Coba Katakan, Siapa Aku?

Apa yang Tuhan ciptakan memang tiada duanya. Hingga semuanya sudah benar-benar sempurna apa adanya. Banyak yang ingin menandingiNya tapi cukuplah bagi mereka untuk kalah. Beberapa kejadian, urutan peristiwa dan detail kehidupan benar-benar mengagumkan. Siapa berani menyanggahNya. Ada yang bilang takdir tidak adil, detik ini susah, besok lebih parah, kalau tak sanggup bertahan bisa saja mati kehabisan darah. Ada yang bilang kalau hidup adalah perjanjian. Bilamana telah habis kontrak, kembalilah pada sang empunya. Juga para penyair yang terlalu murah menafsirkan hidup, seperti aku. Begitu mudah lengah, begitu cepat pasrah, dan terlalu sering hatinya patah. Kebiasaannya hanyalah tertawa dan terlihat bahagia. Siapa yang bisa menebak ia sedang menangis atau meringis. Tapi sama halnya dengan manusia lain, dirinya tetap saja manusia.

Apa yang terjadi padamu adalah kenyataan. Apa yang orang lain dengar mengenai dirimu hanya sekadar perkataan. Sudah biarkan. Memang hidup sebagai “makhluk sosial” tidak akan lepas satu antara lainnya. Semuanya berkesinambungan, memiliki sebab yang akan berakibat, memiliki alasan untuk jutaan jawaban. Begitu seterunya. Tuhanpun juga telah mengaturnya, memilah, dan menentukannya lebih sempurna dari perkiraanmu sebelumnya. Terkadang memang tak semudah yang dibayangkan, apalagi untuk urusan hubungan antar manusia, antar ideologi. Jika yang lain tak sepaham, sudah biarkan. Bagaimanapun dunia akan terus bulat. Bertahan di salah satu sisinya tanpa terguncang adalah pendirian, kegigihan, kekuatan, dan kewibawaan.

Di dunia ada seperangkat alat pembunuh yang sempurna. Hati dan pikiran. Kedua berhubungan. Jika salah satu baik, maka yang lain juga baik. Jika salah satu sakit, maka semua akan buruk. Begitupun tumbuhnya cinta dan benci. Hati bisa menyimpan dendam dan menenggelamkan logika, atau pikiran yang terlanjur buruk hingga seakan tak punya rasa dan hati yang sebenarnya patut bicara. Juga mata yang terlanjur melihat tapi tak sanggup menerka. Telinga yang selalu mendengar tanpa bisa mengelak.

Apa yang kamu dengar dari seorang yang kamu rasa benar adalah tipu daya pendengar. Apa yang tampak darimu begitu buram dari kedua matamu adalah kesesatan. Jangan terlena, biarkan Tuhan bekerja. Masih sama dengan sebelumnya. Dunia memang sulit ditebak, sulit dikira, semuanya terlihat nyata tapi sebenarnya fana. Juga semuanya dapat terjadi dan berakhir kapan saja, di mana saja, pada siapa saja, seperti kehendakNya.

Aku rindu padanya juga secangkir kopi yang diseduh dengan cinta. Ada janji yang mesti kutepati, soal menyeduh kopi di setiap pagi. Untukmu yang selalu menunggu pagi dan kopi. Walaupun aromanya lekas menguap dan pergi. Seperti hari kemarin dan kemarin. Menjadi yang rindukan tanpa merindukan. Menjadi kecintaan tanpa mencinta. Di balik layar-layar drama, aku senantiasa merenda kata, berharap kaupun sama.

Ada dua hal yang perlu kamu tahu. Pertama, perihal kebahagiaan. Kedua soal masa depan. Seperti aku dan kamu, kini dan nanti. Kurasa semuanya harus dipikirkan sedari sekarang. Soal kebahagiaan untuk masa depan. Kemudian masa depan untuk kebahagiaan yang tiada hingga.

Ada nafsu yang hendak aku hentikan. Tapi setia selalu menjadi satu di antara banyak pilihan. Seperti halnya manusia lainnya, kopi, dan cinta. Semuanya hendak kuhentikan. Kafein yang menohok setiap inci lambungku, dan cinta yang setiap detik selalu mengganggu tidur paling nyenyakku. Tapi semua tak bisa, setia adalah penghalang paling kuat. Dan aku bisa apa.

Jangan seperti balon, yang selalu ingin untuk dijaga tapi selalu ingin terbang dan lepas juga. Harapanpun seperti itu. Juga dirimu, yang selalu kuharap menjadi masa depan dan kenangan. Sepertinya semua telah tertulis untuk menjadi kenangan saja, bukan masa depan. Mundur adalah pengecut, tapi sungguh aku sangat takut. Takut karena terlalu gigih dan berakhir pedih. Takut terlalu berharap dan semuanya kalap. Karena semua yang terjadi di waktu lalu bukan berarti alasan untuk sekarang. Maka, tak salah jika sekarang tak seindah yang dulu. Kuharap aku masih bisa bertahan. Kuharap, kau masih bisa mengatakan, siapa aku.

PhotoGrid_1446631113090

Aku bukan wanita sempurna, tapi aku bisa suguhkan kopi dan puisi setiap pagi. Rindukupun sempurna, seperti hari-hari sebelumnya, jam-jam berikutnya. Coba jika kau tahu benar itu, katakan siapa aku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s