“Untuk itu, saya harus sekolah.”

Hallo, ngepost lagi di bulan Agustus. Hari ini hari Jum’at. Saya pulang sekolah lebih awal dari empat hari sebelumnya. Di sekolah tadi sedikit berbeda karena untuk jam pelajaran pertama, kami warga SMA N 1 Klaten wajib membersihkan, memperindah kawasan rumah kami (re: sekolah) karena akan diadakan penilaian akreditasi besok senin. Saya dan teman sekelas riuh membersihkan ruang kelas kami, mulai dari menyapu, melap jendela, mengepel, hingga melepas sepatu sebelum masuk kelas. Sepulang sekolah, rencana saya adalah menuju perpusda Klaten, lalu membayar sejumlah uang ke bank untuk kebutuhan sekolah. Namun, setelah sampai di perpusda, ternyata perpusda sudah tutup. Lalu perjalanan saya lanjutkan menuju destinasi ke dua, yakni bank. Sayangnya, bank juga sedang tutup atau lebih tepatnya istirahat untuk Shalat Jum’at. Hmm, karena jam tangan saya menunjukkan pukul 12.05 saya memutuskan untuk pulang ke rumah.

Sampai di rumah, saya beristirahat sejenak. Saya membaringkan badan dan berganti pakaian. Setelah Ayah dan Kakak saya pulang dari masjid, baru saya melaksanakan shalat Dzuhur. Tepat pukul 12.55 saya menancap gas Reddo menuju bank tadi. Saya menyetor sesuai nominal yang saya tulis di slip. Setelah itu, saya memutuskan untuk ke toko pakaian rekomendasi teman saya untuk membeli celana panjang training. Saya menuju beberapa toko di daerah Wedi, Klaten. Namun, saya kembali kurang beruntung. Semua dari ketiga toko yang saya sambangi sedang tidak memiliki stok celana panjang training. 

Sedikit sebal sebenarnya, padahal besok Sabtu saya sudah menjadwal untuk lari pagi karena 5 hari sekolah yang membuat saya libur lebih lama. Lalu saya memutuskan untuk kembali, tapi pikiran saya tertuju pada salah satu dagangan es degan langganan ibu di pinggir jalan. Saya berhenti untuk membeli satu buah es degan (re: satu buah utuh) untuk melepas rasa kesal saya. Saya melihat ada dua bapak-bapak duduk di belakang, saya kira salah satu dari mereka adalah penjualnya, tapi saya salah. Penjual es degan itu adalah anak kecil seumur 11-12 tahunan, memakai kaos hitam lusuh dan terlihat mengantuk dan kelelahan. Kemudian saya memesan seperti yang saya inginkan. Melihat sang adik yang mengupas kelapa dengan penuh kekuatan dan keihklasan, saya sempat hampir menangis.

2015-08-07 14.20.09

no caption needed. :’)

Saya terus memandang adik kecil yang sedang memegang parang dan membacok kelapa hijau yang menggiurkan. Lalu saya melihat ke dua bapak-bapak yang duduk di belakang warung. Mereka terlihat biasa saja, tidak merasa kasihan sama sekali. Adik kecil itu terlihat cekatan membuatkan pesanan saya, suara kecilnya memecahkan lamunan saya.

“Nganggo gula, Mbak?” Katanya.

“Eh, iya, Dik. Yang gula jawa ya.” Jawab saya.

Kemudian, sekitar dua setengah sendok sayur gula jawa masuk ke plastik es degan saya. Lalu dia kembali bertanya.

“Pakai es, Mbak?”

“Iya pakai.” Kata saya.

Adik kecil itu memasukkan sekitar dua bongkahan es ke plastik es degan saya. Kemudian plastik penuh berisi es degan nikmat itu diikat dengan karet gelang. Lalu saya bertanya.

“Berapa harganya, Dik?” Tanya saya.

“8.000 aja, Mbak.” Jawabnya.

Kemudian saya hendak mengeluarkan uang 10.000. Namun, saya mengurungkan niat itu. Saya ambil uang 20.000 untuk membayar es degan itu.

“Ini, Dik. Kembaliannya buat Adik aja ya. Makasih.”

“Eh, enggak, Mbak.” Seru adik itu sambil membuka laci wadah uang penjualannya.

“Enggak usah. Udah buat adik aja.” Seru saya kembali.

Kemudian saya tancap gas Reddo kembali ke rumah. Di tengah jalan, saya sempat meneteskan air mata. Bagaimana anak sekecil itu berjuang mencari uang. Membacok kelapa dengan parang yang lebih besar dari lengannya. Sedangkan saya, hendak membeli training mahal padahal saya sudah memiliki 2 buah celana olahraga itu. Saya pun lupa menyisihkan uang jajan saya untuk infaq di sekolah tadi. Ya Allah, jatuh satu tetes air mata kanan saya.

Setelah itu, saya berpikir jauh. Tadi di sekolah sewaktu pelajaran Bahasa Jawa, Guru saya Pak Gandung berujar.

Ana jenenge Triloka. Triloka iku ana telu; Cipta, Rasa, lan Karsa. Cipta kuwi opo sing kok pikirake, sing ana ing pikiranmu. Dene Rasa iku apa sing kok rasakake ing atimu. Lan Karsa, kang tegese kepinginan, kekarepan, gegayuhan. Nek Indonesiane “cita-cita”. Triloka kuwi mesthi dialang-alangi dene jenenge Dur Angkara. Nah Dur Angkara kuwi awujud; tantangan, hambatan, gangguan, karo rintangan. Dur Angkara kuwi isah ditegesi tumindhak elek sing bakal gawe rusak Triloka mau. Dur Angkara duwe tujuan supaya kowe angel utawa ora bakal tekan dene Triloka mau.

Saya kembali meresapi kalimat-kalimat itu. Jujur, saya memiliki pikiran, hati, dan keinginan. Sayapun juga sering bertemu angkara murka yang senantiasa memalingkan saya dari tujuan utama saya. Kemudian saya kembali membayangkan anak penjual es degan tadi. Tujuan utamanya adalah hidup, ia disekolahkan untuk kehidupannya kelak. Ia membantu orang tuanya juga untuk kehidupannya sekarang. Dia memiliki keinginan, pastinya. Entah dia ingin menjadi dosen, guru, kontraktor, aktor, atau malah pengusaha es degan yang mendunia. Tapi yang pasti, anak kecil penjual es degan itu, saya, dan seluruh anak lainnya harus sekolah. Kami harus membangun kehidupan kami besok, Kami berhak memilih cita-cita dan tujuan hidup kami. Maka, tidak boleh satupun orang tua menghalangi kami. Kami akan hidup besok, lusa, atau entah kapan. Kehidupan kami akan lebih sulit dengan persaingan yang semakin nggilani. Kami harus siap menjadi apapun di masa depan, kami harus siap menghadapi apa saja di hadapan kami. Untuk itu, saya harus sekolah. Kami harus sekolah. Untuk masa depan kami, untuk kehidupan kami.  Agar kami bisa berkembang, bisa menjadi seorang yang utama, menjadi penting dalam kehidupan kami, orang lain, dan semuanya. Kami harus berguna, bermanfaat, dan bermakrifat. Dengan restu Tuhan yang menyertai. Sekali lagi, untuk itu, kami harus sekolah.

Di pinggir jalan Kota Klaten, Agustus 2015

Didedikasikan penuh untuk seluruh anak-anak di Indonesia dan dunia!

Dari gadis konyol seribu kata terima kasih~

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s