Pinang?

Namanya Kamajaya, putra Semar atau Hyang Ismaya dan Dewi Sri. Seorang dewa cinta yang berparas elok nan rupawan. Kamajaya beristri Kamaratih, dewi sebangsa bidadari. Kamaratih adalah putri dari Sang Hyang Resi Soma. Dalam eposnya, Kamajaya dan Kamaratih tak terpisahkan.

Terlepas dari epos, biarkan saya merangkai cerita dengan tokoh Kamajaya dan Kamaratih. Suatu malam ketika Kamajaya menunggu sang kekasih, Kamaratih di persimpangan jalan kota. Lampu jalanan kota berpendar bulat, indah, berwarna kuning ranum, syahdu. Kamaratih belum juga datang. Kamajaya masih setia menunggu, dengan setangkai mawar yang sudah ia beli sejak sebelum Magrib. Kamajaya setia menunggu, bahkan ia telah sempat menulis puisi untuk kekasih hatinya. Dandanan Kamajaya sangat apik, rapi, tampan. Bukan hanya Kamaratih saja yang takhluk dengan paras Kamajaya. Bahkan puluhan gadis belia di kampus mereka, sangat ingin menempati posisi Kamaratih. Sayang, entah rahasia apa yang keduanya sembunyikan untuk mempertahankan hubungan mereka. Mereka tak terpisahkan. Kamaratih belum juga datang. Kamajaya masih setia menunggu, kini ia singgah di salah satu pedagang kaki lima yang menjajakan minuman rondhe. Kamajaya memesan satu. Kamajaya menyantapnya dengan nikmat, kuah jahe menenangkan pikirannya sejenak yang selama tadi dipenuhi bayangan Kamaratih.

Akankah dia datang? Apakah dia benar akan hilang?

Seluruh kuah jahe dan ampas rondhe telah habis. Kamaratih belum juga datang. Kamajaya telah menunggu 2 jam lamanya. Akan tetapi Kamaratih tak kunjung muncul, bahkan tak ada balasan dari pesan singkat Kamajaya via WhatsApp. Kamajaya mulai resah, ia berpikir mengapa ia tidak menghampirinya ke rumahnya? Mengapa harus menunggu jika bisa menemui.

Kamajaya meluncur menuju kediaman Kamaratih –tepatnya kediaman milik Ayahandanya– di sekitar perumahan elit di tengah kota. Berbeda dengannya, hanya anak sekretaris desa. Kamaratih hidup bergelimang harta, Kamajaya hanya belajar bagaimana hidup sederhana dan bahagia. Kamajaya mematikan mesin motornya di depan gerbang kayu dengan ukiran timbul sepasang penari yang mirip seperti penari dalam novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Di sana tidak hanya motor butut Kamajaya saja, ada sebuah mobil mewah berwarna hitam mengkilat yang terparkir di sebelah motornya. Kamajaya memencet bel dan bertemu dengan satpam rumah Kamaratih.

Maaf, Mas. Ada perlu apa?

Saya hendak bertemu Kamaratih. Apa dia di rumah?

Iya, Non Kamaratih di rumah. Mas siapa?

Saya temannya. Bisakah saya bertemu dengan Kamaratih?

Mari saya antar.

Kamajaya membuntuti satpam bertubuh tegap berseragam dan bersepatu hitam mengkilat, bahkan lebih necis dibanding ayahnya yang menjabat sebagai sekdes. Kamajaya dituntun menuju ruang tengah yang begitu megah. Furniture yang mahal, lampu gantung dengan seni yang memukau, kilauan cahaya dari lampu itu menyilaukan mata Kamajaya sesaat. Setelah itu, Kamajaya terkaget.

Siapa yang duduk bersama Kamaratih? Apa benar dia…

Seketika Kamaratih menangis melihat kedatangan Kamajaya. Gadis cantik itu berlari menuju Kamajaya dan memeluknya, erat. Ia masih menangis dalam pelukan Kamajaya. Semuanya terdiam. Keluarga Kamaratih dan keluarga Genta. Genta adalah sahabat karib Kamajaya. Genta yang mengenalkan Kamajaya dan Kamaratih, bahkan sepasang sejoli itu bisa memadu kasih karena Genta. Tapi semua berbeda.

Aku telah meminang Kamaratih. Dia calon istriku

Mengapa?

Karena aku mencintainya lebih darimu

Apakah Kamaratih setuju? Apakah kalian dijodohkan?

Kamaratih semakin terisak di dalam pelukan Kamajaya. Membasahi kemejanya berwarna biru tua. Kamaratih masih menangis, sedu sedan. Kedua laki-laki tadi masih saling bertatapan.

Apa kau masih belum tahu juga? Kamaratih belum mengatakannya?

Ada apa, Tih?

Kamajaya mendongakkan kepala Kamaratih yang tertunduk di dadanya sejak tadi. Kamajaya mengusap air mata yang membasahi pipi wanita kesayangannya. Lalu Kamajaya menatap dalam kedua mata bola kekasihnya, yang sangat ia cinta.

Apa yang terjadi?

Maafkan aku. Aku minta maaf. Tolong maafkan aku. Hikss

Maaf untuk?

Kamaratih diam, tak ada jawaban dari mulutnya. Semua diam, Genta sudah tidak sabar.

Dia hamil anakku! Aku dan Kamaratih telah tidur bersama lebih dari 30 malam yang berlalu, tapi kau tak pernah tahu?

Aku tak mengerti. Maksudmu..

Ya! Kamaratih mencintaiku. Bukan Kau! Dia memilihku, kami telah tidur bersama sejak sebulan lalu. Kami mulai jatuh cinta saat kau pergi untuk pendidikanmu dua tahun lalu! Kamaratih lupa padamu. Dia mencintaiku. Dia memilihku untuk menemani pagi, siang, dan malamnya untuk selamanya. Bukan kau!

Kamajaya diam, semuanya diam. Kamaratih masih memeluk erat pinggang Kamajaya. Namun, perlahan Kamajaya merenggangkan pelukan itu. Tubuhnya menjauh dari Kamaratih. Kamajaya pergi, keluar dari rumah gedong itu. Rumah kutukan baginya. Cahaya lampu ruang tengah meredup, seakan tahu betul perasaan Kamajaya detik itu. Kamajaya hancur. Kamajaya kecewa.

Kamajaya menaiki motor bututnya, tengah malam. Pikirannya masih penuh dengan bayangan Kamaratih, kekasihnya tercinta yang malam itu hendak ia pinang dengan sebuah cincin perak bermata berlian hasil tabungannya.

Kamaratih masih terisak hingga pagi datang. Ia mandi dan membasuh seluruh tubuh dengan lama. Ia merasa sangat berdosa, kotor, menjijikkan untuk laki-laki sebaik Kamajaya. Laki-laki itu benar-benar dewa cinta, tapi bukan untuknya. Hari itu, hari bahagia bagi Kamaratih dan Genta. Mereka mengucap janji perkawinan, syahdu, khidmat, tapi tak terhormat. Kamaratih telah mengandung 2 bulan. Seusai pesta, kedua mempelai menuju hotel tempat mereka menghabiskan malam pertama sebagai sepasang suami istri. Di tengah perjalanan, mobil mereka terhenti. Ada kerumunan orang dan polisi di pinggir jalan. Kamaratih turun, disusul Genta. Kamaratih kenal betul plat nomor motor itu. Ia menerobos kerumunan orang dengan gaun perkawinannya. Beberapa polisi berbincang di depan tubuh seseorang yang telah ditutup kertas koran. Kamaratih bertanya pada salah satu polisi di situ.

Siapakah orang ini, Pak?

Dia seorang laki-laki. Kami menemukan identitasnya di kantong celana jeans yang ia pakai.

Bolehkah aku melihatnya?

Silakan.

Polisi itu menyodorkan sebuah kartu tanda kependudukan. Kamaratih diam. Dia benar-benar membulatkan matanya untuk membaca nama dari sang pemilik kartu itu.

Sang Hyang Kamajaya

Kamaratih kembali terisak. Genta menemukan sebuah cincin perak dengan mata berlian yang telah hilang di atas motor Kamajaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s