Rindu yang Bangsat

“Aku hanya ingin bertemu. Aku rindu pada kita yang dulu. Ini memang tak mungkin setelah aku pergi dan aku merasa mengkhianati kalian. Aku tahu ini sulit bagi kalian untuk menerimaku lagi di percakapan kalian, bahkan menjadi bagian dari kalian. Sangat sulit dan konyol.”
“Ya, itu memang sulit dan konyol. Tapi kurasa kau tak sedikitpun mengkhianatiku atau kami. Sedikitpun tak ada di benak kami menyingkirkanmu. Bilamana itu memang keputusanmu, kami menghargai penuh atasnya. Berbahagialah disana, datanglah sewaktu-waktu bila kau mau. Bila yang lain tak menyambutmu, penggal saja kepalaku dan makan lidahku.”
“Semua aku cinta. Kalian semua sempat memberi secuil kenangan, walau hanya secuil. Dan kini aku ingin bertemu kalian. Aku ingin.”
“Aku akan katakan nanti. Semoga semua akan menyambutnya gembira.”

Petikan pesan yang aku masih ingat dari kita berdua. Yang aku membacanya tak sampai hati aku mendalaminya. Aku tahu dan akupun merasa bahwa telah banyak waktu kau kokoh dalam diammu untuk memberi anggapan pada kami, bahwa kau sanggup bertahan di kandang macan yang lainnya. Selama kurang lebih 3 bulan ini, kau adaptasikan diri dan dewasakan sikapmu dengan macan lainnya, mungkin lebih beringas dari kami. Dan kau bertahan. Tak sedikitpun terluka dari badanmu. Bahkan kuku tajammu masih runcing tanpa bekas aniaya. Gigimu masih putih tanpa bekas darah bahkan daging yang terselip. Kau cukup tangguh kini.

Aku tahu bilamana rasa rindu itu datang dan mengoyak batinmu. Labih sakit dari pada macan lain mengoyak tubuhmu. Tapi inilah dunia, skenario Tuhan tak ketara. Semua terjadi tanpa alasan dan terus berjalan secepat detak jantung ini menggetarkan dada.

Memang terkadang masa depan bisa terjebak pada keputusan kita detik ini. Bisa jadi terjegal, lecet, nggesut, hingga mati. Bisa jadi hal itu tak terjadi saat kita membuat keputusan ini. Tapi hal itu bisa lebih menyakitkan saat telah terjadi jauh di masa mendatang dengan keadaan yang sudah sangat berbeda.

Terkadang orang yang kita rasa dekat, justru bisa lebih bangsat.

Dan lebih keparat bila dihadapkan dengan masalah pribadi. Semua manusia memiliki masa dimana mereka akan berkembang, tumbuh, bermasalah, berkarir, dan bermati-matian untuk tinggal bersama Tuhan. Dan ada masa dimana manusia harus membunuh manusia lain demi hidupnya yang baik serba duniawi. Layaknya sekolah yang medewakan nilai raport dengan teman yang dipenggal di depan sang guru dan menghisap darahnya habis-habisan untuk tumbal kejayaan prestasinya kelak. Layaknya seorang pekerja yang dengan sengaja menggelembungkan prestasi demi senyuman si Bos, yang tanpa ia ketahui teman sepekerjanya telah tergantung dengan organ dalam yang acak adul di pembaringan. Semua kuasa Tuhan, dan kita. Kita? Bisa apa kita? Hanya melihat, menyadari, menangis, menyesal, dan sifat manusiawi lainnya.

Kita boleh murka? Baiklah, ayo kita murka. Pada siapa kemurkaan kita? Entah. Kita memang makhluk berakal dan mudah terbelenggu oleh dunia. Singkatnya, semua memang bangsat, keparat. Andaikan Tuhan bisa turun kemari, aku takkan menulis hal konyol ini.

Kau tanya kenapa aku terlalu bangsat? Aku memang bangsat! Lebih bangsat dari kau, kau, dan kau yang lain. Kenapa aku selalu mengumbar kebangsatanku di dunia tulis menulis? Memaparkannya dengan nyata di sebuah laman blog, dengan bebas dibaca oleh siapapun. Aku akan menjawabnya. Tak lain, tak salah, dan tak bukan alasannya ialah aku tak ingin bisu atas ketidak sempurnaan pikirku. Aku tak ingin diam saat dunia menghempaskanku dari langit impian hingga neraka jahanam. Aku tak ingin membelenggu kebodohanku bila kepandaianku terus mengejar pikiranku. Kenapa aku terlalu kasar bila menulis? Sudah kukata, aku bangsat! Seonggok daging keparat! Ingatkah atau kau pernah merasa bahwa dunia lebih kasar menganggapmu? Bukankah lebih kasar dunia bila dibanding denganku? Atau memang Tuhan yang lebih membenciku atau dirimu. Kita manusia, dan aku tak lebih dari bocah dengan sejuta milyar masalah hidup, lebih polemik bila dibanding dengan masalah uang saku, cita-cita, keinginan orang tua, dan cinta. Aku lebih bermasalah bila dibanding para preman pasar yang hanya mempunyai masalah dengan petugas keamanan, sedangkan aku, bahkan dengan Tuhanpun aku bermasalah. Jadi bila kau ingin mendebatku, debatlah. Hingga aku takkan menulis baru aku akan mati.

Oktober keblinger.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s