Sudahkah Kamu Mengucap Syukur Hari Ini?

Hallo! Saya ucapkan Selamat Hari Batik Nasional! Cintai Batikmu! Alhamdulillah, akhirnya setelah perjuangan keras atas pengakuan bahwa batik adalah asli budaya Indonesia, UNESCO telah mengakuinya dengan sah!

Hari ini bertepatan dengan Hari Batik, Hari Jum’at, hari ke lima di minggu ini, dan hari terakhir saya sekolah di minggu ini. Hari ini begitu biasa seperti Jum’at biasanya. Namun, sedikit berbeda karena Guru Bahasa Jawa kini Bukanlah Bapak Gandung lagi, tapi Ibu Kafiyah Amri yang usai menikmati cuti hamilnya selama 3 bulan. Bahasa Jawa diisi dengan nembang Kinanthi dari Serat Wedhatama 90, berisi 6 gatra. Usai jam pelajaran Bahasa Jawa selesai, guru mata pelajaran Kimia masuk dan membawa berita duka. Salah seorang teman satu angkatan kami, sedang berduka karena ayahnya telah dipanggil oleh Tuhan. Cukup mencengangkan bagi saya dan teman-teman lainnya. Pasalnya baru hari Rabu kemarin kami sekelas beserta anak laki-laki yang sedang berduka itu, melaksanakan olah raga bersama, di satu lapangan yang sama, melakukan penilaian voli yang sama, dengan bola yang sama, seragam yang sama, dan kegembiraan yang sama. Sangat terpukul. Anak laki-laki yang biasa menggoda teman wanita di kelas, di jalan, di bimbingan belajar, di manapun ada yang mengenalnya pasti ia sapa. Pendek kata, dia adalah anak yang supel.

Tidak berselang lama, perwakilan pengurus OSIS mengumumkan bahwa berita duka itu benar adanya dan pemakaman dilaksanakan besok Hari Sabtu. Pelajaran berlanjut seterusnya hingga tutor untuk minggu ini. Kelas berakhir pukul 15.15. 15 menit lebih lama dari 4 hari sebelumnya. Saya pun langsung tancap gas Reddo untuk pulang menenangkan diri karena saya masih dalam keadaan sakit. Saya pulang dengan selamat, walaupun saya telah melanggar peraturan lalu lintas dengan memacu kendaraan dengan kecepatan 97km/h luar kota. Saya mengucap salam setelah membuka pintu rumah dan bertemu ibu yang sedang terbaring istirahat di kamarnya. Lantas saya membersihkan diri saya, mandi dan bergegas sholat Ashar karena waktu sudah menunjukkan pukul 15.30. Sholat sudah saya tunaikan, dan sekarang saya menulis ini dengan hati yang sangat merendah.

Memetik pelajaran dari kejadian hari ini. Duka menyelimuti relung hati kawan saya. Tidak pernah disangka bahwa hari ini begitu cepat baginya untuk bertemu ayahnya di akhir usianya. Bahkan ia tak pernah menyadari bahwa ayahnya akan pergi secepat ini. Apa lagi pergi dengan usia yang belum terlalu tua, 55 tahun. Jika dibanding dengan usia papa saya, masih terlampau beruntung papa saya. Kini, papa berusia 58 tahun. Alhamdulillah masih sehat, rajin beribadah ke masjid dan mengikuti kajian Al Qur’an. Sebenarnya, hati saya sangat benar-benar terpukul dengan keadaan akhir-akhir ini. Betapa Tuhan dengan mudah membuat keputusan, mengadili seadil-adilnya, memberi kesempatan bagi yang pantas, dan mengamini do’a bagi mereka yang berhak. Dengan mudah juga Tuhan membaringkan tubuh saya selama seharian kemarin karena saya terlalu memforsir tubuh ini untuk bekerja, belajar, dan banyak hal duniawi. Dan ternyata Tuhan cemburu, saya dibuat berbaring untuk bertaubat dan memohon ampun. Betapa mudahnya Tuhan membuatku terlena di atas udara dan menghempaskan tubuh ini bak batu yang jatuh karena gaya gravitasi yang kuat. Buukkkkk!!! Hancur! Leburr! Ambyaaar!! Modyaaaar!!!

Dalam benak saya, orang tua adalah segalanya. Terlebih karena papa sudah terhitung tua karena dulu telat menikah, dan kini sudah tidak bekerja, tidak berpenghasilan, bukan pensiunan. Hanya mantan Kepala Desa yang sempat mengabdi. Dan seorang wanita hampir menginjak usia separuh abad. Wanita yang telah meminjamkan rahimnya untuk Tuhan meniupkan nyawa bagi seonggok daging. Wanita yang telah bekerja keras membanting tulang, membahagiakan semua keluarganya, dan berdo’a selama mungkin untuk anak-anaknya. Ibu, yang senantiasa mengajarkanku apa itu bersyukur, memuji, dan memahami. Ibu yang mengajarkan gadisnya untuk bertahan di atas cemooh dan pandangan sebelah mata, berdiri dalam barisan kebenaran, dan membuka mataku untuk terus bangkit karena Ibu melahirkanku bukan untuk kecewa tapi untuk berbangga.

Aku mengucap syukur sebanyak-banyaknya kepada Tuhan atas segala keberuntungan dan nikmat yang tiada tara hingga detik ini. Bersyukur karena hidupku yang begitu sempurna dengan keluargaku yang begitu bahagia, sederhana. Kehidupan yang akan membawaku kepada masa depan yang lebih baik. Kenikmatan dan semua karunia yang tak habis dihitung dengan sisa umur saya. Bahkan saya pun lupa, berapa banyak saya mengucap do’a untuk meminta kenikmatan yang tiada tara dan rasa syukur yang tiada akhir. Tapi, saya selalu ingat bahwa Tuhan Maha Besar, Menguasai segalanya, Memutuskan semua masalah, Mengetahui segala yang terjadi, dan tiada yang bisa melampaui kekuasaanNya.

Maka, bersyukur adalah nafas kita sehari-hari. Bersyukurlah selagi ayah dan ibumu masih di hadapanmu. Karena kebahagiaan seorang anak adalah berhasil mencapai cita-citanya dengan tatapan rasa bangga dari orang tuanya. Bersyukurlah dirimu masih mendengar adzan Magrib petang ini. Bersyukur atas waktu yang masih berputar dalam hidupmu, karena sewaktu-waktu denting jarum itu akan berhenti entah kapan. Bersyukurlah selagi Tuhan masih mencintaimu, mendengar do’amu. Bersyukurlah karena dirimu masih bisa mengucap syukur atas nikmat yang Tuhan berikan. Bersyukurlah atas udara yang bersih yang dengan bebas semena-mena kau hirup banyak dan hembuskan. Karena ratusan orang di Sumatera dan Kalimantan berjuang mati-matian untuk lekas melihat matahari dari gelapnya asap yang menyesakkan paru-parunya. Bersyukurlah karena tidurmu semalam bukanlah tidurmu yang terakhir kalinya. Bersyukurlah karena kau masih berkesempatan membaca tulisan ini. Karena Tuhan memiliki milyaran cara untuk menyadarkanmu, seperti Tuhan menyadarkan saya dalam segala cara yang begitu luar biasa. 🙂

 كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَإِنَّمَا تُوَفَّوْنَ أُجُورَكُمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَمَنْ زُحْزِحَ عَنِ النَّارِ وَأُدْخِلَ الْجَنَّةَ فَقَدْ فَازَ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا مَتَاعُ الْغُرُورِ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Dan hanya pada hari kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh dia memperoleh kemenangan. Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya” Q.S Ali Imran (3:185)
Advertisements

3 thoughts on “Sudahkah Kamu Mengucap Syukur Hari Ini?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s