Siapa

Ada air mata yang bergulir pelan
Menggilas pipi yang murni tak berimplan
Menggoda iman dan ketaqwaan
Terjun di antara kubangan bekas jerawat perawan

Wanita itu masih diam
Sesekali menatap jam di tugu depan makam
Senja itu, tas bermerk digendongnya
Untuk apa, kitapun tak tahu

Perlahan rias wajahnya luntur
Oleh bulir-bulir kristal jernih
Pun tatanan rambutnya berubah
Kian acak-acakan karena kebingungan

Wanita itu masih diam
Di taman kota yang kelam
Hanya dia sendirian
Menatap raja siang yang sudah ketiduran

Perlahan air mancur berhenti
Malam datang menghampiri
Wanita itu lalu berdiri
Ia berlari, tanpa peduli perih hingga mati

Wanita itu masih berlari
Hingga bergenti di hadapan sebuah batu
Ditatapnya batu bertulis itu
Terukir nama, kemudian dia terisak

“Siapa yang hendak kumaafkan
Ketika kau tak lagi di sini
Siapa yang hendak kukenangkan
Bila hujan turun pada malam ketika aku tidur
Tolong jawab, siapa yang pantas bersanding
Jika Tuhan sudah bekehendak untuk tidak
Siapa yang pantas untuk menggantikan
Ketika Tuhan saja enggan
Senja yang amat kusayangkan
Lenyap ketika kau terbang menuju kahyangan
Ketika air mancur behenti, sepertimu
Ketika jam di tugu itu menunjuk angka tujuh
Ketika semua bunga ini layu, dan kau pun masih belum tahu
Siapa? Siapa? Siapa?!
Siapa yang pantas menemani senjaku lagi?”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s