Takut

Aku hanyalah anak perempuan biasa, belajar dalam lingkungan yang tak biasa dan itulah penyebab mengapa aku menjadi lebih dari sebelumnya. Aku selalu menentang semuanya, apapun yang tak sepaham dengan pikiranku selalu kusanggah. Sekalipun itu pengertian yang sebenarnya memang benar. Untuk kemampuan beragumen, sebenarnya sejak kecil aku sudah disandangi dengan predikat “wasis” oleh kedua orang tua dan beberapa sanak saudaraku. Begitupun hingga kini, aku lebih suka bercerita dibanding melihat. Aku tak bisa diam saja di balik hiruk berbagai manusia. Sejak kecil aku bermain dengan yang tak kumengerti dan mungkin orang bilang itu bahaya. Tapi itu kusudahi sejak aku tahu bahwa hidup dan mati adalah misteri, hingga hidup terlalu percuma untuk bermain belaka. Dewasa, aku menjadi lebih liar. (mungkin). Bermain lebih dari yang dulu. Bermain di lembah luas, pantai panjang, atau rimbunan pepohonan dengan suara jangkrik, burung, dan bertemu petani atau warga setempat yang sedang mencari rumput untuk ternak. Aku lebih suka tidur di luar ruangan, beralas tikar atau matras tipis agar tidak mengganjal asal tidak rembes air. Aku lebih suka makanan yang sederhana, seperti; telur ceplok, mi goreng, atau kering tempe yang tahan berhari-hari. Aku pun lebih suka berkendara sendiri bila memang tak ada kawan. Aku suka berbicara dengan diriku sendiri yang terlihat lucu bagiku tapi terlihat tolol bagi banyak orang. Awalnya Ibuku selalu khawatir, sms setiap saat ketika aku sedang bermain di luar. Mengingatkan ini itu, makan, mandi, sampai mengingatkan untuk minum obat dan menghitung waktu tidur dan bergerak. Namun, lambat laun kedua orang tuaku terbiasa karena terlalu biasa aku pergi dari rumah. Sampai-sampai orang tuaku lebih percaya dengan cara mengemudiku yang yak-yakan tapi sembada tur aman dibanding harus jadi pembonceng atau ikut kendaran teman. Berbagai rintangan terlewati, cerita, pengalaman, kegalauan, candaan menjadi bahasan pengiring kepulangan. Semuanya kulewati dengan gagah dan wajah yang sumringah tanpa sedikitpun resah.

Sayang disayang seribu sayang. Gadis pemberani yang sudah khatam menyusuri 5 pesisir pantai selatan dengan hantaman ombak, tajamnya karang, licinnya kaki tanpa alas memadahi, sampai dingin yang menerpa, sembari meminum air hujan karena bekalnya yang habis. Gadis yang sempat terjebak di lereng Gunung Merapi, tersesat tak tentu arah, menginjakkan kaki di tempat terlarang, hingga berlarian karena ketakutan di tengah pencarian seorang teman. Gadis yang bermalam lebih dari puluhan malam di tanah rimba, bermalam beratap langit mendung dengan embun yang dingin di paru-parunya selama 4 malam, atau menakhlukan bukit di kaki Gunung Ungaran dengan sepatu tentara yang beratnya tak terkira. Gadis itu bukanlah pemberani di depan dirinya. Bukan! Ia pengecut! Aku pengecut! Aku selalu takut pada diriku, bukan hutan, bukan laut, bukan embun yang membasahi paru-paruku! Bukan! Aku takut sekali, aku seorang penakut, sungguh. Aku takut sekali pada nasib, pada takdir, pada prakira manusia yang entah bagaimana Tuhan berkeputusan. Aku takut pada keberuntungan yang terkadang beradu sengit dengan ketidak beruntungan. Aku sangat takut pada semua akibat-akibat yang kutimbulkan sendiri. Aku sangat takut padaNya. Aku takut pada keberuntungan yang tak mesti datangnya. Aku takut pada cetakan nilai di raport yang mungkin sedikit kemungkingkan menghantarkanku pada pendidikan lanjut kenamaan. Aku takut pada segalanya tentang diriku yang membuatku berpikir ribuan kali.

Aku tak pernah berani pada diriku. Aku selalu mengingkari janji Ibuku untuk minum obat selalu dalam permainanku. Aku selalu melanggar keterbatasan diriku. Tapi, aku takut untuk semua akibat itu. Aku takut tatkala itu akan berdampak lama bagiku bahkan seumur hidupku. Seandainya pun ada yang lebih kutakuti tak lain adalah Tuhan. Tapi tak sepatutnya aku takut pada semuanya sekarang. Aku memanglah penakut. Aku takut pada diriku, dirimu, cinta, takdir, nasib, sampai aku pun phobia terhadap katak. Tapi bukankah aku masih boleh berserah diri? Bolehkan jika aku berdoa pada-Nya untuk ketakutanku? Bukankah Tuhan juga pelindung bagi umat-Nya? Pantaskan jika aku berlindung pada-Nya? Ketika tak lagi ada yang mampu membuatku bersandar dan meletakkan sedikit beban hidup sebelum waktunya. Aku memang penakut, aku memang pesimistis, aku sering berpikir antara keadaan baik atau buruk, tapi itulah aku. Tak bisa habis ketakutan itu dari dalam diriku sekalipun aku mati. Oya, bahkan aku pun sangat amat takut mati. Aku takut, sangat takut. Begitu takutnya aku hingga kutulis semua ketakutan yang entah dibaca berapa manusia yang sama takutnya atau tak kan pernah takut atau malah menjadi takut karena membaca ini.

Sudah cukup ketakutan malam ini, karena malam ini aku harus tidur sendirian di sebagian rumahku. Tanpa satupun lampu atau suara dongengan Ibu. Untungnya aku tak pernah takut akan gelap, tapi aku takut pada mataku yang semakin letih melihat dirimu yang tak kunjung kemari, berbincang lagi, atau sekadar bersua dan berjabat tangan. Hingga ku harus mengulang kir mata karena silindris yang menyiksa. Ketakutan ini akan segera berakhir, sungguh! Karena Tuhan selalu menjadi tempat yang sangat amat pantas untuk berlindung dan bertumpu dalam ribuan peluh.

 

Jum’at 08 Januari 2016

Tulisan pertama di tahun kelulusan

Ketakutan yang membuatku kelabakan

tapi Tuhan selalu beri jalan.

 

Setelah kabar kuota SNMPTN benar-benar dikurangi,

dan latihan soal SBM atau UM PTN belum sepenuhnya kukuasai.

Keep on fire!!!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s