Marhaen Bertamasya

Perjalanan Marhaen masih panjang. Kadang hujan menerjang. Badai selalu menghadang. Kadang beliau jatuh tersungkur. Hingga sedikit bagian dari tubuhnya hancur. Namun, tak sampai lebur.  Ini Marhaen, bekerja untuk hidup belajar untuk masa depan.

Ini kisah seorang gadis konyol yang kerap sekali tertawa di tempat-tempat umum. Dia sedikit memiliki rasa malu. Kalau kalian bertemu dengannya pertama kali kesannya dia adalah gadis yang pendiam. Jangan sampai mengenalnya lebih jauh, nanti kau akan tau rasanya.

Ini kisah dimana saya, pertama kali mendengar kata ‘Proletar’. Yang berarti sebuah kata yang menggambarkan kelas masyarakat dari istilah Karl Marx. Saya memiliki satu buku dimana ada nama Karl Marx sebagai pencetus Komunisme, buku tersebut berjudul “Teologi Pembebasan”. Berupa buku terjemahan dari Michael Lowy. Proletar lahir dari pemikiran Karl Marx. Dan Marhaen, apa itu Marhaen?

Marhaen sejatinya adalah sebuah nama dari seorang petani miskin yang hidup di Indonesia yang ditemui Soekarno tahun 1926-1927 di daerah Bandung. Percakapan antar Mang Aen dan Soekarno mengenai pertanian, mencangkul, dan bekerja setiap hari. Namun, hasil yang didapat hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Kehidupan, kepribadian yang lugu, bersahaja namun tetap memiliki semangat berjuang memenuhi kebutuhan hidupnya inilah, maka nama petani tersebut oleh Bung Karno diabadikan dalam setiap rakyat Indonesia yang hidupnya tertindas oleh sistem kehidupan yang berlaku. Sebagai penyesuaian bahasa saja, nama Mang Aen menjadi Marhaen.

Lalu, tercetus ideologi Marhaenisme yang tergolong masyarakat miskin menurut Soekarno. Ada 3 unsur, yakni:

1. Unsur kaum proletar Indonesia atau disebut kaum buruh.
2. Unsur kaum tani melarat Indonesia.
3. Unsur kaum masyarakat melarat Indonesia lainnya.

Jadi, Proletar dan Marhaenisme memiliki kesamaan maksud. Bisa disebut juga Marhaen adalah Proletar-nya Indonesia.

Saya, bukan berasal dari keturunan ningrat, konglomerat, bukan juga pejabat. Saya terlahir dari rahim ibu muda. Dari keluarga petani dan pegawai swasta pabrik gula. Saya besar dalam asuhan keluarga yang tercukupi. Bukan melimpah, tidak juga bermewah harta. Saya belajar dalam naungan sekolah negeri biasa, akreditasi A, dalam kota, dan tidak berstatus Internasional. Saya sadar diri, bahwa kasta dalam tatanan kehidupan hanya cara pandang seorang terhadap lingkungannya. Yang mana tentu saja cara pandang setiap orang berbeda. Oleh karena itu, saya menganggap diri saya sebagai Marhaen. Saya hanya rakyat kecil, yang terus bergerak untuk hidup. Saya tak memiliki harta. Saya hanya memiliki kehidupan, dan masa depan.

Kini saya menempuh sekolah menengah atas di kota saya. Memiliki banyak teman, selalu senang, dan bahagia. Belajar sebagai kewajiban, bermain sebagai selingan kegembiraan. Bermain bersama, explore daerah terdekat, dan foto-fotooo. Hohohohoooo πŸ˜€

Ini dia Si Marhaen kecil yang bertamasya. Hanya dengan celana training, kaos oblong, kerudung, dan sandal jepit dari karet. Sandal inilah maskot Marhaen saya. Saya merasa bebas, walau terkadang orang melirik sinis pada penampilan yang dinilai “ndeso”. Saya lebih berkata sinis pada mereka, apa bedanya sandalku dengan milikmu? Semahal apapun milikmu, sandalmu juga akan menginjak kotoran di jalan. Sama seperti sandal karetku.

Saya Marhaen, saya Proletar di Indonesia, dan saya bekerja untuk hidup berilmu untuk masa depan.

Saya terus berpegang. Berpegang pada Tuhan.

Saya terus berpegang. Berpegang pada Tuhan.

Di hamparan perbukitan kebun teh, saya melihat orang benar-benar bekerja. Teh ini subur dan akan aku minum tiap pagi hari.

Di hamparan perbukitan kebun teh, saya melihat orang benar-benar bekerja. Teh ini subur dan akan aku minum tiap pagi hari.

Saya sekolah untuk ilmu. Kelak akan sukses, dan menjadi kaya. Memiliki kontainer besar seperti di belakang.

Saya sekolah untuk ilmu. Kelak akan sukses, dan menjadi kaya. Memiliki kontainer besar seperti di belakang.

Touring with CIAMIX

Touring with CIAMIX

Hidup Swa-swaaa!!!

Hidup Swa-swaaa!!!

Happy!!

Happy!!

Mau kaya, mau punya tanah yang luas. Mau punya usaha yang banyak. Biar Marhaen nggak kekurangan.

Mau kaya, mau punya tanah yang luas. Mau punya usaha yang banyak. Biar Marhaen nggak kekurangan.

Advertisements

2 thoughts on “Marhaen Bertamasya

    • Wkwkw, nggak apa. Kan baik saya secara implisit memberi ilmu yang belum kau tahu. Saya kenal istilah Marhaen juga dari baca buku, etimologi di web dsb. Ya karena menurut saya sih, a good writer is a good reader. Hehehee πŸ™‚

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s