Bukan Sekedar Perjalanan

Selamat Hari Raya Idul Fitri bagi umat Islam seantero dunia!!! Taqoballahu Minna Wa Minkum, Minnal ‘Aidzin Wal Faidzin. Udah telat ya, tapi masih dalam suasana lebaran dengan ribuan uang receh dan makanan kecil. Yumm! Dan masih dengan salam-salaman, arisan keluarga, reuni, oiya satu lagi pasti ada yang ketemu mantan pacar, kan? ya, kaaan? Walaa, oke nggak apa. Justru momen lebaran jadi satu waktu untuk kita memaafkan yang lalu termasuk mantan pacar dong! wkwkw

Lebaran, selalu diwarnai mudik atau pulang kampung. Nah kalian semua pasti punya kampung dengan halaman atau tanah kelahiran, kan? Udah akui aja dulu asalnya dari kampung, haha saya juga kok. Saya tinggal di Klaten, salah satu kota yang diapit Jogja dan Solo. Kota seribu pemuda berbakat, kota seribu perkembangan, kota di mana aku besar. Saya memang dibesarkan di Klaten, tapi saya lahir di Denpasar. Setiap lebaran saya selalu pulang ke kampung halaman ibu saya di Purwodadi, Jawa Tengah. Di sana kami sekeluarga bertemu dengan saudara-saudara ibu dan sepupu-sepupu saya. Tidak lupa acara makan bareng dan salam tempel wkwkw.

Kami tinggal di rumah Simbah selama tiga hari dua malam. Bedanya di pulang kampung tahun ini, saya dan kakak kandung saya melancong ke Kota Semarang. Kami berdua berboncengan menaiki Reddo (motorku tersayang Vario 125 keluaran 2013). Kami berangkat pukul 08.30 dari rumah Simbah. Destinasi pertama kami menuju Simpang Lima dan masuk ke Mall Ciputra. Tujuan kami adalah membeli tongsis ala anak zaman sekarang. Setelah itu kami berputar-putar, melihat-lihat dagangan ala mall yang yaa jarang saya temui di Klaten. Saya pun juga sangat jarang bermain ke mall di Jogja atau Solo. Tapi kami berhenti di salah satu titik mall Ciputra yang bertuliskan “Toko Buku Gunung Agung”. Kami berdua masuk ke toko itu dan mengobrak-abrik isinya. Lalu saya terhenti di salah satu buku berjudul “Ayah” karya Andrea Hirata. Sebenarnya saya membeli novel ini karena tujuan lain, yakni mengikuti lomba menulis surat dari penerbit novel ini. Sebenarnya juga, banyak sekali buku-buku yang aduhaaaaai untuk dibaca, dipeluk setiap malam, dan untuk menemani otakku sebelum kesibukan sekolah, pekerjaan rumah, les, dan kejamnya dunia SMA di semester terakhir ini datang. Yaa itung-itung pemanasan otak. Namun, yaa lagi-lagi budget yang nggak yahud membuat saya hanya membeli novel “Ayah” dan kakak saya yang mengantongi “99 Cara Berpikir Sherlock Holmes”. Kemudian kami keluar dari area Simpang Lima menuju Masjid Agung Jawa Tengah di Jl. Gajah Raya No. 128, Sambirejo, Gayamsari, Semarang, Jawa Tengah. Di sana kakak saya menunaikan shalat luhur dan saya menunggu di luar batas suci karena saya sedang berhalangan. Saya sempat tertegun dengan rumah Allah yang satu ini. Ratusan pengunjung datang ke masjid ini, tidak hanya untuk menunaikan shalat, tapi mereka memang ada yang sengaja datang untuk merasakan nikmatnya shalat di masjid dengan arsitektur campuran Jawa dan Arab ini. Setelah kita masuk gerbang, kita akan menemui palang stainless stel bertuliskan 5 Rukun Islam yang berbaris ke belakang di atas sebuah kolam indah. Lalu ada batu yang bertanda tangan Presiden SBY yang meresmikan Masjid Agung Jawa Tengah. Kemudian menaiki tangga dan sampailah di lantai luas yang dikelilingi tiang yang menyangga kaligrafi unik berbentuk setengah lingkaran. Lalu setelah batas suci ada pelataran yang ditancapi 6 payung raksasa ala Masjid Nabawi di Madinah. Sayang, payung raksasa itu tertutup sehingga terik matahari menghangatkan keramik latar masjid itu. Sayang lagi, saya tidak bisa masuk ke dalam masjid dan merasakan sensasi shalat di masjid yang berdiri di atas tanah seluas 10 ha. Hasilnya saya hanya berfoto di luar batas suci. Hmm, oke juga.

PhotoGrid_1437358410556

Pelancong yang kantongnya kosog. Hihiww :p

PhotoGrid_1437361483813

Masjid_Agung_Jateng_Indonesia4

mk

Imamin adek di sini ya, Bang! :3

Kemudian kami memilih untuk mencari makan siang sebelum melanjutkan lancongan kami. Kami berhenti di sebuah gang yang dipenuhi penjual mi ayam kaki lima. Kami berdua memesan mi ayam dan satu gelas minuman. Dan kalian tahu berapa kocek yang harus saya rogoh untuk membayar? Ya Allah kami menghabiskan Rp30.000,- guys! Gilaaaa! Satu mangkok bisa sampai Rp12.000,-. Padahal di Klaten mi ayam paling enak dengan potongan ayam sebesar jempol orang dewasa, kaldu yang nikmat, mi yang yahud, dan sawi yang hijau hanya menghabiskan Rp8.000,- saja. Hmm, maklum juga ini lebaran -_- Oke setelah sedikit melongo di depan kasir, kami melanjutkan perjalanan menuju Klenteng Sam Poo Kong di Jl. Simongan Raya No. 129, Semarang, Jawa Tengah. Kami berfoto ria di salah satu Klenteng yang terkenal di Jawa Tengah ini. Cuaca cukup cerah, dengan pengunjung mayoritas keturunan China yang ingin berdoa.

PhotoGrid_1437361550282

IMG20150719142429

PhotoGrid_1437361442836

Ditemenin dua singa yang gagah 🙂

PhotoGrid_1437361625545

Hello geng! Ini gadis konyol yang selalu pengen melancong. Modal GPS aje -..-

Setelah puas berfoto ria, kami melanjutkan perjalanan menuju Umbul Sido Mukti di Desa Sidomukti, Bandungan, Semarang, Jawa Tengah. Walaupun sudah terlampau sore, kami cukup menikmati pemandangan yang aduhaaai di kaki gunung Ungaran. Oiya, selama perjalanan menuju umbul ini, kami melewati salah satu Pusdikepram (Pusat Pendidikan Kepramukaan) Candra Birawa di Gunung Pati tempat saya berkemah bersama DKD Jawa Tengah setahun yang lalu. Kami melewati jalanan gunung yang rimbun pepohonan, jalanan berkelok, dan kehausan. Untung ada mini market yang buka di sekitaran Gunung Pati, sehingga dahaga ini hilang.

PhotoGrid_1437361734787

Viewnya bagus yaa. Kapan abang ngajak adek muncak Ungaran? :3

Umbul Sido Mukti tidak hanya menyuguhkan sebuah kolam renang, tetapi ada banyak permainan alam seperti out bound dan lainnya. Ada juga penyewaan kuda yang siap mengantar anda mengelilingi area umbul. Pokoknya seru banget, keren, yahuuud!

Well, kami keluar dari kawasan Umbul Sido Mukti pada pukul 17.30. Melewati jalan Semarang-Surakarta yang panjang dan kami sempat melewati Markas Kodam IV Diponegoro, Markas Yonif 400 Rider yang pernah saya saksikan kedua pembela negara ini unjuk kemampuan di perkemahan saya setahun lalu. Sebenarnya kami hendak menuju Lawang Sewu. Namun, ternyata Lawang Sewu telah tutup pada pukul 17.00 dan hanya bisa berfoto di luar. Sayang. Lalu kami memutuskan untuk berhenti sejenak di Masjid Baiturrahman Simpang Lima. Tentu saja untuk menunaikan shalat (bagi kakak saya). Setelah selesai, kami pulang kembali ke rumah Simbah dengan selamat. Alhamdulillah.

Perjalanan yang menyehatkan, bermodal GPS smartphone lawas, keberanian, dan yaa niat baik mau wisata. Ini bukan sekedar perjalanan tanpa kehendak Allah juga. Kapan kita berputar lagi? Menikmati jalanan yang ramai dan berkata Wow pada destinasi kita. Semoga Allah memberi kesempatan. Amiin. 🙂

Bagi kalian mungkin destinasi saya tadi adalah tempat yang sudah biasa kalian singgahi. Tapi untuk seorang rumahan seperti saya, ini adalah perjalanan luar biasa. Di mana saya bisa lebih tahu tentang hal lain. Karena ke manapun perginya petualang, ia pasti akan selalu pulang. Ke manapun pelancong, ia pasti akan mengucap syukur. Karena perjalanan bukan sekedar melintasi jalan, ini sebuah pengalaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s