1000 Hari dalam Kerinduan

Awalnya memang biasa, sangat biasa, bahkan tidak ada hal yang berbeda, spesial, atau yang lainnya dari seorang laki-laki yang terduduk di sampingku. Entah dia pun menyadari hal yang sama atau tidak. Namun, semua berubah setelah sebulan berlalu seminggu kemudian, hingga ingatan merubah segalanya, semuanya. Sementara hanya ingatan yang candu terhadap rasa dan cinta, tapi waktu berjalan lebih cepat dari atlet lari terbaik dunia dan terjadilah imbibisi pada biji dan menghasilkan perkecambahan cinta kagum dan empati. Setelah perjalanan dalam pencari tahuan dari seorang yang dikagumi, aku menemukan hal lucu yang sungguh aku dibuat tertawa karenanya. Dalam perjalanan panjang yang anak kekinian menyebutnya stalking, membuatku semakin terkagum, dan mlongo. Kau benar-benar membuatku semakin merindukan kehikmatan saat kita terduduk berdua, saling bersuara dan bersua. Hingga memang rindu terus menjadi candu dan aku terpaku terus dalam lamunan dengan satu pertanyaan. “Mengapa Tuhan mempertemukan untuk sebuah kerinduan yang semakin menyesakkan?”

Hari berlalu bulan, tahun dan masa hingga terpotong usia kita. Siapa yang bertanggung jawab atas semua rindu yang semakin membuncah? Hingga kusimpan pada hari keseribu. Aku melalui semuanya dengan satu do’a, satu harapan, dan menunggu satu pula jawaban. Namun, Tuhan mungkin sedang tertawa bahagia, tapi juga menangis lara. Tuhan tertawa karena melihatku sedih merindu seorang laki-laki lucu. Dan Tuhan juga menangis lara karena tak ingin diduakan oleh hambaNya. Manusiawi memang, jika aku terlampau jauh ingin mengenalmu. Tak cukup stalking yang menjadi jawaban dari keingintahuanku soal dirimu. Dan seribu hari memendam semua itu, bagiku pun belum cukup.

Genap seribu hari dalam kerinduan dan pertanyaan. Ditambah teman sekelas yang semakin riuh dengan bangga menggoda. Sungguh, 1000 hari dalam kerinduan bagaikan 1000 hari dalam kecanggungan. Mungkin jika dalam tradisi Jawa, setiap peringatan 1000 hari selalu diadakan pengajian. Apakah aku juga harus begitu? Sehingga dirimu sedikit melirikku atau menyapaku? Tapi sayangnya tidak, wkwk.

Dalam 1000 hari selepas perjumpaan itu, aku terus ingat. Bahwa tak ada niatku untuk mendapatimu duduk bersebelahan denganku, maka wajar jika Tuhan juga tidak berjanji untuk mempertemukan kita kembali. Namun, dalam 1000 hari pasca terakhir kontak mata denganmu, aku tahu sebenarnya ini bukan soal cinta, sayang, dan hal lainnya yang begitu konyol kusebutkan sebelumnya. Tapi ini soal rindu yang ingin kutuntaskan dengan pertemuan, candaan, dan cerita dari semua pengalaman. Maka aku tetapkan bahwa aku tidak mencintaimu, menyayangimu lebih dari hakmu sebagai sesama manusia sepertiku. Namun, jujur dalam hatiku yang entah sedalam apa, aku menyimpan rindu yang tak berkesudahan untuk perjumpaan (kembali) yang kudambakan. Dalam 1000 hari juga aku berdo’a semoga engkau selalu dalam kerinduan yang sama, rindu pada diriku dirinya.

m

Masih merenung dalam sekelebat bayang semu, lucu, dan rindu

Aku masih menunggu, tentang kehadiranmu dan segala yang menuntaskan rindu ini

1000 hari yang lalu dan masih berlalu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s