Aku (Berhenti) Merindukanmu~

Seperti hari Jum’at sebelumnya, minggu lalu, sebulan lalu, dan setahun lalu. Tas ransel kluwuk digendong gadis itu dengan riang, dengan niat terselubung dalam hatinya, dan dengan restu kedua orang tuanya. Ia menuju sekolah dengan santai tapi yak-yakan mengendalikan kuda liar berwarna merah, Reddo namanya. Seragamnya masih sama dengan hari Jum’at minggu lalu, bulan lalu, bahkan dua tahun lalu. Tidak ada sedikitpun perubahan, kecuali perubahan warna yang kian memudar karena usia dan beberapa jahitan yang sedikit kewalahan menahan lemak di sana sini. Jalannya masih sama seperti setahun, dua tahun, bahkan lima tahun lalu. Tubuhnya tegap, dadanya terbusung, dan mata silindris-minusnya tajam menatap setiap sudut sekolah pagi itu, langkahnya lebar bak direktur utama yang dikejar waktu rapat. Semuanya biasa saja sama seperti sebelumnya.

Ketika menebar pandangan sekeliling kelas, akhirnya ia menemukan bangku kosong di sayap kanan kelas baris nomor dua dari depan. Berdampingan dengan Ruri Putri Kriswanto teman se-abnormal-annya dua tahun lalu. Gadis yang sama candunya terhadap satu laki-laki lucu, lugu, tapi sayang gadis yang akrab dipanggil Ruri itu tidak mendapat restu dari sang ibu.

Pelajaran dimulai seperti biasa, sangat biasa, sama saja. Guru yang sama, materi sama, bau ruangan yang sama, bahkan ia menemukan sampah yang sama dengan seminggu lalu di laci mejanya. Kemudian ia membuka perkataan ringan dengan Ruri.

Kowe uwes maca status WAku, Rur?

Uwes. Sejak dirimu berganti PM BBM juga. Hahaa Apa kabar Mas Ad.

AAAAAAAAAKKK Ruriiiiiiii! Aku dadi kangeeeeeen wkwkw.

Kemudian gadis yang sama mengeraskan suaranya memanggil satu teman lainnya yang duduk berjarak satu banjar dari tempat duduknya, namanya Adel.

Adel… Delllll…

Oii, piye Her?

Moco o status WAku del, wkwkw

WAku raiso dibuka, Her.

Heleeeh, yo pm BBM,

Uwes, eaaak isih kangen wakaka

Kemudian kelas berjalan seperti biasa. Bahasa Jawa berganti Kimia. Sama seperti minggu lalu, bulan lalu. Hanya bedanya kini beban bertambah karena dua minggu lagi UTS akan diselenggarakan. Gadis yang sama, kembali bercanda dengan Ruri. Kini Ruri yang memulainya.

Kandani ya, kowe ki gawe a tulisan nggo mas e kuwi. Mesthi bakalan diwaca. Wong aku gawe tulisan nggo “Pin” langsung diwaca kok. Haha (Ruri)

Heleh, kui kan mergo kowe gawe pm. Kepin e yo duwe kontakmu. Wajarlah.

Tapi piye perasaanmu nek aku nge-WA tapi mung di-read. Gek sing nge-read cah wadon liyane. Hikssss (Ruri)

Hoo ye? Ya Allah mesakne men. Terus-terus piye si Kepin?

Yo de e langsung minta maaf lah. La opo kowe ki ora duwe kontake mas e? (Ruri)

Haa, kui masalahe. Aku raduwe kontake blasss. Follow blog e we ora di-followback. Mung di-stalk, kuwi mungkin yo mung memastikan nek kuwi aku. Haaah jaan, syedih ngene iki.

Ewalah, Her. Tapi tetap tak saranke kowe gawe a tulisan nggo de e. Entah diwaca saiki opo ora. Mungkin suk ben nek de e eling bakal maca tulisanmu, eaaaak. (Ruri)

Ah mosok sih? Oralah. Kancane akeh kok. Aku mah apa atuh, cuman titik kecil di akhir kalimat yang kadang dilupakan. Haha

Tapi rapopo. Tetep berjuang, donga sing sregep. Eh, tapi bapakmu wes ngerti mas e kuwi? (Ruri)

Uwislah, wong bapakku delok langsung mas e ganteng e kaya ngono. Aku yo crita ngene, “mas e kuwi keren banget, pah.” Terus bapakku ngendika, “Wah hoo, apik imane kayane.” Nah kuwi marai kesengsem dik. Wakaka, lha ibumu tenan rangolehke Kepin?

Duh dekkk, ibuku rangolehke tenan. Jare sih wedi nek Kepin selingkuh. Secara de e ganteng men.* (Ruri)

*Pembicaraan wanita, sangat pribadi.

Pembicaraan berhenti selepas bel istirahat berakhir. Gadis yang sama itu, Ruri, dan seluruh penghuni kelas kembali pada kesibukannya masing-masing. Memainkan hp, menulis rumus, bertanya ini itu, bahkan menggosip. Semuanya berjalan hingga bel pulang berbunyi. Sebelum berdoa pulang, kelas wajib menyanyikan lagu daerah seperti UU baru dari Kemendikbud. Gadis yang sama itu maju ke depan, memberi aba-aba kepada teman-temannya untuk menyanyikan lagu “Praon”

Masih dengan kuda liar yang sama, gadis yang sama itu pulang dengan sedikit sedih tapi rindu. Ia kembali meresapi kata Ruri yang telah diucapkannya puluhan menit yang lalu.

Buatlah tulisan untuk dia. Apapun itu. Kapanpun ia membacanya. Setidaknya hatimu tidak lara.

Gadis itu memasuki rumahnya, ah bukan. Sejatinya rumah warisan Simbahnya yang ia tinggali sejak 14 tahun lalu sepeninggalannya pindah dari Denpasar, kota kelahirannya. Gadis itu membuka penutup wajahnya, membersihkan wajahnya, dan mengganti pakaiannya. Ia melirik laptop putih lucu yang setahun lalu ibunya belikan untuk kerjaannya, menulis. Gadis itu tersenyum kecut, menimbang dan menakar, menghitung dan mengira. Kemudian gadis itu menyeruput minuman sari kacang hijau dalam wadah tetra pak dengan sedotan putih yang menempel di wadahnya. Kemudian ia menarik napas panjang, mengucap do’a yang entah siapa yang mendengar, lirih. Mungkin hanya Tuhan yang ingin mendengarnya dengan seksama. Kemudian tangan gadis itu mulai membuka laman pribadinya, mencatat jurnal hariannya, kerinduannya. Ah enggak! Dia telah menyudahi rindu panjang itu. Dia telah menutup rapat kenangan, bayangan, dan kontak mata yang masih terkemas rapi dalam benaknya. Dia, gadis yang sama yang dulu, tiga bulan lalu, dua bulan yang lalu, seminggu yang lalu, kemarin, sejam yang lalu, sedetik sebelum tulisannya rampung, bahkan mikrodetik antara hembusan napasnya dan keputusannya berakhir merindukan seorang lelaki sempurna.

Di antara keadaan-keadaan palsu, bayang-bayang semu, nafsu yang menjadi candu. Aku (berhenti) merindukanmu. Bismillahirrahmanirrahim. 🙂

Langit Magrib menyesak keluar. Adzan berkumandang, khidmat. Gadis itu masih menulis kalimat-kalimat terakhirnya. Sedikit berbahaya karena ia akan mengakhiri perjalanan rindu tak berbalas, tak berbekas. Dengan seruan adzan terakhir, dengan segenggam doa di kedua telapak tangannya, gadis itu kembali komat-kamit membaca do’a yang entah siapa yang mendengarnya, khidmat, lirih. Gadis itu kembali menatap layar laptopnya. Membulatkan matanya, hatinya untuk menutup semuanya. Gadis itu, kini menulis “Selamat tinggal” dalam tulisannya.

B612-2015-09-25-12-46-28

Aku menatap, melirik, berpikir, dan memutuskan. Selamat tinggal. Sampai bertemu di lain permainan Tuhan. Hihi 🙂

Advertisements

3 thoughts on “Aku (Berhenti) Merindukanmu~

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s