[Part 2] Almost

Jumat lalu aku mulai tergolek lemah, tapi masih berpuasa meskipun tanpa amalan lebih karena hanya tertidur seharian. Hari berikutnya, Sabtu, aku berpuasa. Namun, tengah hari puasaku batal karena mendadak aku muntah-muntah dan diare berat. Hari Minggu, Mamaku mendapat amanah sebagai pembawa takjil untuk anak-anak TPA. Aku membantunya memasak nasi kuning dengan empat macam lauk; mie goreng, kering tempe dan hati ayam, perkedel kentang, dan telur dadar. Tubuhku lemas, sesekali aku duduk di depan kompor gas yang menyala sambil mendadar telur di atas teflon panas. Mual-mual terasa lagi, akhirnya puasaku batal lagi. Senin tengah malam kemarin, aku masuk rumah sakit di mana Mamaku bekerja. Aku didiagnosa diare akut. Setelah diberi dua suntikan, tapi tubuhku tak kunjung membaik, malah menjadi mual hebat, akhirnya aku opname. Selama opname aku tidak puasa dan tersiksa dengan mual dan nyeri ulu hati, kembung, dan pusing. Selasa pagi, aku disuntik obat baru namanya Ranitidine dan Metoklorpamine. Aku ikut saja. Beberapa saat kemudian badanku kaku, tapi aku bergeming dan larut dalam tidur panjangku. Malamnya, kira-kira pukul 21.37 perawat bernama Mbak Tika menyuntikkan obat yang sama dengan pagi tadi. Namun, reaksinya berbeda, lebih buruk dari pagi tadi. Badanku kaku, sulit bernafas, hampir kejang, dan mengantuk berat. Aku tergeletak lemas, di saat Mamaku menangis dan terus mencubitku, menampar pipiku sekeras mungkin agar aku sadar. Tapi akhirnya aku tak sadar juga.

Baru aku membuka mata, sudah banyak orang di ruangku. Ada dokter UGD, beberapa perawat di bangsal tempatku opname, dan beberapa perawat ICU yang berjaga ketika pasien memburuk.

Mama bingung, nadimu sempat hilang, selang oksigen belum ada. Haduuh ya Allah Mama takut. Coba kalau Papamu yang nunggu, mungkin kamu nggak ketulungan. Haduuh, Mama nyesel kalau kamu sampe nggak ketulungan. Yaa Allah, makasih.

Begitu cerita Mama dengan tersedu-sedu. Reaksi obat itu sangat cepat dan menyakitkan. Dan begitu aku sampai tak sadarkan diri.

Aku biasa minum obat kimia semenjak penyakit radang pembuluh otak menyerangku. Juga obat-obat penenang lainnya ketika keadaanku gawat. Tapi baru kali ini aku sampai tak sadarkan diri dan hampir mati. Ketika aku mulai bermimpi, aku hanya berpikir, aku belum pantas mati. Maka aku terus merintih dan meminta dalam gelap mimpi kepada Tuhan untuk kembali semula. Bahwa aku belum pantas mati, dan belum memiliki apapun ketika setelah mati. Dan selepas itu, aku diliputi rasa takut mati sampai saat ini aku menuliskan kesakitan ini.

Kematian memang rahasia Tuhan. Siapapun makhluknya tak tahu kapan ia mati dan bagaimana ajal menghampiri. Tapi ketahuilah, mati merupakan hal menyedihkan sekaligus melegakan. Namun, jangan kau lupakan bahwa kematian bukanlah ketakutan tapi yang kumaksud bahwa aku takut di sini adalah, aku takut menemui Tuhan dengan keadaan belum pantas.

Advertisements

One thought on “[Part 2] Almost

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s