“Masih soal rindu yang sama”

Aku adalah wanita penikmat rangkaian kata manis dari puisi karya banyak pujangga yang membuat hidupku semakin indah. Aku pun wanita yang gemar merenda kata melalui cerita di mana setiap insan yang membacanya akan mati terperangah. Akulah wanita yang kau temui di seberang jalan itu. Akulah wanita yang setiap pagi memandangmu berjalan, bercanda, bahagia, dan sedih. Aku adalah wanita yang sempat bersua dan bersuara denganmu. Aku wanita yang sama, yang kini tidak lagi melihatmu di seberang jalan. Aku tak lagi memandangmu setiap pagi saat kau hendak menimba ilmu. Aku tak lagi bisa menatap, berbincang, bahkan memikirkan sedikit atau banyak hal mengenai dirimu. Aku wanita yang dulu sempat menaruh hati dan kini terjatuh karena tak satupun hal yang aku lakukan kau juga lakukan. Aku wanita yang telah lupa pada lelaki yang sama yang pernah aku cinta dan impikan.

Aku adalah lelaki pecandu buku karya sastrawan Ibu Pertiwi. Aku pun lelaki yang selalu mencoba menyaingi para sastrawan dengan karyaku hingga para sastrawan itu bertekuk lutut di bawah kakiku. Aku lelaki yang mengarungi samudera, menantang ombak, dan penakhluk daratan tinggi. Aku pula lelaki yang jatuh di bawah semu cinta seorang wanita yang kulihat sekejap mata. Akulah lelaki yang selalu berpaling muka ketika kau lihat di setiap pagi. Aku lelaki yang sama saat kita bersua di salah satu kesempatan. Akulah lelaki yang selalu lemah saat bertemu denganmu. Aku lelaki yang tak sanggup memilikimu sepenuhnya. Aku pula lelaki yang tak lagi melihatmu di seberang jalan sebelum keberangkatanku menuju kampus. Aku tak lagi memandang sepasang bola mata yang kuat mengikuti gerakku. Aku tak lagi melihat wanita yang telah menutup hatiku untuk wanita lain. Aku lelaki yang takhluk di bawah paras cantik seorang wanita yang bertemu denganku lebih singkat dibanding pertemuan Adam dan Hawa. Aku lelaki yang selalu menanti wanita yang sama di hati dan rasa yang masih sama.

IMG_20150830_144956

Akulah wanita yang kuat memandang segala arah untuk menemukanmu. Aku mencarimu untuk mengungkapkan semua rasa ini, rasa dendam dan benci atas rindu tak berbalas. Dirimu, lelaki yang sempat membuatku terperangah dan merasakan cinta yang tak biasa, rindu yang luar biasa.

Di seberang jalanan kota besar, dari pagi hingga habisnya hari, dari hati dan sepasang mata yang masih mengikat rasa. Di dalam hati seorang lelaki dan wanita yang sama diam dan kalah dengan takdir Tuhan. Dalam kata dan do’a bahwa semuanya akan berakhir bahagia, dalam pinangan mesra berlandaskan cinta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s