Untukmu yang sedang patah hati dan diabaikan pujaan hati.

Hallo kamu yang sedang jauh. Kemarin lusa sebelum aku bertemu dengan Syaiful, Ofik, Ruri, dan Amin, aku membuka akun media sosialmu. Kudapati celotehmu yang sedang bahagia. Namun, aku tahu bahwa kamu sedang patah hati dan tersingkir dari sang pujaan hatimu, gadis jelita. Aku tahu kamu jatuh cinta pada seorang gadis di lingkunganmu sekitar 5-6 bulan yang lalu dari tulisanmu. Namun, celoteh berbau bunga-bunga mekar semerbak mewangi hanya sebentar. Kiranya sampai aku selesai Ujian Nasional, kamu sudah mem-posting tulisan penuh kegalauan dan kepasrahan. Dan setelah itu, kau berhijrah ke lain tempat dan ke lain wadah untuk menulis kisah cintamu.

Aku tahu, aku tahu semuanya. Aku bukan anak perempuan sok tahu dan selalu ingin tahu. Yaa, aku hanya iseng saja. Pun aku tak memanfaatkan apapun dari informasi yang kudapat perihal kehidupanmu. Sungguh, aku berani bersumpah. Tapi, yaa kuanggap saja sebagai pengganti buku-buku mahal, aku tetap haus bahan membaca. Kisahmu begitu unik. Kamu lelaki pemberani, pintar, dan berwawasan. Maka dari itu, aku sempat mengagumimu selama 1 tahun. Tapi siapa tahu hati manusia, aku pun tak paham dengan keadaan hatiku. Rasa kagum itu perlahan luntur dan tak bersisa. Seperti Ruri yang detik kemarin bilang kalau dia pacarnya Mas Amin, tapi kini mungkin Ruri akan berkata dia tunangannya Mas Amin. Siapa rasa, siapa sangka. Tapi kamu tetap lelaki yang sempat kukagumi. Meskipun kau tak pernah tahu sampai rasa kagum itu pergi.

Hai kamu, yang sedang jatuh cinta. Cinta perkara mudah juga sulit. Tergantung kepada siapa kamu limpahkan cinta itu. Tuhan memberi anugrah perasaan, hati, dan logika. Semua itu bersinkronisasi ketika kamu mulai menaruh hati pada lawan jenismu. Aku pun pernah merasakan hal yang sama, pada dirimu atau yang lain. Tulisanmu mulai lucu ketika kamu sedang jatuh hati, dan tulisanmu begitu layu ketika cintamu ditolak olehnya. Aku membaca semuanya. Yaa, setidaknya kamu menuliskannya dengan rinci dan baik. Sehingga aku tertarik untuk membacanya.

Kamu bisa saja mencari banyak perempuan, temanmu banyak, relasimu tak terhitung, dan kamu mudah bergaul. Banyak orang menyukai sikapmu, cara bicaramu, dan perilakumu. Saudaramu tersebar di penjuru negeri, keluarga, dan sahabatmu selalu menyertaimu. Tapi baru satu atau mungkin dua perempuan yang kutahu dapat mencuri perhatianmu. Dan tak satupun dapat kau takhlukan.

Hai kamu, yang kini sedang jauh dan patah hati. Perempuan itu memang sudah menolakmu jauh-jauh hari. Dan dia pun sudah jelas mengutarakan apa alasannya. Sepantasnya kamu memahami dan merelakannya. Yaa walaupun aku tahu, lelaki sepertimu dengan tekad besar tak mungkin menyerah dengan ujian yang sangat sepele. Tapi bukan begitu teman. Perasaan manusia berbeda-beda. Dulu, 8 bulan yang lalu. Aku menulis tentangmu, kamu pun membacanya, dan tak sedetikpun kamu mengerti bahwa rangkaian paragraf itu untukmu. Betapa terluka hatiku. Tulisan itu masih ada, dan masih kubaca sesekali. Lalu aku tertawa. Aku tak mudah melupakan sesuatu, tapi aku bisa berpaling sesekali waktu. Aku pun pernah mengganti bio pada akun twitter-ku, dan tak kusangka hanya berselang 2 hari kau melakukan hal yang sama. Dan betapa senang hatiku. Bio mu menjadi balasan dari bioku. Yaa seketika terbanglah perasaanku. Aku bercerita pada Ruri, dan ia mengusulkan untuk menuliskan hal itu di sini. Siapa tahu kamu juga membacanya. Aku ikuti saja saran Ruri. Aku menulisnya dengan nyawa 10, bukan hanya 1. Berharap sekali kamu membaca dan menyadarinya. Tapi, aku telah terbang begitu tinggi dengan sayap yang rapuh. Sayap yang kubuat sendiri dengan bahan yang belum memadahi. Akhirnya, suatu waktu aku terjatuh ke tanah. Sakit, perih sekujur tubuhku. Hatiku hancur, remuk redam, tercecer di mana-mana. Aku pun tak bisa menemukan serpihan-serpihan sisanya. Dan kini, semua rasa itu sudah layu, bahkan menggembur bersama tanah yang menyuburkan harapanmu bersama perempuan impianmu itu. Yaa meskipun dia tak cocok dengan pupuk racikanku.

Hai kamu yang sempat diabaikan perempuan dambaan. Aku juga pernah merasakannya, seperti itu olehmu. Kamu mengabaikanku seperti ilalang tepi jalan. Kamu lalui bagaikan angin, dan tak diindahkan bagaikan barang tak guna. Aku tahu kala itu. Tapi cinta memang buta, tapi aku masih punya logika. Kupendam benci yang semakin terpupuk oleh ceritamu bersama perempuan itu. Kurawat kebencian itu hingga menjadi pohon yang besar, yang membatasi antara kamu dan aku. Perlahan aku sadar, yaa semua keinginan tak mesti jadi kenyataan. Dan kamu merasakan hal yang sama sekarang. Sakit ya? Iyaa sakit. Kamu bisa saja pergi ke ujung dunia. Menghindar dari perempuan itu dan melupakannya karena suasana baru. Tapi sadarlah, bahwa anugrah terbesar yang dimiliki manusia adalah ‘imajinasi’. Kamu bisa berada di Benua Amerika, dengan keadaan dan suasana khasnya. Tapi jika imajinasi dan pikiranmu merujuk pada Indonesia, bahkan pesawat tercepatpun akan kalah hanya dengan imajinasimu. Juga pada perempuan itu. Kamu bisa saja berada di antara ribuan perempuan cantik. Namun, jika imajinasi dan pikiranmu masih tetap padanya, yaa sudahi saja pelarianmu. Itu percuma!

Aku pun tahu, kamu sempat menjauh dariku. Karena kamu tahu, aku sedang ingin mencari tahu semua tentangmu. Yaa, kamu kali ini benar. Tapi sudah kubilang, aku tak sama dengan lainnya. Aku hanya ingin tahu saja. Selebihnya, menjadi catatan kumpulan pribadi orang yang sempat kukenal. Kamu tak perlu repot-repot menghalangi akun sosial mediaku untuk membuka milikmu. Aku sudah jarang kok melihat akunmu. Juga kini, kamu berganti judul cerita. Tapi aku tetap setia di sini, dengan atau tanpa dirimu. Sudah kubilang juga, aku tak selalu bergantung dan berharap pada lelaki manapun seperti keseringan dan kebanyak perempuan zaman kini. Aku lebih santai, sepertimu.

Kamu memang lelaki pemberani, yang berani menyatakan cinta padanya tanpa berlalu sedikitpun. Tidak sepertiku yang hanya meluapkannya pada blog sempit ini, dan kamu pun tak juga mengerti. Kamu memang pintar, tanpa menunggunya jatuh hati, kamu sudah meminanangnya. Sedangkan aku, yang selalu tersenyum ketika membaca tulisanmu yang memukau. Tapi sungguhlah, kamu begitu mengenaskan, kala patah hati olehnya. Tidak sepertiku yang tak kehilangan atau merasa rugi karena kamu tak juga mengerti perasaan dari hati ini. Biarkan dia bahagia, jikapun kalian bertakdir bersama, tak perlu susah payah merajuk atau merayu. Tuhan pasti sudah tahu. Jadi, tetaplah semangat wahai kamu. Patah hati hal biasa, diabaikanpun sudah biasa. Aku contohnya. Tapi, hidup tak melulu soal itu, kok. Buktinya, temanmu masih asik bermain denganmu. Meskipun terkadang memojokkanmu dengan canda tentang dia.

Dariku yang pernah jatuh hati dan patah hati olehmu.

Advertisements

2 thoughts on “Untukmu yang sedang patah hati dan diabaikan pujaan hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s