Hera Wahyuningtyas Pangastuti

Mei 1998

dung te mung dung dung

tengretengteng, cakteracak, tengreteng

tengretengtengteng, cakteracak cak cak cak.

Seorang ibu hamil menangis dan merintih dalam perjalanannya pulang selepas bekerja sebagai perawat di salah satu rumah sakit umum pusat di Denpasar. Gamelan Bali mengisi pendengarannya bersama orasi-orasi masa yang mengamuk di jalan utama. Pepohonan ditebang, dibakar di tengah jalan sehingga menutup akses kota Denpasar. Lalu lintas macet total, semua orang menghindari amuk masa. Masyarakat bersama beberapa mahasiswa melakukan sweeping terhadap para penduduk yang berprofesi sebagai PNS (Pegawai Negeri Sipil). Ibu muda yang masih terisak ini terus berjalan tak kenal arah, mencari angkutan umum yang bersedia mengantarnya ke Perumahan Dalung Permai, Kuta Utara, Badung, Bali. Ibu muda ini cukup pintar, ia berganti pakaian dinasnya dengan pakaian biasa. Seakan ia sudah menebak semua kejadian mengerikan yang akan terjadi.

Kota Denpasar begitu menyala. Api di mana-mana. Kerusuhan memuncak. Semua bersuara. Organisasi-organisasi bangkit, menuntut kebenaran, transparansi, dan mundurnya penguasa saat itu. Kecaman terus dilakukan, hingga lengsernya presiden “kebanggaan” era orde baru. Sekalipun telah turun dari jabatannya, kerusuhan yang sempat terjadi tak begitu saja surut. Semua tetap menginginkan transparan dan kejujuran. Namun, hingga terpilihnya presiden pengganti, semua tak terdengar gaungnya lagi.

Juni 1998

Selepas kerusuhan ’98, Bali mengalami banyak perubahan. Kota kembali ditata seperti sedia kala. Sekalipun gejolak perasaan masih berkobar. Ibu muda yang berhasil berjuang menembus gejolak masa pemberontak kini menjalani hidupnya dengan sedikit tenang. Sebut saja dia Sujatmi. Seorang perawat muda alumni Akademi Keperawatan di Bali. Terlahir dari keluarga buta aksara, tapi keyakinannya akan gelar Sarjana selalu dipegang teguh dalam hidupnya. Suatu hari ketika Sujatmi masih kecil -saat itu belum semua masyarakat di tanah kelahirannya Purwodadi memiliki televisi- ia menjadi murid mengaji di salah satu sanggar Sekolah Basa Arab di sekitar rumahnya. Bersama Mbah Kiayi sapaan akrab dari guru mengajinya, Sujatmi bersama beberapa anak petani lainnya belajar Bahasa Arab dan membaca kita suci. Salah seorang temannya, yang pada saat itu cukup ternama karena orang tuanya lebih kaya dari orang tua Sujatmi berkata,

“Kowe anak e Sukarjo ora bakal kuliah! Ora usah ngimpi. Duit nggo mangan wes cukup e alhamdulillah. Ora bakal kowe Sarjana!”

Tanpa sepatah kata apapun, Sujatmi kecil pulang. Tangisnya tak terbendung, bak luapan Sungai Tuntang yang membanjiri sebagian daerah Demak sekitarnya. Ia pulang dan berkata pada bapaknya.

“Pokok e aku kudu SMA, aku kudu kuliah nganti Sarjana. Aku emoh balik nek durung kuliah! Mosok aku diarani ora isoh kuliah, ora mampu. Aku lak sesuk mbok kuliahke to, Pak?” Katanya sambil menangis sesenggukan.

“Aku pancen ora wong sekolahan, mung tani cilik. Ibumu mung dagang beras neng pasar. Tapi pengenku mung siji, anakku kuliah kabeh, isoh ngaji kabeh. Ben uripe ora kaya aku. Anakku kuliah kabeh, ora eneng sing ora kuliah. Wes bocah kui mau pancen gemede, wong tuwone pancen sugih. Wes rasah minder. Sesuk ngaji meneh.” Jawab Sukarjo.

Sujatmi tumbuh sebagai perempuan kuat. Dia mampu membawa sekarung penuh gabah dari sawahnya ke rumah selepan (rumah yang digunakan untuk mengupas kulit gabah agar didapat biji beras). Jaraknya cukup jauh, sekitar 5 km ditempuhnya dengan berjalan kaki. Dengan perjuangannya, ia mampu sekolah di Akper dan mendapat gelar Amd selepas masa belajarnya.

Bulan ini seharusnya anak dalam kandungannya lahir. Perkiraan dokter sekitar minggu pertama di bulan ini. Namun, hampir menginjak ke minggu ke dua, anaknya belum juga lahir. Tanda-tanda akan kontraksi juga tidak ada. Berbagai cara dilakukan agar perutnya bisa kontraksi. Setiap sore, ia selalu berjalan-jalan mengitari Lapangan Puputan atau sekadar berputar-putar di sekitar perumahan tempat tinggalnya. Tetap saja anak ini tidak kunjung ingin keluar. Namun, ketika ia tengah bekerja, perutnya mengalami mules luar biasa. Segera ia dibawa ke ruang bersalin bersama beberapa teman perawatnya. Persalinan pun begitu lama. Persalinan yang lama dan air ketuban yang sudah habis, memaksa para medis untuk melakukan vacuum untuk mengeluarkan bayi kecil ini dari rahim ibunya. Sampai akhirnya gadis kecilnya lahir juga. Sedikit luka ada di kepala bayi lucu ini, akibat vacuum yang dilakukan padanya. Untuk perawatannya, bayi ini harus di tempatkan di inkubator. Bayi kecil berwarna merah dengan toh ditangan kanan ini dinamai Hera Wahyuningtyas Pangastuti.

Klaten, 2001

Sebuah keluarga kecil tiba selepas perjalanan jauh antar pulau. Keluarga catur warga ini pindah karena wasiat pendahulunya untuk menjaga rumah warisan yang berada jauh di dalam pedesaan di pinggir kota Klaten. Jika dibanding dengan rumah sebelumnya di Dalung, rumah warisan ini cukup besar, bisa dikatakan dua rumah yang digandeng. Berdiri di tanah halaman yang luas dan pepohonan yang rimbun. Rumah dengan perabot lama, khas zaman Belanda, peninggalan seorang pensiunan tentara rakyat dan pegawai pabrik gula. Entah apa yang dimiliki dari rumah ini, tapi keluarga kecil ini begitu saja meninggalkan Bali. Bagi mereka, banyak kenangan indah dan teman yang baik di Bali. Bali tak hanya sekadar tanah milik para Dewa, tapi kenangan indah bagi mereka yang pernah menginjakkan kaki dengan hati bersih.

Kehidupan mereka cukup tertata. Memiliki tetangga yang ramah, dan tetap melakukan pekerjaan seperti sedia kala.  Sujatmi tetap menjadi perawat, tapi kini ia bekerja di salah satu rumah sakit umum pusat di Klaten. Sujatmi kembali mendapat keberuntungan, begitu mudahnya ia diterima karena direktur mediknya adalah seorang keturunan Bali. Sedangkan suaminya, Tri Bowo kehilangan pekerjaannya akibat PHK yang sedang marak di Bali saat itu. Hingga kepulangannya di Klaten pun, Pak Tri -sapaan akrabnya- belum memiliki pekerjaan. Namun, keluarga kecil ini tetap bahagia, dengan sesekali polemik kecil karena perbedaan keadaan dari Bali dan Klaten.

Januari 2003

Bayi kecil yang lahir 5 tahun lalu kini telah tumbuh sebagai gadis manis yang gesit. Hera mulai memasuki Taman Kanak-kanak di Kota Klaten. Meskipun masuk pada semester yang salah, Hera tetap mengikuti kegiatan belajar-mengajar dengan baik. Tak pernah sekalipun ia menemui masalah, baik dalam pelajaran, berteman, atau hal lainnya di sekolahnya. Ia pun langsung diterima di TK pada kelas 0 besar, yang berbeda dengan anak lainnya yang harus menempuh 0 kecil dulu. Beberapa guru sempat meremehkannya, tapi Ibunya – Sujatmi- memaksa agar anaknya dimasukkan ke kelas 0 besar walaupun hanya satu semester.

Hari pertama Hera sekolah. Seragam yang ia kenakan berwarna kuning untuk kemeja, hijau tua untuk rok, dan kerudung kecil berwarna serupa kemejanya. Ia sarapan dengan lahap. Bergegas menuju motor, bersama kakak dan Papanya untuk berangkat ke sekolahnya. Rasa penasaran dan tidak sabar menghinggapi pikirannya. Tiba di sekolah, Papanya mengantar Hera menuju ruang guru. Di sana ia dititipkan pada guru wali kelas yang akan mendampingi setiap pelajaraan yang akan didapatnya.

Kelas begitu riuh. Para orang tua pun ikut meramaikan kelas pagi itu. Hera duduk manis di bangku tepat di depan pintu masuk. Banyak teman sekelasnya yang menangis tidak mau ditinggal orang tuanya, ada pula yang berteriak keras, ada juga yang sedang disuapi ibunya. Sedangkan orang tua Hera sudah sejak tadi pulang, Papanya hanya berpesan,

“Jangan nakal, nanti kenalan sama temannya ya. Tanya namanya siapa. Nah kalau kamu disuruh memperkenalkan diri, nanti bilang apa aja yang sudah Papa ajarkan kemarin. Bisa ya?”

“Iya. Nanti aku pulangnya gimana?” Tanya Hera.

“Nanti Papa jemput. Tunggu di sini sampai Papa dateng. Nggak boleh keluar dari gerbang ya.”

Hera kecil mengangguk tanda mengerti perintah Papanya. Selama bel belum berbunyi, ia hanya duduk, diam, sambil mengamati sekitarnya. Gadis kecil ini memang suka mengamati. Hingga akhirnya bel berbunyi bersamaan dengan datangnya Ibu guru berjilbab besar ke dalam kelas. Sapaan pagi seperti biasa, dilanjutkan berdoa dan membaca beberapa surat pendek dari Juz 30. Waktu untuk memperkenalkan diri tiba. Karena hanya Hera murid baru di kelas itu, maka sudah kewajiban bagi Hera untuk maju memperkenalkan diri pada seluruh penghuni kelas. Dengan fasih ia menyebutkan namanya, nama orang tua, alamat, hingga hobi, dan makanan apa yang ia makan saat sarapan tadi. Saat Ibu guru bertanya, di mana orang tuanya, Hera menjawab dengan lirih.

“Sudah pulang. Saya ditinggal.”

Seluruh orang tua yang menunggu anaknya tiba-tiba diam. Memandang anak perempuan yang berdiri dengan mata berbinar nan polos. Kemudian, Ibu guru bertanya lagi perihal keberaniannya ditinggal oleh orang tuanya.

“Orang tua saya harus bekerja. Saya kan sudah dititipkan pada Ibu guru. Jadi orang tua saya sekarang adalah Ibu guru. Kenapa harus takut?” Jawabnya wasis.

Seketika gadis kecil ini menarik perhatian para orang tua penunggu setia. Mereka memenuhi pintu kelas yang tepat di samping kiri tempat duduk Hera. Mereka saling bertanya silih ganti. Pertanyaan yang sama, perihal orang tua yang “tega” meninggalkan anaknya di sekolah barunya dan anak perempuan yang begitu “berani” di lingkungan barunya.

Hera bersekolah dengan baik. Rapornya selalu baik. Motorik kasarnya paling indah nilainya. Rapornya selalu terisi dengan deskripsi kebanggaan sang guru. Sedangkan motorik halusnya selalu lebih dari standar minimal. Kemampuan mengingat dan berbicara paling tinggi nilainya. Gadis ini cukup menarik perhatian. Tak pernah menangis, tak pernah kesulitan, tak pernah menyulitkan. Tangannya gesit, keingin tahuannya tinggi, dan simpati kepada sesama. Hal yang paling Hera suka adalah berjalan-jalan saat akhir minggu atau menonton pertunjukan boneka tangan oleh Ibu guru. Harinya begitu indah. Peajaran kesukaannya adala kerajinan melipat kertas, mewarnai, dan menulis. Sekalipun saat itu ia belum terlalu fasih membaca, tapi tulisannya begitu mirip dengan contohnya. Anak ini peniru ulung.

Juli 2004

Sebuah SD Negeri di Kecamatan Tonggalan di penuhi para orang tua dan anak-anak mereka. Semuanya riuh membicarakan banyak hal sambil menunggu pembukaan tes penerimaan peserta didik baru. Hera dan Papanya termasuk dalam kerumunan itu. Setelah mengantre dan mendapat nomor masuk, Hera dan Papanya duduk di bawah pohon Palem.

“Kalau ditanya warna disebutin. Kalau disuruh baca ya dibaca. Kalau suruh nulis ya menulis. Perkenalkan diri yang lengkap. Nanti Papa nggak ikut masuk, jadi kamu harus berani sendiri. Bisa?”

“Bisa. Siapa yang ada di dalem, Pa?”

“Katanya Ibu Kepala Sekolah. Tenang aja, nggak bakal dimarahi kalau salah. Yang penting jawab saja. Jangan sepaneng, kalau nggak di negeri ya di Muhammadiyah situ. Kan kamu sudah diterima juga.”

Tiba saatnya Hera masuk. Pertama, ia memperkenalkan diri. Kedua, ia disuruh untuk menyebutkan nama warna, lalu menulis kata “Babi” dan berakhirlah ujian super singkat itu. Dibanding teman lainnya, Hera paling cepat dan tidak menangis. Dua minggu kemudian, pengumuman tiba. Seperti dugaan Papa Hera, anaknya diterima di sekolah negeri. Sama seperti kakaknya sebelumnya.

SD Negeri 1 Tonggalan, 2005

Hera menginjak kelas 2 dan kakaknya Edo di kelas 5. Hera pulang lebih awal, tapi kakaknya pulang hingga lebih dari waktu Luhur. Rumahnya cukup jauh dengan sekolah. Untuk menyingkat pengeluaran BBM, Papa Hera harus menjemput kedua anaknya secar bersamaan. Alhasil Hera harus lebih lama di sekolah untuk menunggu kakaknya. Ia bermain, membaca buku, dan membeli makanan. Begitu seterusnya.

Di kelas 2, Hera semakin senang. Semakin banyak teman, dan guru baru. Hera tak lebih pintar dibanding teman lainnya dalam semua mata pelajaran. Bahkan, Hera pernah mendapat nilai 0 bulat di mata pelajaran Matematika. Sangat sederhana, hanya soal penjumlahan bersusun, 20 nomor dan salah semua. Betapa lucunya. Sadar bahwa ia harus berubah, belajar menjadi lebih giat. Akhirnya, seminggu kemudian ia bisa mengembalikan nilai 0 -nya menjadi 90. Lumayan.

Hera bukan anak istimewa, terkadang ia mampu mengerjakan sesuatu lebih dari yang lain. Namun, tidak salah pula jika Hera terkadang mengalami kesulitan. Kebiasaan berlogat Bali membuatnya susah membedakan “dh-” dan “d-“, “th-” dan “t-” dalam Bahasa Jawa. Bukan hal luar biasa jika Hera yang paling banyak menulis pengalaman di kelasnya. Banyak kalimat-kalimat aneh yang ditulisnya di sela-sela buku catatannya. Dan sudah jadi kebiasaan jika banyak novel anak yang dibawanya pulang hingga lupa dikembalikan, karena terlalu suka.

Juli 2010

Klaten tetaplah bersinar seperti semboyannya. Kota yang semakin berkembang. Pembangunan di sektor manapun. Pendidikan semakin maju, dan kualitas masyarakat dituntut semakin baik. Festival menyambut ulang tahun kota tercinta selalu dinanti-nanti oleh seluruh masyarakat. Banyak kegiatan dan pameran diselenggarakan. Begitu pula Hera yang selalu tertarik untuk melihatnya.

Memasuki umur ke-12, Hera meneruskan pendidikannya di SMP Negeri 4 Klaten. Ia mengikuti serangkaian tes untuk mendapatkan kursi di kelas Imersi. Tanpa merasa kesulitan, dia mengerjakan semuanya seperti soal latihan. Entah benar atau salah, ia tetap saja mengerjakan. Semua prosedur ia laksanakan sendiri. Mengambil hasilnya sendiri, daftar ulang sendiri, semuanya sendiri.

Selama menuntut ajar di sekolah menengah pertamanya, Hera cukup mendapat pengalaman banyak. Dia sangat nakal, pemberani, dan riang. Semua yang ia temui selalu menjadi temannya, tak membedakan status apapun. Salah satu wadah Hera mendapat pengalamannya adalah Pramuka. Mulai dari itu, Hera mencintai kemandirian, sendiri, dan kuat. Ia selalu menantikan perkemahan, berpergian, dan api unggun.

April 2013

Setiap peristiwa yang terjadi adalah kehendak Allah. Semua hanyalah takdir yang sudah ditulis dengan apik dan hanya doa yang bisa mematahkannya. Salah satu takdir Allah yang dituliskan untuk keluarga Hera adalah polemik pemilihan Kepala Desa di tempat tinggalnya. Papa Hera merupakan Kepala Desa terpilih periode sebelumnya. Kinerjanya cukup bagus, jujur, dan transparan. Begitu kata Sekcam. Namun, bagaimanapun permainan Tuhan memang lebih baik. Pertama kalinya terjadi pemilihan KepDes yang aneh. Calon hanya dua, Papa Hera dan manta KepDes sebelumnya. Banyak intrik yang terjadi, pengkhianatan, kecaman, ancaman, dan kejahatan. Semua terlihat begitu nyata oleh Hera yang beranjak dewasa. Ia mengenal politik dan baru menyadari segini kotornya politik jika dimainkan oleh orang jahat. Pemilihan cukup sengit, dan hasilnya draw. Kecurang terjadi begitu mudah. Hanya doa yang terucap dari Hera. Pada periode Pilkades tahun ini, hanya Kelurahan Karangdukuh yang terjadi draw. Tapi begitulah, Allah selalu memiliki keputusan terbaik. Papanya kalah pada pilihan ulang ke dua.

“Biarkan orang-orang itu merasakan senang. Setelah kelakuan mereka berhasil. Allah Mahaadil. Semua yang hilang hari ini, akan kembali dalam bentuk lain yang lebih dari ini.” Ucap Hera dalam sujud terakhirnya di Sholat Magribnya.

Juli 2013

Hera lulus dengan ciamix dari SMP-nya. Nilai UN-nya cukup tinggi hingga mendapat penghargaan untuk peringkat ke-9 dari 238 siswa. Namun, dengan nilainya itu tak membuatnya senang dan tenang. Banyak pesaing yang hendak masuk ke SMA Negeri 1 Klaten yang memang merupakan SMA favorit di Klaten. Sempat berada di posisi mengerikan, gadis berkaca mata silindris ini hanya tekun berdoa.

Klaten tetap bersinar, seperti doa para rakyatnya. Posisi Hera tetap dalam 320 siswa SMA Negeri 1 Klaten. Artinya, Hera resmi diterima. Bahagianya. Akhirnya Hera bisa merasakan bersekolah di sekolah favorit.

Kebahagiaan tak berselang lama. Bersaing dengan siswa pintar sangat sulit. Mempertahankan rankingnya saja sudah bersyukur, apalagi meningkatkan. Hera semakin mencari celah kelebihannya. Hera merambah ke non akademik. Ia meneruskan hobinya di dunia Pramuka. Semakin jauh ia masuk, semakin banyak ia mendapat pengalaman. Ia beruntung menjuarai lomba bergambar se-Kabupaten Klaten. Kemudian, ia mengenal Ruri. Kawannya yang aneh bin ajaib. Ruri yang memperkenalkan menulis dan sastra pada Hera. Semenjak itu, Hera mengikuti Komunitas Penulis bibitan Ruri dan Yuti. Semenjak dua tahun yang lalu Hera membuat blog unyunya yang sederhana, tulisan yang biasa, dengan pembaca yang budiman.

SMA Negeri 1 Klaten 2016

Masa SMA adalah perjalanan panjang bagi Hera. Semua ia dapat dengan ikhlas. Memang tak begitu tampak prestasinya di bidang IPA seperti jurusan pilihannya. Tapi ia selalu giat menulis seperti kawannya Ruri dan Yuti. Mencari uang dari menulis dan membayar SPP serta kekurangannya. Cukup membanggakan ketika Hera sangat beruntung ketika denan tidak sengaja ia mengikuti ajakan Ruri untuk mengikuti ajang Yamaha Youth Community di Yogyakarta. Bersama Yuti, Hera menuju hotel yang digunakan sebagai tempat penyelenggaraan acara tersebut. Dan keberuntungan bisa datang dari dan kapan saja. Hera dkk bisa memenangkan Y2C tingkat Nasional. Semua takkan bisa ia dapatkan tanpa Ruri dan Yuti sohib menulisnya.

Tahun ini adalah tahun kelulusan Hera dan kawan-kawannya. Setelah menempuh serangkaian ujian, akhirnya tiba saatnya mereka dilepas kembali dari sekolah impian mereka dulu. Tentu sangat gembira bagi Hera, setelah sekian lamaya bertahan dari belenggu Matematika, Fisika, kini ia telah bebas. Meskipun masih satu langkah lagi di perguruan tinggi. Namun, kegembiraannya sama seperti teman-temannya. Mereka mampu menyelesaikan perjuangan mereka.

Upil Kera 2016

Aku hanyalah gadis kecil yang ketika hari pertamaku di Taman Kanak-kanak menjadi pusat perhatian semua orang. Karena menurutnya aku berani, mandiri, dan pandai. Aku tak pernah merasa seperti itu. Aku hanyalah gadis peniru ulung. Aku memiliki lebih dari 7 model menulis dengan tulisan asli dari tanganku. Aku bisa meniru tanda tangan orang tuaku, tulisannya dan semuanya. Aku bisa meniru tulisan temanku setelah melihatnya menulis dua sampai tiga kali. Aku hanyalah gadis pengembara. Aku sulit menjawab jika ditanya tentang passion. Bagiku, hidup lebih baik adalah passion, selebihnya adalah kemampuan yang terus meningkat. Aku lebih suka hal baru, teman baru, orang baru, lingkungan baru, serba baru tanpa meninggalkan dan melupakan yang lama. Aku hanyalah gadis yang doyan main, bukan seorang pembaca buku hebat apalagi penulis idaman.

Aku hanyalah gadis biasa yang selalu belajar. Aku adalah gadis pemalas, ketika yang lain sibuk dengan hal pentingnya aku hanya diam dan tidur. Sedangkan saat yang lain selo, aku menjadi orang paling sibuk. Aku bukanlah perempuan istimewa dengan segala kelebihan dan kemampuan. Aku hanyalah aku yang menjadi Upil Kera jika bersanding dengan lainnya. Karena aku paham bahwa aku masih lebih kecil dari mereka.

Juni 2016

Klaten begitu cerah hari ini. Juni benar-benar bulan yang menyenangkan. Ketika aku mulai dengan menikmati hidup. Bagaikan sepasang kekasih; aku dan Juni. Aku untuk Juni dan Juni untukku. Dan aku lebih bahagia ketika teman-temanku berkunjung ke rumah warisan tempatku bernaung. Ruri, Aditya, Lita Kartika, Gani. Terima kasih, kunjungan kalian membuatku mandi lebih pagi, bangun lebih pagi, dan tertawa lebih riang. Terima kasih di hari ulang tahunku, tanpa kue, tanpa hadiah, tanpa bunga, tapi membawa ribuan tawa dan bahagia.

tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu – Sapardi Djoko Damono di Hujan Bulan Juni
Bagiku, Juni adalah surga yang Allah titipkan sementara di setiap tahunnya. Begitu indahnya setiap awan yang mengapung di udara. Begitu sejuknya setiap hembusan angin yang menyergap pernapasanku. Begitu merona matahari yang lahir dan tenggelam tiap harinya.
Semesta takkan habis kulewati, karena aku pergi sendiri
Juni adalah caraku menikmati hidup, bersama semesta dan kamu
Terima kasih telah menjadi terataiku
Semuanya berharga, bernilai, dan berasa
Tuhan mengizinkan kita untuk beristirahat,
juga memberi waktu untuk bersemangat,
dan semua itu seharusnya bermanfaat
Kita satu rumpun, pada tempat yang sama, oleh pencipta yang sama
Tidak ada matahari senja di sini
Maka izinkan aku berlabuh, sementara yang lain melaut
Apa yang kurang dari tanah ibumu untuk kau cintai, sayang?
Ketika aku mencintai Subuh, ketika kemunafikan belum bangun
Hingga aku terjebak di Bohemia
Dan hari ini kami menyapa langit
Berbicara padanya bahwa Juni adalah kebahagiaan – Hera W. Pangastuti di #13MomentsToKnowWhoAmI akun instagram herapangastuti
Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s