Tanda Terima

Detak jantungku berdegub kencang, mewaspadai senyap seperti ingin menyerang. Rintik hujan menambah riuh dan angin membuat pohon kalut.

Ya Tuhan, aku ingin pulang. Terima aku sebagai tanda, bahwa Kau Mahakuasa dari segalanya. Kesedihan, pedih, dan luka hanya membuatku semakin kecewa. Atau pada dunia yang kau rangkai penuh irama, membuatku jatuh berulang saat berdansa.

Ya Tuhan, aku ingin pulang. Cukup kuterima segala kerendahan, hina, dan cela. Terima aku sebagai tanda bahwa manusia hanya melihat apa yang ingin ia lihat, mendengar apa yang merdu di telinganya, melakukan apa yang baginya menguntungkan.

Aku terima semuanya, semasa sukma masoh bercokol dalam raga. Kini, kusembahkan pada-Mu, kukembalikan pada-Mu, sebagai tanda terima; aku pulang.

2018.

Iklan

Suara Bawah Tanah

“Permisi Bapak, Ibu, adek-adek sekalian,

tanpa mengurangi rasa hormat anda,

ijinkan saya menghibur dengan satu dua lagu

…”

 

Hidup pengamen jalanan
seniman proletar dipinggirkan
bukan hanya mengais rupiah untuk makan
mereka bercerita atas kenyataan dan penderitaan

setiap petik gitarnya bernada getir dan menyindir
lirik yang dinyanyikan sarkas berbau satire
tapi nyata, benar, dan menggelitik nurani
mereka jujur dalam bernyanyi, mengungkap ironi lewat seni

Hidup pengamen jalanan
dari perempatan ke perempatan
napasnya dari jelaga kendaraan
suara rakyat menanyakan kesejahteraan

malam jadi panggung hiburan
lewat trotoar di bawah redup lampu jalan
tetap berdendang, tanpa dibayar
berharap Tuhan punya telinga untuk mendengar

Hidup pengamen jalanan
suara ketakutan bawah tanah
pemberontakan kelas bawah
hanya jadi kotoran pemerintah.

Solo, 2018

Kampung Asian Games; Gelora Semangat Persatuan dari Solo

Asian Games 2018 sudah menyita perhatian masyarakat di seluruh Indonesia, pasalnya gelaran olahraga terbesar se-Asia ini akan dilaksanakan di Indonesia. Indonesia kembali dipercaya sebagai tuan rumah Asian Games 2018 setelah tahun 1962 silam. Rasa bangga dan sebuah kehormatan bagi bangsa Indonesia untuk bisa kembali menyelenggarakan Asian Games 2018 dan turut serta berkompetisi di dalamnya. Kompetisi olahraga yang akan mendatangkan tidak kurang 18.000 atlet beserta official dari 45 negara se-Asia merupakan suatu prestasi bagi Indonesia. Sedikitnya 20 cabang olahraga akan memeriahkan gelaran Asian Games 2018 kali ini. Sebab dengan menjadi tuan rumah Asian Games 2018, Indonesia bisa sekaligus mempromosikan berbagai keunikan dan keberagamaan yang dimiliki, seperti kebudayaan, pariwisata, kuliner, hingga nilai sejarah.

Jika dilihat dari fakta-fakta tersebut, maka tidak heran jika antusiasme masyarakat Indonesia semakin besar menjelang Asian Games 2018 yang akan dibuka secara resmi sehari setelah Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Antusiasme masyarakat yang begitu tinggi diekspresikan melalui banyak hal. Salah satu contohnya adalah menghias kampung dengan mural 3D bertemakan Asian Games 2018. Kampung tersebut terletak di kediaman pribadi milik Walikota Solo FX. Hadi Rudiyatmo.

solo-asian-games metrojatengdotcom

Kampung Asian Games di Pucangsawit (foto by: metrojateng.com)

Kampung yang terletak di Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Surakarta ini sempat viral baik di media sosial maupun berita nasional karena tembok yang dipenuhi dengan hiasan berupa gambar mural beberapa atlet legenda kebanggaan Indonesia, maskot Asian Games 2018, Walikota Solo, hingga gambar Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang sedang berlatih tinju. Mural-mural yang menghiasi gang-gang menuju kediaman pribadi Walikota Solo ini juga menampilkan bentuk-bentuk tokoh dengan nuansa kebudayaan seperti tokoh Punokawan, atau flora, fauna khas Indonesia seperti orang utan dan bunga bangkai yang menggambarkan keberagaman yang mencerminkan Indonesia. Selain memuat keindahan seni lukis, masyarakat juga bisa menikmati sentuhan edukasi dan semangat Asian Games 2018.

WhatsApp Image 2018-07-17 at 17.09.15

Mural Presiden Ir. Soekarno (foto by: Ade Maharani N. M.)

Mural-mural ini asli buatan dan hasil kreativitas seniman lokal Soloraya yang patut diapresiasi dan dibanggakan hasilnya. Ide menghias kampung dengan tema Asian Games ini diinisiasi langsung oleh sang Walikota sebagai wujud dukungan pada para atlet kebanggaan Indonesia. Namun, dengan ide membuat Kampung Asian Games ini, dukungan bukan hanya mengalir dari Pak Rudi saja,tapi juga dari berbagai elemen masyarakat.

travelingyukdotcom

Mural Jokowi berlatih tinju (foto by: travelingyuk.com)

Salah satu citra positif yang digagas oleh Pak Rudi dengan menghias kampung ini adalah mampu meredam nuansa politik setelah diselenggarakannya Pemilu serentak dan tahun politik di 2019. Asian Games bisa menjadi angin segar bagi masyarakat di seluruh Indonesia untuk kembali bersatu dan menanggalkan perbedaan pandangan politik demi mendukung para atlet untuk mengharumkan nama bangsa. Karena semua prestasi yang diraih pada Asian Games 2018 nanti akan menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Untuk mempersiapkan dan menghias kampung Asian Games, dibutuhkan waktu yang cukup lama. Hingga pada tanggal 15 Juli kemarin Kampung Asian Games di Pucangsawit resmi dibuka dengan berbagai acara salah satunya dimeriahkan dengan nonton bareng Final Piala Dunia FIFA 2018. Peresmian ini cukup menyita perhatian baik masyarakat Solo maupun sekitarnya. Namun, sebelum resmi dibuka, kampung Asian Games ini sudah ramai diperbincangkan dan menjadi tujuan bagi para penggila swafoto. Beberapa orang tertarik karena keunikan yang ditampilkan di kampung ini. Mural-mural beberapa tokoh atlet legenda dan mural Jokowi berlatih tinju menjadi yang paling favorit untuk dijadikan objek foto maupun swafoto oleh para pengunjung. Salah satu pengunjung merasa mural yang ditampilkan begitu hidup dan menarik. Sangat cocok untuk mengisi media sosial pribadinya.

kompasdotid

Mural atlet legenda Indonesia (foto by: kompas.id)

Menjadi objek wisata karena keunikan dan sarat nilai seni, kampung Asian Games juga membawa semangat persatuan. Bersatu untuk dukung bersama pagelaran Asian Games 2018 sebagai wujud kebanggaan dan kehormatan bangsa Indonesia di mata dunia. Asian Games 2018 bukan hanya milik INASGOC (Indonesia Asian Games Organizing Committee), tapi milik seluruh masyarakat Indonesia. Olahraga menjadi bagian dari masyarakat berkemajuan. Semangat olahraga menanggalkan rasisme dan perbedaan yang selama ini menjadi faktor penyebab perpecahan dan konflik. Semangat sportifitas menjadi naluri demi meraih kemenangan yang suci. Berlatih dan menampilkan permainan yang terbaik adalah ikhtiar. Maka sudah saatnya Indonesia kembali bersatu demi satu cita-cita, yaitu prestasi kelas dunia.

Bagi warganet yang tertarik dengan seni 3D dan ingin menambah koleksi foto menarik, atau ingin merasakan gaung Asian Games 2018 secara lebih, sangat disarankan untuk mengunjungi Kampung Asian Games di Gang Candibodro dan Gang Candisari, Pucangsawit, Jebres, Surakarta.

 

Surakarta, 2018.

Ganjil

Apa jadinya tubuhku

tanpa paruh darimu

Kesempurnaan milikmu

terbagi adil padaku

 

Kesatuan miliki kita

abadi bersama dikepung asmara

indah nyata

sampai prahara menyapa

 

Menutup pada katup

lengkap dan genap

jadi dua insan hidup

Sayang, berhentilah mengutuk.

Genap

Apa lengkap dariku,

tanpamu menjadi genapku

Apa utuhnya sukmamu,

jika termaktub tanpaku

 

Jika jelma rupamu hanya semu

andai aku tahu

mawar itu kusimpan berlalu

hingga nyata itu jadi satu

 

Meluruh dalam seluruh

nihil dan ganjil

jadi genap setubuh

Sayang, itu musathil.

Syair Penyembuh Luka

Dibawanya kenangan-kenangan lampau

angin dan dedaunan menyemarakkan

semak dan ilalang jadi akur menari

yang terisak dan tersesak oleh luka kini menyembuh

yang terluka menganga memilih rela tanpa dusta

dia yang bersajak untuk kawan, kekasih, dan kecintaannya

hidup dalam syair-syair baru

menyudahi elegi dan rintih nyeri

padanya langit ia mengadu hingga senja iri

padanya surya ia meminta iba

pada badai ia memohon untuk diterbangkan

jauh.

yang terisak dan tersesak, berlalu, terlahir dalam syair penyembuh luka.

 

Solo, 2018

“Kau boleh membenciku, kau boleh memakiku hingga akhir napasmu.

Tapi dengan begitu, aku makin mencintaimu.”

Berkisah Soal Perjuangan

Suatu saat yang susah payah hingga terengah-engah juga akan lelah dan merebah. Entah untuk sekadar bersandar menghela napas panjang, atau menepi selamanya tanpa mau kembali pulang.

Ada kala bintang memilih redup meski bulan begitu bersinar. Angin tak ambil bagian untuk menyemarakkan dedaunan, sedangkan hujan gerimis menenangkan.

Pada waktunya, sebuah perjuangan tidak bisa hanya dinilai dari permulaannya saja, atau habisnya. Naik turun dan dinamika yang begitu progresif justru menjadi nilai lebih yang pantas diapresiasi. Jika pada setiap dinamiknya, dilalui dengan baik tanpa menyingkirkan keniscayaan.

Ada waktunya jangkrik bernyanyi, juga diam. Ada masanya kutilang hinggap dan menari di dahan, juga terbang mencari makan.

Dia yang paling peduli bisa menjadi paling apatis dan tak tahu diri. Dengan segala perubahan, sifat manusia akan cenderung mengikutinya, menyamakan dengan apa yang dia dapatkan, yang disematkan oleh banyak orang, kelompok masyarakat.

Roda waktu akan terus berputar, hanya saja yang tergilas akan kandas, yang lantang akan semakin garang, yang tenang tak pernah hilang kendali dan arah tujuan.

Kalau hidup hanya soal datang, menetap, atau pergi, sejatinya kita perlu tahu bahwa semua perubahan, pergerakan atau pergeseran dalam perjalanan ini tak lebih dari pilihan dan kuasa kita sendiri. Apa yang kemari ditemui, dihadapi, itulah yang mengakibatkan esok terjadi. Apa yang dipikirkan, direncanakan saat ini, besar kemungkinan besok akan terwujud. Juga segala keputusan untuk keluar, hijrah, atau sama sekali tak kembali, murni dari pribadi masing-masing.

Menggilas kenangan, membongkar visi ke depan. Semua manusia yang pandai seharusnya siap dengan segala perubahan, dan kembali sibuk merencanakan, melaksanakan. Begitu seterusnya. Kesulitan, cobaan itu menguatkan, bukan sebaliknya.

Kepada matahari yang bangkit dari sujudnya subuh tadi, berharap hanganya menyelimuti keadilan di sini. Perjuangan bukan terbatas soal panggung-panggung kekuasaan, nama besar dan sanjungan, penghargaan apalagi pengakuan. Bahwa sebenarnya perjuangan adalah pengorbanan. Berkorban untuk jangan sampai hilangan angan, bekerja meruntuhkan rintangan, hingga mencapai sejatinya kemenangan; asa yang jadi kenyataan.

Kepada bulan semalam yang malu bercadar mendung, berharap teduhnya melindungi semesta yang linglung. Perjuangan yang abadi tak pernah menakar untung rugi, hadirnya menjadi sebab bertahan dan memperbaiki diri. Baik buruk hasilnya, perlu diapresiasi.

Solo, 2018.

“Orang gila tidak pernah menyebut dirinya gila, begitu juga dengan orang ikhlas”