Sekali lagi maaf, Ma

Sabtu kemarin, 27 Februari saya berniat mengikuti ujian masuk perguruan tinggi swasta melalui test Computer Based Test (CBT). Berawal dari kerisauan kuota SNMPTN yang jelas-jelas saya tidak masuk. Dalam arti lain, saya telah menanggalkan satu jalan menuju PTN. Agar lebih tenang, saya mencoba untuk mengambil jalan pintas yakni mendaftar PTS. Sebelumnya saya sudah mencoba mengikuti CBT di PTS di wilayah Solo. Namun belum lolos, walaupun masih ada 2 kesempatan, saya memutuskan untuk tidak mengambilnya.

Kemudian kemarin Sabtu saya memutuskan untuk mencoba lagi CBT di PTS wilayah Yogyakarta. Berbekal pengalaman teman, saya lebih giat belajar. Terlebih test kemarin hanya meliputi TPA Agama Islam, TPA Logika Matematika, Bahasa Inggris, dan Matematika Aritmatika. Tidak ada Fisika, Kimia, dan kawannya. Terutama saya lebihkan pada Logika Matematika. CBT dimulai, 100 soal dalam waktu 100 menit. Menurut saya soal dari PTS wilayah Yogyakarta ini lebih sulit dibanding sewaktu di Solo. Saya memilih prodi Ilmu Komunikasi dan Psikologi. Untuk Psikologi mendapat tambahan 75 soal assemen Psikologi dalam waktu 30 menit. Karena dalam kondisi lelah, dan masih grogi terlebih duduk pas di bawah pendingin. Tangan gemeteran, pikiran belum panas, dan lainnya. Walhasil assesmen Psiokologi saya garap hanya 10 menit. Setelah mengklik “Selesai Test” muncullah hasil test.

Selamat! Kamu diterima di Prodi:

Ilmu Komunikasi

Catur Dharma:

19.000.000

Alhamdulillah. Tetapi, saya sempat berhenti sejenak. Berulang kali saya membaca nominal angka di barisan paling bawah. Hampir 3 menit saya membacanya, berulang kali mata saya bolak-balik ke kanan-kiri. Berharap salah satu angka NOL-nya berkurang. Tapi sayang, ya disayang. Uang sumbangan terlampau tinggi. Saya menempati rank 5 dari rank 6 yang berarti rank tertinggi nomer dua. Dalam arti lain, nilai saya tidak terlalu bagus. Tetapi rasa ayem juga saya rasakan.

Setelah sampai rumah, saya mengutarakan semuanya pada Mama dan Papa. Debat panjang dimulai. Mulai dari kenapa dapat catur dharma paling tinggi, kenapa nilainya jelek, dan yang paling menohok adalah kenapa beda sama Mas Edho dulu? WTF!!!

Pertama, saya adalah Hera Wahyuningtyas Pangastuti. Terlahir sebagai perempuan 13 Juni 1998 di Denpasar, Bali khususnya di RS Sanglah. Tidak pandai; Matematika, Fisika, Kimia. Lebih tertarik pada; berbicara, komunikasi, diskusi, menulis, membaca, dan bekelana. Saya sadar bahwa saya tak sepandai kakak saya. Saya tahu bahwa kesalahan besar jika saya masuk jurusan MIPA di SMA. Saya pun tahu bahwa modal saya hanya satu “Beruntung” selebihnya adalah hak Allah.

Memang hak Papa dan Mama juga untuk membandingkan saya dan kakak saya. Dulu dengan sistem yang sama di PTS yang sama kakak saya lolos pada prodi Teknik Lingkungan dengan catur dharma hanya 7 juta. Lebih sedikit 3x saya. Kemudian SNMPTN lolos di UGM pada prodi Geografi dan Ilmu Lingkungan dengan UKT yang lumayan tinggi karena pengaruh pekerjaan orang tua. Beda, sangat beda dengan saya. Saya yang lolos tapi kelabakan di catur dharma, sudah begitu terancam tidak ikut SNMPTN. Habis, Habis!!!

Sekali lagi maaf, Ma. Sekali lagi kenapa ya Allah? Kenapa Kau beri kemurahan bersama kesulitan? Kenapa Kau tunjukkan jalan yang sulit? Kenapa? Tentu Mama terasa berat untuk membayar sejumlah uang tersebut. Belum lagi biaya 2 semester akhir Mas Edho. Akhirnya debat berakhir dengan satu kalimatku yang bernada tinggi “Yaudah, kalau Mama nggak bisa bayar, gak papa. Aku cuman bisa usaha lewat test. Apapun, semua jalur yang menentukan tetap pembayaran uang kuliah. Dan itu di tangan Mama!”

Setelah itu diam menyelimuti hati saya. Ancaman terbesar adalah, Mama mencabutnya dan saya tidak sekolah. Diam, hanya diam yang saya lakukan. Berdo’a pada Allah kemudian diam lagi. Lelah menangis, saya tidur, belum makan. Hari berganti, masih diam, masih berbaring, masih sedih, masih menangis. Entah bagaimana saya merasa bersalah, sedih, dan iba. Tapi entah mengapa saya tetap diam. Dipanggil untuk makan, saya diam. Lalu saya tidur lagi, haha. Puncaknya adalah saat Mama hendak sholat Duha yang biasanya dilakukan beliau di kamar saya. Mama mendekati tempat tidur saya dan mengusap lengan saya dan berkata “Ayo maem, dari kemarin malem belum makan to? Mama udah bikin nasi goreng. Maem yaah? Nanti nasinya diangetin. Maem to, kalau nggak maem Mama ikut sedih. Nanti nek sakit gimana? Wes Mama cariin uang, anaknya Mama sekolah semua, nggak boleh ada yang nggak sekolah. Pokoknya anaknya Mama harus sekolah, Ya adek, ya mas pokoknya semua harus sekolah. Kalau kamu mantep di situ yaudah nggak usah daftar poltekkes. Nanti Mama pinjemin uang di koperasi. Rumahnya di Bali nanti dijual aja. Buat sekolah boleh ya? Besok bayar ya sebelum tanggal 11. Mama janji wes, ya makan ya?” Begitu. Untuk pertama kalinya Mama menangis di pundak saya. Tapi saya tetap diam. Saya hanya menjawab “Hem”. Kemudian Mama melaksanakan sholatnya. Sedih, iya. Tapi bagaimanapun Allah sudah berkehendak,  apalah saya yang hanya makhluk tak berdaya. Sekali lagi saya mohon maaf, Ma. Sekali lagi saya menyusahkan Mama. Sekali lagi adik nggak sebaik yang Mama atau Papa harapkan. Tapi adik sudah berusaha, bagaimanapun Allah selalu punya rencana lebih. Maafin ya, Ma :’)

Advertisements

2 thoughts on “Sekali lagi maaf, Ma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s