Jika Aku…

Pagi ini aku bangun siang, memang niatku pagi ini harus bangun lebih siang. Alasannya adalah pertama aku sedang tidak menunaikan sholat, jadi kurasa tidak ada kewajiban untuk bangun pagi sebelum subuh tiba. Kedua, hari ini yang lain sibuk membenahi SKL (Surat Keterangan Lulus) di sekolah. Sedangkan SKL milikku saja belum pernah kupegang alias masih belum diambil.

Aku tidak munafik, diriku sama seperti remaja kekinian lainnya, yang pada setiap bangun tidur selalu mengecek notifikasi di media sosial. Kebiasaan buruk memang, tapi yaa seperti itulah diriku aku tak mungkin menampiknya. Pertama kubuka whatsapp karena semalam memang lagi ribut soal SKL. Ternyata sama saja, masih tentang SKL. Kedua aku mengecek Instagram, pada instagram aku aktif memegang tiga akun sekaligus. Pernah tiga akun ini terbuka secara bersamaan dan menghabiskan kuota hingga 2 GB. Notifikasi masih soal promosi. Kemudian aku membuka BBM. Memang tidak ada chat baru dari siapapun dan semestinya begitu. Aku memutuskan untuk melihat timeline BBM. Membaca kalimat-kalimat hasil pemikiran orang-orang yang terkadang membuatku berpikir, tertawa, atau biasa saja. Tapi satu yang membuatku berhenti agak lama pada profil seorang temanku SD. Kiranya berbunyi seperti ini;

Jika aku dilahirkan pintar matematika dan fisika, maka pastinya aku memilih teknik -_-

Sebenarnya bukan maksudku untuk memperpanjang hal biasa, dan mempersulit hal sederhana. Aku pun pernah merasakan hal yang ditulis temanku. Sama halnya dia, mereka, kamu atau siapapun yang sedang sulit dan berjuang menggapai masa depan, aku hanya akan menceritakan hal ini karena empati, bukan iri, atau menyindir siapapun yang membaca tulisan ini nanti.

Semua insan manusia sejatinya terlahir karena kehendak Allah. Semua yang terjadi setiap detiknya, setiap kedipan mata, atau setiap hembusan napas pertama hingga terakhir pada hakikatnya tak jauh dari kuasa Allah. Begitupun hal-hal kecil hingga besar yang terjadi di bumi hingga jagad raya yang luasnya tak terhitung angka. Tak ada satupun perkara yang tidak mungkin bangi-Nya. Karena setiap perkara yang ada, baik perkara ringan atau berat, sulit atau mudah, berharga atau rendah semua karena kehendak-Nya. Maka semua yang sempat terpikir dalam benakku, dirimu, ataupun siapapun adalah pasti mengenai kebesaran-Nya.

Bagaimanapun waktu berjalan, usia berkurang, kita hanyalah segelintir urusan-Nya. Namun, sadarkah kita pada setiap takdir dan nasib yang telah kita jalani terkadang belum sepenuhnya seperti bayangan dan harapan kita. Sama seperti tulisan temanku tadi. Ada kata jika, atau seandainya yang bisa mengartikan pengandaian, pemisalan, yang belum tentu menjadi kenyataan. Atau mungkin bermaksut penyesalan. Aku yakin semua ini pasti pernah terjadi pada kamu, kalian, mereka, bahkan aku sendiri pada saat apapun tidak hanya mengenai sekolah.

Seandainya tadi aku bawa uang lebih, aku bisa makan enak hari ini. – Nggak jadi makan enak

Jika saja aku bisa bangun lebih pagi, pasti aku tidak terlambat. – Terlambat berangkat

Jika aku akan pulang, maka aku harus membawa oleh-oleh. – Ingin membawa oleh-oleh

Dan masih banyak lagi.

Namun, sadarkah kita sebagai manusia yang sudah sangaat beruntung di antara banyak manusia yang kurang beruntung? Begitu banyak rizqi yang telah kita dapatkan, tapi tetap saja ada kata kurang. Begitu seterusnya. Mengapa kita tidak bercermin kembali, ketika kita menerima kesulitan dalam satu hal. Bahwa kita memang tidak mungkin bisa untuk memahami semua hal, atau mencintai satu hal yang kita inginkan. Allah lebih tahu semua itu daripada kita. Bagaimanapun kita menjalaninya, keyakinan bahwa semua karena kehendak Allah dan mencoba ikhlas adalah kelapangan hati yang luar biasa.

Sama seperti hal yang terjadi pada temanku tadi. Jika dia terlahir pandai matematika dan fisika maka ia akan mengambil studi di teknik. Tapi kenyataannya? Sama halnya denganku. Seandainya dulu aku giat belajar dan tidak mencari pengalaman di non akademik, mungkin aku telah diterima di prodi peternakan seperti cita-citaku. Tapi kenyataannya berbeda. Aku melalaikan sedikit perihal akademik, dan teryata aku hanya memperoleh non akademik. Dan kini aku harus menerima semua itu. Kemudian untuk lainnya, apa yang terjadi? Yang terjadi adalah kehendak Allah. Mungkin dengan logika sederhana saja. Jika semua orang pandai matematika dan fisika, kemudian kuliah di teknik. Maka semua orang di Indonesia adalah ahli teknik. Lantas siapa yang akan membantu persalinan ibu hamil? Siapa yang akan menjadi petani? Siapa yang akan memenuhi kebutuhan sehari-hari ketika pedagang menjadi seorang pemilik tambang minyak? Siapa yang mengatur lalu lintas? Mengapa dibuat sulit? Jika saya pun tak pandai matematika dan fisika, maka suatu guyonan jika aku mengikuti tes STIS. Tapi nyatanya aku kalahkan semua itu karena aku yakin, bahwa aku tidak sendiri pada saat itu. Aku pun menyadari bahwa bunuh diri jika nanti aku pun lolos STIS dan aku kuliah di sana. Aku bisa matematika, tapi aku tidak andal memainkan rumusnya. Aku bisa fisika, tapi bukan berarti aku jagonya. Aku suka biologi, maka aku senang membaca teorinya. Semua sudah dalam porsinya masing-masing. Toh kuliah tidak di teknik juga masih punya masa depan, kan? Pun jika gagal, Allah hanya ingin melihat usaha dan ingin kedekatan anatar kita dan Dia semakin terjalin. Bukan sebuah kutukan.

Rasanya begitu lucu memang ketika semua rencanaku untuk lolos SBMPTN di prodi peternakan yang tinggal selangkah lagi, tapi Allah berkehendak lain. Aku yang bermimpi bisa bekerja di Cimory atau di Switzerland dan memiliki peternakan sapi perah di sana. Memberikan susu gratis setiap Hari Kesehatan Nasional, Hari Anak, dan mengukuhkan Hari Minum Susu. Semua itu karena hobiku minum susu. Tapi semua itu hanya tinggal cerita lalu. Walaupun Mama sudah merestui, apalah jadinya aku sudah lebih direstu di prodi yang lain yang mana akupun sudah diterima. Lucu memang, dengan mudah Allah membolak-balikkan hati dan pikiran manusia. Mereda nafsunya, menggantikannya dengan kenyataan yang senyata-nyatanya. Memberikan kenikmatan sesudah penderitaan.

Bersyukur merupakan satu cara untuk membersihkan penyakit hati dari sifat ‘kurang’ yang dimiliki manusia. Tak perlu menyesali apapun yang terlewat, biarkan saja menjadi pengalaman yang terkesan. Karena kelapangan hati yang luar biasa dari ikhlas dan yakin, maka apapun hal buruk atau baik yang terjadi pada diri kita, semuanya adalah kehendak-Nya.

“Kegagalan saat ini berarti Allah telah mengurangi jatah gagal kita dalam hidup ini.” – dari kawanku yang gagal lolos SNMPTN di Matematika UGM.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s