Program Sekolah 5 Hari di Klaten

Helloo hello hay! Syukur alhamdulillah bisa nulis lagi di akhir bulan Juli yang geli. Bulan ini bisa dibilang bulan libur bagi siswa SD-SMA termasuk saya. Kini saya duduk di semester terakhir di sebuah SMA negeri di Klaten. Bulan Juli yang berisi libur lebaran 2015 dan sisa libur akhir tahun ajaran 2014/2015, dan siswa diwajibkan masuk kembali pada tanggal 27 Juli. Lumayan kan?

Sudah dua tahun kita dengar bahwa Indonesia mulai mencoba mengganti kurikulum dari K2006 (Kurikulum 2006) menjadi K13 (Kurikulum 2013). Sesuai namanya, K13 dibuat dan mulai dilaksanakan pada tahun 2013 tepatnya saat saya pertama kali menginjakkan kaki dan bernafas di lingkungan SMA. Dulu masih sangat asing bagiku mata pelajaran Matematika. Kenapa? Padahal dari kelas 1 SD pasti saya pun sudah mengenal Matematika, tapi kenapa sekarang justru asing? Ya, sangat asing. Saya berani bilang seperti ini karena dalam Matematika K13, ada beberapa sub materi yang sebenarnya dikenalkan di kelas XII, tapi siswa kelas X sudah harus melahapnya. Sangat mencekam hahaha. Persaingan semakin ketat hingga semester ke empat yang baru saja berakhir. Saya bisa dibilang siswi yang “gesrek”. Saya lebih suka bermain walaupun sudah menginjak semester ke empat. Selama satu tahun penuh di kelas XI saya menyibukkan diri dengan acara organisasi, meramaikan bumi perkemahan, camping, dan komunitas penulis. Itu hal yang yaa bisa dibilang sedikit menyebabkan nilai saya jauh di bawah teman yang lain. Saya juga dikenal supel, katanya. Dari 11 kelas dalam 1 angkatan saya, minimal setiap kelas ada 3-7 anak yang mengenal dan saya kenal. Ada juga yang hampir satu kelas mengenal saya atau saya kenal. Tidak bisa dipungkiri hal ini juga karena keterlibatan saya dalam organisasi di sekolah. Well, nilai turun, ranking anjlok, dan ancaman sulit lolos SNMPTN menjadi mimpi paling nyata. Astagfirullah.

Usai meratapi kebodohan dan kecerobohan saya selama 4 semester, saya dipertemukan dengan sebuah masalah yang luar biasa menyedihkan. Predikat kakak kelas paling tua, semester terakhir dengan persaingan yang semakin “nggilani”, dan kecemburuan terhadap ekpresi teman yang mengantongi nilai OKE menjadi beban berat yang harus dipikul tanpa bisa diletakkan. Mengejar kekurangan materi selama 4 semester bukan hal mudah, bukan sekedar SKS (Sistem Kebut Semalam), juga bukan sekedar tahu sambil lalu dan lali. Saya pun mendapat masalah lagi mengenai finansial yang rumit, hutang hingga jutaan yang entah harus saya bayar menggunakan daun atau kertas bergambar proklamator Indonesia. Sungguh, jika saya tidak berkeTuhanan, mungkin saya memilih jalan hitam. Kini masalah kembali bertambah. Wacana Gubernur Jawa Tengah tercintaku yang mengubah hari sekolah dari 6 hari menjadi 5 hari telah menjadi kenyataan, bukan sekedar hayalan, bahkan ekspektasi.  Awalnya, siswa merasa senang, karena hari libur bertambah menjadi 2 hari; Sabtu dan Minggu. Ditambah lagi kata seorang teman sekelas saya, bahwa hari Sabtu bisa main sepuasnya, weekend yang rada panjang, bisa nonton, hang out, dan masih banyak lagi. But, its all just an expectations. Semua hanya ekspektasi yang tak mengenal realita. Ya, saya sekali lagi berani bilang seperti ini karena mereka tak mungkin melakukan hal yang mereka sebutkan tadi. Seperti nonton, hang out, main, dan lainnya. Justru hal yang nyata dilakukan adalah belajar, ikut bimbingan belajar alias les, dan yang pasti tidur. Bahkan jarang dari mereka yang doyan baca buku meskipun buku non pelajaran. Jam pelajaran yang awalnya 8 jam (@jam pelajaran 45 menit) menjadi 10 jam pelajaran. Sehingga yang awalnya kami pulang pukul 13.30 menjadi 15.00. Belum lagi tutor bagi kami siswa paling tua -___-

Alhamdulillah ini hari Rabu, berarti sudah 3 hari terhitung sejak pertama kali masuk di semester terakhir. Hari pertama tentu masih sibuk dengan Halal Bihalal dengan Bapak dan Ibu Guru tercinta, sekaligus sungkem untuk restu di akhir kehidupan kami di sekolah tersayang ini. Selanjutnya kelas diisi Wali Kelas, teruntuk kelas saya dimandatkan kepada Ibu Turweni, seorang guru Biologi yang menurut saya subhanallah pandainya. Ilmunya yang luas mengenai nama latin, tumbuhan, hewan, manusia, bahkan up to date dengan lingkungan masa kini. Ibu Turweni memang disegani, karena termasuk guru yang disiplin, jujur, dan tegas. Hari kedua, KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) sudah berlangsung. Namun, karena Kota Klaten sedang berulang tahun ke 211, maka jam pelajaran dipotong sudah menjadi ceremoni kegembiraan bagi kami. Pelajaran pertama Ekonomi Peminatan, berlangsung 4 jam pelajaran. Sangat membosankan, tapi juga sangat lucu. Karena selama sehari kemarin Bapak/Ibu guru wajib memakai Beskap bagi Bapak, dan Kebaya bagi Ibu guru. Bapak terlihat guanteeeeng, dan ibu terlihat cuanteeeeek 🙂 Lalu pelajaran PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) selama 2 jam pelajaran. Selanjutnya Matematika Dasar yang diampu oleh Bapak Sutarno. Seorang guru yang disegani bagi siswa dan guru lainnya. Bapak Sutarno dulu sempat mengajar di lingkungan militer di SMA Taruna Nusantara. Sehingga jika sifatnya masih tegas se-tegas militer, itu wajar. Seperti sudah diprediksi, pulang awal jadi kenyataan. Sekolah dipulangkan pukul 11.30 karena pukul 14.30 jalan utama sudah ditutup untuk Karnaval dan Kirab Budaya Klaten. Acara ini dimeriahkan oleh 10.000 penari gambyong dari seluruh sekolah di Klaten. Woww!

Hari ketiga kini sudah terlewati. Di awali dengan menyanyikan Lagu Indonesia Raya, dan pulang dengan menyanyikan lagu daerah. Benar-benar Nasionalis dan benar-benar implementasi dari Permendikbud No. 21 Tahun 2015! Benar, untuk pertama kalinya kami pulang pukul 15.00. Mata pelajaran yang aduhaiii membuat kami sedikit lelah. Belum lagi les dan tugas. Menurut saya belajar lebih dari 6 jam merupakan eksploitasi kemampuan otak. Ya, raga kami masih terduduk di kelas, pandangan kami masih kepada sang guru, tapi otak kami sudah lelah, terlebih bagi saya yang memiliki penyakit di otak saya. Kelelahan sangat saya rasakan hari ini. Jadwal yang setiap hari berbeda, dalam arti lain satu mata pelajaran hanya satu minggu sekali tapi dengan kapasitas jam pelajaran yang banyak atau lama. Hal ini membuat saya harus semakin berhati-hati dalam belajar. Setiap mata pelajaran harus saya ulang minimal satu kali di akhir minggu. Sekolah 5 hari memang tidak senikmat glukosa buatan dalam es krim coklat, ataupun susu coklat hangat di pinggir jalan. Semua hanya ekspektasi. Namun, kini di akhir semester saya harus semangat. Untuk mengubah ini, saya harus menjadi yang penting, alias orang yang berpengaruh. Maka untuk menjadi orang yang berpengaruh, saya harus pintar, pandai, berilmu, dan berpengalaman. Kini saya harus perjuangkan umur terakhir saya di SMA. Saya harus lolos SNMPTN atau diterima di PTN yang saya minati. Belajar dan berdoa, semoga Allah beri jalan.

Bagi kalian yang merasakan 5 hari sekolah, selamat belajar. Semoga cita-cita dan harapan kalian tercapai. Ingat, sekolah tidak sekedar mencari nilai, mencetak predikat A, B, C di raport, tapi sekolah mengenai bagaimana kalian hidup sendiri, bertemu orang yang sebenarnya bukan siapa-siapanya kalian tapi akan menjadi orang yang berpengaruh bagi kalian. Sekali lagi, sekolah bukan taman bermain seperti yang dicanangkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, tapi realitanya sekolah adalah ladang perlombaan, persaingan, bahkan rimba yang luas. Di mana ribuan macam satwa hidup dan bertahan hidup. Bahkan anggap saja temanmu adalah macan, maka sekolah bagimu adalah kandang macan yang sekiranya bisa membuatmu disantap mati atau menjadi pawang yang menakhlukan makhluk buas itu. Sekian, selamat merasakan kejamnya persaingan global. Make your parents proud of you!

Ini bukan masalah aku setuju atau tidak dengan program pemerintah. Namun, ini soal aku yang merasakannya. Bagaimana aku pulang lebih sore dibanding Ibu yang biasanya pulang paling sore seusai bekerja. Belum lagi malam nanti aku harus les dan mengerjakan tugas. Hmm, syukuri saja. Semoga Allah menguatkan. Amiin :)

Ini bukan masalah aku setuju atau tidak dengan program pemerintah. Namun, ini soal aku yang merasakannya. Bagaimana aku pulang lebih sore dibanding Ibu yang biasanya pulang paling sore seusai bekerja. Belum lagi malam nanti aku harus les dan mengerjakan tugas. Hmm, syukuri saja. Semoga Allah menguatkan. Amiin 🙂

Advertisements

One thought on “Program Sekolah 5 Hari di Klaten

  1. Pingback: Mata Pelajaran Prakarya dan Kewirausahaan Membangun Karakter Mandiri | Sukma Pangastuti

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s