Yang Tertawa dan Yang Tercinta

“Ada cara seorang untuk tertawa tanpa menertawakan, ada cara seorang untuk mencintai tanpa menyakiti.” –Rurat,24 Oktober 2014.

Sepotong kalimat yang membuatku menyeringai hari ini. Seakan aku telah mendapat jawaban dari pertanyaanku pada Sang Kuasa semalam. Dengan persembahan beberapa ayat suci yang kulantunkan sedikit terbata-bata dan terisak. Merenungi setiap dosa dan kebaikan yang kuanggap baik namun aku tak tahu apakah semua kebaikan yang kulakukan benar berupa kebaikan atau kebajingan.

Dengan apa aku harus tertawa, dan bagaimana aku harus cinta pada orang di sekitarku kini? Dengan kejamnya terkadang mereka lebih mencintaiku dengan menyakitiku, tertawa bersamaku dengan maksud menertawakanku. Ya Tuhanku yang Maha Tahu, Yang Maha Bijaksana lagi Pengasih lindungi bathinku dari segala gejolak emosi dan ambisiku. Yang mungkin dulu aku berniat membantu dan berbhakti ternyata berbalas penghargaan pilu dan sikap menyakiti.

Dan kalimat seorang teman berpengatahuan lebih dariku yakni Ruri Putri Kriswanto dengan tipu daya bahasanya lagi, aku menemukan jawaban yang Tuhan sematkan pada hambaNya ini. Sepotong kalimat yang membuktikan bahwa masih ada seorang yang rela tertawa tanpa harus tertawa karena keburukan orang lain. Ada seorang yang rela mencintai tanpa harus saling menyakiti. Dan untuk kali ini ada seorang yang ingin berjanji tanpa harus berniat mengingkari. Dan masih ada orang yang berniat melakukan kebaikan yang entah kebaikan betul atau kebajingan.

Yang memiliki tanpa harus berserakah diri. Dimana merindukan tanpa harus memuja hasrat dan nafsu. Yang paling berbahaya dari manusia ialah sifat duniawi yang terkadang mendendam dalam dirinya, beranak pinak hingga bercucu cicit. Yang menjadi serapah dalam hidupnya, kutukan keji dalam sejarah hidupnya.

Yang bercerita dengan kasar tapi tak sedikitpun ada yang tertipu, yang menjelaskan tanpa harus ada pertanyaan lainnya. Yang bila mencibir tak sekedar menyakiti batin dan hati, namun sekaligus membunuh asa dan cinta. Yang mencabik kemunafikan dengan pemberontakan seorang bajingan muda.

Yang aku cerita tanpa harus ada kebodohan yang terbelenggu. Maafkan bila hambaNya ini selalu menulis keburukan zaman kecilnya. Ini hanya sebagian cerita lucu masa kecil dari seorang bocah yang ia harapkan menjadi ceritanya pada anak cucunya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s