Kerinduan

Sore ini cukup dingin. Angin berhembus lembut, membelai bulu kuduk beberapa saat. Hampir gelap dan waktur berbuka hanya tinggal setengah jam lagi. Tapi Mama belum juga masak apapun. Alasannya karena masih mempunyai tum kelapa dan lamtoro juga ia telah membeli daun singkong dan sambal hijau sepulang bekerja tadi. Jadi, Mama menganggap semua itu cukup untuk santap buka nanti. Tapi aku maerajuk, aku ingin sekali nasi goreng atau cap cay goreng yang dijual di dekat RSJD Soedjarwadi, Wedi, Klaten. Enak, sayurnya banyak, dan asin. Setelah rayuan mautku berhasil merubah pikiran Mama, maka kutarik gas Reddo dan meluncur menuju penjual cap cay yang kuinginkan.

Angin sore berhembus lirih, lembut, dan melintas di kiri kananku dan Reddo. Aku membelah angin di sekitar persawahan Wedi dengan jecepatan 60km/j. Namun, si penjuak belum buka, gerobaknya pun belum terlihat. “Huh,” keluhku. Akhirnya aku tetap melaju sampai di pertigaan sebelum jembatan menuju Pasar Wedi, belok kiri yang akan mengarah ke DODIKLATPUR. Sembari melihat kanan kiri, karena aku lama tak melintasi daerah ini. Aku melihat banyak tenda perkemahan anak Pramuka berdesakan di lapangan DODIKLATPUR. Sejenak aku berpikir, kiranya sudah satu tahun aku tidak todur di luar rumah. Mungkin aku sudah lupa cara mendirikan tenda prisma, lupa bagaimana mendirikan tenda darurat dan tenda dapur dengan simpul yang kuat. Juga aku lupa bagaimana plot setcamp yang baik agar semua barang aman, bebas banjir, dan rapi.

Berbeda dengan beberapa anak muda lainnya, di mana mereka menyukai gunung, laut, atau lembah. Diriku menyukai alam bebas, di mana saja aku suka. Aku memang tak pandai berenang, maka aku tak terlalu suka menyelam. Tapi aku sangat suka berkemah, bersama banyak teman, api unggun, dan cerita-cerita mereka.  Di mana saja tempat berkemah, aku suka. Di pinggir pantai, di gunung, di lembah, bahkan di lapangan sekalipun. Bagiku, hal yang paling asyik dari berkemah adalah tidur bersama. Dalam keadaan berbaring, menunggu lelap menyapa, aku dan kawan setenda selalu bercerita apa saja hingga tak disadari kami sudah terlelap. Satu hal yang kusuka dari berkemah dengan banyak orang adalah api unggun dan makanan yang ala kadarnya, kadang tidak matang, kadang tidak kebagian. Betapa menyenangkannya.

Setahun berlalu, lembah, pantai, karang sudah kulewati. Dan kini, kutemui kerinduan yang tak terkira. Bahwa aku pernah berkemah dengan seorang yang sangat ramah. Baik budinya, sopan berkata, dan sigap geraknya. Benar-benar kurindukan mereka.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s