenakan belum juga kulepas, kubalik bagian jilbabnya, kusibakkan ke belakang seperti rambut yang terurai. Kami berdiskusi dan berpikir, menimbang hadiah yang cocok untuk Papa kami yang esok pagi berkurang usianya.

“Bagaimana kalau roti?” Kataku.

“Jangan, kita nggak punya uang yang cukup.” Tegas saudaraku.

“Hmm, yasudah, kasih kata selamat dan ciuman saja.” Balasku.

Kami menyudahi malam dengan bergurau bertiga; aku, kakakku, dan papaku. Mamaku sedang jaga malam di ICU RSUP Soeradji Tirtonegoro. Kami menanti pagi yang sumringah karena Papa akan berumur 49 tahun.

Aku belum bangun, ketika adzan Subuh memanggil. Tapi Papaku sudah. Ia segera mejalankan ibadah sholat Subuh selepas iqomah terdengar. Biasanya aku dan kakakku akan sholat Subuh pukul 05.00, sedangkan adzan Subuh berbunyi pukul 04.35. Baru saja hendak membangunkanku, suara gemuruh dan goyangan tanah mengagetkan Papaku. Dengan segera ia menarik tanganku dan kakakku, padahal kami benar-bemar belum bangun dan belum tahu apa yang terjadi. 11 tahun berlalu. Gempa membangunkan kami lebih pagi, Mamaku menangis sepanjang jalan dari tempatnya bekerja hingga rumah. Banyak korban dibawa ke UGD, dia tak sanggup membayangkan keadaan keluarganya di rumah. Untung kami berempat selamat di dua tempat. 11 tahun berlalu, kami tinggal di rumah yang dulu sempat separuh hancur, dan sisanya berdiri dengan bantuan bambu penyangga. Rumah ini adalah warisan dari kakek buyutku dari keluarga Papaku. Separuh yang hancur telah berdiri baru dengan konstruksi yang hampir sama. Separuhnya masih utuh semenjak gempa terjadi.

Kesempatan dan amanah menjadi Lurah, tidak dimanfaatkan Papaku untuk memperkaya diri. Bolak-balik ditawarkan sejumlah investasi berwujud tukar guling ditolaknya. Beliau tahu bahwa hal ini tidak benar. Maka ia tidak setuju. Bantuan selalu diwujudkan. Tidak ada ceperan yang dia minta atau dapatkan seperti perangkat desa lainnya. Meskipun keadaan rumah kami yang sebagian kian mengenaskan.

11 tahun meninggalkan retakan gempa, semua rumah yang mendapatkan bantuan setahun setelah gempa terjadi, berdiri kokoh lebih bagus dari sebelumnya. Sedangkan rumah kami tidak. Papaku tidak memanfaatkan posisi Lurahnya untuk memperbaiki rumah. Baginya, gajinya hanya hasil dari sawah bengkok milik desa.

Fenomena dan gejolak politik tingkat desa pernah kualami. Jangankan masalah memilih pemimpin seiman atau pekerja keras, isu agama, hingga pengkhianatan. Semua kurasakan pada pemilihan Lurah selanjutnga setelah periode Papaku habis. Papaku mencalonkan diri lagi, melawan mantan Lurah yang ia tumbangkan sebelumnya. Duel hebat terjadi. Isu agama lebih kengerikan daripada masalah Ahok. Fitnah keji sampaj penjemputan dan doktrin paksa oleh lawan main mewarnai pemilihan Lurah yang dilakukan 2 ronde ini. Tapi takdir memang memihak kami. Meski Papaku tak lagi diamanahi menjadi Lurah, kakakku tetap bisa kuliah di universitas ternama, dan aku masuk SMA favorit di Klaten.

Selama ini juga, aku berlindung dari hujan dan panas terik. Guntur dan gemuruh petir menyambar sesekali di atas awan hitam desaku. Selama itu juga, terkadang dapurku banjir air hujan. Sedekade lebih, aku tidur dengan usikan tikus, kodok, kecoa, dan cicak setiap malamnya. Terkadang aku menangis dan sedih. Rumah kami bagaikan suaka margasatwa mini. Belum lagi, sebagian tanah pekarangan warisan ini direbut saudara kakekku. Sayangnya, setelah mengambilnya secara paksa, sang empunya justru menjadikannya ruang yang kotor, jogangan sampah rumah tangga, dan sama sekali tidak mau mengurusnya. Rumah kami kian hari semakin menjijikkan.

11 tahun berjalan setelah gempa, hampir 5 tahun meninggalkan goresan luka pemilihan Lurah. Rumah kami tetap sama. Berdiri reot, dihiasi lurik retak, dan hewan liar. Selama itu juga, kastanisasi terjadi. Dirasa tidak menjadi tokoh di desa, Papaku tersingkir. Bukan bermaksud selalu ingin dihormati atau gila hormat. Tapi semua berubah, keluarga kami tak lagi diindahkan seperti yang lain. Entah karena apa, mungkin karena Papaku tak bekerja lagi, tak berpenghasilan, di rumah, menganggur. Sedangkan Mamaku semakin giat bekerja, sadar bahwa menguliahkan kakakku di UGM dan aku di SMA tidaklah sedikit biayanya. Siang malam, pagi sampai sore, jarang mengambil cuti, hanya untuk mendapat uang lauk pauk dan gaji yang cukup untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anaknya. Karena tekunnya bekerja, hingga terkadang Mamaku tidak mengikuti kegiatan ibu-ibu di desa yang memang kurang produktif menurutku. Kegiatan itu bukan meningkatkan kualitas dari ibu-ibu, tapi hanya ajang berkumpul dan bergosip, memutar uang dengan arisan, dan menghabiskan waktu. Karena memang ibu-ibu ini bekerja sebagai pencetak batu bata dan ibu rumah tangga. Jadi, tidak heran juga jika Mamaku tidak mengikuti kelas sosialita seperti arisan itu. Karena memang Mamaku pulang ke rumah sudah hampir waku Magrib, dan harus mengurus rumah. Hal ini membuat Mamaku justru dijauhi oleh sebagian ibu-ibu. Aku juga tak tahu sebab jelasnya. Mungkin karena Mamaku tidak mengikuti kegiatan semacam itu, sehingga dianggap tidak gaul menurut mereka.

Perkara ini tidak berhenti di situ. Orang-orang kebanyakan menjadi memicingkan mata kepada keluargaku. Karena jarang bahkan tak pernah bergabung dalam arisan itu, rumah kami tak kunjung diperbaiki, dan motor tetap itu itu aja. Sedangkan yang lain, semakin menumpuk arisan ibu-ibu, gonta-ganti motor, geber sana sini, dan berlagak bak sosialita kelas desa. Semakin ke sini kami semakin terpojok. Hadirku di kumpulan muda-mudi juga semakin tersudut karena politisasi seorang pemudi yang mendominasi kepengurusan. Itulah sebabnya aku menjadi sedikit pasif. Karena sewaktu aku aktif pun, aku disindir dan disingkirkan. Maka biarkan aku menjadi penonton setia, dari dirinya yang seakan menjadi penguasa. Ini sungguh. Aku tak mengada-ada. Maka dari itu, aku lebih suka berorganisasi, berkegiatan di luar wilayah rumahku. Sangat disayangkan. Sebenarnya aku sangat terinspirasi oleh teman sejawatku; Ruri. Aktivis baik hati, berani, dan cerdas. Menulis cadas, tajam, dan penyayang.

Sudah lebih dari 10 hari, separuh rumahku sudah dihancurkan dan dibangun ulang. 13 hari yang lalu, aku dan keluargaku memboyong perabotan dari rumah ke gubuk tempat penyimpanan sementara. Saat itu juga, sedang berlangsung arisan heboh ibu-ibu sosialita itu. Dan kami pun asik sendiri, dengan guyonku yang lucu tapi retjeh. Haha. Dan kau tahu, bagaimana ekspresi ibu-ibu itu? MEMICINGKAN MATA! Terlebih si Mbak yang selalu memimpin, eh sok memimpin. Semua terheran, kaget, dan terbelalak, jika Mamaku mampu mengumpulkan uang, dan membangun rumah kami dari 0. Semua tak pernah mengira, bahwa uang yang selama ini tak pernah diikutkan pada arisan, selama ini telah menjadi tabungan haji dan tabungan untuk material membangun rumah. Semua terbelalak, ketika yang mereka pikir “Si Miskin” ialah Mamaku, yang jarang terlihat glamour dan nongki-nongki sosialita, ternyata terlalu visioner.

Hampir 5 tahun, dan semuanya terjawab. Bahwa Mamaku yang bekerja seorang diri, bukanlah sosok yang sepele. Selama ini, tak pernah ia cemburu dengan keadaan orang lain. Ia selalu fokus dengan biaya kehidupan dan pendidikan anak-anaknya. Ia tak goyah, meski banyak cibiran datang menerpa wajahnya.

“Jare gajine jutaan. Mosok ramelu arisan.”

“Laiyo, omah e yo ra didandani.”

“Gene, aku sing mung buruh kasar isoh nganggo gelang emas.”

“Iyo, anak e wadon yo ora dinggoni ali-ali.” (Ali-ali berarti perhiasan)

Mengerikan dan sungguh menyakitkan. Aku selalu membujuknya untuk melawan, tapi ia enggan.

“Biarkan saja. Mama itu masih kuat. Yang penting kamu sekolah, selesai, bisa mandiri, Mama dah senang. Insha Allah Mama bisa berangkat haji juga karena Mama nabung sendiri.”

Terkadang tidak jarang Mamaku berkata, ia rela menjual perhiasannya untuk memenuhi UKT atau biaya pembangunan rumah. Juga niat untuk menjuap rumah kami di Denpasar. Tapi selalu kucegah.

Aku selalu banyak belajar bersamanya. Meskipun pemikirannya sangat praktis. Lulus kuliah kemudian bekerja dan menikah. Sedangkan aku lebih cenderung bersantai. Tapi kegigihannya, keteguhannya, cita-cita mulia yang ia pegang selama ini adalah mengantarkan anak-anaknya menjadi sarjana, mapan, dan berkeluarga. 

Sekalipun banyak cuitan yang menyakitkan, jawabnya hanya singkat, “Yang terpenting, aku nggak minta makan sama dia. Jadi kenapa harus repot-repot ngurusin mereka.”

Inilah narasi pembuktian. Bahwasanya Mamaku bukanlah penimbun harta, pecinta dunia. Mamaku sangat baik budinya. Meskipun dari kanak-kanak hingga renta ia masih saja belum tergolong kaya, ia tabah menerima. Ia tahu, Tuhan Mahaadil, rizqiNya tak mungkin salah alamat, waktunya selalu akurat, dan jumlahnya tepat.

Tulisan ini bukan bermaksud untuk merendahkan orang lain, atau meninggikan sepihak. Melainkan untuk membukakan mataku, bahwa perjuangan belum berakhir. Perjuangan Mama masih sedikit lagi.

Tulisan ini aku dedikasikan penuh untuk semua kalangan. Agar kita paham, bahwa setiap orang memiliki cita-cita dalam kehidupannya masing-masing. Jangan samakan isi pikiran seorang dengan yang lain. Jangan seragamkan kehidupan seorang dengan yang lain. Karena sejatinya setiap insan memiliki hak hidupnya masing-masing. Namun, jangan sampai meninggalkan kontak sosial dengan masyarakat. Karena kita selalu hidup berdampingan, saling membutuhkan. Juga sayangilah orang tuamu. Tak pernah ada orang tua yang berniat baik menjerumuskanmu. Dan hargai penuh perjuangan mereka. Meskipun sering kali tak sejalan dengan zaman dan idealisme kita kaum muda.

Untukmu, Mama. Meski aku belum bisa berlaku apa-apa, dan hanya kata terima kasih, uh, dan sedikit bentakan yang kuberikan, bukan berarti aku tidak paham perjuangan Mama. Aku juga akan segera menjadi seperti Mama. Memiliki cita-cita besar untuk anak-anakku. Karena aku tahu, jika Mama tak berkenan menguliahkan aku dan kakakku, maka dari dulu mungkin dirimu sudah mengenakan tas branded, perhiasan beraneka rupa, membeli mobil, arisan dengan banyak nama, dan berhura-hura semaunya. Tapi aku tahu, Mama memang bukan orang kaya, bahkan sampai Mama menjadi tua. Maka dari itu, Mama ingin aku lebih dari Mama. Tak ada harta yang mampu kau wariskan, sehingga kau bekali aku dengan ilmu agama dan ilmu pengetahuan. Agar kelak, aku hidup bukan untuk meneruskan harta, tapi meneruskan generasi yang lebih gemilang.

Album: foto separuh rumahku yang direnovasi

Penampakan depan sebelum dihancurkan

Penampakan dalam rumah

Penampakan samping rumah

Ketika Ramadhan Berpamitan

Ramadhan telah membereskan beberapa barang bawaannya. Kuminta untuk singgah barang sehari dua hari, ia menolak. Kujanjikan kare terenak dari ibuku, menonton film bersama kakakku, dan menulis lagi bersamaku. Ia menolak. Ia akan kembali setahun lagi, jika Allah masih berkenan. Ia janjikan hal yang sama, kenangan yang lebih indah, dan tantangan yang lebih berat. Ia titipkan pesan untuk jangan melupakannya, jangan meninggalkan kebiasaanku saat bersamanya, kalau bisa lebihkan lagi ibadah ini hanya untuk Allah. Pesannya begitu dalam, hingga aku tak mampu memeluknya erat, tangisku lebih keras dari kemampuan ototku memeluknya.

Ramadhan sempat singgah sebulan belakangan ini. Aku habiskan beberapa waktu dengannya. Sesekali kami mengaji, taraweh, atau berbincang dan bertukar pikiran soal masalah kekinian. Dia mengajarkanku banyak hal, pun aku memberikan segala yang kupunya jika itu bermanfaat. Tidak banyak yang kita lakukan karena waktu begitu cepat berlalu. Dan kini, ia akan segera pergi.

30 hari telah kuhabiskan, aku membuat tajuk pada instagram karyaku; “30 Hari Bersajak Bersama Tuhan”. Kalian bisa membacanya di akun instagram @sukmaaksara. Beberapa untaian kalimat pendek itu kuambil dari percakapan kami; aku dan Ramadhan. Terkadang dari pikiranku sendiri dalam memaknai sosok Ramadhan. Ini hari terakhir, dan malam ini akan ramai ucapan lebaran, takbiran, dan bau masakan rumahan. Tapi Ramadhan justru minta pamitan.

Berat kusampaikan rindu dan seribu penyesalan. 30 hari yang penuh tapi secuil-cuil kuberikan pada Sang Pencipta. Secuil lainnya kuambil untuk duniawi, keegoisanku, dan sifat manusiawi lainnya. Sungguh menyesal diri ini. Ramadhan selalu berpesan, bahwa jangan sekali-kali menutup hati, menutup logika, menutup kebaikan-kebaikan yang ada dalam qalbu. Jangan pernah mematikan hati, menjauhkan diri dari agama, karena yang selalu mengerti tentangku hanyalah penciptaku. Terkadang aku merasa terluka, malu, dan menyedihkan. Tapi Ramadhan juga selalu mendorongku dan meraihku agar jangan mudah terpuruk.

Ramadhan memang baik, dibawanya banyak kebaikan bahkan hanya dalam 30 hari dari 356 hari lainnya. Ia suguhkan waktu yang paling berharga untuk manusia bermesraan dengan Tuhan, untuk manusia merenungi kehidupannya, untuk manusia kembali pada fitroh sebenarnya. Ramadhan sungguh baik, dibawanya kebahagiaan di setiap kumandang adzan yang biasanya diabaikan dari 356 hari lainnya. Dibawanya senyum-senyum anak yatim piatu, dhuafa, dan kaum kurang mampu. Karena diberikannya kesempatan dan harta yang cukup bagi orang beriman untuk bersedekah. Ramadhan begitu baik, hingga Allah berikannya sekali setahun. Begitu adilnya Allah, disampaikannya kembali pengingat-pengingat keimanan selama 30 hari untuk menusia menyadari seberapa jauhnya mereka mulai menyimpang. Begitu baiknya Ramadhan, ia pergi meninggalkan sejuta tangis umat, mengharap disambanginya lagi tahun-tahun berikutnya.

Sepertiku, yang belum bisa pulang (lagi)

“Lebaran pulang kan? Libur berapa lama?”

“Maaf, Ma. Belum bisa pulang. Mendadak dosen minta ada kunjungan awal bulan besok.”

“Tapi kamu satu tahun belum pernah pulang.”

“Aku juga nggak bisa apa-apa, Ma. Maafin ya.”

Jauh aku bertualang, aku akan pasti pulang


Bulan Ramadhan tertinggal 10 hari lagi. Hari ini aku masih menjalani UAS semester genap. Nesok adalah hari terakhir, dan merupakan hari terakhir aku dan teman-teman rantau menetap di Solo. Sayangnya, suatu pengumuman membuat kami risau. Di pertengahan bulan Juli, kami diwajibkan mengikuti serangkaian kunjungan dari suatu mata kuliah. Keputusan yang mendadak dan sedikit sepihak ini membuat hati teman-teman rantau luar pulau benar-benar terluka. Untuk pertama kalinya, mereka tak bisa merayakan lebaran bersama keluarga. Harga tiket pesawat yang jelas lebih mahal dari uang saku bulananku menahan mereka di titik-titik air mata yang mereka jatuhkan. Bayangan akan menyantap masakan rumah, bertakbir di masjid kampungnya, bersalaman dengan sanak saudara, pupus, luluh, dan mengalir deras bersama luapan tangis kesedihan ini.

Ada masa di mana manusia memang harus menjalani hidupnya sedemikian sulit. “Harus prihatin” kata Ibuku. Tapi kenyataan yang benar-benar berbeda, menjadi luka yang tak terobati sekajap mata.

Aku bukanlah mahasiswi rantau yang sulit untuk pulang ke kampung halaman. Cukup 1,5 jam aku bisa bersua dengan Ibu dan Ayahku. Cukup 48km jarak dari rumah hingga kampus kujalani dengan sepeda motor kesayanganku, Reddo, atau berkereta jika memang sedang lelah. Tapi aku memahami apa yang dirisaukan teman-temanku. Hampir 1 tahun penuh mereka tak bisa menjamah rumah, bertemu tetangga masa kecil, dan bersilaturahmi di hari baik.

KepadaMu sesungguhnya, yang Mahamengetahui dan bijaksana, Yang Mahamempunyai hati makhlukMu. Sesungguhnya adalah kewajiban kami menuntut ilmu, tanggung jawab kami untuk lepas dari kebodohan. Namun, tiadakah waktu yang bisa kami sempatkan untuk bersimpuh di depan orang tua kami saat hari suci nanti? Ramadhan telah kami bagi porsinya untuk masalah duniawi. Lalu apa kami harus jauh dari surga kami di rumah? Di ujung kaki Ibunda?

Beginikah menanggung berat menjadi mahasiswa, yang kepulangannya membawa mata air kehidupan, mengentaskan kegersangan di kampung halaman. Seberat beban yang kami tanggung bersama, bukan hanya masa depan kami sendiri, tapi soal banyak sekali tanggung jawab intelektual terhadap masyarakat, lingkungan, dan keluarga.

Kepada temanku yang jauh, aku benar-benar tak bisa menjangkau kesulitanmu. Tapi aku tahu, dalam segala tangismu, doa untukmu kembali, jauh di sana Ibumu benar-benar menyayangimu. Bahkan merelakanmu untuk semua kebaikanmu. Seperti itulah orang tua, kemudian sayangilah mereka hingga tiada akhir. 

Kampung dan Kampus

Aku adalah seorang mahasiswi yang masih menapaki awal perjalanan panjang. Baru kurasa beberapa praktikum saja yang menyulitkan. Aku seorang gadis di sebuah desa kecil yang sedikit terpelosok di dalam kerumunan sawah dan gelapnya malam. 

Kampung dan kampus, dua tempat yang membesarkanku sampai sekarang. Tempat di mana aku selalu belajar dan memaknai kehidupan. Di kampung aku belajar toleransi. Toleransi yang bukan sekadar perbedaan agama dan ras saja. Tapi bagaimana kita menahan ego masing-masing guna menjaga sebuah tali; “pertetanggan”. Di kampung aku mengenal guyub. Kerumunan banyak orang yang saling tertawa, menggosip, membantu yang lain, dan sebagainya. Di kampung juga aku memahami arti “manusia adalah makhluk sosial”. Setiap manusia pasti memiliki insting sosial, kata salah satu temanku. Di kampungku, yang notabene masih guyub dan riwuh ketika ada sambatan, membuatku memahami apa arti membantu sesama, menyokong kebutuhan, menutupi kekurangan. Di sini kami selalu ikut andil bahkan tanpa diabsen sekalipun. Karena tanggung jawab moral yang lebih besar yakni “nanti kalau kita ada butuh, misal keluarga kita meninggal biar ada yang bantu. Kita hidup bukan untuk diri kita sendiri” kata Ibuku.

Kampungku memang tidak besar. Terpelosok sejauh 2,5km dari jalan raya utama. Tapi fasilitas sudah sangat mumpuni bahkan sinyal 4G sudah melayaniku menggarap laporan praktikum. Tapi bukan berarti berkembangnya saspras membuat SDM kampungku juga maju. Terbelenggu doktrin bahwa bekerja lebih baik daripada kuliah, dan seorang sarjana tetaplah akan menjadi pengangguran dan buruh serabutan, seakan sudah membungkus logika pemudanya. Mereka memilih bersekolah di sekolah kejuruan dengan cita-cita segera bekerja. Memang baik, tapi kini bertumpuklah generasi buruh, pekerja serabutan, atau kasar. Di mana tak ada lagi perbaikan keturunan yang signifikan. Merantau dan kembali bawa anak. Sungguh menyedihkan. Terlebih tingmat keimanan yang cenderung tipis. Hal ini dimungkinkan karena tingkat kecerdasan, pola pikir, dan pengetahuan yang kurang. Sehingga masyarakat seperti ini selalu diberi stigma rendah. Namun, yang kuharapkan bukanlah demikian. Aku selalu bersyukur atas rahmat Tuhan sehingga aku bisa menjejak dunia perkuliahan, mengenal banyak orang dengan latar belakang beragam, pola pikir yang heterogen, dan semakin membuka cakrawalaku ke dunia yang lebih luas. Aku berharap masyarakat kampung tetap berkembang sesuai kebutuhan zaman, tetapi tidak melupakan identitas dirinya. Susah sekali meruntuhkan kebiasaan-kebiasaan yang terlanjur berlarut-larut. Susah sekali memberi pengertian pada orang tua bahwa jangan membiasakan anak jajan atau makan makanan dengan bahan pengawet, kurang higienis, dan tidak mengindahkan gizinya. Susah sekali bagiku memberi pengertian soal forum, manajemen, dan pola pikir berorganisasi meskipun pada pemudanya.

Belakangan ini aku mengamati. Bahwa sejatinya kita hidup bukan atas nama sebuah kepantasan, kenormalan, tapi kebiasaan. Itu yang terjadi di kampungku. Ketika misalnya, ibu-ibu terbiasa mengikuti arisan hingga menumpuk daftar nama lebih dari 5, sedangkan ia tidak memerhatikan gizi masakannya. Sungguh ironi. Atau pemudanya yang merasa lebih tua, lebih berpengalaman, lebih mampu untuk ikut ngrumpi sana sini, dianggap sosok pahlawan. Meskipun selalu menyuguhkan masalah dan mencaci mereka yang mencoba menawarkan solusi. Herannya, si pemuda tua tadi pun enggan memberi solusi. Hmm.

Sebenarnya, haruskah kita bergerak dari sebuah massa yang banyak tanpa dasar yang kuat? Atau kita ciptakan pergerakan dengan pondasi kokoh meskipun hanya segelintir orang atau bahkan hanya diri kita sendiri yang bergerak?

.

Kampus, aku mulai besar di sebuah universitas yang terkenal biayanya yang murah. Tergabung dalam fakultas yang terkenal elegan, aku tetaplah aku. Kampus adalah muara ke dua yang membuatku belajar banyak soal kehidupan. Kampus juga yang membekaliku untuk hidup berkepanjangan. Kampus, tempatku menimba segudang ilmu pengetahuan dan harus bersumpah untuk menerapkannya di dunia nyata; kehidupanku dan kampungku.

Kampus, aku mulai bergerak di beberapa organisasi internal kampus, baik di fakultas maupun universitas. Semua kelembagaan yang kuikuti tak jauh dari kontribusi mahasiswa pada lingkungan; masyarakat. Mahasiswa selain terbebani oleh SKS, IPK, dosen, praktikum, dan sejenisnya, juga memikul tanggung jawab moral yakni pengabdian. Mahasiswa tak urungnya anak negeri sepertiku; gadis kampung. Hidup kami juga diawali dari daerah kami masing-masing. Kami hanya sejenak pergi untuk kembali bersama sejuta mimpi untuk daerah kami yang lebih baik. 

Kampus, derajat kehidupan lebih layak. Membawa janji menjadi pejabat. Sukses di luar kota, dan lupa pada kerabat desa. Kampus, muara kebahagiaan bagi mereka yang mau belajar, dan muara hedonisme bagi mereka penikmat dunia.

Secara tidak sadar, aku mengembang pesan masa depan untuk kampungku melalui dunia perkuliahan di kampus. Ada banyak polemik yang harus dituntaskan, bukan diabaikan. Jika bilang itu susah, maka jangan katakan aku masih hidup. Hidup dalam kampus, kuliah, praktikum, organisasi, event, dsb. Pertanyaannya, apakah cukup kita dikatakan seorang mahasiswa jika telah menggelar sebuah perhelatan akbar yang dinikmati hanya segelintir orang? Bahkan tidak menyentuh jiwa-jiwa masyarakat? Cukupkah kita menjadi mahasiswa jika mampu ikut bergoyang di acara hedon? Cukupkah waktu yang telah kita habiskan kemarin untuk menjawab salah satu Tri Dharma Perguruan Tinggi; pengabdian? Apakah cukup kita menunggu waktu KKN untuk mendapat pernyataan “telah berkontribusi” bagi masyarakat? Cukupkah rapat-rapat organisasi kita, untuk membawa pola pikir dan solusi atas permasalahan masyarakat kelas bawah, yang notabene masih sulit memahami?

Menjadi mahasiswa, aktif berorganisasi, aktivis kampus, dan merasa sangat banyak berkontribusi di lingkungan kampus dan masyarakat sekitar kampus. Aku memahami bahwa masyarakat memiliki tingkatannya masing-masing, dan masyarakat lokal sekitar kampus biasanya telah mencapai tingkat masyarakat madani. Sedangkan masyarakat seperti di kampungku yang hidup karena grubyak-grubyuk sing penting melu liyane, adalah tantangan tersendiri. Mampukah dengan sekian banyak nilai, pujian, tempaan tugas di kampus membuat kita bisa mengadvokasi masyarakat menjadi lebih madani dan membawa mereka pada tingkat kesejahteraan?

.

Kampung dan kampus. Dua tempat berbeda yang mengajarkanku untuk selalu ingat. Ada banyak alasan mengapa aku bisa berdiri sekarang, dan ada banyak PR masa depan yang mesti kurampungkan.

Sebuah kampung yang kusuka, kubawa cintanya pada masa aku belajar di kampus. Kembalilah aku pada rentang waktu yang baru. Untuk kampungku

Sebuah kampung yang kusuka, kubawa cintanya pada masa aku belajar di kampus. Kembalilah aku pada rentang waktu yang baru. Untuk kampungku!


Kampung adalah tempatku dibesarkan dan hidup menua. Oleh karena itu lebih baik kita selalu menahan ego untuk menjaga kerukunan.Kampus adalah wahana bermain menyenangkan. Terkadang membuatku lupa pada dunia yang lebih fana. Oleh karena itu, segera tuntaskan. Lalu terjun pada kefanaan yang sebenarnya; kampung.

Merenda mimpi warisa masa depan.

Klaten, 14 Mey 2017

Bisakah kita simpan cinta barang sejenak?

Aku suka caramu berbicara, menatap tajam padaku ketika kita saling beradu pikiran. Kadang dirimu lebih unggul, kadang aku yang tak bisa berhenti karena kau yang sulit dimengerti. Sungguh, roman ini menyenangkan. Tapi aku tak mau terjebak asmara yang penuh luka.

Aku menyukaimu saat kau bicara kebenaran, saat kau berdiri menguasai mimbar-mimbar, mengembara di atas malam, merawat siang yang semangatnya padam. Aku mencintaimu seperti pahlawan, kau kobarkan cinta dari kebaikan-kebaikan, ketika kau teriakkan pembelaan dan kau ucap kasar untuk cecunguk pemuja materi. Aku benar-benar berdoa menemuimu lagi, untuk tahu namamu, untuk mengenal dirimu, untuk menjadi surga dari penerusmu.

Tapi tunggu. Bisakah kita lepas dari ini; ya cinta.

Bisakah kita tanggalkan sebentar itu? Biar kita menjadi apa adanya yang tak perlu memikirkan suatu hal setelah pembicaraan ini, biar kita tak pusing-pusing bergelut pada hati masing-masing. Karena aku tahu, aku atau dirimu akan mempunyai banyak pilihan yang berbeda. Jadi mari kita bersenda gurau lagi tanpa ada hasrat mencintai, atau memiliki. Sesungguhnya inilah jalinan asmara yang mengesankan. Kita saling suka karena terbiasa, karena tak pernah ada tujuan untuk memiliki tapi pada akhirnya membelenggu, tanpa bermaksud mencintai tapi melukai, atau berangan saling menyayangi tapi tersakiti.

Aku ingin seperti angin, yang datang tak tentu waktu. Bersamanya datang sejuta pertanyaan. Hujan, badai, angin ribut, angin topan, atau semilir angin sejuk. Tak tentu. Aku ingin seperti itu. Bebas dan tegas. Menyandera kebingungan tapi beralasan. Dan cinta, biarkan itu tersimpan di laci belajar dulu. Aku lebih suka memandangmu saat bicara di atas angin. Menunjuk keras angin, mengibas angin dengan seruan tajammu. Menatapku penuh semangat dan mengepal tangan. Aku lebih suka padamu yang begitu.

Jadi, maukah kau menitipkan sebentar cinta yang kau miliki padaku? Dan kutitipkan cintaku padamu untuk kau jaga. Kelak saat kita bersua lagi, kuharap cinta itu masih utuh; milikku dan milikmu yang terlanjur tersimpan rapi dan tak ingin dipindah lagi dari laci.

Bukan mencintai dalam diam, tapi menyimpan cinta dalam kebiasaan. Menumbuhkan cinta tanpa ingin tahu sebesar apa cinta itu tumbuh. Memupuk cinta tanpa ingin tahu sampai kapan ia tumbuh subur. Karena semua akan semerbak pada waktunya. Tanpa kita sadari dari awal pandangan dan percakapan biasa.


Surakarta, aku rindu gaung suaramu di jalanan waktu itu.

Belenggu

Lebih sering kita terpenjarakan oleh pemikiran-pemikiran, prasangka-prasangka, duga menduga. Atau kita membelenggu diri dalam retorika semu dan dusta. Tak jarang kita nikmati juga luka yang sama, dari sayatan yang sama. Kita hanyalah sedang bermain drama, tapi anehnya kita terlalu menganggapnya nyata.

Penjara ini sungguh memilukan. Setiap suara ditekan, mulut dibungkam, gerakan dipatahkan, nyawa dihilangkan. Dan semua itu berawal dari pikiran. Belenggu ini mengikat kencang dosa-dosa dan kebaikan, membuatku semakin ragu berbuat sesuatu. Dan kupikir, belenggu ini harus ditembus. Tapi ternyata, kemarin aku kalah. Aku mesti melepaskan diri dengan banyak luka. Dan tertatih keluar dengan perih. Melangkah jauh, meninggalkan titik darah. Sampai ujung kebaikan, menjemput Tuhan.

Kita ialah makhluk pemilih, maka memilihlah untuk tidak dibelenggu.

Allah Mahabaik, beneran ini. Semangat terus!

Hari Perayaan

Hari ini aku melihat banyak anak-anak di desaku, baik putri maupun putra terlihat berbeda. Yang putri terlihat cantik dengan setelan kebaya dan rok batik, yang putra mengenakan batik dan sarung. Lucu sekali wajah mereka ketika mengikuti upacara tadi pagi. Mereka menyanyikan lagu kebangsaan, lagu perjuangan, dan lagu yang menyiratkan bangga kepada salah satu perempuan Indonesia.
Ibu kita Kartini, putri sejati. Putri Indonesia, harum namanya

Selarik nada sumbang dengan lepas mereka serukan di depan kelas yang tak begitu bagus. Mereka bersalaman, kemudian menari di lapangan.

Hari ini menjadi hari perayaan, seorang pahlawan perempuan. Kartini. Ia menjadi pelopor kebangkitan perempuan Jawa untuk mengenyam pendidikan, sehingga perempuan tidak lagi lekat dengan dapur saja.

Di antara banyak pahlawan perempuan yang kubanggakan, Kartini selalj menjadi sosok kekuatan perempuan. Meskipun masih banyak panglima perang kerajaan di Indonesia yang besar namanya pada zamannya. Kartini selalu hadir dalam sebutan-sebutan pergerakan wanita. Kartini telah melahirkan digdaya bagi seluruh kaum perempuan.

Hari ini perayaannya, Raden Ayu. Terlalu sering kita simbolkan dengan kebaya bagi putri, dan beskap bagi putra. Namun, apakah kita temui semangat itu di balik sanggul yang kita kenakan? Di balik jahitan kebaya mahal sewaan? Di mana Kartini hidup di zaman ini?

Kalau kamu jadi Kartini, dan hidup di zaman ini, apa yang kamu lakukan?

Menulislah, karena Kartini pun didengar pemikirannya, hidup jiwanya, terkabul keinginan untuk memberi perempuan Indonesia jalan menuju kemajuan, karena menulis surat.
Menjadi Kartini

Di hari penuh kebahagiaan.