Dari Samping Sajadah Tetangga

Assalamu’alaikum duhai makhluk Allah yang senantiasa mengisi waktu dengan membaca prakata saya. Apa kabar? Kalau masih baik-baik saja berarti hari ini sama dengan yang kemarin, dalam arti lain kalian telah merugi. Semoga besok lagi jika ditanya apa kabarnya, jawablah “tambah baik-baik saja”. Eh kok masih ada saja-nya, khilaf lagi astagfirullah. Oke kalau gitu jawabnya “tambah baik dan semakin baik, insha Allah”. Duhai makhluk Allah yang sedang menikmati untaian tulisan sederhana dari gadis konyol ini, pernahkah kalian merasakan sebuah kegelisahan karena yaa mungkin timbul di antara kalian pemikiran-pemikiran teologi yang belum kalian mengerti sepenuhnya. Hingga kalian sempat termangu dan terus menerka-nerka apa sebenarnya yang diperdebatkan. Jawablah dengan membatin dalam diri saja, dan biarkan saya saja yang menjelentrehkan keinginan yang telah menggelora akhir-akhir ini. Semoga kalian menikmati.

Bulan Ramadhan yang kata orang adalah bulan yang penuh berkah, Allah juga menjanjikan ribuan ampunan dan keberkahan di bulan ini. Tahun ini, bulan Ramadhan dimulai setelah peringatan berkurangnya usia saya. Namun, sebelum datangnya Ramadhan, banyak sekali cobaan, ujian, permainan yang Allah berikan sepanjang satu bulan ini kepada saya. Permainan yang telah membuat saya harus mengaku kalah, bertekuk lutut di bawah kekuasaan Allah, menerima segala skenario yang bagi saya ialah cerita yang sangat menantang. Dan Allah benar, banyak sekali keberkahan menjelang bulan suci, tapi tidak sedikit juga rintangan yang mampu membuat saya bersujud lebih lama di setiap shalat yang saya kerjakan dari pada biasanya.

Bulan Ramadhan juga menjadi waktu bagi umat Islam di kampung saya untuk berbenah diri. Mereka kini kian mengenal masjid, Al Qur’an, beramal, dan hal baik lainnya. Tidak hanya pengajian anak-anak setiap sore, pengajian orang tua dan shalat malam rajin kami kerjakan semata-mata karena ridha Allah. Pernah di satu malam ketika saya menjalankan shalat tarawih sendiri (re: biasanya saya selalu bersama ibu, tapi malam itu ibu sedang berhalangan karena datangnya bulan). Saya bersebelahan dengan salah satu tetangga satu RT. Sama seperti jamaah shalat lainnya, beliau mengenakan mukena putih dihiasi bordir cantik, dilengkapi sajadah bergambar masjid yang megah. Entah gambar masjid mana yang ada di selembar sajadah mulus itu, saya masih sibuk memikirkannya hingga tulisan ini terbit. Sedangkan sajadah saya yang merupakan hadiah dari kepulangan ibadah haji teman ibu saya sangatlah berbeda. Sajadah ini begitu tipis, kecih, bahkan warnanya menurut anak kecil kurang menarik. Malam itu saya menggelar sajadah saya tepat di samping sajadah tetangga saya yang terlihat memukau itu. Kemudian saya melaksanakan shalat seperti biasa mengikuti imam malam itu, begitupun dengan jamaah lainnya. Entah pikiran apa dan inspirasi dari mana, saya sempat berpikir dan hati saya mengucapkan pertanyaan semacam ini “Ketika Allah melebarkan sajadah tetanggamu lebih lebar tapi terlihat halus karena jarang terpakai, dan milikmu kecil dan lusuh karena terlalu lama kau bersujud untuk Allah. Kini, apa yang kau rasa? Sakitkan keningmu karena sujudmu? Sakit mana ketika keningmu bersujud untuk Allah dengan keningmu dikecup laki-laki yang bukan mahrammu?”. Lalu kembali terngiang pertanyaan sebagai berikut, “Ketika Allah lebih memilih sajadahmu yang lusuh karena lama sujudmu, masihkah kau hamba yang hina dina meragukan nikmatNya? Lalu apa yang kau sebut nikmat sebenarnya?”. Saya tertegun sejenak, berpikir secara rasional, tapi sayang semuanya tidak membuahkan jawaban yang memuaskan.

Kemudian saya kembali berpikir untuk menulis cerita ini, sampai ditulisnya cerita ini pun saya masih membayangkan betapa mulus, lembut, dan kemilau sajadah itu. Sungguh, dibanding milikku tiada tandingnya. Begitu pula dengan dua pertanyaan yang sangat menusuk bagi saya. Pertama, saya memang sering berlama sujud di sujud terakhir untuk menyisipkan do’a. Tapi untuk merelakan kening bagi mereka yang belum tentu membawa saya kepada surga Allah, saya tidak rela. Kedua, saya memang penikmat dunia, tapi saya tidak sepenuhnya hedon dan bergaya hidup yang magrong-magrong. Saya lahir dari rahim wanita pekerja, hidup di tengah keluarga yang hidup karena pekerja, dan saya besar di lingkungan yang menuntut saya untuk berkembang. Namun, manusia mana yang rela sepenuhnya melepas kenikmatan duniawinya? Saya tidak munafik, saya pun tidak menampik bahwa saya suka jajan, suka beli buku bacaan yang terhitung mahal, suka traveling dan camping. Tapi, saya pikir itu semua semata-mata juga berguna bagi kehidupan saya ke depan. Sekali lagi, tiada nikmat Allah yang pantas untuk didustakan, tiada manusia yang pantas untuk menggugat nasib jika ia hanya berdiam bagai tiang bendera, dan saya akui bahwa saya terlalu bernafsu akan duniawi. Meminta sekali pinta, mengharap sekali kejap, menggugat nasib yang buruk, dan masih banyak lagi sisi buruk yang tergambar dari saya. Semua terlihat sekedip mata saat saya melihat gambar ka’bah di sajadah kesayangan saya.

Di samping sajadah tetangga, saya berpikir inilah arti bahwa Allah selalu ada dalam setiap diri umatNya. Dia samping sajadah tetangga, Allah kembali menegur saya pelan. Di atas sajadah saya ini, saya bersujud dengan seribu permohonan ampunan, pengharapan masa depan, dan do’a-do’a lainnya. Semoga Allah mendengar do’a di setiap sujud terakhir saya. Hingga membawa saya menuju gambar pada sajadah saya – Ka’bah, Mekkah.

Amiin amiin yaa Rabbal’alamin. Wassalamu’alaikum.

Dan kini aku tetap tersenyum, Allah menyayangiku dalam diriku sekali lagi dari sekian banyak kali kesempatan. Alhamdulillah :)

Dan kini aku tetap tersenyum, Allah menyayangiku dalam diriku sekali lagi dari sekian banyak kali kesempatan. Alhamdulillah 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s