Ketika Sang Jelita Jatuh Cinta

20141028_121206

Aku berterima kasih teruntuk Tuhan atas malam terakhir diatas panggung sandiwara malam itu. Dan kau, membagi tribun untukku terduduk disebelah badanmu. Kita terlihat lucu malam itu. Heum~

Remaja, cinta, luka, dan dilema. Rentetan perasaan-perasaan remaja masa kini. Lebih dari perasaan-perasaan tentang masa depan akademis, dan keluarga. Terlebih kini jejaring dan komunikasi telah sangat mudah diakses siapapun dimanapun tak pandang kawula muda maupun tua. Menjadi masalah polemik yang menarik untuk sekedar ditulis terlebih dipelajari mengenai psikologis dan emosional seorang remaja yang sedang dimabuk cinta. Bcaan-bacaan berkategori romance, membuat imaji-imaji cilik semakin beraksi pada gambaran-gambaran perihal cinta. Tontonan-tontonan yang semakin menjurus pada perilaku berpacaran turut menjadi alasan cepatnya pemikiran perihal percintaan seusia meracuni pikiran mini generasi-generasi muda masa kini. Memang terlihat terlalu prematur untuk mencerna dogma percintaan seusia, yang seharusnya mereka cerna dalam pikiran dan resapi dalam hati ialah perasaan cinta yang berlebih pada kedua orang tua yang senantiasa mencintai mereka.

Dan ketika sebuah pertemuan singkat yang membuat seorang anak perempuan mungil nan jelita dengan seorang anak laki-laki santun disebuah perkumpulan anak-anak pramuka. Pertemuan diatas panggung sandiwara malam api unggun itu membuat si jelita tak pernah lupa. Walau telah lebih dari dua tahun ia tidak pernah lagi tertarik pada sosok laki-laki untuk sekedar menjadi teman berbagi pengalaman dan ilmu pengetahuan. Setelah perjumpaan singkat diatas panggung sandiwara malam itu, dilanjutkan pula dengan upacara adat khas daerah sang jelita dan sang lelaki santun tersebut. Dan pertemuan-pertemuan singkat dan hangat itu masih melekat di ingatan sang jelita, entah apa yang ia pikirkan dan obsesi apa yang merasuki jiwanya. Tak berselang lama, kerinduan muncul di relung hati gadis jelita seusai perkemahan akbar pertamanya tersebut. Hanya butuh sekitar dua minggu sang gadis tersadar, bahwa selama ini ia hanya merindukan seseorang yang entah siapa. Hingga nama saja sang gadis tak tahu.

Tersadar, sang gadis pecinta bumi perkemahan telah membuang pikirannya untuk sekedar berpikir perihal yang tak pasti. Teringat ia selalu tertimpa masalah lebih polemik dari cinta, uang saku, cita-cita, dan keinginan orang tua. Ia tersadar bahwa cinta, obsesi, cita-cita, dan nafsu berbeda. Antara cinta yang tulus dan cinta yang penuh nafsu. Antara obsesi beranak ambisi, dan cita-cita yang berdasarkan tekad.

Ketika sang jelita jatuh cinta, ia berpikir. Untuk saat ini, siapa yang sapatutnya mendapatkan cintanya, dan siapa yang seharusnya mencintainya. Tersadar, Tuhan selalu menyayanginya, seperti janjiNya pada sang jelita terdahulu.

Semarang, 31 Oktober 2014 “Tenda terbongkar sayonara cinta”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s