Ros

Aku biarkan Swanggi menikmati kopi paginya hari ini. Seperti biasanya aku urus anakku, Abrikos. Menyiapkannya baju seragam, tas, buku, dan sarapan untuknya. Dia memang mandiri, tapi anak laki-laki berusia 17 tahun itu lebih sering lupa dengan hal-hal penting karena kebiasaan guyon-nya. Aku, Swanggi, dan Abrikos menyantap masakan bikinanku di meja makan berbahan kayu jati asli dengan ukiran bentuk Barong. Semuanya berjalan seperti pagi-pagi sebelumnya. Abrikos pamit dan pergi menuntut ilmu di sekolahnya. Sedangkan aku dan Swanggi masih dalam diam masing-masing.

Aku telah lama memendam ragu ini. Swanggi selalu diam saat aku tanya kapan ia akan menceritakan semuanya pada Abrikos. Bahwa semua keharmonisan dan kebahagiaan keluarga ini hanyalah drama saja. Bahkan, aku pun sebagai pemainnya sudah lelah dan tak sanggup menjalankan skenario dengan profesional. Sekalipun itu skenario Tuhan. Swanggi selalu berkata bahwa Abrikos akan tahu semuanya pada saatnya. Bahwa tanaman mawar yang kutanam bersama Swanggi sebagai penghias halaman akan segera mati. Hanya tinggal pohon dengan buah berwarna oranye dengan daging yang selalu penuh di dalamnya. Kami sering memakannya bersama di beranda rumah dulu. Tapi sekarang tidak, sudah tidak lagi. Aku lebih memilih memberikannya kepada tetanggaku yang tak memiliki petak halaman dan tak mampu menanam pohon yang dapat berbuah. Tapi bagaimanapun, mawar itu akan mati setelah puluhan tahun melawan iklim negeri yang amburadul.

Suatu pagi saat aku hendak menyuguhkan secangkir kopi kepada Swanggi di antara waktu Subuh dan terbitnya fajar, aku terdiam di depan pintu rumah dan melihat semua tanaman mawar habis terbakar. Swanggi duduk tenang sembari membaca bukunya tepat 100 meter dari kepulan asap bekas pembakaran mawar itu. Aku menaruh cangkir panas berisi kopi itu tepat di atas meja di sebelah Swanggi. Aku diam, karena dalam diam selalu ada ribuan kata. Apakah Swanggi benar-benar akan menyudahi semuanya? Mawar tetaplah mawar. Sekalipun ia dibakar habis, aroma asapnya pun tetaplah aroma mawar. Aku tahu, Swanggi memendam rasa bersalah dan tak sanggup untuk menahan agar semua ini cepat berakhir. Tapi aku hanyalah wanita yang dulu sempat menanam benih tanaman mawar bersamanya. Jika ia telah membabatnya, berakhirlah sudah.

Swanggi berangkat ke kantornya dengan diam tanpa ada lagi salam bahkan kecupan padaku. Mungkin hatinya telah terbakar bersama tanaman mawar Subuh tadi. Aku hanya bisa melihat punggungnya yang hilang setelah belokan jalan kota ini. Aku sendirian, Abrikos masih berilmu di sekolahnya. Aku kembali menatap pilu abu-abu sisa pembakaran mawar itu. Aku merasa bahwa abu-abu itu sama saja dengan abu-abu pembakaran tulangku. Aku hancur, aku mati, aku habis. Tapi itu semua telah menjadi kesepakatan antara aku dan Swanggi. Laki-laki yang aku cintai sepenuh hati.

***

Ros adalah wanita cantik yang kunikahi 20 tahun lalu. Dia adalah gadis paling cantik di SMA dulu. Semua laki-laki mengharap cintanya. Sejak SMA, Ros memang suka dengan kopi. Ia selalu memesan kopi di kantin sekolah. Ros juga punya segudang pengetahuan soal kopi. Mulai dari kopi asli dalam negeri, bahkan luar negeri. Keluarganya yang terpandang membuatnya sering bertandang ke kafe-kafe kenamaan di kota ini maupun di kota seberang. Ia juga wanita terpelajar. Sekolahnya bagus, berprestasi, berbakat, dan karirnya cemerlang. Sayangnya, ia tunduk dengan perjodohan yang direncakan oleh orang tuaku dan orang tuanya. Ros memilih mengurus rumah dan aku daripada melanjutkan pekerjaannya di kantor kementrian. Sebenarnya pekerjaanku jauh dibawahnya. Aku hanyalah seorang konsultan di sebuah perusahaan. Gajiku pun tidak sampai seperempat gaji pokoknya. Sekalipun begitu, ia terlihat sangat bahagia menjadi istriku. Sayangnya, aku tidak sedikitpun mencintainya.

Aku menerima perjodohan yang kurasa itu adalah kutukan atau bahkan jalan terbaik dari Tuhan. Kami menikah dengan pesta yang sangat meriah. Cincin berlian yang kusematkan di jari manis Ros menambah kegembiraannya malam itu. Dia, wanita yang setia, yang sampai kapanpun akan menjadi idaman para pria, tapi bukan aku. Ros pernah memiliki seorang kekasih yang sangat tampan, bahkan lebih tampan dariku. Namanya Roy. Roy adalah teman sekelasku, sahabatku. Roy juga yang telah membantuku menikah dan menyesuaikan diri dengan kehidupan pernikahan. Walaupun aku tahu Roy masih mencintai Ros. Tapi sayang, Ros sudah terlanjur terpikat denganku.

Abrikos adalah anakku satu-satunya. Ros sangat bangga dengannya. Ia adalah putra yang gagah, pemberani, dan berprestasi. Ia terlahir sempurna, tampan, dan berbakat. Abrikos memiliki segalanya, dia pun menjadi idaman para gadis seusianya. Tapi tak pernah aku tahu soal hati dan cintanya. Biarlah, aku pikir semua itu adalah urusan ibunya, Rosmalina. Namun, yang paling penting bukanlah itu. Ros belum tahu segalanya. Bahwa Abrikos bukanlah anak kandung Ros. Sebenarnya Abrikos adalah buah cintaku dan mantan kekasihku dulu. Ros tahu, bahwa ia tidak akan pernah bisa melahirkan seorang anak. Ia pun kembali berkorban demi kebahagiaanku dan orang tua kami yang menuntut keturunan. Mantan kekasihku, Jasmin. Jasmin menjalin kasih denganku saat kami masih duduk di bangku SMP. Dia sangat cantik, baik, dan ramah. Aku jatuh hati padanya begitu dalam. Kami lama menjalin kasih di masa kecil. Sayangnya, kami berpisah saat kami memilih SMA yang berbeda. Jasmin adalah teman kuliah Rosmalina. Mereka sangat akrab. Jika Ros sekarang masih bekerja di kementrian, pasti mereka akan sering bertemu.

Saat itu, Ros mencetuskan ide gila. Sangat gila. Ketika ia tahu bahwa Jasmin adalah mantan kekasihku, ia langsung berpikir super gila. Untuk memenuhi keinginan orang tua kami, dan keinginan Ros sendiri untuk memiliki anak, membuatnya berpikir di luar logika. Ia menyuruhku untuk tidur bersama Jasmin sekali saja. Membuahkan anak yang besok akan diakui sebagai anak Ros. Jasmin setuju, aku pun tidak bisa menolak. Aku dan Jasmin bercinta, Jasmin hamil, Abrikos lahir, Ros bahagia.

***

Aku sangat menicintai Swanggi. Ia adalah cinta pertama dan terakhirku. Sulit aku melupakan kecupan pertamanya di sudut kelas dulu. Swanggi malu-malu tapi kecupan itu adalah kecupan paling hangat, nikmat. Tapi apalah, aku hanya mantan kekasihnya yang lama masih saja sendiri tanpa penggantinya. Aku belum bisa menghilangkan semua memori soalnya. Erat genggaman tangannya, senyumnya, canda waktu istirahat, dan kecupan itu, masih rapi kusimpan. Bahkan Swanggi pernah memberiku sebuah surat cinta. Ia akan meminangku dan merayakan pernikahan kami dengan mewah. Sayang, orang tuanya tak setuju denganku karena perbedaan di antara kami. Kami berbeda keyakinan. Kami tak pernah bisa disatukan. Aku tak pernah lupa saat Swanggi terakhir mengucap kata “cinta” dan sekaligus mengucap kata “sudah”. Aku masih ingat punggungmu yang gagah berjalan menjauh dariku tanpa kecupan lagi. Aku menangis.

Tapi semuanya berbeda, saat Ros membuka pintu surga bagiku. Aku bisa kembali bersamamu. Sungguh hatiku bahagia bukan main. Bahkan bukan hanya menatapmu,  aku bisa tidur denganmu tanpa siapapun yang cemburu. Sungguh, mungkin ini hadiah Tuhan atas kesabaranku menantimu. Aku yakin, aku akan memberi anak untukmu. Karena inilah caraku untuk mencintaimu, walaupun dengan selingkuh. Aku tak peduli itu, yang terpenting adalah aku bisa memilikimu dalam ranjangmu dan Ros.

Rencana itu berhasil. Aku mengandung! Hidupku lebih bahagia karena Ros mengizinkan Swanggi menginap di rumahku 3 kali dalam seminggu. Itu semua karena anak dalam kandunganku, buah cintaku dengan Swanggi. Anak pertama kami lahir, namanya Abrikos. Abrikos berarti buah berwarna oranye dan berdaging tebal. Dia tampan, sangat tampan seperti Ayahnya. Tak habis di situ, Ros kembali membuatku bahagia. Ia menyuruhku untuk memberi Abrikos ASI dan membesarkannya hingga berumur setahun. Setelah itu, aku harus memberikan Abrikos padanya.

***

Aku berpamitan dengan Ibu untuk menuntut ilmu di sekolah, menjadikannya bangga. Tapi sesungguhnya bukan itu. Aku benar pergi ke sekolah, aku belajar, tapi hidup memang tidak pernah mengenal siapa pemainnya, ia selalu memiliki permainan yang bisa diperkirakan. Aku bersenang-senang dengan semua wanita. Aku memang tampan dan rupawan, maka tak salah jika aku memilih banyak wanita di sampingku.

Ibuku selalu memberiku segalanya setiap aku membuat sebuah prestasi. Uang, motor, segalanya. Aku bisa bersenang-senang di luar sana. Bahkan soal kehidupan malam, aku sudah lulus!  Minum alkohol adalah pelarianku ketika aku tahu Ayah tidur dengan wanita selain Ibu. Aku lihat dari celah daun pintu kamar mereka. Tubuh Ayah menindih tubuh seorang wanita yang entah siapa. Mereka berdua telanjang dan asyik menikmati pengapnya udara di kamar itu dengan beberapa teriakan kecil. Saat itu aku pulang lebih awal karena ada rapat guru mendadak di sekolah, aku duduk di kelas V. Kejadian itu terjadi berulang kali, dan berulang kali pula aku menjadi penontonnya. Selama berulang kali itu juga, Ibu tak pernah tahu, atau mungkin ia tahu tapi tetap diam seperti tidak terjadi apapun. Aku menjadi ingin seperti Ayah. Aku anggap semua wanita sama seperti wanita yang pernah tertindih oleh Ayah. Semuanya ingin laki-laki, dan aku adalah jawabannya. Sudah banyak sekali wanita tidur denganku, setelah malam yang nikmat itu aku selalu pergi dari mereka.

Kehidupan adalah seni rahasia. Aku merahasiakan ini semua dari Ayah, bahkan Ibuku. Aku selalu bertingkah seolah akulah anak yang paling berbakti di dunia, tidak ada yang lain. Sungguh, aku nikmati hidupku dengan sempurna. Membahagiakan. Bahkan aku berpikir bahwa Ibuku hampir sama cantiknya dengan wanita-wanita malam yang biasa tidur denganku. Aku lama-lama bisa jatuh cinta padanya. Karena pernah kudapati tubuhku dalam seliut yang sama dengannya. Tubuhnya hangat, lembut, penuh kasih sayang. Aku sangat ingat malam itu. Saat aku membenci Ayah dan mulai dekat dengan Ibu. Dia sangat cantik!

***

Aku rasa perceraian adalah jalan terbaik bagiku dan Ros. Pernikahan tanpa cinta dari kedua belah pihak bukanlah arti sebuah keluarga. Aku pun telah membakar habis tanaman mawar di depan rumah. Tanaman mawar yang menjadi simbol bahwa kita telah menjalin hubungan sebagai suami dan istri. Tanaman mawar yang menjadi tanda bahwa keluarga ini selalu dalam keadaan bahagia penuh warna dan wangi yang semerbak. Tapi sayang, aku tak sanggup. Sudah cukup.

Aku sama sekali tidak mencintai Ros, tapi aku juga telah melupakan Jasmin. Sekalipun Jasmin telah tidur bersamaku berkali-kali dan membuahkan Abrikos. Aku tidak mencintai kedua wanita itu. Sungguh. Aku menikah dengan Ros karena aku memendam rasa yang lama kepada Roy. Ya Roy! Mantan kekasih Ros, dia sahabatku. Aku mencintainya. Rasa ini kupendam sejak ia berpacaran dengan Ros. Aku sangat cemburu. Aku memilih setuju untuk menikah dengan Ros karena aku harap aku akan lebih dekat dengan Roy. Dan benar, Roy sering berkunjung ke rumah, sekadar menanyakan kabar Abrikos dan bermain dengannya. Aku sangat bahagia.

***

Aku masih menunggu kepulangan Swanggi di beranda. Bersamaku telah kusiapkan dua cangkir kopi hitam panas dalam cangkir porselen bergambar batik bunga mawar. Cangkir yang biasanya melukiskan bekas bibir Swanggi dan menyisakan ampas kopi di dasarnya. Abrikos juga belum pulang, waktu hampir Magrib kala itu. Kopi masih hangat karena kututup dengan penutup gelas. Aku masih terduduk di kursi rotan dan mengedarkan pandangan ke segala arah halaman, berharap satu di antara atau kedua laki-laki yang kutunggu datang. Tapi malam justru datang paling cepat di antara mereka. Aku masih menunggu. Dan seorang laki-laki bertubuh tegap dan gagah masuk pekarangan rumahku, gelap. Hanya bayangan hitam yang kulihat, karena aku sengaja tidak beranjak untuk menyalakan lampu rumah maupun pekarangan. Laki-laki itu mendekat, kini ia bediri tepat di hadapanku. Aku tahu, itu bukan Swanggi maupun Abrikos. Laki-laki itu menggandengku masuk ke rumah, masih dalam kegelapan. Kami saling berpegang, erat. Dia hafal betul posisi ruangan di rumahku, tapi dia bukanlah Swanggi. Bukan! Aku menurut saja dalam setiap langkahnya menuntunku ke sebuah ruangan yang tak pernah asing bagiku. Itu kamarku dan Swanggi, masih dalam kegelapan. Sekejap lampu menyala, aku melihat punggungnya, rambutnya, tubuhnya. Dia laki-laki itu. Laki-laki yang belum lama berkunjung ke rumah ini. Laki-laki yang aku lupa siapa dia. Tapi saat dia berbalik dan melilitkan tangannya di pinggangku, erat. Aku sadar, dia laki-laki yang aku tinggalkan dulu. Laki-laki yang terdiam di lapangan basket sesaat setelah aku caci, maki, habis-habisan di depan semua temanku. Roy. Dia masih mencintaiku, aku tahu itu. Tapi aku tak ingin cintaku pada Swanggi luntur, aku ingin tetap menjadi cinta di hati Swanggi. Roy mulai mendekatkan kedua bibirnya dengan wajahku, mataku terpejam. Aku takut. Tapi nafas Roy berpindah, kini aku rasakan bibirnya sekarang disampin telinga kananku. Dia menghela nafas sebentar, lalu berkata lirih, “Suamimu mencintaiku, bukan dirimu. Dan kau selalu menganggap aku masih mencintai, bukan? Itu salah! Aku justru mencintai Abrikos. Itu menjadi alasan, mengapa aku selalu menyempatkan diri berkunjung kemari.” Aku berpikir sejenak, lalu tersenyum kecut. Aku lirih berkata, “Kau bahkan tidak tahu, bahwa aku pernah bercinta dengan Abrikos sebelum kau bisa mencintainya.”

Keesokan harinya, kudapati dua cangkir kopi semalam yang dingin. Masih utuh, tak tersentuh. Aku duruh di sampingnya, di kursi rotan. Aku menghabiskan dua cangkir kopi itu. Mungkin akan ada cangkir ketiga, karena kedatangamu yang tak kunjung ada sekalipun gelas ketiga telah dingin.

~~~

Advertisements

One thought on “Ros

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s