Memoar Luka dari Ini

Ini; biru-biru yang terpancung di lengan kiri bajuku.

Ini; biru-biru yang terpancung di lengan kiri bajuku.

Ini bukan simbol kita berbeda. Ini bukan tanda kita memihak sebelah. Ini bukan tanda kita harus terpecah. Ini bukan tiupan terompet perang. Ini bukan pertanda kita tak berguna. Ini bukan untuk dikuasai. Ini bukan untuk dipuja hingga mati. Ini bukan untuk ritual kekuasaan mutlak abadi. Ketahuilah kau, Ini- yang kau tempelkan di lenganmu, -belum hak penuh bagimu. Ini bukan harga yang kau punya untukmu, untuk harga dirimu, untuk lagamu. Ini bukan segala kebanggan dalam hidupmu. Ini bukan lagi cinta, sukma, dharma, yang mengikat kita dulu. Ini yang dulu akupun agungkan, kini bukan lagi hal yang suci. Ini yang menjadi dasar kau agungkan, kau puja kuasamu atas Ini!

Kini telah mati, kemarin Ini menangis, kemarin lusa Ini merintih, minggu lalu Ini membisu, dua minggu lalu Ini menatap kita nanar, tiga minggu lalu Ini terheran, sebulan yang lalu Ini terkecoh, dan berbulan-bulan yang lalu Ini selalu bertanya padaku.

“Apa yang membuatmu menusukkan jarum dan melilitkan benang di badanku? Tahukah kau, kau, dan kau? Badanku terluka penuh tusukan jarum. Aku kau pancung di lengan kirimu! Tergantung-gantung, tenggelam kalap di mesin cucimu! untuk apa aku? Untuk apa kau sematkan aku di lenganmu? Belenggu apa ini? Kebodohan siapa ini ? Salah apa aku Ini?”

Pertanyaan yang menggelegar di ujung pori hingga tulangku. Ini yang dulu kita pertaruhkan, kita perjuangkan atas nama KITA. Kini telah mati. Sesuai yang telah kita lakukan. Memasungnya dengan benang dan jarum, menenggelamkannya dengan mesin cuci, tergantung-gantung dan kalap. Kini Ini memoar luka menyumpah serapah.

“Aku, Ini yang dulu kalian janjikan atas nama dharma, sukma, rasa, lagi cinta telah kalian ingkari dengan kekuasaan, tahta, pangkat, jabatan, dan hak yang kalian tuntut setiap detik melihatku(Ini). Tanpa sepenggal abdi wajib seperti sumpah kalian dulu di depan api yang membara. Membara, membakar puing dosa, hina, angkara murka, tamak, dan culas lagi serakah. Sayang janji kalian terbakar bersamanya. Kini aku (Ini) bersumpah serapah atas nama dharma, sukma, rasa, lagi cinta seperti hal kalian, akan mengutuk siapapun juga, yang telah menjadikanku (Ini) tumbal para pemuja kekuasaan, akan kalian terima berbagai hal yang menusuk sukma kalian, mengoyak dharma kalian, menghasut rasa, mencabik cinta antar kalian. Tak lupa ku ucap terima kasih atas penghargaan hina padaku, dan rasa agung lagi gila hormat kalian. Sungguh aku (Ini) bukanlah sesuatu yang harus kalian agungkan. Tapi aku (Ini) ialah sesuatu yang patut kalian lindungi. Jangan menuntut kanopi dariku, sungguh atap daun rapak yakni welitpun tak bisa lama aku berteduh. Inilah sumpah dariku (Ini)!”

Detik ini, Ini telah bersumpah. Ingatlah kau, kau, dan kau! Ini bukan ajang pamer muka. Ini bukan arena pamer suara. Ini bukan permainan kekuasaan. Ini bukan lapangan tempur adu hebat. Tapi Ini yang kita miliki telah mati, tergantung, terpancung, terkelepar menempel di lengan kita. Lalu apa yang kau perbuat kini? Menguburnya pasti. Ya! Menguburnya bersama mimpi lagi harapan kita dulu. Disebuah pemakaman ambisi, kekuasaan, dan rasa tamak bernisankan “Harapan yang mati terkena sindrome pemuja kekuasaan akut. Tertidur dengan ambisi bodoh, hasil perilaku semena-mena.”

Semoga kau (Ini) tenang di alammu dan abadi disamping Tuhan. Serta terus memaku di lengan kiriku sebagai prasasti semenanya kekuasaan terhadap birokrasi gila.-

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s