Jalan-jalan di Museum Gula Jawa Tengah

Hallo! Apa kabar hihi. Lama nggak ketemu via blog yap (kode). Well, setelah kian lama cari cara buat dapet duit cuma-cuma di hari libur, saya memutuskan untuk sedikit nyelo jalan-jalan di salah satu objek wisata yang dari saya belum lahir sampe saya udah tinggal di Klaten 15 tahun tetep lestari tapi saya belum pernah berkunjung, sialan kan? Wkwk. Oke, mungkin sebagian dari kalian udah familiar banget sama objek wisata ini atau justru belum pernah dengar, dateng, dan tahu tempat ini. Nah nggak usah lama-lama saya pun tahu kalian juga penasaran.

Minggu kemarin kiranya, sehari setelah saya verifikasi ke PT di Yogyakarta, saya berkunjung ke salah satu museum di Klaten. Museum Gula satu-satunya dan terbesar se-Asia Tenggara. Museum Gula Gondang Winangoen atau biasanya disebut Museum Gula Jawa Tengah. Berada di Jl. Yogyakarta-Surakarta km 5, satu kompleks dengan Pabrik Gula Gondang Baru, Auditorium, Homestay, dan Objek wisata Green Park. Buat kamu yang belum tahu apa itu Pabrik Gula Gondang Baru, bolehlah dikit saya ceritakan.

Pabrik Gula yang berdiri sejak 1860 oleh NV. Klatensche Cultuur Maatschappij pada masa kependudukan Belanda. Dahulu, namanya belum Pabrik Gula, tetapi Suikerfabriek Gondhang Winangoen, wajarlah yaa dulu masih punya Belanda. Semenjak tahun 1957, namanya berubah menjadi Pabrik Gula Gondang Baru. Jika teman-teman yang budiman berkunjung saat ini, pabrik yang sampai sekarang masih beroperasi itu sebenarnya sudah mengalami pasang surut. Kata salah satu tour guide, Mbak Riris, dulu setiap PG pasti mempunyai sawah untuk menanam tebu. Namun, seiring berjalannya waktu, pertumbuhan dan perkembangan ekonomi, kini PG Gondang Baru memasok tebu dari ikatan petani tebu di sekitar wilayah PG. Selain itu, pabrik ini juga memiliki alat-alat giling lengkap dan merupakan peninggalan Belanda. Uniknya, alat-alat giling masih berfungsi, hanya beberapa kereta uap atau lori sudah tidak dipakai lagi, tetapi masih dijaga.

Nah balik lagi ke Museum Gula tadi. Saya berkunjung sendirian, bukan karena saya nggak punya pasangan, bukan juga untuk membuktikan omongan orang yang katanya museumnya angker, singup, dan menakutkan. Setelah memarkir Reddo di jalan antara homestay dan auditorium, saya berjalan ke loket karcis museum. Tidak ada penjaganya, hanya ada seorang lelaki muda sekitar 20 tahunan. Kemudian saya bertanya apa ada penjaga museumnya? Dia menjawab, “Ada, namanya Pak Rosyid. Sebentar ya, Mbak.”. Tidak perlu menunggu lama, mas itu kembali dan menyodorkan karcis seraya berkata, ” 5000 Mbak”. Kemudian saya mengulurkan tangan dan memberinya uang 5000. Kemudian saya masuk dan menyapa bapak-bapak yang sedang mengecat tembok museum. Bapak itu terheran dan bertanya, “Sendirian aja, Mbak?”. Saya pun menjawab, ” Iya, Pak. Tidak ada teman ke sini”. Salah satu bapak itu menjawab lagi, “Mbaknya berani masuk sendiri?”. Kemudian saya berhenti dan membalik badan, menatap bapak itu dan menjawab, “Memang di dalam ada apa, Pak?”. Kemudian bapak itu tersenyum. Saya kurang menghiraukannya dan melanjutkan langkah menuju pintu masuk utama museum yang terbuat dari kaca yang dibalut stiker kaca film yang tebal, sehingga orang dari luar pun tidak dapat melihat apa yang ada di dalam. Oya sebelum masuk, ada kereta kecil di luar yang digunakan untuk berkeliling para staf PG zaman dahulu.

image

Ini bukti peresmian museum

image

Nah kalau ini namanya Draisine, yang sudah saya jelaskan tadi

Langkah pertama saya disambut dengan peta timbul Jawa Tengah yang ada lampu lomboknya. Kata Mbak Riris jika lampunya merah berarti PG itu sudah tidak giling. Kalau masih hijau berarti masih aktif giling seperti PG Gondang Baru. Di depan peta ada maket besar yang memperlihatkan seluruh denah pemukiman PG Baturaja.

image

Denah pemukiman PG Baturaja

Adapula maket yang lainnya.

image

Nah kalau ini maaf agak blur, karena Mbak Riris keliatannya gak mau lama-lama di dalem. Ini maket tentang penanaman, pengangkutan tanaman tebu dari sawah

Jika teman-teman berkunjung mungkin yang ada di benak teman-teman adalah alat besar yang digunakan giling di PG Gondang Baru. Perlu saya luruskan, museum ini bukan hanya Museum Gula Gondang Winangoen, tapi juga Museum Gula Jawa Tengah. Di mana semua PG baik maket, benda, atau apapun saja tersimpan di sini. Jadi kalian bisa belajar semua PG di Jawa Tengah hanya dengan berkunjung ke Museum Gula Jawa Tengah ini.

image

Ini peta khusus PG Gondang Baru

image

Ini adalah salah satu alat yang disimpan di Museum Gula

image

Ini etalase berisi jenis-jenis gulma tanaman tebu yang diawetkan. Ada juga hama seperti serangga dan tikus berukuran besar yang diawetkan dan disimpan di Museum Gula ini

image

Nah kalau ini isinya peralatan uji hasil pengolahan gula. Ada berbagai gelas ukur, gelas kimia, dll dan tentunya benda itu masih ala zaman Belanda

Dari beberapa foto di atas, mungkin pembacaku yang budiman bertanya, kok gelap? Iya, saya memutuskan untuk tidak pake penerang kamera agar hasilnya asli seperti yang saya lihat dengan mata kepala saya. Menakutkan? Nanti saya ceritakan.

image

Kalau ini tabung kecil yang berisi gula pasir dari pertama kali giling. Gula pertama masih berwarna kehitaman, ada pula yang emas, lalu sampai sekarang berangsur putih

image

Namanya timbangan jongkok

image

Berbagai barang peninggalan

Di ruang bagian sayap kiri gedung, digunakan sebagai tiruan ruang administratur.

image

image

Ini tiruan ruang administratur atau kepala PG. Dan foto di atas itu merupakan kepala PG dari pertama hingga sekarang

image

Ada juga alat hitung dan mesin ketik zaman dulu

Di ruang berbeda atau bisa dibilang ruang di sayap kanan gedung ini, kembali saya temui maket megah dan beberapa bahan pengolahan gula.

image

Maket PG Gondang Baru

image

image

Bahan pembantu penggilingan gula

image

Tiruan ruang tamu

Kalau teman-teman ingin tahu, kursi-kursi itu busanya udah dalem banget. Jadi hati-hati kalau mencoba duduk di situ. Tapi saya sarankan jangan deh yaa.

Oya, saya hampir lupa. Di sudut gedung, ruangannya agak kecil. Menurut saya ruang ini dulu digunakan sebagai dapur. Kini ruang ini berisi maket dan dindingnya berhiar foto-foto asli zaman dulu.

image

image

image

Di luar, ada satu timbangan yang menurut saya sangat unik. Namanya Toledo.

image

Kiranya ini foto kalau diambil dari depan ruangan di sayap kanan gedung. Tampak bagian depan gedung Museum Gula.

image

Eits, di samping kiri Museum, ada salah satu ruangan kecil namun terpisang dengan gedung Museum Gula. Ruangan ini digunakan sebagai perpustakaan yang menyimpan arsip asli PG Gondang Baru sejak zaman Belanda.

image

Nah sekarang saya mau menampilkan beberapa penampakan di luar gedung.

image

Salah satu kepala kereta uap di sebelah kanan gedung

image

Saya rasa ini alat boiler zaman dulu

image

Kalian boleh percaya atau tidak, ini asli bukan tiruan

image

Nah kalau ini saya rasa juga asli. Kata Mba Riris, alat ini masih ada yanh digunakan di dalam PG

image

"Simbah" nampak samping

image

"Simbah" tampak depan

image

Dokar

image

Ini lokomotif kereta Lori yang digunakan untuk mengangkut tebu dari sawah milik PG yang jaraknya dekat dengan PG. Jadi bisa dibayangkan kalau PG juga punya rel kereta yaaa

image

"Ini alat terbesar, Mbak. Dan masih berfungsi" Kata Mbak Riris

image

Dilengkapi taman yang edum. Aduhaaaii

image

Saya rasa ini salah satu alat penggiling yang masih berfungsi dan difungsikan

image

Ini seperti gledek, cuma saya kurang tahu untuk apa

Sedikit cerita, bangunan museum ini dulunya merupakan rumah dinas, maka wajar jika museum ini teritung lebih kecil dari museum lainnya. Kurang lebih hanya ada 6- 7 ruangan yang semua ruang tidak terlalu besar. Awalnya saya masuk sendirian. Setelah memasuki ruangan pemajangan awetan, disitu saya merasakan dunia hampa. Jarak gedung yang tidak lebih 100m dari jalan raya menurut saya masih bisalah didengar ingar bingar kendaraan besar lalu lalang. Tapi ini tidak. Sunyi, senyap, kalut, dan hanya terdengar suara “tek, tek, tek..” dari putaran kipas gantung yang sudah tua tentunya. Penerangan yang minim, dan didominasi neon kuning bukan membuat ruang utama ini menjadi syahdu, tapi menjadi penuh teka-teki. Entah kenapa imajinasi saya menganggap bahwa ini ruangan terbesar yang dulu digunakan sebagai ruang keluarga (FYI, saya pertama masuk belum bersama Mbak Riris). Dalam imajinasi saya tergambar di sudut ruangan digunakan sebagai ruang keluarga yang bercengkrama dan beberapa kursi. Aneh, iya aneh juga sih kenapa saya berpikir seperti ini. Saya melanjutkan ke ruangan selanjutnya. Lebih kecil, mungkin hanya 1/3 ruangan tengah tadi. Menurut saya ini sebagai dapur dan ruang makan. Ruangan selanjutnya masih terhubung dengan ruangan dapur dan ruang tengah, sama kecilnya dengan ruangan sebelumnya. Menurut saya juga ini dulu digunakan sebagai ruang kamar anak-anak. Kemudian melewati satu pintu, saya berada di ruang depan sayap kiri gedung. Cukup luas, tapi mungkin sama luasnya dengan ruang pertama tempat menyimpan peta Jateng tadi. Masih dalam perkiraan saya, ruangan ini sebagai ruang tidur sang empunya rumah. Dilihat dari jendela yang terbuka lebar, pintu ala zaman Belanda yang tinggi, dan megah. Jadi saat pertama membuka pintu akan melihat langsung keadaan depan rumah. Selanjutnya, ruang sebelah sayap kanan gedung. Ruang ini cukup berbeda, karena terpisah dengan ruang lainnya atau bahkan bagian tengah dan kiri gedung. Ruangan ini cukup private. Hanya ada 1 ruang seukuran dengan ruang tidur empunya rumah, serta ada ruang kecil di belakang yang kini pintunya ditutup almari yang saya foto di atas. Kata Mbak Riris, ruang belakang itu hanya gudang. Tapi dari keterangan teman saya yang pernah berkunjung tapa guide, ruangan itu berisi patung besar yang entah patung apa, warnanya emas, seperti patung Budha. Hanya saja dulu belum ditutup seperti sekarang. Ruang ini sama seperti ruang di sayap kiri tadi. Ada jendelan yang besar. Menurut pemikiran saya ruang ini dulunya merupakan ruang kerja yang hanya digunakan saat bekerja saja. Jadi terpisah dengan ruang utama dan ruang lainnya. Sehingga administratur bisa bekerja dengan leluasa dan nyaman.

Sedikit keterangan lagi, semua ruang kecuali terduga ruang administratur dan ruang tidur di sayap kanan maupun kiri tadi, tidak ada satupun jendela. Jadi bisa kalian bayangkan betapa singupnya kondisi di dalam. Pengap, hampa, dan gelap.

Terlepas dari itu, saya percaya jika memang bangunan tua terlihat tua dan yaa dengan mutos-mitos macam itu. Sayapun berhati-hati dalam bertindak saat saya sendirian. Perlu kalian tahu, saat saya sendirian tanpa Mbak Riris, hati dan kaki saya terasa berat dan hawa antara di dalam dan di luar sangatlah berbeda. Satu kejanggalan lagi, Mbak Riris dan Bapak yang bertanya pada saya di awal tadi sangat tepat waktu untuk menutup museum pada jam 15.00, semua bergegas meninggalkan museum. Bahkan kalianpun tahu, di awal sudah saya jelaskan. Tidak ada satupun penjaga selain bapak-bapak yang mengecat. Mbak Riris pun tidak mau berlama-lama di dalam, saya hanya disuruh memotret dan Mbak Riris akan menjelaskan di luar. Selain itu kata teman saya, jika kamu hanya melihat-lihat saja, kamu nggak perlu bayar. Bayar cuma untuk bayar guide nya saja. Aneh? Haha.

But, gak perlu tegang gitu ah. Museum Gula Jawa Tengah ini memang sepi pengunjung saat jam-jam sekolah. Tapi saat liburan, rame bangeeet. Kata Mbak Riris ada juga wisatawan mancanegara yang banyaknya dari Belanda untuk liat peninggalan mbahnya dulu. Wkw

Nah ayo ke Museum Gula Jawa Tengah yang merupakan museum gula terbesar yang ada di Asia Tenggara. Karena nggak semua pabrik gula punya museum lo!

image

Museum Gula Jawa Tengah

image

#ayokemuseumgulajateng

Salam hangat, gadis yang pertama kali ke museum 🙋. Hihi😁

Advertisements

2 thoughts on “Jalan-jalan di Museum Gula Jawa Tengah

  1. Saya dulu tinggal di perumahan ini mbk.krn bpk pensiunan dr PG Gondang.wah jd nostalgia liat postinganny…

    Temennya g mau lama2 krn takut y hihiii.. I know :))

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s