Dunia Celaka

Sudah bekepala lima usiaku
Sudah beranak kini penerusku
Sudah kutemui kini modernitas duniaku
Sudah kukecap polusi moral dalam akhir masaku.

Dulu aku tak sebebas cucuku
Namun kini, cucuku telah terbebas dari segalanya
Hingga aku kalah pada pengetahuan si cucu
Dan kini kuratapi ilmuku yang semakin usang oleh umur yang kian menua.

Kecintaanku pada budaya
Tersayangkan karena ilmu itu terhenti tepat pada generasiku
Tertutup sudah portal penerus bangsa macam diriku
Tak peduli, kini tercampur globalisasi.

Yang kudengar dulu tak sama dengan kini
Kian memekak telinga, entah.. kini aku makin menuli.
Yang kulihat dulu tak sama dengan kini
Kian membelalak mata, nanar, entah.. kini aku memilih membuta.
Yang kurasa dulu tak sama dengan kini
Kian hambar di lidah, entah.. kini aku memilih memotong indra pengecapku.
Yang kudapat dulu, tak seindah kini
Buruk, kini aku memilih memenggal usiaku.

Yang dulu ayahku tuntunkan padaku
Kini aku tak bisa turunkan pada penerusku
Kini duniaku terportal modernitas manusia
Yah, maafkan aku wahai cucuku.

Dimana lagi aku dapatkan wayangku,
Yang memberiku tuntunan dalam tontonanku
Kini kulihat saja peraga manusia bertopeng
Cerita bodoh dari kehidupan yang berkoreng.

Untung saja, kini aku telah sekarat
Tak lagi melihat cerita bodoh berkarat
Biarkan air mataku ini asat
Biarkan penerus ini rasakan, betapa modernitas merusak tuntunan menjadi bangsat.

Klaten, 14 Novemberio 2014

Advertisements

6 thoughts on “Dunia Celaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s