Hidup Nggak Segamblang “Kata Orang”

Assalamu’alaikum Wr. Wb. Hallo, apa kabar? Malam minggu alias H-2 UTS terakhir semasa SMA. Masih lengang, belum belajar tapi sudah ikut bimbingan belajar. Jadi lumayan kan ya? Haha, tetep aja kebiasaan malas eh bukan! Bukan malas! Cuman lebih tertarik nulis, baca buku, baca koran dibanding baca materi. Lah, sama-sama baca kok ada bedanya. Wah, diskriminasi! Wuahahaa, enggak sih. Ya lebih menarik aja menurut saya. Bisa jadi semester ini masih sama saja. Cuman ya tekanannya lebih berat. Orang tua maunya ini sedangkan saya itu. Semua bertolak belakang. Padahal restu orang tua adalah password-nya biar do’a kita diijabah Allah. Ya namanya manusia, beda-beda tetap satu jua, eh~

Well. Hari ini malam minggu sih, katanya. Bagi saya malam senin, malam rabu, malam jum’at sama aja. Yang paling beda adalah malam di mana saya berpikir jauh berbeda. Saya berbeda. Bukan saya, tapi hati saya. Hari yang panjang telah saya lalui tepat sejam lalu. Dihabiskan untuk mengikuti bimbingan belajar dan sisanya untuk mendampingi adik-adik kelas yang berlatih untuk lomba kepramukaan. Ya, kembali lagi saya pada pramuka. Bukannya tambah benci karena nilai anjlok akibat keseringan main bareng teman-teman pramuka, eh saya justru tambah peduli. Entah apa. Dulu sekali, bahkan hingga sekarang saya selalu berdo’a pada Allah untuk semuanya. Pengampunan dosa, perlindungan, keberuntungan, jalan yang benar, pertolongan dalam segala keadaan, hingga cita-cita dalam angan. Semuanya, semuanya saya ceritakan padaNya, Sang Mahapenyayang!

Suatu ketika saya berdo’a untuk mendapat ilmu yang bermanfaat, untuk diizinkan memperoleh ilmu yang kelak akan berguna baik bagi saya maupun siapapun yang membutuhkannya. Setidaknya saya pun diberi kesempatan untuk menularkannya barang sedikit saja. Kemudian, saya melakukan semua hal seperti biasanya, sembari mengharap Allah akan melancarkan do’a saya dan meluncurkan kehendakNya untuk semua pinta saya. Saya tunggu saat ulangan harian. Saya belajar semampu saya, sebisa dan sepaham otak saya. Sayang, masih saja ada yang salah, nilai sempurna melayang percuma. Lagi, saya coba peruntungan untuk beberapa ujian lainnya. Hasilnya, sama saja. Masih saja saya berada di peringkat yang cukup bawah di antara teman sekelas. Bahkan lebih menyedihkan. Persaingan semakin nggilani dan saya masih mengharap Allah mendengar do’a saya. Berlalu dari kesedihan. Saya mendapat mandat untuk belajar banyak hal melalui pramuka. Benar, saya mendapat banyak pengalaman, teman, gebrakan, dan kejutan lainnya. Waktu itu saya belum bersyukur. Saya anggap bahwa semua kebahagiaan itu adalah balas budi Allah untuk permainanNya selama ini. Tapi saya salah. Suatu ketika saya sadar. Bahwa semua ilmu yang saya dapat dari pramuka di sekolah, lomba, di Kodim, KODAM IV Diponegoro, DKD Jawa Tengah, dan teman-teman lain provinsi adalah jawaban Allah untuk ilmu yang bermanfaat yang mana seperti pernah saya minta dulu. Lalu kini mengapa saya selalu kembali? Karena Allah kembali menjawab pinta saya untuk menularkan barang sedikit kemampuan saya. Dan benar. Allah Mahakuasa, Mahaadil!

Tapi sudut pandang saya dan orang-orang berbeda. Terlebih orang tua. Orang tua saya adalah tipikal orang tua yang ramah dan easygoing. Tapi semua itu bukanlah harga mati atas pendirian mereka. Tetap saja, orang tua saya menginginkan anak yang nyengkluk belajar di depan buku, ngotak-atik rumus, atau komat-kamit menghapal materi. Orang tua saya selau menanamkan pendirian bahwa mereka ingin, suatu saat nanti mereka akan dipanggil ke depan atas prestasi saya. Ya, memang itu permintaan mereka yang belum tercapai. Tapi semua berbeda. Sekali lagi, berbeda.

Saya adalah tipikal gadis aktif, extrovert, suka hal baru, orang baru, dan sangat suka dengan pengalaman. Saya suka serawung dengan orang baru, entah siapa, jika niat saya baik dan orang itu terlihat baik, maka saya akan cepat dekat dengannya. Maka, saya mudah memilah orang yang mudah bergaul dengan pendiam, orang yang baik dan buruk, orang yang asik dan garing. Saya sudah khatam! Lagi, saya memang suka tidur. Tapi bukan berarti mengurung di kamar seharian ya! Saya suka berkemah, berkumpul dengan orang baru lagi asik. Suka bersosialisasi dan ekstrovert berlebihan. Ya kadang bisa menghilangkan kebosanan, mengisi waktu luang, hingga menambah ilmu pengetahuan dengan orang baru yang lebih tahu. Saya bukan tipikal orang yang tekun belajar. Bukan. Saya merasa cukup mengerti saat saya bisa mengartikan, memahami suatu materi, paham, atau teori menurut bahasa dan pemahaman saya yang tentunya pasti benar dengan kenyataannya. Saya bukan tipikal gadis ramah, kalem, dan penurut. Sangat bukan! Saya berpendirian teguh, bukan penakut, dan saya bukan seorang paranoid. Jika saya sudah memiliki prinsip dan itu benar, maka saya akan tetap berjalan pada prinsip itu. Apapun orang berkata, saya tetap pada pilihan saya. Saya keras kepala, iya! Jika kata orang, saya lebih ambisius, itu benar adanya. Saya bertekad, saya bermimpi, saya berusaha. Apapun hasilnya Allah yang bekerja. Tapi soal ambisi, saya anggap itu target yang wajib dicapai! Bukan nafsu!

Jadi terbayang, jika orang tua saya lebih sering “menasihati” saya karena kebiasaan ngeluyur dibanding belajar, kebiasaan nongkrong di depan laptop dibanding ngitung logaritma, aritmetika, rente. Terlebih saat pemetaan jalur SNMPTN ini. Waah, perdebatan sengit. Orang tua minta jadi perawat, kedinasan, saya srek di antropologi. Tapi balik lagi, kemampuan tidak bisa membohongi semua. Hidup nggak segamblang kata orang.

Eh, enak lo kuliah di situ. Lulus langsung dapet kerja.

Siapa?

Itu anaknya temenku.

Yang tanyaaaaaaa??????????!!!!!!!!!!! Kan anakku beda sama anaknya temenmuuuu!

Kadang orang tua gampang kemakan omongan orang lain soal keberuntungan orang lain. Padahal takdir, nasib, dan kemampuan kita punya sendiri, bukan KATANYA!

 

Dik, mau daftar mana besok?

Ahh mau UGM aja, Pah yang deket. Lagian UGM juga bagus lulusannya.

Eh tak ceritain nih ya. Itu anaknya temennya Mama masuk kedinasan lulus langsung kerja lo katanya.

Ahh masa?

Iya. Langsung pengangkatan.

Aku juga punya teman alumni kedinasan lo, Pah. Dia tetep nunggu TKD dulu tuh biar diangkat PNS.

Ya tapi kan lumayan untuk cewek langsung PNS.

Ya kan katanya temennya Mama. Beda ceritanya kalau kataku. Kalau aku nggak semampu anaknya temennya Mama, aku bisa apa? Justru jadi pikiran yang nggak kelar-kelar. Kemampuan orang kayanya beda ya, Pah. Bahkan aku sama Mas yang saudara kandung, seibu, seayah, serahim, serumah aja beda. Apalagi yang beda pabrik.

Heh, tapi lumayan kan kalau jadi PNS kaya anaknya temennya Mama. Papa dah ayem.

Emang anaknya temennya Mama bisa jamin aku lulus jadi yang terbaik? Nggak mungkin!

Terkadang juga, kebutuhan dunia akan peneliti bukan cuma soal matematika dan fisika. Dunia butuh pengkaji moral.

Eh, kamu besok milih jurusan apa?

Antropologi sih maunya. Kamu?

Aku sih teknik elektro ya! Secara keren, kerjanya juga. Kalau nggak sih yang ada tambangnya gitu. Biar gajinya banyak!

Widih, dah pernah lulus? Kok sok tau.

Aku sih juga cuman denger-denger. Eh emang lulusan antropolgi kerjanya apa besok?

Benerin mindset-mu yang dah kebacut ngawuran! Wuahahahaaha!

Atau mungkin penikmat seni makin menjamur seiring stres karena hitungan angka atau penelitian yang nggak karuan beratnya.

Kuliah jurusan apa, lu?

Desain sih.

Ahelah, cuman jadi desainer doang. Mending SMK aja!

Emang desain cuman desainer baju? Gue juga bakal ngedesain barang lain! Pikiran lu sempit amat! Wuahaha

Atau mungkin yang berpikir, pendidikan adalah modal pekerjaan. Iya benar. Tapi kurang tepat.

Eh sekarang lu di mana?

Gue di sini bro! Nggak liat apa?

Elah, maksud gue, elu kerja mana? Posisi apa?

Gue penyiar radio.

Busyeeeet!!!!!!!!!! Yakin lu?

Ayo deh ke kantor gue sekarang.

Ehh bukannya elu dulu kuliah HI ya?

Lu bilang dulu kuliah biar bisa cari kerja, kan? Dapet duit, kan? Ya gini. Gue dah kerja, dapet duit pula. So whaaat?

Terus ilmu lu di HI?

Ya buat ilmu gue bicara via radio. Kan ilmu fleksibel coy! Lu jangan salah arti deh. Nggak ada ilmu yang percuma. Lu bisa rasain kalau lu buka pikiran lu lebih luas. Dunia nggak cuman butuh penghitung, tapi juga penggarap, penalar, pemecah pikiran.

Atau lebih menyakitkannya lagi saat pilihanmu dipandang sebelah mata.

Kamu tahu apa jurusan yang kamu pilih?

Iya, saya tahu, Bu.

Mau jadi apa kamu kuliah itu? Kuliah nggak sekadar ketrima lo, ya.

Iya, saya paham, Bu.

Lalu, kamu mau ganti jurusan?

Tidak, Bu.

Kenapa? Masih yakin bisa bertahan di dunia kerja?

Iya, Bu. Insha Allah. Tapi bukankah universitas itu membuka prodi tersebut agar mencetak alumnus yang siap bekerja dan bersaing, Bu? Jika memang tidak dibutuhkan, buat apa membuka prodi tersebut. Toh yang minat juga nggak kalah banyak. Saya akan bekerja, pasti. Karena prodi itu sudah terlanjur saya ucapkan dalam setiap do’a saya, Bu. Saya takut, Allah merasa di-blenjani ketika saya menggantinya.

…………

Dan masih banyak lagi. Semua menjadi nyata saat saya mengalaminya. Semuanya. Cemooh, sindiran, bahkan pandangan sinis yang mengiris hati. Sebenarnya saya telah terjerumus dalam liang MIPA di SMA. Dan saya sadar bahwa bakat saya bukan di ranah itu. Maka saya tidak akan mengulangi kesalahan yang sama. Yakni memilih MIPA karena katanya bisa lebih bermasa depan cerah. Buktinya, kalau memang tidak bisa menjalani, ya sama saja NOL! Toh masa depan bukan sekadar nafsu sesaat. Bukan sekadar keinginan sesat. Memahami diri adalah hal mendasar. Motivasi diri adalah kemurnian hati. Siapa yang tahu takdir seorang kecuali Allah? Hidup nggak segamblang “kata orang”! 

IMG_20150912_083148

Kata orang sih hidup enak. Makan, tidur, sekolah, semuanya gratis! Nyatanya parkir aja bayar. Bahkan untuk saling berkabar saja membayar. Padahal Allah saja tak pernah tuh minta bayaran. Hidup nggak segamblang kata orang. Nggak semudah Spongebob membalikkan patty di panggangan. Hidup nggak semudah denting jarum jam bergerak. Kamu belum apa-apa sebelum hidupmu berantakan, dan kamu sudah menjadi orang saat kamu sudah paham semuanya. Waktu, nasib, takdir, cemooh, tekad, dan Allah. Kamu paham bahwa hidup manusia milikNya. Muluk-muluk boleh, tapi bedakan ambisi dan nafsu sesat! Karena hidup lebih berarti dibanding mimpi sesat!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s