Apa Sih Pentingnya Sekolah?

Artikel ini sebenarnya tidak terlalu penting. Tidak sepenting tulisan lainnya yang sebenarnyapun tidak begitu penting. Pun sama halnya dengan karya-karya lain yang terlampau biasa, tanpa makna, hanya sekadar dibaca, sudah biar lalu saja. Tapi untuk sekadara refresh setelah UAS, biarkan saya bercerita sedikit atau barangkali akan nggladrah ke mana-mana. Mungkin saya tidak akan bercerita sendiri, Anda bisa memberikan banyak sekali tanggapan baik saran, pendapat, kritik, atau sekadar bertanya-tanya pada saya di kolom komentar atau bisa melalui pesan elektronik saya. Mari kita berdiskusi soal hidupa sejenak.

Harinya saya lupa, yang jelas masih satu minggu ini. Di mana saya masih sibuk mengirim chat whatsapp ke sana-sini mencari “materi” UAS Kabupaten Klaten. Melebar sampai di BBM. Sampai saya temui salah satu personal message yang ditulis teman kontak BBM saya. Seperti ini bunyinya.

Males sinau

Kayane sinaune wes suwe, tapi kok sing disinau ra entek-entek

Di mana saat itu kiranya masih hari ke 3 atau 4 UAS. Alhasil masih ada 4 atau 3 hari yang harus dijalani untuk lulus UAS, karena UAS berlangsung selama 7 hari. Masih ingat dalam ingatan saya ketika itu saya harus belajar Matematika Peminatan, yang menurut saya sangat sangat dan sangat sulit. Dari 5 bab, hanya 2 bab yang saya kuasai. Itupun sebatas paham, belum mampu sekali. Dan entah mata pelajaran apa yang membuat teman saya tadi sampai hati untuk meninggalkannya tanpa mempelajarinya.

Sebenarnya hal ini terlalu sepele untuk dibicarakan bahkan ditulis. Mungkin ada yang bilang, itu hal yang kurang pantas. Untuk apa memikirkan orang lain, sedang diri kita belumlah apa-apa.

Ya, sudah saya katakan di paragraf paling atas, bahwa tulisan ini begitu tidak pentingnya, sehingga bukan sebuah manfaat bagi Anda mungkin untuk membacanya. Tapi biarlah, untuk penyemangat hidup saya “sendiri” saja.

Jadi begini maksud saya menulis dan membahas hal yang begitu tidak penting itu di tulisan yang sangat begitu tidak penting. Sejenak dalam pikiran saya bukan soal siapa dia, sekolah mana, dan pergaulannya seperti apa. Saya pun sudah khatam, bagaimana hidupnya karena dia teman saya. Tapi pikiran saya jauh lebih cepat melampaui kecepatan cahaya, menuju masa-masa sulit di mana Ibu saya selalu berdo’a untuk kehidupannya, saya, dan kakak saya menjadi lebih baik. Di mana Bapak dan Ibu saya selalu menemani saya belajar meskipun terkadang membuyarkan konsentrasi dengan mengajak ngobrol soal berita atau isu-isu masyarakat. Karena dalam satu rumah hanya saya yang terlalu sering up date hal-hal seperti itu. Kemudian, pikiran saya berhenti pada memori ketika kakak saya berujar. Kiranya seperti ini,

Sinau yo sing pinter, ben ra kalah karo liyane. Nek mung males we Allah yo isoh males karo kowe. Kowe iki sopo sih?

Sinau sing pener, wong tuwone awak dewe iki sopo sih? Isoh ngangkat drajate wong tuwo, kuwi yo mung lewat sekolah. Kowe pinter, isoh golek gawean, pangkat, urip kepenak. Mama karo Papa bakalan seneng banget.

Ya jika di alih bahasa ke Bahasa Indonesia kurang lebihnya seperti ini,

Belajar ya yang pintar, agar tidak kalah dengan yang lain. Kalau cuma malas saja, Allah juga bisa malas padamu. Kamu itu siapa sih?

Belajar yang benar, orang tua kita itu siapa sih? Bisa mengangkat derajatnya orang tua itu ya cuma melalui sekolah. Kamu pintar, bisa cari kerja, pangkat, hidup enak. Mama dan Papa pasti akan sangat senang.

Sepele memang. Dasarnya saya hanyalah anak pegawai biasa. Gajipun dipotong untuk melunasi hutang pada bank. Belum lagi biaya kuliah kakak dan hidupnya di perantauan. Dan kejadian-kejadian tidak terduga lainnya. Apalagi sumber penghasilan hanya dari Ibu. Semua Ibu. Mengenai celoteh teman saya tadi, saya berpikir. Apa jadinya jika orang tuanya tahu bahwa anaknya ternyata malas untuk belajar. Padahal ini adalah UAS terakhir dan sebagai penentu nilai untuk SNMPTN. Biarpun masih ada jalan lain menuju universitas selain SNMPTN, tapi dengan belajara tidak akan ada ruginya, bukan? Bagaimana perasaan orang tuanya yang seharian berkutat dengan pekerjaan demi uang yang tak lain untuk biaya sekolah, membeli buku, makan, dan sebagainya. Bagaimana jadinya jika (maaf) suatu hal yang tidak diinginkan soal pendidikannya terjadi. Sulit menempuh ujian, mencontek, dan lainnya. Apakah hati orang tuanya tidak hancur? Bagaimana dengan nasibnya sendiri? Apa cukup dengan menikmati makan di resto kenamaan saat ini, tanpa berpikir masa depan. Atau bergaya dengan kawan sebaya tanpa repot mengurus nasib dirinya.

Saya jadi teringat cerita Ibu saya ketika masanya kecil di desa. Ibu saya berasal dari keluarga kurang mampu, Ayahnya (Kakek saya) pun benar-benar tidak mencicipi bangku sekolah. Tapi keinginan Ibu saya untuk sekolah sangat besar. Setelah lulus SMA, Ibu saya sebenarnya hanya diizinkan Ibunya (Nenek saya) untuk menjadi pedagang saja. Tapi Ibu saya menolak.

Aku yo nggak mau nek cuma suruh dagang di pasar apa di depan rumah. Pokoknya prinsipku dulu, aku harus jadi pegawai. Harus!

Maka dari itu, Ibu saya ikut kakaknya (Pakdhe saya) ke Bali menuntut ilmu D3 Keperawatan atau Amk. Setelah lulus, Ibu saya bekerja di salah satu rumah sakit di Denpasar, RS Sanglah. Setelah menikah dengan Ayah saya, keluarga saya pindah ke Jawa.

Kalau ingat zaman dulu, duh aku diejek temenku ngaji di tempate Mbah Kiyai. Katane anake Sukarjo (Ibu saya) nggak bakalan bisa kuliah. Sukarjo kuwi wong ora sekolahan, orabakal isoh nyekolahke anake. We, la malah yang ngejek Mama itu sekarang nggak kerja apa-apa. Padahal dulune sugih, sawahnya banyak. Tapi nggak mau sekolah.

Sebesar itu kemauan Ibu saya untuk sekolah, hanya karena diejek teman satu pengajian. Tekadnya bulat untuk jadi pegawai negeri, dan nyatanya Tuhan tidak pernah berpaling dari usaha dan do’anya. Hingga umur 42 tahunpun ia masih melanjutkan S1 walaupun hanya di STIKES Muhammadiyah Klaten.

Gini, cuman dasarnya anaknya Sukarjo, petani, nggak punya duit, mau nyetrika we harus pinjem tetangga, mau liat Unyil we ngindik-ngindik TV tetangga, gitu we masih diejek nggak bisa kuliah. Duh, apa lagi kamu. Mama sama Papa aja bisa sarjana, masa kamu cuman gini aja. Nggak malu?

Begitu. Bisa saya bayangkan betapa perjuangan Ibu untuk sekolah. Diapun pernah berkisah. Ingin mendaftar di perguruan tinggi di Semarang, diberi uang saku Rp 3.500,00. Berjalan dan nebeng colt di tengah jalan. Sesampainya di tempat pendaftaran ternyata ijazah dan surat penting lainnya sebagai syarat lupa ia bawa. Terhitung hari itu adalah hari terakhir pendaftaran. Mengenaskan. Saya hanya bisa tertawa dan meringis. Sedih memang, tapi semuanya telah terbayar. Setidaknya mimpi Ibu saya untuk jadi pegawai sudah terwujud. Takdir memang tidak bisa berubah, tapi nasib selalu bisa diusahakan menjadi lebih baik.

Kembali lagi pada inti permasalahan. Rasa malas rasanya selalu datang kiranya para pelajar labil hendak memegang buku, pensil, dan catatan. Sangat malas. Ditambah lagi godaan smartphone dan akun media sosial yang selalu berdering minta ditanggapi. Sangat sulit untuk membangun rasa cinta pada latihan soal, membaca materi, dan hal-hal serupa lainnya. Jangankan menyentuh buku pelajaran, terkadang buku non pelajaranpun sangat, ahh sulit rasanya untuk membuat otak ini bekerja. Gaya hidup yang cenderung biasa kopdar, ngobrol ini itu, gosip sana sini, check in path, update media sosial, dan up load ini itu. Ahh mengapa hal-hal itu begitu mudah dan cepat dilakukan. Begitu menyenangkan sehingga kita mudah saja lupa pada prioritas hidup. Begitu mudah juga waktu ini habis untuk melakukan hal-hal hedon seperti itu. Bagaimana dengan kumpulan rumus? Koran? Buku Literatur? atau malah Kitab suci? Duh, kemana ya semua itu? Nasibnya? Berdebu, kusut, mungkin warnanya sudah kusam. Selebihnya, mana ingat!

Sekadar informasi bahwa sedikit bahkan mencapai banyak generasi muda kini seakan lupa pada prioritasnya. Menganggap sekolah adalah sebuah kegiatan formal yang esensinya justru terlupakan. Belum lagi penilaian masyarakat tentang ranking, nilai, prestasi dan sebagainya adalah parameter kepandaian seorang. Padahal, di balik semua itu kejujuranlah yang paling harus diperhatikan. Untuk apa memuji prestasi hasil mencontek. Lebih parahnya lagi lembaga pendidikan menjadi sarana bertemu teman yang bisa menjadi nilai positif tapi juga mengundang sisi negatif. Positifnya, kita bisa lebih banyak mengenal orang dari berbagai latar belakang dan pengalaman. Negatifnya, karena berbagai perbedaan itulah kita akan bertemu dengan dilema. Antara memilah arus dan memegang teguh prinsip, atau mencoba-coba tanpa hati-hati akhirnya jatuh terpelintir, getir. Lebih beruntungnya hanya ikut-ikutan. Nah, kalau jadi ketagihan.

Bagaimana dengan Ibu dan Ayahnya? Jika seumpama mendengar atau membaca itu? Sedih, haru, suka?

Ketahuilah, bahwa harta termewah dari orang tua adalah anaknya. Harta yang paling abadi adalah ilmu pengetahuan. Sesuatu yang tidak akan habis adalah pengalaman. Hal yang akan selalu datang adalah takdir. Sesuatu yang dianggap permanen tapi sebenarnya bisa diubah adalah nasib. Apapun yang datang setelah terlanjur adalah penyesalan. Dan seterusnya. Kiranya begitu.

Masa depan seorang anak bukan semata-mata untuk dirinya sendiri, kehormatannya sendiri. Pernahkah Anda mendengar isi hati kedua orang tua Anda saat-saat hidup masih mencekik,

Kamu adalah kehormatan keluarga, kamu adalah titipan Tuhan. Bagaimana Tuhan akan meminta tanggung jawab Papa dan Mama besok. Bagaimana hidupmu besok adalah hasil Papa dan Mama mendidikmu dulu. Maka, bagaimana hidupmu besok adalah kehormatan Papa dan Mama juga. Bagaimana orang memandang kami sebagai kedua orang tuamu.

Ketahuilah, bahwa setiap pertemuanku dengan teman-temanku. Mereka tak pernah bertanya soal kekayaan, mobil, pekerjaan, dan lainnya. Tapi pertanyaan pertama yang mereka dan aku lontarkan adalah “Berapa anakmu?” , “Sekolah di mana anakmu?” , “Bagaimana sekolahnya?” , “Semoga selalu sukses.”

Bagaimana aku menjawabnya jika engkau tak seperti yang mereka bayangkan. Kau adalah kebanggan, masa depan, dan kenangan masa tua kami. Jadilah berguna, seperti apa yang kami ajarkan.

Sekarang, coba bayangkan. Letihnya diri orang tua saat bekerja. Harus mengurus rumah, diri kita, dan masalah rumah lainnya. Begitupun dengan kita. Belajar sebenarnya bukanlah kesulitan, hanya permainan. Di mana kita selalu bermain untuk mengaktifkan otak ini sekadar untuk menghitung, atau mencerna informasi dari koran, atau menghayal melalui novel. Belajar tidak selalu menghitung, jika Anda tak suka menghitung. Boleh saja Anda belajar dengan membaca koran, novel, atau bermain permainan asah otak. Hanya sekadar membuat otak ini bekerja. Jangan dibiarkan diam dan lesu. Sulit untuk membangkitkan semangat jika pusat kerja tubuh saja malas untuk bekerja. Berinteraksi sosial juga tidak salah, tapi jadikan itu sebagai sarana membuka wawasan dunia. Bukan tempat menghabiskan waktu tak berguna. Karena malas seperti tanaman, jika sudah berakar akan sulit dicabut.

Seberapa pentingkah sekolah? Sangat penting. Mungkin bagi sebagian orang, pendidikan hanyalah jenjang kehidupan. Tapi bagaimanapun, pendidikan adalah candu. Ingatkah saat Anda merasa sulit di Ujian sewaktu SMP? Selalu terucap bahwa materinya banyak, sulit dimengerti, dan malas. Nyatanya, setelah lulus Anda akan buru-buru melanjutkan ke SMA/SMK. Begitu seterusnya. Mengeluh dan malas. Mengatakan sulit, tanpa bangkit. Apa sih pentingnya sekolah? Penting untuk dirimukah? Orang tuamukah? Tetanggamukah? Atau siapa? Atau mungkin apa pendidikan bagimu? Makanan pokokkah? Makanan penutupkah? Lalapan? Pemanis? Hmm.-.

Saya yakin, teman saya tadi sebenarnya mempunyai modal baik di posisinya yang pas akan menggugah kemampuannya lebih baik. Sayangnya, ia kini sudah terlanjur terjun terlalu dalam di kubangan hedonisme. Semakin lupa dan semakin jauh. Lupa pada prioritas utama, dan jauh dari target yang sebenarnya. Sulit memang untuk kembali, sulit! Tapi bukan berarti tidak mungkin. Selalu mungkin dan pasti bisa. Ada beberapa orang yang akan sadar dengan sendirinya, tapi ada pula yang harus dicambuk hingga berlumuran darah baru ia akan bangkit dengan ribuan dendam amarah untuk membalas semua hal yang terlanjur jatuh kemarin.

Apa yang membuatmu malas, bukanlah dirimu tapi nafsu. Nafsu dari keinginan sesaat dan semu. Tak ada yang salah jika Anda lelah. Tak ada yang berbeda dari Anda atau saya ketika tidur lebih lama, membaca buku lebih sering, sulit menghitung, dan sebagainya. Namun, yang membedakan adalah intensitas berlatih dan membiasakan diri. “Bisa karena biasa”. Cobalah, tegarlah, berusahalah, dan bangkitlah untuk segala sesuatu yang kau impikan, orang tuamu banggakan. Susah memang melawan semua kesenangan itu, tapi bukan berarti tidak ada usaha dibalik kesuksesan. Jika sukses adalah sebuah kata, maka proses dan jalan menujunya adalah esensi kehidupan. Jadilah berguna untuk orang tuamu, dirimu, dan lainnya.

Kini, apakah Anda masih tega untuk sekadar berkata malas pada kedua orang tua Anda. Bahwasanya mereka telah membanting tulang untuk menghidupi Anda hari ini, besok, lusa, hingga Anda mandiri sepenuhnya. Bermodal pendidikan, orang tua Anda berharap kehidupan Anda akan lebih baik kedepannya. Jika Anda berpikir untuk bermain smartphone hari ini, koreksilah. Bahwasanya smartphone yang Anda pegang detik ini adalah hasil jerih payah orang tua Anda, yang bermaksud untuk mempermudah akses komunikasi dan belajar. Berapa MB dari paket internet Anda yang Anda gunakan full dalam bidang pendidikan? Berapa? Berapa intensitas Anda membuka file-file keilmuan? Coba bayangkan jika seumpama kehidupan Anda besok (maaf) tidak seindah sekarang, tidak sebahagia saat ini. Mungkin besok telepon pintar itu rusak, atau Anda sakit tak mampu melakukan apa-apa, atau 10 tahun yang akan datang Anda akan memiliki keluarga yang (maaf) kurang mampu dibanding sekarang. Atau sebentar lagi Anda akan merasakan getirnya perjuangan hidup. Di mana setiap waktu, setiap rupiah, setiap kesempatan adalah anugrah Tuhan, indahnya tiada tara, kenikmatan yang tiada batasnya, surga yang diterbangkan sementara menuju bumi. Coba bayangkan saja, jangan dibuat nyata.

Semoga selalu dalam lindungan Tuhan.

237930-journey-soundtrack

Hidup adalah perjalanan. Kamu telah lahir, kamu mulai berjalan, makan, dan menangis. Semuanya akan menemui goal-nya. Untuk menuju itu kamu perlu berjalan atau bahkan harus merangkak. Kamu perlu berusaha, sesulit mungkin. Cobalah untuk berkorban seperti lainnya. Persaingan semakin hebat. Untuk berada di antara hebat, setidaknya kamu juga perlu menjadi hebat, kuat! Semoga selamat sampai tujuan.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s