Perjalanan 2; “Persahabatan dan Sportifitas”

Menceritakan satu sisi di balik berangkatnya aku ke Jepang saja, rasanya kurang adil tanpa menceritakan kesan dan pelajaran lain yang kudapat selama 7 hari di sana. Sejauh apapun kita melangkah, tak akan pernahberarti tanpa meninggalkan jejak dan sejarah. Meskipun sebatas sebuah pertemanan.

Latar belakang keberangkatanku ke Jepang memang tak lain adalah sebuah kompetisi. Berjuang demi nama almamater dan semua pengorbanan sebelumnya, mengharuskan kami tampil semaksimal mungkin. Bersaing dengan lebih dari 50 peserta dari 8 negara dengan inovasi yang tidak kalah bagusnya. Namun, hawa kompetisi bukan berarti membatasi kami dalam bersosialisasi dan berteman.


Kadang manusia tak pernah bisa menentukan dengan pasti siapa yang akan ia temui untuk menjadi teman selamanya. Waktu terus berjalan, menggerus sekian ingatan. Namun, bukankah kita sendiri yang bisa menentukan bagaimana kita menjaga sebuah ikatan?

Begitulah bagaimana aku bertemu dengan 2 teman yang berasal dari negara yang sama. Mereka adalah Mbak Cindy dan Roi. Mahasiswa dari Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Pertemuan kami sesederhana saat berkenalan di Narita Airport dan berlanjut di meja yang sama saat makan malam.

Karena kebutuhan yang sama untuk LPJ yaitu dokumentasi presentasi, kami membuat perjanjian untuk saling mendokumentasikan. Mungkin moment inilah yang memulai keakraban kami. Hingga saling memberi support dan dukungan sebelum salah satu dari kami maju presentasi. Dan pada saat Mbak Cindy dan Roi berhasil mendapat award, aku dan temanku tak sungkan memberi selamat dan bertepuk tangan paling kencang. Sebuah kesederhanaan dalam berteman; sama-sama merasakan senang, sama-sama merasa bangga.


Meskipun kepulangan kami berbeda, kami sempat menghabiskan waktu bersama di daerah Shibuya untuk berbelanja, berfoto, mencoba ramen vegetarian, dan yang paling seru adalah mencoba menebak rasa dari minuman yang kami beli di vending machine. Hahaha.

Banyak hal-hal menarik yang kami lalui bersama, sampai saling berjanji untuk setidaknya berkunjung di kampus masing-masing. Aku merasa bahwa pertemuan yang singkat kemarin benar-benar memberi kesan. Kami yang datang saling membawa impian dan menggantungkan harapan, justru diberi hadiah lebih oleh Tuhan; yaitu persahabatan. Meskipun berbalut kompetisi, akan lebih indah jika di dalamnya tumbuh rasa sportifitas dari hati. Di sini semua baik, semua pemenang, semua saling berteman. Bukankah itu menyenangkan?


Terima kasih untuk pengalaman berharga dan ikatan persahabatan yang luar biasa. Menjadi teman sekaligus kompetitor yang keren dan saling membangun. Semoga aku bisa lekas ke Malang, dan bertemu di kampus kalian. Kau tahu, bahwa betapa menyenangkannya memiliki banyak teman. Kau akan terhindar dari kesulitan, begitu kata Papaku.

Terima kasih juga untuk tetap menjaga komunikasi yang terjalin baik. Saling berkabar dan memberi semangat dari ujung media sosial. Semoga kita akan tetap bisa bertemu di keadaan yang lebih baik lagi.

 

Jepang dan Solo, 2018

Tidak ada tali yang putus melainkan karena kedua ujung yang saling bertolak aksi,

Tidak ada pula tali yang saling mengikat tanpa kedua ujung yang saling temu berkorelasi,

Kita yang memilih, tali yang mana untuk merangkai kehidupan.

 

Hal yang kurindukan dari sebuah perjalanan adalah pertemuan. Dari sebuah pertemuan kita memiliki pilihan, untuk tetap saling berhubungan atau melepaskan.

Iklan

Perjalanan; “Sebuah Titik Balik dan Perbedaan”

Banyak orang mempercayai kemampuanku hingga aku bisa pergi ke Jepang untuk sebuah kompetisi. Memang terlihat prestis tapi mungkin orang tak pernah tahu apa yang sedang mereka kagumi adalah sebuah penderitaan tiada henti.

Dari permukaan sungguh menyenangkan. Pergi jauh, berjalan-jalan menghabiskan sepanjang hari, makan makanan Jepang dan membagikannya di media sosial. Sebuah perspektif superfisial yang bagus. Benar-benar membungkus penderitaan yang apik!

Entah, mungkin ini sebuah perspektif yang salah juga. Atau memang diriku saja yang bodoh. Kenyataannya, Hera adalah gadis perempuan dengan seribu masalah di setiap kejadian hidupnya. Entah bagaimana aku bisa bertahan, sungguh aku hanya ingin menangis selagi menulis ini. Berharap aku menemui Tuhan, dan berkata, “Sudah cukup sakit di dunia, bagaimana selanjutnya?”

Menangis sudah membuatku sedikit baik. Aku sangat sulit menaruh percaya terhadap orang lain. Oleh karena itu, aku sulit untuk cerita tentang semua deritaku. Bagiku, setiap orang punya masalahnya sendiri. Mereka sulit dalam permasalahannya, lantas apakah aku masih tega untuk membagi masalahku dan mempersulit keadaan mereka? Kurasa aku sangat tidak tega.


Aku lebih sering tidak membicarakan keputusanku untuk mengikuti kompetisi kepada kedua orang tuaku. Dalam benakku, akan lebih berkesan jika aku memberitahu mereka saat aku menang, atau aku mendapatkan penghargaan. Semacam kejutan seperti itu. Nyatanya, aku tak pernah mengenal kedua orang tuaku. Keputusanku adalah sebuah kesalahan besar. Sewaktu aku dan temanku lolos dan menjadi finalis dalam sebuah kompetisi internasional, dan mengharuskan kami pergi ke Jepang untuk tahap selanjutnya. Kedua orang tuaku sedikit merajuk. Atau kalau aku boleh mengatakannya secara jujur, mereka keberatan.

“Duh, ngapain sih ikut lomba-lomba? Apalagi yang harus pergi jauh!”

“Terus nanti kamu di sana bisa hidup nggak? Kan di sana beda suasananya”

“Duh, habis uang berapa kalau kamu ke sana? Tabungan Mama cuma sedikit, itu pun harus buat bayar semester sama kosan kamu tahun depan.”

“Kalau kamu nggak ikut aja gimana to? Lomba-lomba kaya gitu, bisa ngasih apa buat kamu?”

Kalimat demikian yang pertama kali kudengar dari orang yang paling kusayang. Kalimat yang sungguh tidak pernah ada di benakku. Di mana sebelumnya semua temanku selalu mengatakan “Selamat! Aku bangga banget punya temen kaya kamu, Her!”. Sedangkan kedua orang tuaku memang merasa sangat kaget dan keberatan.

Tapi memang kenyataannya seperti ini. Keluargaku bukanlah keluarga yang berada. Hanya ada Mama yang terus berjuang untuk mencari uang demi keluarga kami di sisa akhir masa jabatannya. Bahkan seringkali Mama tak pernah mengambil cuti demi mendapat uang lauk pauk sehari. Semuanya bukan demi Mama. tapi demi aku, Papa, dan semua keluarga. Kami tak pernah berlibur ke suatu tempat yang jauh, menghabiskan waktu dengan bersantai, atau menikmati sesuatu yang mewah. Benar-benar sederhana dan cukup.

Dan pada saat itu, aku hanya membalas dengan lemas.

“Ya, insya Allah ada bantuan dana dari universitas. Aku nggak tahu akan dapat apa dari sana, Ma. Menang atau kalah itu bukan ketetapanku. Memang terlalu idealis kalau aku bilang, aku lomba hanya untuk karyaku diakui, tanpa sedikitpun memikirkan hadiah atau kompensasi. Kalau Mama nggak mengizinkan, aku bilang sama temenku. Biar aku tidak usah berangkat.”

Sejujurnya hatiku benar-benar rapuh dan hancur saat itu juga. Seakan, semuanya selesai tanpa dimulai. Menurutku, suatu hal yang sangat didambakan semua anak adalah support orang tuanya. Sedangkan, aku harus lebih realistis lagi. Bahwa memang support bukan hanya sebuah kata-kata mutiara, tapi juga jumlah dana.


Tak benar jika aku menyalahkan orang tua, yang berada pada keadaan sulit. Tak benar juga jika aku menyalahkan Tuhan, mengapa aku dilahirkan di keluarga yang biasa saja. Sangat tak benar jika aku menyalahkan semuanya selain aku, untuk suatu cita-cita yang sulit kuraih. Itu sangat tidak adil.

Namun, sekali lagi. Bahwa tak pernah ada orang tua yang tega untuk sekadar menyakiti hati anaknya, atau memutuskan kebahagiaannya barang satu kali. Mama mendekat padaku esok harinya, tepat di hari Raya Idul Adha tahun 2018 kemarin.

“Besok jadi berangkat ke Jepang ya. Mama akan cari pinjaman uang, yang penting kamu semangat berjuang ya.”

Senang? Akhirnya menang dan aku berangkat? Tidak. Aku menyadari bahwa aku menjadi beban, lagi dan lagi. Selama itu, aku tak pernah merasa sedikitpun membanggakan orang tuaku. Selama itu juga, aku merasa terlalu egois dengan tidak berunding terlebih dahulu sebelum submit karya yang menjadi awal keberangkatanku. Aku memang salah sejak awal, egois, dan bodoh.

Terlalu banyak rencana Mama yang akhirnya cancel karena mengalihkan uangnya ke rencana keberangkatanku ke Jepang. Mungkin selama aku mempersiapkannya di Solo, Mama terus menekan pengeluaran di rumah, hingga irit dalam hal makanan. Begitu, aku terlalu pongah di hadapan teman-temanku, kalau aku akan ke luar negeri. Padahal sejatinya aku sudah terlalu merepotkan orang lain, terutama Mama.


Mengapa tulisan ini kuberi judul “Sebuah Titik Balik dan Perbedaan”? Sebab benar adanya. Setelah semua kenikmatan yang orang lihat di media sosialku selama aku di Jepang, semuanya terhempas dan terbalik hingga aku tiba di Indonesia.

Kesulitan mengurus pencairan dana dari univ, hingga insiden yang sebenarnya merugikan diriku sendiri dan terutama merugikan Mama yang selama ini menggantungkan uang semesterku di pencairan dana ini. Kesalahan besar yang lagi-lagi kulakukan, yang sebenarnya sangat merugikan orang lain. Tapi entah mengapa, Mama justru dengan nada yang tegar di ujung telepon,

“Yasudah. Memang rejeki kita segitu. Rejeki Mama cuma dapet segitu. Nggak usah nangis, itu sudah cukup. Kekurangannya, yang seharusnya bisa buat beli hp kamu, nanti pake uang Mama dulu. Biar kamu tetep bisa beli hp baru.”

“Ndak usah beli hp baru dulu, Ma. Adek tahu, adek yang salah. Hpnya adek juga masih bisa dipake. Maafin adek ya, terlalu banyak bikin masalah.”

Aku tak pernah tahu, Tuhan membentuk hati Mama dengan bahan apa. Seumur hidupku, aku tak pernah melihat Mama menangis. Bahkan saat direndahkan orang sekalipun, Mama tak pernah menangis. Bahkan Mama berkata padaku, “Kamu besok harus jadi perempuan yang kuat. Kuat hati, kuat pikiran.”

Mama besar di keluarga petani, buta huruf, dan hidup di desa. Sejak kecil memang Mama kerap diejek tidak akan mampu menjadi sarjana. Hingga semuanya terbantahkan, ketika Mama bisa meraih Sarjana Keperawatannya di usia 40 tahun. “Cita-cita Mama sederhana, cuma pengen sarjana. Karena Mama dulu diejek nggak bisa sarjana karena Mbah Jo cuma seorang tani.” Itulah yang membuat Mama tegar hingga saat ini.


Semua orang tahu, menyenangkan dan membanggakan bisa ke luar negeri. Apalagi ke Jepang. Ada kesan yang sangat aku ingat ketika di sana. Etika, sopan santun, kedisiplinan, dan kejujuran. Sebuah perpaduan kepribadian yang lengkap. Aku bertemu banyak teman yang jauh lebih baik dibandingku. Ide-ide mereka sangat brilian. Mengenal banyak orang akan meluaskan pemikiran. Ya, kurang lebih seperti itu, bukan?

Mempresentasikan karya di depan orang asing untuk pertama kali, adalah hal paling mendebarkan dalam hidupku. Tak pernah terbayang, tapi inilah kenyataan yang terjadi. Satu hal yang sangat kusuka dari presentasi kemarin adalah, juri tidak mempermasalahkan dari mana kita berasal, atau ini sebuah kompetisi atau bukan. Yang terpenting adalah kita bisa memaparkan ide kita untuk sebuah kebaikan, perubahan, dan kemajuan.

Jepang sangat menyenangkan, ketika semua yang harus kuabadikan adalah sepersil kebahagiaan. Hingga orang-orang menyimpulkan,”Betapa menyenangkannya menjadi seorang Hera, yang bisa ke luar negeri. Berjalan-jalan menghabiskan waktu. Dan pamer ini itu”. Tapi aku lebih berharap, tulisan ini tidak membuat siapapun merasa tersudut, bahwa sebenarnya ini adalah kisah yang sebenarnya di balik semua yang terlihat indah di media sosial. Mengapa setelah pulang dari Jepang aku menjadi sedikit lebih pendiam saat di kelas, selalu pulang ke kos setelah kuliah, setiap akhir pekan selalu mengosongkan agenda untuk pulang ke rumah, memiliki rencana membuka usaha ini itu, atau perubahan lainnya pada diriku.

Karena terkadang pikiranku kembali melayang pada wajah Mama yang letih dan tetap melakukan kewajiban sebagai ibu rumah tangga dan tulang punggung keluarga. Tak pernah ada perjuangannya yang sia-sia. Lantas mengapa selama ini aku terlalu menyia-nyiakan waktuku, yang lebih sering untuk kesenangan pribadiku, keegoisanku yang sangat merugikan, dan kebodohan dari sikapku. Aku memang belum sebaik dan setegar Mama. Perjalanan yang kami lewati pun berbeda. Untuk itu, mengapa aku memutuskan untuk berbalik. Selama ini aku yang terlalu vokal, mungkin tak sepenuhnya benar. Selama ini aku yang terlalu ambisius, sebenarnya tak pernah menang. Atau selama ini aku yang selalu terlihat dibanggakan, sejatinya hanya melulu merepotkan. Dan selama ini Hera yang tegar dan tertawa paling lebar, hanyalah gadis yang menangis semalaman di sudut kamar.

Hidup memang begini. Ada yang harus dibagi dan harus disembunyikan untuk diri sendiri. Ketika semua orang sudah tahu betapa lebarnya senyumku di semua foto pada instagramku. Mungkin mereka tak pernah mendapati peluh dan tangisku di foto tersebut. Sedangkan aku terus meneteskan air mata di setiap malam, demi Tuhan memberiku jawaban,”Masih banyakkah kejadian tidak terduga akan terjadi?”

 

Jepang dan Indonesia, 2018

Semua mengajarkanku untuk berbenah.

Bukankah waktu terus melaju dan kita akan terus melangkah?


 

IMG_20181013_101658

di Sensoji Shrine

Tulisan ini bermaksud untuk memberi perspektif baru terhadap kehidupan seseorang. Bukan memiliki nilai untuk membuka kekurangan dan aib. Hanya saja, mungkin kita terlalu sempit dalam menafsirkan, atau aku kembali membuat sekian kesalahan.

Salam.

Pendosa

Dia adalah pendosa sejagad raya. Tuduhannya menyakitkan hati dan menaikkan tensi. Dia hanya hidup untuk melukai. Dia adalah pendosa paling ampuh seantero negeri.

Dia tukang bicara, tak penting siapa yang mendengar. Dia terus berbicara tanpa henti. Dia pun suka menari, tak peduli seberapa buruk gerakannya. Dia terus berputar kesana kemari bak diterbangkan angin.

Dia pendosa yang kini mati.

Tubuhnya dikuliti hingga habis. Darahnya mengering. Tulangnya terpecah-pecah.

Dia pendosa yang sudah mati.

Raganya habis tak bisa dikenali. Ruhnya pergi siapa yang peduli.

Dia pendosa yang membayar dosanya dengan karunia Tuhan.

Dia pendosa yang berdosa karena tangannya. Dia pendosa yang berdosa karena kakinya. Dia pendosa yang berdosa karena seluruh tubuhnya. Dia pendosa yang membayar lunas dosanya pada Tuhan dengan menggadaikan karunia yang dia miliki; kehidupannya sendiri.

Dia berdosa karena berbicara pada pengemis untuk terus berdoa pada Tuhan dan berhenti bermalas-malasan. Kalimatnya menyakiti hati pengemis. Dia berdosa sebab dia pecahkan banyak gelas mahal di toko perabotan karena tak lunasi pajak. Perbuatannya membuat rugi pihak toko. Dia berdosa karena menentang Raja yang angkuh lagi enggan menyentuh tanah di luar singgasananya. Aksinya membuat raja mengamuk, seluruh keluarganya diusir. Dia dibenci semua orang, bahkan keluarganya sendiri.

Dia pendosa yang tak kunjung belajar dari segala hal.

Dia pendosa yang terus melakukan hal yang sama; berdosa.

Kemudian di akherat, dia berkata pada malaikat yang dia temui.

“Minggir, aku si pendosa. Kau malaikat? Oh, hukum aku. Karena semua yang kulakukan bukan untukku. Tapi selalu aku seorang yang menanggung pedihnya.”

Malaikat tersenyum tipis, seraya membalas.

“Untuk apa? Tuhan sendiri yang akan menentukan. Jangan banyak bicara. Atau kukembalikan kau ke dunia. Biar siksa lebih kau rasa setelah ini!”

Pendosa tetaplah pendosa, dia malah tertawa.

“Hahahaha. Aku pendosa. Seumur hidupku hanya berbuat dosa. Mengapa Tuhan begitu repot menemuiku seorang di antara ribuan umat yang taat, wahai malaikat?”

“Biar Tuhan yang menjelaskan.” jawab malaikat jengkel.

Pendosa tetaplah pendosa, meski sudah mati pun masih berbuat dosa. Dia memang tak pernah belajar dari hidupnya di dunia hingga di akherat.

 

 

Tanda Terima

Detak jantungku berdegub kencang, mewaspadai senyap seperti ingin menyerang. Rintik hujan menambah riuh dan angin membuat pohon kalut.

Ya Tuhan, aku ingin pulang. Terima aku sebagai tanda, bahwa Kau Mahakuasa dari segalanya. Kesedihan, pedih, dan luka hanya membuatku semakin kecewa. Atau pada dunia yang kau rangkai penuh irama, membuatku jatuh berulang saat berdansa.

Ya Tuhan, aku ingin pulang. Cukup kuterima segala kerendahan, hina, dan cela. Terima aku sebagai tanda bahwa manusia hanya melihat apa yang ingin ia lihat, mendengar apa yang merdu di telinganya, melakukan apa yang baginya menguntungkan.

Aku terima semuanya, semasa sukma masoh bercokol dalam raga. Kini, kusembahkan pada-Mu, kukembalikan pada-Mu, sebagai tanda terima; aku pulang.

2018.

Suara Bawah Tanah

“Permisi Bapak, Ibu, adek-adek sekalian,

tanpa mengurangi rasa hormat anda,

ijinkan saya menghibur dengan satu dua lagu

…”

 

Hidup pengamen jalanan
seniman proletar dipinggirkan
bukan hanya mengais rupiah untuk makan
mereka bercerita atas kenyataan dan penderitaan

setiap petik gitarnya bernada getir dan menyindir
lirik yang dinyanyikan sarkas berbau satire
tapi nyata, benar, dan menggelitik nurani
mereka jujur dalam bernyanyi, mengungkap ironi lewat seni

Hidup pengamen jalanan
dari perempatan ke perempatan
napasnya dari jelaga kendaraan
suara rakyat menanyakan kesejahteraan

malam jadi panggung hiburan
lewat trotoar di bawah redup lampu jalan
tetap berdendang, tanpa dibayar
berharap Tuhan punya telinga untuk mendengar

Hidup pengamen jalanan
suara ketakutan bawah tanah
pemberontakan kelas bawah
hanya jadi kotoran pemerintah.

Solo, 2018

Kampung Asian Games; Gelora Semangat Persatuan dari Solo

Asian Games 2018 sudah menyita perhatian masyarakat di seluruh Indonesia, pasalnya gelaran olahraga terbesar se-Asia ini akan dilaksanakan di Indonesia. Indonesia kembali dipercaya sebagai tuan rumah Asian Games 2018 setelah tahun 1962 silam. Rasa bangga dan sebuah kehormatan bagi bangsa Indonesia untuk bisa kembali menyelenggarakan Asian Games 2018 dan turut serta berkompetisi di dalamnya. Kompetisi olahraga yang akan mendatangkan tidak kurang 18.000 atlet beserta official dari 45 negara se-Asia merupakan suatu prestasi bagi Indonesia. Sedikitnya 20 cabang olahraga akan memeriahkan gelaran Asian Games 2018 kali ini. Sebab dengan menjadi tuan rumah Asian Games 2018, Indonesia bisa sekaligus mempromosikan berbagai keunikan dan keberagamaan yang dimiliki, seperti kebudayaan, pariwisata, kuliner, hingga nilai sejarah.

Jika dilihat dari fakta-fakta tersebut, maka tidak heran jika antusiasme masyarakat Indonesia semakin besar menjelang Asian Games 2018 yang akan dibuka secara resmi sehari setelah Peringatan Hari Ulang Tahun Ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta. Antusiasme masyarakat yang begitu tinggi diekspresikan melalui banyak hal. Salah satu contohnya adalah menghias kampung dengan mural 3D bertemakan Asian Games 2018. Kampung tersebut terletak di kediaman pribadi milik Walikota Solo FX. Hadi Rudiyatmo.

solo-asian-games metrojatengdotcom

Kampung Asian Games di Pucangsawit (foto by: metrojateng.com)

Kampung yang terletak di Kelurahan Pucangsawit, Kecamatan Jebres, Surakarta ini sempat viral baik di media sosial maupun berita nasional karena tembok yang dipenuhi dengan hiasan berupa gambar mural beberapa atlet legenda kebanggaan Indonesia, maskot Asian Games 2018, Walikota Solo, hingga gambar Presiden Republik Indonesia Joko Widodo yang sedang berlatih tinju. Mural-mural yang menghiasi gang-gang menuju kediaman pribadi Walikota Solo ini juga menampilkan bentuk-bentuk tokoh dengan nuansa kebudayaan seperti tokoh Punokawan, atau flora, fauna khas Indonesia seperti orang utan dan bunga bangkai yang menggambarkan keberagaman yang mencerminkan Indonesia. Selain memuat keindahan seni lukis, masyarakat juga bisa menikmati sentuhan edukasi dan semangat Asian Games 2018.

WhatsApp Image 2018-07-17 at 17.09.15

Mural Presiden Ir. Soekarno (foto by: Ade Maharani N. M.)

Mural-mural ini asli buatan dan hasil kreativitas seniman lokal Soloraya yang patut diapresiasi dan dibanggakan hasilnya. Ide menghias kampung dengan tema Asian Games ini diinisiasi langsung oleh sang Walikota sebagai wujud dukungan pada para atlet kebanggaan Indonesia. Namun, dengan ide membuat Kampung Asian Games ini, dukungan bukan hanya mengalir dari Pak Rudi saja,tapi juga dari berbagai elemen masyarakat.

travelingyukdotcom

Mural Jokowi berlatih tinju (foto by: travelingyuk.com)

Salah satu citra positif yang digagas oleh Pak Rudi dengan menghias kampung ini adalah mampu meredam nuansa politik setelah diselenggarakannya Pemilu serentak dan tahun politik di 2019. Asian Games bisa menjadi angin segar bagi masyarakat di seluruh Indonesia untuk kembali bersatu dan menanggalkan perbedaan pandangan politik demi mendukung para atlet untuk mengharumkan nama bangsa. Karena semua prestasi yang diraih pada Asian Games 2018 nanti akan menjadi kebanggaan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

Untuk mempersiapkan dan menghias kampung Asian Games, dibutuhkan waktu yang cukup lama. Hingga pada tanggal 15 Juli kemarin Kampung Asian Games di Pucangsawit resmi dibuka dengan berbagai acara salah satunya dimeriahkan dengan nonton bareng Final Piala Dunia FIFA 2018. Peresmian ini cukup menyita perhatian baik masyarakat Solo maupun sekitarnya. Namun, sebelum resmi dibuka, kampung Asian Games ini sudah ramai diperbincangkan dan menjadi tujuan bagi para penggila swafoto. Beberapa orang tertarik karena keunikan yang ditampilkan di kampung ini. Mural-mural beberapa tokoh atlet legenda dan mural Jokowi berlatih tinju menjadi yang paling favorit untuk dijadikan objek foto maupun swafoto oleh para pengunjung. Salah satu pengunjung merasa mural yang ditampilkan begitu hidup dan menarik. Sangat cocok untuk mengisi media sosial pribadinya.

kompasdotid

Mural atlet legenda Indonesia (foto by: kompas.id)

Menjadi objek wisata karena keunikan dan sarat nilai seni, kampung Asian Games juga membawa semangat persatuan. Bersatu untuk dukung bersama pagelaran Asian Games 2018 sebagai wujud kebanggaan dan kehormatan bangsa Indonesia di mata dunia. Asian Games 2018 bukan hanya milik INASGOC (Indonesia Asian Games Organizing Committee), tapi milik seluruh masyarakat Indonesia. Olahraga menjadi bagian dari masyarakat berkemajuan. Semangat olahraga menanggalkan rasisme dan perbedaan yang selama ini menjadi faktor penyebab perpecahan dan konflik. Semangat sportifitas menjadi naluri demi meraih kemenangan yang suci. Berlatih dan menampilkan permainan yang terbaik adalah ikhtiar. Maka sudah saatnya Indonesia kembali bersatu demi satu cita-cita, yaitu prestasi kelas dunia.

Bagi warganet yang tertarik dengan seni 3D dan ingin menambah koleksi foto menarik, atau ingin merasakan gaung Asian Games 2018 secara lebih, sangat disarankan untuk mengunjungi Kampung Asian Games di Gang Candibodro dan Gang Candisari, Pucangsawit, Jebres, Surakarta.

 

Surakarta, 2018.