Jendela Rasa

Mentari datang, ku buka jendela yang terpaku disamping tubuh lunglai. Seribu cahaya menyerebak masuk dan menyerang pupil ini. Seperti biasa, formalitas kujalankan. Baju seragam kedodoran melekat di badan ini. Menjalankan tugas harian yang melelahkan.
“Selamat Pagi !” Sapaan spontan dari Indah.
Seorang bocah yang mudah tertawa, bahkan mengobral tawanya pada semua orang.
“Pagi, Indah !” Jawabku.
“Apa yang kau rasakan hari ini ? kau terlihat muram ?” Tanya Indah.
“Semangatku menguap saat kubuka jendela”
“Kau salah ! Justru jendela telah memberimu kehangatan di pagi, melindungimu dari angin di malam hari.”
Anak ini memang lebih dewasa dariku. Segi umur ia cukup matang. Mungkin karena sikap masa bodohnya terhadap dunia yang membuat ia bertahan hidup dari kandang macan.
“Ah, sudahlah Pak Sukir sudah datang. Kalau belum siap nanti dia marah.” Jawabku menghindari tanggapan dewasa Indah.


Kelas teori berakhir pukul 10.15 WIB. Semua penghuninya menghilang hanya dengan waktu 5 menit saja. Tepat menit ini, 10.20 WIB aku melihat wajah mu seorang lelaki yang sempat mencintaiku di jendela kusam ruang ini. Aku masih teringat jelas perkataan dan segala janjimu dulu.
“Lihatlah awan pagi ini. Aku ingin kita diatasnya entah kapan. Kita, kau dan aku !”
“Terima kasih, Tuhan mendengar itu, malaikat mencatatnya, dan aku mengamini janjimu.” Jawabku dengan air mata yang terus mengalir.
“Mulai sekarang, namakan kotak tembus pandang ini ‘Jendela Rasa’. Rasakan apa yang kau lihat, dan bercerita pada setiap ornamennya.”
“Iya” Jawabku.
Entahlah, jendela ini terlalu lebar. Menyerap berbagai aroma, hembusan angin, bahkan suara dari mana saja.
Dimana dirimu ? Aku menginginkanmu, tapi hanya jendela yang mulai usang ini yang mampu menahan rasa kangen ini.
Segera lamunan itu melayang ketika Indah menepuk pundakku.
“Aku tahu, kau muram karenanya. Sudahlah, dia masih ada. Anno takkan pergi. Percayalah.”
“Aku tahu itu, Indah. Aku disini menunggunya.”
“Menunggumu ? Kaulah yang Anno tunggu !” Jawab Indah dengan menatap mataku tajam.
“Anno takkan pergi, ia hanya singgah di sebuah Arsy. Pada saatnya kalian akan bertemu.” Terang Indah.
Aku tersadar, Anno telah lama menunggu. Ah, sudahlah. Ia akan tetap menunggu. Dan aku akan tetap melihatnya di jendela rasa ini.
“Dia telah berjanji. Akan berada diatas awan itu suatu saat nanti. Aku masih ingat itu.” Tambah Indah.
“Aku juga ingat itu Indah ! Tapi kapan ?” Tanyaku.
“Tahukah kamu, Vin. Anno pernah berkata padaku sebelum kanker itu menggotongnya ke alam Barzah. Ia berkata ‘Indah, kau yang paling dekat denganku dan Vina. Kuatkan kami dengan senyum dan tawamu. Aku tahu perasaanmu ! Kau pernah menyimpan rasa denganku jauh sebelum aku mencintai Vina. Tapi maaf, aku tak bisa lebih menyayangimu sebatas sahabat. Cintamu terlalu berat. Kedewasaan dan penglamanmu sudah cukup sepadan dengan umurmu. Tapi aku mencintaimu lebih dari Vina, dan aku menganggapmu lebih dari seorang kakak perempuan. Bila suatu saat aku tak sempat merealisasikan cintaku pada Vina, aku mohon kau temani dia sampai dia mendapatkan Anno yang kedua dalam hidupnya !’ Anno berkata itu di depan jendela ini pula. Ia berjanji padaku bahwa ia akan terus melihatmu dari sana bersama Tuhan. Mencintaimu sampai akhirnya kau melihatnya di surga.”
Aku ternganga, mendengar cerita singkat Indah.
“Anno tak pernah cerita kalau kau punya rasa dengannya.” Tanyaku sinis.
“Anno tak ingin bercerita itu karna ia tahu kau sangat dekat denganku sebelum kau menjadi kekasihnya.” Jawab Indah
Sumpah, aku tercengang. Sebegitukah Anno mencintaiku ? menjaga perasaanku ? Anno, adakah barometer pengukur cintamu ?
“Dan kini Anno telah pergi jauh sebelum aku benar mencintainya.”
“Tuhan akan pertemukan kalian.” Jawab Indah.
“Dimana ?”
“Disebuah pelaminan di surga. Anno telah memesannya. Kini ia sedang menyiapkannya. Sampai kau datang.” Kata Indah.
“Aku tak ingin omongan puitismu ! Aku muak dengan janji pupus ini. Anno tak cinta padaku !”
Emosiku meledak, terlontar keluar lebih dahsyat dari ledakan gunung berapi bertype Perret. Aku benci Indah dan Anno. Mereka sekawan pembunuh perasaan. Aku pergi dari hadapan Indah dan jendela rasa itu.
Esoknya, kelas praktek dimulai pukul 14.00 WIB. Hari ini kelas seni gambar. Aku mencintai dunia menggambar lebih dari cintaku pada Anno. Pulangnya, aku terhenti pada jendela rasa itu lagi. Tadi aku menggambar sosok Anno, entah mengapa. Aku memandanginya dan menyandingkannya dengan awan.
Kau terlalu jahat, Anno. Kau sisakan cerita bodoh bagiku. Tak banyak kebahagiaan yang kau berikan, justru cerita suram kau ungkap setelah kau tiada.
Sampai di rumah, aku membuka kado dari Anno pada ulang tahunku ke 18 kemarin. Dia memintaku membukanya saat ada kelas seni gambar di bulan Juni, tepat 7 hari lalu ia memberikannya. Kubuka perlahan, dan isinya hanya sebuah buku catatan harian. Hanya berisi beberapa curhatan. Hanya pada halaman ke 11 ada satu kalimat yang membuatku tersentak.
“Aku mencintaimu, Vina. Lebih mementingkan perasaan kekanakanmu daripada menjalani kemo kanker gila ini. Ingatkah dinner pertama ? Itu pertama kalinya aku mengingkari janjiku pada Tuhan. Maafkan aku Tuhan, aku mencintainya. Dia hidupku.”
Apa ini ? Benarkah ini Tuhan ? Aku berasa sangat bersalah. Aku merasa sangat bodoh. Anno, maafkan aku. Pertama, saat aku menjadi kekasihmu jujur, aku tak sepenuhnya mencintaimu. Kedua, aku tak pernah menyadari besarnya cintamu. Ketiga, aku tak pernah peduli dengan hidupmu bahkan penyakitmu. Keempat, sampai akhir kau menutup usiapun aku tak ada di sampingmu saat otakmu tertekan kanker itu. Tuhan, ampuni aku. Aku bersumpah, suatu saat aku bertemu Anno, aku akan menangis mohon maaf padanya.
Mentari kembali datang, aku kembali bertemu Indah. Aku meminta seribu maaf padanya. Dan pulang sekolah aku dan Indah mendatangi pusara Anno yang masih basah. Panjatan do’a terus mengalir bersamaan dengan tetesan air mata. Indah hanya terdiam, ia mensyukuri kesadaranku.
Mulai saat itu, perilakuku cukup berubah. Aku lebih ikhlas melihat sekelilingku. Bahkan melihat jauh dalam transparansi jendela rasa itu. Setiap pelajaran kelas usai, aku selalu memandanginya, melihat sosok Anno sembari memanjatkan do’a. dan memberi janji balasan padanya,
“Aku bejanji, Anno. Aku akan mencintaimu mulai dari sekarang. Aku tahu ini terlambat, sangat terlampau lambat. Setelah 2 tahun mengenalmu dan 1 tahun menganggapmu kekasih sampai 1 minggu kehilangan dirimu dalam hidupku. Aku yakin, takkan ada Anno lain dalam hidupku. Walau itu bukan keinginanmu. Tapi itu caraku menebus salahku, seribu maafku terlontar setiap harinya. Mulai sekarang aku akan memandangi Jendela Rasa ini, mencintaimu dari jauh. Berharap ada gelombang elektromagnetik yang menembus atmosphere dan mengirim semua rasaku. Terima kasih Anno, dan maafkan aku. Aku mencintaimu.

hwpArt – Maret 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s