Suara Intelek Yang Padam

‘Mulo dimusuhi, ternyata sifatmu BUSUK. Ben dimusuhi ben modar sisan!’

Pesan singkat yang pernah saya baca melalui BBM (Black Berry Messenger) dari seorang yang saya anggap cukup cerdas di kalangan publik pedesaan. Pesan yang mendasari atas ketidak hadiran saya dalam sebuah forum pemuda/i. Hanya dengan mengusung satu permasalahan ‘tidak ada izin atas ketidak hadiran’ dalam forum tersebut. Ah sudah biasa. Di sekolah pun terbiasa. Tapi anehnya organisasi sekolah selalu menerima semua ketidak hadiran tanpa izin dengan memuat forum baru untuk investigasi. Delah ini, saya tidak hadir karena acara mendadak. Lalu sempatkah saya meminta izin? Lucu sekali! Menganggap saya tidak bertanggung jawab atas jabatan sekretaris. Memermalukan semua teman pemuda/i di hadapan perwakilan orang tua. Untuk apa saya harus datang bila sebelumnya telah dipermalukan di ranah publik dan kini hanya akan mendapat bullying? Kenapa tidak dari dulu saja aturan itu ditegakkan? Kenapa baru pada masalah saya? Apa ini? Provokasi? Penjatuhan harga diri? Pelecehan nama baik? Ah dasar manusia biadab.

Hak apa yang mereka punya hingga mengutukku modar? Bahkan sampai ibuku pun selalu menangis menengadahkan tangannya dibawah Kuasa Tuhan untuk selalu meminta kesehatan padaku. Kau siapa? Akupun tak pernah mengemis makan dari keringatmu! Meminta keadilan dan perlindungan padamu. Hak apa kau atas aku? Manusia bodoh!

Kenapa saya harus berpikir lebih jauh? Kenapa mereka begitu repot menyusun strategi menjatuhkan saya? Apakah masih kurang semua penghinaan yang kalian tujukan pada saya? Saya tahu, kalian kaum intelek sama seperti saya. Lantas kenapa kalian belenggu intelektual kalian demi kepuasan hiburan duniawi? Sungguh manusia biadab. Tak ada satupun gertakan kalian yang membuat saya gusar. Hanya rumput yang tinggi dan memiliki duri yang bisa menyakiti kaki orang. Tapi hanya sabit yang selalu diasah ketajamannya yang mampu memotong rumput itu. Kalian pemuja kebatilan, pengagung kekuasaan, pelawan kebenaran, penolak intelektual, ialah manusia biadab dan tak bermoral!

Biarkan saya diam, tapi saya akan terus melawan kebatilan. Menegakkan kebenaran, walau hanya dengan menulis. Biarkan intelek ini terlihat bisu, tapi Tuhan mendengar dan mengamini sumpah serapahku. Biarkan aku bisukan intelektualku atas kehormatanku. Daripada aku harus berbicara sama busuknya dengan mereka, maka samalah strataku dengan mereka manusia tak cerdas!

Melawan Kebatilan, Intelek yang padam. Agustus 2014

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s