Bulan

Malam ini begitu indah, bulan gagah menantang semua penghuni langit yang gelap. Seolah memperlihatkan kekuasaanya yang mampu menerangi seluruh angkasa rasa dengan sinarnya. Semua orang berebut melihat pesona tubuh telanjang sang bulan. Membesarkan mata mereka, takjub akan kuasa Tuhan. Kali ini bulan merasa bangga.

“Aku dapat membuat mereka bahagia, anak-anak saling berkejar-kejaran dan tertawa. Para orang tua mengobrol asik yang sedikit menggunjing. Ini pemandangan indah.”

Kata sang bulan sumringah

Di malam yang lain, Hamdan tetap menanti sang rembulan, terduduk di beranda rumahnya.

“Huh kenapa sih malam-malam gini malah mati listrik? Kan gadgetku butuh listrik.” Gerutu sesosok bocah kecil dari belakang Hamdan
“Hei, kenapa kau mengeluh? Kemarilah!” Rayu Hamdan menarik lengan bocah kecil itu.
“Ayah, kenapa PLN mematikan listriknya? Lihat, gadgetku kehabisan daya.”
“Kau butuh apa dari gadgetmu?” Ucap Hamdan sembari mengusap lembut rambut Ikhsan.
“Aku sudah belajar, dan sekarang aku ingin bermain. Aku baru saja mendownload game baru.”
“Lihatlah, ada yang lebih bersinar dibanding gadgetmu.”
“Yang benar, Yah? Ayah membelikanku gadget baru?” Ujar Ikhsan sambil sedikit terlonjak kaget.
“Tidak, tapi Ayah akan memperlihatkannya padamu.”
“Oke, kapan?”
“Sekarang. Namun, ada syaratnya.”
“Apa syaratnya?” Tanya Ikhsan dengan raut penuh penasaran
“Matikan gadgetmu dan tinggalkan di dalam rumah.”
“Oh baiklah,” Persetujuan Ikhsan pada Hamdan diiringi dengan larian kecil Ikhsan memasuki rumahnya.

Ikhsan, anak semata wayang Hamdan keluar seraya membawa sneter kecil. Ia melonjak riang ketika Ayahnya mengajak untuk melihat suatu hal yang bersinar.

“Ayo, Yah! Cepaat!” Teriak Ikhsan seraya menarik tangan Hamdan
“Hei, berhati-hati. Ini gelap.”

Hamdan menggandeng tangan mungil anaknya. Membawanya menuju lapangan tengah kompleks perumahan mereka. Di sana, ada banyak anak seumuran Ikhsan yang sedang berlarian, berkejar-kejaran, tertawa, bahkan menangis. Ada pula para orang tua yang bercakap-cakap ramai, terkadang tertawa dan ada yang menggoda. Di sebalahnya ada kerumunan remaja yang bermain kartu, ada juga yang mengobrol dan tertawa melihat tingkah anak kecil di tengah lapangan. Tentu saja pemandangan ini bisa dilihat hanya dengan bantuan cahaya sang rembulan. Mengingat kompleks Hamdan sedang mati listrik. Malam ini bulan purnama sempurna. Cahayanya merudapaksa ribuan kilometer langit. Memperlihatkan kegagahannya bersanding dengan ribuan kelap-kelip bintang.

“Nah ini yang lebih bersinar dari pada gadgetmu.” Hamdan membuka percakapan diantaranya dan Ikhsan.
“Apanya? Di sini hanya ada anak bermain di tengah lapangan. Lalu?” Tanya Ikhsan dengan tatapan masih tertuju pada teman-temannya.
“Lihatlah ke atas. Langit begitu gelap. Namun, cahaya bulan mampu meneranginya, memperlihatkan ribuan bintang.” Jelas Hamdan seraya menunjuk langit di atasnya.
“Apakah tiap malam bulan seperti ini, Ayah?” Tanya Ikhsan penuh rasa penasaran.
“Tidak, hanya pada saat bulan purnama sempurna. Dulu masa kecil ayah belum ada alat canggih seperti gadgetmu. Dan malam bulan purnama inilah yang ayah dan teman-tman ayah tunggu setiap bulan. Bermain di malam hari. Biasanya anak-anak tidak diperbolehkan bermain di luar pada malam hari kecuali saat malam purnama. Ini yang ayah maksud, cobalah bermain bersama temanmu di sana. Bulan tidak akan redup saat kau bersembunyi. Bulan tidak akan mati sebelum siang. Bukankah itu indah?” Jelas Hamdan seraya tersenyum lebar.

Ikhsan terdiam sejenak. Seolah mencerna kata-kata Hamdan sejenak.

“Ayah mereka bahagia. Walau hanya temaram cahaya bulan menerangi langkah mereka.”
“Maka?”
“Aku akan bermain dulu, Yah!” Teriak Ikhsan dengan setengah berlari mendekati temannya.

Ikhsan dan anak-anak lainnya bermain petak umpet. Berkejar-kejaran. Ada yang berteriak, tertawa dan menangis. Menangis karena terjatuh, atau kalah bermain. Hingga terdengar teriakan seorang bocah perempuan.

“Ikhsan jangaan! Lariiiii!!!!”

Semua anak lari terbirit-birit. Juga Ikhsan. Ia memanjangkan tangannya, berusaha meraih temannya agar ia tida berjaga lagi. Hamdan menepi, mendekati gubuk yang terbuat dari bambu dan kayu. Di sana ada beberapa orang tua dan remaja. Hamdan turut dalam pembicaraan dan senda gurau etangganya.

“Ayah, aku lelah. Ayo pulang.” Rayu Ikhsan sambil menarik ujung baju Hamdan dengan nafas terengah-engah.
“Sudah puas bermain?”
“Ya! Temanku juga akan pulang. Ini sudah jam 9 malam dan besok aku harus sekolah.”
“Baiklah.”

Setelah Hamdan berpamitan dengan para tetangganya, ia dan Ikhsan berjalan beriringan menyusuri gang kecil untuk sampai di kediaman mereka.

“Ayah, apakah ayah juga berkeringat sepertiku saat ayah bermain dulu? Tanya Ikhsan memecahlan kesunyian.
“Lebih dari berkeringat.” Jawab Hamdan
“Lalu?”
“Ayah sempat menangis ketika kalah bermain.”
“Hahahaha. Ayah cengeng.” Ledek Ikhsan sambil mencubit tangan ayahnya.
“Sudahlah, itu kan dulu. Sekarang kau harus mandi dengan air hangat. Agar badanmu segar dan tidur nyenyak.”
“Baiklah Ayah!”

Hamdan berjalan menjauhi kamar mandi rumahnya. Baru tiga langkah, ia mendengar panggilan Ikhsan.

“Ayah, jika bulan purnama bersinar lagi ajak aku bermain.”
“Baiklah.”
“Tapi Ayah harus ikut bermain.”
“Oke.”
“Tapi Ayah tidak boleh menangis. Hahahaha.” Ledek Ikhsan seraya tertawa dan menutu pintu kamar mandi.

Seperti itu, setiap malam bulan purnama sempurna. Lapangan kompleks perumahan Hamdan selalu ramai. Tak peduli listrik menyala atau tidak, inilah waktunya mereka bercengkrama dengan sesama tetangga.

“Dan lagi, aku menguasai malam ini. Ribuan manusia tertawa di bawah sinarku. Berbahagialah dan bersyukurlah.”

Gumam Bulan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s