Untukmu, teman SMAku.

Hallo teman. Apa kabar? Semoga selalu bahagia dan membahagiakan. Lama tak berjumpa, bersuara, dan menyapa. Tak bisa kupungkiri, aku sangat berterima kasih pada penemu internet dan smartphone yang sudah sangat berjasa untuk sedikit mengentaskan rinduku pada kalian.  Anyway guys, kiranya sudah sebulan lebih kita nggak saling bertegur sapa via bibir dan mata masing-masing. Rasanya begitu menggemaskan, antara rindu di hati dan kesempatan yang selalu bergerak sejajar tak pernah berpotongan. Jadi, aku mau cerita dikit, jangan kira ini cuma hiasan blog karena aku jarang nongol di grup, dan sekarang nulis soal kangen. Ini serius, ini yakin, dan ini  real bukan imajiner.

Teman, sesungguhnya aku tadi menangis. Ketika aku benar-benar merasa sendiri. Baru kemarin aku menemukan adik-adik sepupuku yang lucu dari Riau. Hidupku begitu asyik. Maka, tak hayal jika aku sama sekali tidak membaca apalagi nimbrung di grup  Whatsapp. Aku memiliki banyak teman, juga kalian. Tapi seumur hidupku baru sekali aku memiliki sahabat, dan kini dia bukanlah sahabatku lagi. Aneh memang, aku memutuskan persahabatanku yang baik itu. Beberapa hal kecil membuat kami menjadi teman biasa lagi. Dan mulai sejak itu, aku sangat jarang memercayai orang, siapapun, bahkan kedua orang tuaku. Semenjak itu pula, aku selalu memendam dan menyelesaikan semua masalahku sendiri. Seberat apapun itu, aku hanya percaya pada diriku dan Tuhan. Sampai suatu saat tangisku pecah karena masalah finansial amat mengerikan di pangkuan Sariviana Dewi. Ya bagaimanapun aku hanya bisa cerita, dan maklum Dewi juga hanya bisa mendengarkan. Bagiku, Dewi sudah sangat penyayang dan sabar, lebih dari Ibuku. Maka aku percaya padanya. Tapi setelah itu, dan lain dari masalah itu, semuanya hanya menjadi rahasiaku, bahkan aku pun lupa.

Teman, terima kasih kuucapkan pada kalian yang setia meramaikan grup yang walaupun isinya tak begitu penting, tapi sudah mampu mengangkat grup kelas kita lebih tinggi dan tidak tenggelam di antara grup mahasiswa baru di smartphone milikku. Teruntuk Dzaki, Zilmi, Lita Kartika, Tiwi, dan lainnya, chatting kalian memang tak penting, tapi begitu ramai.

Teman, 3 tahun begitu lama. Umurku bertambah tiap kali menatap kalian. Suaraku semakin parau ketika harus memanggil nama kalian dengan volume keras. Tubuhku semakin lelah ketika harus menyamai gerak lincah kalian. Masa SMA begitu menyenangkan. Sekolah di tempat favorit, berteman dengan anak berbakat, dan mencintai apa saja. Bagiku semuanya menyenangkan. Aku masih ingat ketika aku harus curi-curi pandang dengan Pak Miyadi agar bisa sarapan pagi karena bawa bekal. Atau mencuri jam pelajarannya Bu TS agar bisa ngemil, sampai ketiduran saat mata pelajaran Matematika oleh Pak Joksis. Kadang curhat menye sama Adel di Lab. Bahasa Inggris sampai ditegur Pak TY. Yaa memorabilia yang manis.

Tapi Teman, aku sadar bahwa aku memang begini. Bukan egois atau apalah itu. Aku terkadang merasa sangat sendiri, dan merasa sangat gembira di saat bersamaan. Teman, waktu memang tak bisa diputar. Ingatan kita pun berbeda-beda ketika mengingat masa lampau. Hati siapapun tak pernah kita tahu. Tapi teman, sungguh hatiku merasa sepi dan aku menulis ini begitu tulus bukan karena aku mencari tameng atas ketidak munculanku di grup yang sangat kusesali. Teman, kuharap kalian selalu bahagia atas apapun yang kalian dapatkan, yang kalian lakukan, dan apapun yang kalian semogakan. Teman, aku hanya bisa berdoa, bagi kalian yang masih dalam proses pembelajaran, mengejar impian, dan mewujudkan harapan, menanggalkan khayalan. Teman, apalah arti diriku tanpa kalian 3 tahun lalu. Jujur, aku saat ini begitu takut jauh dari Ayah dan Ibuku. Dan aku masih belum mengenal baik teman-teman baruku. Kuharap kalian tak sama denganku. Wahai temanku, aku sangat bangga dengan kalian, dengan tapak kaki yang menginjak bersama, senyum yang selalu menghiasi pertemuan kita, tangis haru yang meluluhkan ketegangan di antara kita. Aku bangga pada setiap kesuksesan kalian, meski terkadang aku masih abu-abu dengan kesuksesanku sendiri. Teman, kita pernah berjumpa, tak saling kenal, dan hanya bisa saling tersenyum. Tapi kini, kita sudah menjadi keluarga. Susah, sedih, senang, aib, semua menjadi hal wajar di antara kita. Bagiku, tulisan ini begitu berarti meskipun tidak pada diri kalian. Aku hanya bisa menulis, Teman. Aku tak punya keahlian apapun selain itu. Maka, selagi aku sanggup, aku menuliskan ini untuk kalian. 3 tahun bukanlah waktu yang sebentar. Kiranya ada 6 semester kita lewati bersama. Setiap ujian, setiap ulangan, setiap tugas kita selesaikan bersama. Hingga pada hari kemarin, kita bertemu dengan jalan kita masing-masing. Dunia begitu luas, Teman. Aku tak bisa mencegahmu pergi ke mana pun. Aku pun tak mampu memberikan masa depan lebih dari yang kau perjuangkan. Maka, jarak yang besok akan memisahkan kita adalah kerinduan bagaikan kuncup bunga yang selalu menunggu mekar di musim mekar. Aku paham akan cita-cita besar kalian, aku pun sama. Aku tak bisa terus menggandeng kalian di antara jemari kecil tanganku. Asa kalian begitu tinggi dan besar melebihi kemampuanku menahan kalian. Aku hanya akan menjadi teman lama kalian, teman masa SMA yang kemudian akan kalian temui teman kuliah, teman kerja, dan teman hidup. Teman, sadarilah. Waktu terus berputar, kehidupan harus terus berjalan, Tuhan tak pernah berhenti bertindak. Kumohon pada kalian, jangan pernah ragu untuk pergi, jangan pernah sungkan untuk kembali. Entah pada orang tua kalian, atau padaku. Teman, sudilah kalian terus mengingatku, setidaknya namaku saja. Dan saat kita bertemu suatu hari nanti, entah sebagai teman kerja, atasan-bawahan, tetangga, atau teman hidup, kumohon tetaplah sama. Aku tak pernah berbeda terhadapmu, dan kuharap kalian juga begitu.

Teman, sekalipun kalian tak pernah punya waktu luang walaupun sekadar memenuhi janji nonton film bersama, aku tetap teman kalian. Saat kalian kembali dan membutuhkanku, mungkin sudilah Tuhan mengizinkanku pergi bersama kalian. Atau yang berjanji membeli bakso ojek bersama, kukira kau juga tak ingat. Tapi aku masih ingat. Dan yang berjanji main ke rumah kediamanku, dan kini lupa, akupun masih ingat. Wahai Teman, jangan risau, jangan galau, jangan takut kalian sendirian. Aku paham setiap perilaku kalian. Tak satupun dari kita akan kehilangan atau tak punya teman. Karena aku atau satu dari kalian akan selalu berdiri menunggu yang lain kembali.

Teman, tak sedikit yang kuingat, kutulis, dan kutertawakan atas nama kalian. Sejujurnya, aku tak bisa berkata apapun lagi. Tangisku sudah berderai, air mata mengalir di kedua pipiku, hidungku tersumbat, dan mataku sudah kabur karena linangan air mata. Tapi Teman, aku tetap mencintai kalian, begitu sayangnya aku pada kalian. Tak pernah kulupa semua perjalanan berat saat kita sama-sama menuntut ajar di SMA. Kini tibalah saatnya, kita menuju peraduan masa depan. Ayah dan Ibu telah menanti kesuksesan kita. Teman, percayalah Tuhan selalu bersama dan ada dalam hati kita. Sekalipun aku tak sanggup bertemu kalian suatu saat, semoga Tuhan sudi mengizinkanku mengingat nama panjang kalian. Agar saat aku berkesempatan, aku akan mencari kalian. Teman, sebentar lagi kita akan sibuk dengan keperluan kita masing-masing, sebentar lagi grup akan kembali sepi, sebentar lagi akan muncul sindiran-sindiran halus agar semuanya memerhatikan. Tapi inilah hidup, Teman. Suka cita, duka lara, senang bahagia, adalah lampu yang menghiasinya. Pertemuan akan memiliki masanya. Ikatan akan mengendur ketika saatnya. Untukmu temanku yang sebentar lagi akan pergi jauh, kukira ini sedikit pesanku agar kau tak lupa.

Teman, janganlah mundur. Tetaplah melangkah dan hadapi semua dengan semangat. Janganlah menengok kebahagiaan yang sudah kita lalui bersama, dan membandingkannya dengan kebahagiaan sekarang yang tak sebanding. Semua memiliki masanya masing-masing. Janganlah menginginkan hal lampau terulang. Karena itu tak mungkin. Tapi buatlah hal yang lebih di kemudian hari. Teman, kau yang terhebat. Aku yakin semua dari kalian bisa menggapai asa yang kalian impikan. Kalian tangguh, dan tak mengenal putus asa, keyakinan kalian teguh, dan usaha kalian penuh. Maka, Tuhan pun tak mungkin meninggalkan kalian. Temanku, hal yang sudah kita lalui, biarlah menjadi kenangan. Tak mungkin terulang, karena hal yang sekali terjadi akan selalu dikenang dibanding hal yang biasa terjadi. Bayangkan saja masa lalu adalah pelecut masa depan agar lebih baik. Untukmu teman, ini pesanku yang paling jauh dari lubuk hatiku. Sudilah kau membacanya penuh. Dan merenunglah jauh. Selamat berjalan, selamat berjuang, kiranya aku hanya akan tetap jadi teman SMA kalian. Daaa🙋

Dariku, teman SMAmu.

Advertisements

2 thoughts on “Untukmu, teman SMAku.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s