[Part 1] Keramahan Allah

Petang tadi hujan turun seakan tidak ada makhluk di bawahnya. Menderu, deras, mengguyur apapun. Suara airnya gemercak, seakan memecah genting, asbes, dan berbagai macam atap masjid. Mendobrak-dobrak keramaian seperti hendak melampaui teriakan anak-anak yang membaca doa penutup majelis. Bahkan suara microphone yang digunakan muazin pun tak mampu mengungguli riuhnya tetesan tangis langit. Suasana Magrib dan berbuka menjadi lebih riuh dan penuh, ketika tetesan air menyusup tiap inci sela-sela asbes teras masjid. Membuat anak-anak semakin heboh saat menyantap takjil nasi kuning.

Petang tadi aku berangkat ke masjid di kampungku bersama kakakku dan Papaku yang terlebih dulu berangkat. Kami biasa mengajar mengaji pada bulan Romadhon. Tapi Papa juga mengajar ngaji di hari biasanya di luar bulan suci, setiap Senin, Rabu, Sabtu. Petang tadi langit desaku masih abu-abu putih, tapi setelah aku menyimak Kiki membaca Iqro’ 4, langit mulai murung dan mendung gelap. Angin mulai berlari berkejar-kejaran tak peduli dahan, ranting, daun ikut terbawa olehnya. Tiba saatnya Magrib, hujan pun turun.

Aku mulai mengajar ngaji pada hari ke dua puasa, lalu libur karena aku sedang datang bulan. Dilanjutkan pada hari Kamis sampai sore tadi. Beberapa hal menarik dan pelik aku dapatkan, sebagai pelajaran. Bagiku sangat menarik, dan hendak kuceritakan di sini. Boleh kau baca, boleh juga tidak. Namun, aku sangat bahagia ketika cerita ini bermanfaat bagimu.

Hari ini aku mengajar mengaji anak-anak di desaku. Desaku bukanlah desa metropolitan, terpencil, dan jauh dari jalan kota. Kiranya berjarak 5-6km untuk menyentuh jantung Kota Klaten, dan perlu 40km untuk menyeberang ke pusat Kota Yogyakarta. Berada jauh dari kota dan dibatasi oleh sungai dan rel kereta api, desaku diberi nama Sabrangkali. Boleh juga jika kau hendak mampir. Desaku tak begitu luas, tapi lumayan padat. Kiranya ada 2 RT dan desaku hanya terdiri dari 1 RW. Ada lebih dari 50 KK yang tersebar. Mayoritas penduduknya petani, pembuat batu bata, dan buruh kasar. Jika ada kenaikan derajat, paling banyak buruh pabrik, kontrak, atau PNS. Mayoritas pendidikan lulus SD dan buta aksara. Namun, adapula yang bisa lulus SMA/K dan sarjana. Latar belakang inilah yang menjadikan warga desaku sulit beranjak dari garis kemiskinan. Apalagi besarnya biaya pendidikan seakan semakin mencekik mereka. “Jangankan untuk membeli seragam, untuk makan sehari-haripun sudah alhamdulillah” kata tetanggaku.

Kukisahkan ada seorang anak kecil, umurnya kukira masih 3-4 tahun. Wasis bicara, nonong keningnya, hitam kulitnya, kriting rambutnya, Oliv namanya. Anak dari kawanku seorganisasi muda/i dulu. Namun, sayangnya ayah Oliv kini mengalami gangguan kejiwaan karena sesuatu hal, dan istrinya (Ibunya Oliv) seakan tidak peduli pada Oliv dan lebih memilih ke Malaysia untuk bekerja tapi tak memberi uang kehidupan pada sang anak. Kini Oliv tinggal bersama Kakek dan Neneknya alias ayah dan ibu dari ayahnya. Keluarga ini sangat jauh dari garis kecukupan. Bahkan jika sehari saja tidak bekerja, bisa jadi 2 hari mereka tidak makan. Benar-benar miris, ketika yang lain berlimpah makanan, ternyaa masih ada yang sangat kekurangan.

Hampir tiap hari Oliv datang ke masjid. Di antar oleh Kakeknya naik sepeda motor. Di masjid ia hanya bermain, di mana yang lain berebut untuk disimak cara membaca huruf arab. Ia juga nakal, memukul-mukul kepala teman yang lain ketika sibuk menghapal huruf hijaiyah. Kadang ia menangis, jika takjil belum tiba tapi Kakeknya sudah tiba menjemput. Entah apa yang menjadi motivasinya untuk berangkat mengaji, yang pasti ketika takjil sudah di tangan, ia langsung pulang tanpa menunggu adzan ataupun sholat Magrib.

Kakeknya seorang Hindhu, dan Neneknya seorang Nasrani, Ayahnya Islam begitu juga Oliv. Namun, bagaimanapun cara Papaku untuk mengajarinya membaca Iqro’ ia selalu menolak dan menangis. Maklum, mungkin ia belum mengerti.

Aku berpikir, mungkin Kakek-Nenek Oliv ingin mengenalkan cucunya pada agamanya, mungkin juga agar sang cucu mendapat hidangan yang lebih nikmat dari biasanya. Tapi hipotesis Ibuku dan aku berbeda. Kami mengira dan mengiba pada Oliv. Keluarganya yang kurang mampu, mengharap kenikmatan Romadhon dari takjil yang begitu nikmat yang mungkin tak pernah ia makan. “Betapa menyedihkan. Di dunia yang begitu terang, masih banyak yang bisa menyadarkan tapi masih ada saja orang yang buta dan sesat. Buta pada agama, tidak lain hanya karena dunia. Lalu bagaimana besok ketika mereka di akhirat, sesatnya seperti apa?” Kata Ibuku. Sangat menyedihkan ketika datang hanya untuk takjil. Jika dirimu tahu, betapa menyedihkan kondisi ekonomi keluarga ini, sungguh mungkin jika kamu paling miskin dengan makan nasi dan tempe, mereka lebih miskin karena hanya makan nasi dan sambal bawang (itupun nasi sisa kemarin). Jadi jika hipotesisku dan Ibuku terlalu dalam menusuk kalbu, wajarlah karena memang kedaan begitu. Tidak hanya Ayah dari Oliv saja yang mengalami gangguan kejiwaan. Anak pertama dari Kakek-Nenek Oliv juga senewen. Kedua laki-laki dewasa ini hanya makan dan tidur di rumah. Makanannya pun hanya mie instan dan telur, ditambah lagi rokok. Pengeluaran yang cukup banyak untuk mengidupi kedua anaknya yang senewen juga menjadi alasan keluarga ini semakin jauh dari kata cukup.

Oliv selalu menangis ketika takjil belum tiba, dan takut tidak kebagian. Tapi hari ini, awan gelap lebih membuatnya takut daripada sebungkus nasi kuning dari keluarga dik Jessica. Oliv menangis lagi. Dia merengek minta pulang, tapi tak ingat jalan pulang. Walhasil, Bagus mengantarnya pulang dengan motor bersama angin kencang yang berhembus tanpa malu. Oliv berhenti menangis. Kemudian Papaku bertanya, “Oliv belum dapet takjil?”. Yang lain menjawab, “Belum, Pak. La wes mulih disik, wedi udan, Pak”. Yaa maklum, anak-anak desaku tidak terlalu mahir basa Jawa krama. Akhirnya, kami berbuka bersama tanpa Oliv dan takjil kesayangannya.

Cerita ini kuangkat bukan untuk membuka tabir dari sebuah keluarga dengan segala kekurangannya. Bukan maksudku begitu. Tapi sikapi saja bagaimana cara berpikirku yang sepele. Di zaman yang serba modern nan megah seperti sekarang, ternyata masih ada yang jauh dari kecukupan. Oliv misalnya, gadis kecil yang belum mengenal dunia, dan orang tuanya entah bagaimana. Sekarang, pikirkan saja masa depan si Oliv. Bagaimana ia sekolah, ia belajar, ia ibadah, ia menatap dunia? Apakah ia bisa sekolah? Dengan kondisi keluarga seperti ini. Apakah ia bisa mengaji untuk orang tuanya? Sedangkan sang Kakek-Neneknya berbeda keyakinan, sang Ayah sudah hilang akal. Bagaimana ia mendapat kehidupan layak dan mengentaskan keluarganya dari kemiskinan, jika modal hidup (sekolah dan ibadah) saja ia tak miliki. Bagaimana dengan kehidupannya jika sang Kakek-Nenek sudah habis umur? Betapa menyedihkan hidup ini. Ketika para koruptor benar-benar nyaman tanpa dosa, dan Oliv menyambung hidup dari keramahan Romadhon dengan takjil sederhana. Para artis yang memenuhi layar kaca tanpa mendidik, dan Oliv bolak-balik ke masjid tetap saja tak paham alif, ba, ta, tsa. Para borjuis yang rugi sodakoh, sedangkan ada ribuan Oliv yang mengharap keramahan rizki Allah. Hidup ini begitu pelik, menarik. Dan tak habis pikir, jika saja Kakek-Nenek Oliv mau, cucu kesayangannya dititipkan di pondok pesantren, betapa beruntungnya mereka. Sekalipun tak nikmat dunia, Oliv bisa mendoakan mereka untuk setitik nikmat kehidupan akhirat.

Jadi, bagimu dan aku yang Magrib tadi berbuka dengan kenikmatan sederhana maupun kenikmatan luar biasa, bersyukurlah dan mungkin kalian bisa sujud syukur sekarang. Karena masih banyak umat lain yang begitu mengharap keramahan Allah dari berbagai jalan rizki. Jangan lupa bersyukur.

image

Masjid Baiturrahim


image

Menunggu berbuka, dan takjil dibagikan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s