Aku Kira

Aku sangat gemar membaca, menulis, dan mengomel. Aku sangat suka dengan alam luas, rumput yang bergoyang, atau alunan angin yang menggelitik gendang teling. Aku sangat takjub dengan semua lukisan Tuhan. Tapi satu hal yang aku sesalkan. Apa salahnya jatuh cinta? Tuhan pun pasti menakdirkan seorang lelaki tampan untukku kelak. Lalu kenapa sampai kini, bahkan telah ribuan kali kuseruput kopi panas di cangkirku tapi tak seorangpun yang ikut menikmatinya. Aku pun mulai jengah, resah. Jangan-jangan aku akan menjadi perawan tua, hidup terlunta-lunta, tanpa kasih sayang anak atau suami. Bahkan dalam ajaran agamaku, surga seorang wanita adalah suaminya. Berarti, akupun tak pantas mendapat surga karena jalan menujunya pun tak ada, yakni suami.

Resah menghinggapi seluruh inci pembuluh darahku. Tiap malam tak absen aku berdo’a padaNya untuk kemungkinan terbaik di antara ribuan permainanNya terapik. Aku sadar benar, aku tak secantik pemain drama Turki, tubuhku pun tak sesempurna model busana kelas dunia, bahkan wajahku pun tak pantas untuk album foto prewedding. Aku hanya mengharap ada cinta yang bersedia hinggap di hidupku, sekalipun itu tak sempurna.

Sunyi yang selalu menerpa hari-hariku, kutepis dengan membaca banyak buku. Kumpulan cerita, puisi, cerpen, atau tulisan-tulisan di situs pribadi seseorang. Aku lebih ikhlas merogoh dompetku terdalam untuk membeli karya penulis kawakan dari pada menyewa perias untuk sekadar merias diri sebelum bertemu dengan seorang lelaki. Topik bahasanku pun berbeda dengan wanita kebanyakan. Aku suka mengulas pemikiran orang melalui tulisan mereka, bukan mode busana dan merk barang wanita. Aku pernah berpikir bahwa aku akan setia untuk sendiri jika Tuhan tak segera menjawab do’aku. Pemikiran itu didukung oleh salah satu cerita karya M. Aan Mansyur dalam buku Kumcernya berjudul Kukila. Dalam kumcer itu terdapat satu cerita berjudul “Setia adalah Pekerjaan yang Baik” di mana setia selalu berbuah kebahagiaan. Tapi suatu saat ketika kutemui laki-laki terduduk di sebelah kiriku, semua pemikiran itu sirna. Aku sangat ingin dipersuntingnya! Aku kira tak ada lagi alasan untuk sendiri bersama kopi yang masih panas, seperti asmara yang masih hangat, nikmat. Aku kira setia tak lagi penting, karena keyakinan adalah kunci untukku memilikinya. Aku kira, setia bukan lagi hal yang menyangkut asmara, atau cinta. Setia adalah keuntungan semata yang didapat lawan cintamu atas kebodohan logikamu. Atau mungkin setia adalah rasa sungkanmu untuk beberapa keadaan, agar semua terlihat putih, walaupun ternoda.

Karena kopi yang dingin tidak akan senikmat kopi yang masih hangat. Cinta tak lagi nikmat jika telah redup, angslup. Aku kira begitulah kopi, seperti kau dan aku yang selalu hadir menikmatinya. Seperti aku yang telah jatuh hati pada lelaki di sebelah kiri, sama halnya dengan kopi. Candu bagiku. Kuharap dirimu adalah candu pula bagiku, bagi hatiku. Aku kira begitu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s