(Maha)siswa

Kemarin Minggu, (21/08) tepat pukul 17.32 berakhirnya masa kenal kampus di kampus tercinta yang mulai kemarin pula aku menjadi bagian darinya. Suara riuh ribuan mahasiswa baru memekakkan atmosfer Magrib kala itu. Tepat kemarin, aku telah resmi menyandang hakikat baru dalam kehidupan saya, yang mana akan sangat berpengaruh ke masa depan sejauh apapun hiduku. Mahasiswa, apa yang kamu pikirkan tentang sosok ini? Terpelajar, pendidikan tinggi, berani, anarki, atau biasa-biasa saja. Aku bukan kali pertama ini merasakan apa arti mahasiswa. Tiga tahun sebelumnya, kakak kandungku juga telah mlegalkan dirinya menjadi abdi negara di bawah almamater Gadjah Mada. Dan berjalannya waktu, aku semakin tahu bahwa mahasiswa bukan sekadar manusia muda dengan waktu yang terbuang percuma. Bukan.

Pendidikan, siapa yang tidak ingin pendidikan. Apapun bentuknya, pengajaran adalah bagian besar dari kehidupan bermasyarakat, bernegara. Banyak siswa SD, SMP, SMA yang saya termasuk juga dalamnya di waktu lampau, selalu mendambakan tingkatan lanjut. “Wah coba udah SMA, bebas ini itu”. “Pengen cepet kuliah, biar bebas nggak harus bangun pagi. Nggak harus pelajaran sampai sore hari”. Dan masih banyak lainnya. Aku yang juga termasuk manusia yang berkata seperti itu, kini benar-benar tertawa lebar. Bisa-bisanya aku seperti itu. Haha. Entah kenapa dalam pikiran kita telah tertanam sebuah ‘candu’ yang sampai kapanpun akan tetap menjadi ‘candu’. Terkadang bosan pada satu tingkat pendidikan, kemudian ingin segera lulus, tapi tetap ingin melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi dan lebih sulit pada akhirnya. Bukankah gampangannya seperti ini saja. Jika sudah bosan menggeluti tugas dan nilai juga hati para pengajar, mbok ya sudah nggak perlu lanjut sekolah. Tapi kalau tidak melanjutkan juga bingung, kalau belum dapet juga sedih. Kan aneh? Namun, pada kenyataannya lagi tidak semua bayangan masa kecil tentang pendidikan tinggi semenyenangkan di TV. Misalkan saja ospek seperti ini. Harus mengerjakan ini itu, ke sana sini tak kenal waktu, siang malam hanya pegang buku. Dan kenyataan yang senyatanya adalah, semakin tinggi pendidikan bukan membentuk manusia atau objeknya menjadi semakin terlena, justru lebih benarnya adalah menjadikan objek tersebut sebagai seorang Maha atau berarti besar. Baik besar pendidikannya, besar ilmunya, besar jabatannya, besar tingkatannya, dan besar dalam kriteria pendidikan. Walhasil Mahasiswa adalah siswa yang besar. Seorang manusia yang menjadi siswa di lingkup yang besar, tanggung jawab yang besar, impian yang besar, cinta yang besar, nilai yang besar, pengalaman yang besar, dan harus menjadi output yang besar di dunia nyata. Mahasiswa, mungkin aku tak terlalu baik mengatakan atau menjelaskan lebih banyak tentang objek ini, karena aku pun baru menyandangnya sejak 12 jam yang lalu, Dalam arti lain, belum cukup ‘maha’ pengalaman dan pendidikan yang aku punya tentang objek ini.

Namun, yang ingin aku utarakan di sini adalah, Mahasiswa dengan segala impiannya. Mungkin dirimu belum tahu sebenarnya. Kurasa, hampir 8600 mahasiswa baru yang tumpah di Stadion UNS kemarin dengan hati bergetar, tetesan air mata kebanggan, kepalan tangan janji mahasiswa, dan tubuh yang bugar membuktikan perjuangan dari awal hingga berdirinya mereka kemarin di hadapan Pak Ravik adalah sebuah perjalanan besar dan perjuangan berdarah. Namun, mungkin hanya aku yang menangis tersedu dalam hati. Aku mengepalkan tangan, mengucap janji mahasiswa dengan penuh tanpa malu, tertawa riang ketika pensi di kema K3. Namun, hanya satu pertanyaan dalam hatiku yang hingga H-3 KRSan ini yang masih membayangi kehidupanku ke depan. “Apa di sini saya benar akan menjadi manusia yang berguna?”. Ketahuilah teman, bahwa sebenarnya aku tak pernah menyangka harus menjejakkan kaki di kampus kebanggaan ribuan alumni, ribuan mahasiswa, dan ribuan calon mahasiswa yang kini sedang mendambakan dan memperjuangkannya. Aku selalu bermimpi di tempat lain, di Bogor, di Jakarta, yang kelak saya akan menjadi seorang peternak sapi perah di Switzerland, atau menjadi seorang filsuf dan penulis kenamaan. Belum kutemui cinta di mana aku berpijak di kota ramah ini. Belum kurasakan rindu pulang ke Klaten, karena aku benar-benar tak tahu harus bagaimana. Aku sempat hampir menggapai impianku, tapi Tuhan memang adil. Tuhan tak pernah kumintai sedikitpun tentang perkuliahanku saat ini. Tak pernah kusebut nama UNS, K3 atau apapun yang kini kusandang dengan bingung. Seperti kata Bu Tantri, mintalah dengan spesifik, agar Tuhan bersedia dengan segera. Usahaku memang belum apa-apa dibanding kawanku yang lain. Aku termasuk siswa yang leda-lede atau malas. Akupun memiliki cita-cita di atas yakni H-20 SBMPTN atau H-1 pengumuman PMDK Diploma UNS yang kini menjadi masa depanku. Doa kupanjatkan tiap saat, tiap kuingat Tuhan, tiap kurasakan hidup ini makin sulit, tiap tetesan air mata mengering, dan tiap napas masih berhembus. Kusebut selalu kampus kebanggaanku, kusebut selalu program studi yang kucintai. Dan ketika itu, suatu sore hari. Aku bersama seorang teman, Ofik namanya. Kami mengikuti bimbingan belajar, yang pada hari itu hasil try out keluar. Dan begitu terkejutnya aku, nilai try out-ku turun drastis, belum lagi beban harus hijrah ke Bali dan hari SBMPTN yang semakin mengejarku di belakang. Saat itu Ofik berkata, “Nggak papa, kan baru try out. Pasti SBM bisa kok”. Dan aku tetap terdiam. Kemudian seruan Tuhan terdengar, aku mengajak Ofik untuk sholat Ashar. “Sholat dulu yuk, aku mau bilang sesuatu sama Allah” kataku. Kemudian kami berjamaah, dan aku berdoa sangat lama di sujud terakhir dan sehabis sholat.

“Ya Allah, Yang Mahapengasih, mengasihi siapapun yang kau ciptakan. Ya allah, Yang Mahaadil, Yang Mahabijaksana, Yang Mahamemutuskan perkara. Engkau yang memilikiku seutuhnya. Engkau yang menempatkanku di sujud ini, Engkau yang mengizinkanku masih bisa berjuang hingga detik ini. Ya Allah, aku sangat malu ketika aku mendekat padaMu di saat seperti ini. Aku sadar bahwa aku hanyalah hambaMu yang kadang tidak taat, kadang sesat. Tapi Ya Allah, Kau berjanji untuk menyayangi ummatmu, mengampuninya, dan menjamin mereka yang mau bertaubat. Ya Allah, kini aku berpasrah kepadamu. Tidak akan kusebutkan keinginanku yang tumbuh dari nafsuku. Tidak kucemari doa ini dengan debu-debu gengsi. Kumohon, dengarlah wahai Mahamendengar, kasihilah hambaMu yang kecil ini. Tempatkan aku di manapun pilihanMu, yang membawaku pada kebaikan, aku sepenuhnya percaya dan yakin akan keputusanMu wahai Rabbiku”

Aamiin. Selepas itu, sambil memakai sepatu, Ofik bertanya, “Ini Hari Pendidikan ya, jadi keinget dulu pernah ikut lomba nulis bareng kamu. Kamu yang menang haha”. Aku terkejut dan bertanya, “Tanggal dua ya sekarang?” Ofik menjawab “Ya”. Segera kubuka smartphone milikku dan kubuka link pengumuman PMDK. Sayang, karena terlalu paniknya, aku hanya membaca bahwa harus log in dengan nomor pendaftaran yang aku pun lupa berapa nomornya. Walhasil, selama di kelas hatiku tidak sabar. Aku hanya bisa berdoa, di dalam hati “Ya Allah, aku pasrah, aku yakin, aku yakin hanya padaMu”. Dan seterusnya pasti kalian tahu, hingga akhirnya, kemarin tanggal 18 Agustus tubuh ini resmi mengenakan almamater kebanggan ribuan orang yang kusingkirkan. Dan aku masih belum tahu harus bagaimana saat kuiah nanti. Masterplan yang kubuat jika aku sekolah di peternakan, di ilmu komunikasi, atau di sekolah statistika hancur lebur. Dan sampai saat ini, H-2 minggu  kuliah kiranya, belum satupun rencana kususun. Di mana aku berdiri di antara seratus mahasiswa berekeinginan kuat dan yakin. Dan kembali lagi, aku hanya bisa cerita pada Tuhan. Kusebut setiap sujud terakhir “Ya Allah, Engkau dengan murah hati memberiku ini. Maka, kumohon dengan kerendahan diriku hambaMu, atas bimbingan, kemudahan, dan kelancaran setiap harinya, setiap yang kulakukan, setiap yang kurencanakan. Ridhoi aku jika Engkau benar-benar memilihkan ini untukku”.

Wahai kawanku yang dari dulu bertanya, “Mengapa tidak mencoba yang lain, yang sesuai cita-citamu? Mengapa begitu saja tunduk dan mau?”. Kawanku yang budiman, pilihan ini begitu sulit. Sama halnya dengan kakakku yang memilih Geografi Lingkungan hanya dengan alasan, ‘agar lolos SNMPTN. Karena prodi ini sepi peminat dari sekolahnya’. Akupun hampir sama. Aku yang lahir di keluarga sederhana yang memang bercita-cita agar pendidikan dapat membawa kami pada hidup yang layak kelak. Terhimpit beberapa persyaratan dari Mama yang merupakan satu-satunya penghasil keuangan di keluarga, belum lagi biaya KKN, skripsi, semester kakakku yang begitu tinggi. Penelitiannya yang sulit dan memakan musim, juga biaya hidup keluarga, semua bertumpu di tahun pertama aku masuk PT. Bisa kalian rasakan betapa menangisnya hatiku saat Mama harus berkata, “Yasudah, kalau di UII karena komunikasi kamu suka, pasti Mama carikan uang untuk tahun pertamamu. Untuk tahun kedua, mungkin Mama bisa jual kalung. Nah tahun ketiga, semoga Masmu sudah kerja”. Bukan masalah mengejar cita-cita diriku semata. Jujurlah wahai kawanku bahwa kaupun sama. Mengejar cita-cita pun demi kedua orang tuamu yang entah kapan bisa melihatmu di panggung bersama Pak Rektor. Betapa hatiku sakit, ketika harus mendiamkan Mamaku selama seminggu karena aku kukuh pada pilihanku di UII. Dan kau harus tahu wahai kawanku, memilih masa depan, ini soal memilih masa depan. Jika bagimu yang menggilai nama dan jas almamater, mohon maafkan aku, karena Mamaku adalah segalanya, dan selepas kejadian itu tak sedikitpun aku berani memotong apapun kehendaknya. Bagi sebagian masyarakat desa, kuliah di Jogja adalah kasta tertinggi. Namun, kakakku terlihat biasa saja. Banyak tetanggaku yang kurang tahu bagaimana perkuliahan geografi yang kelak akan sangat berjasa. Dan kakakku pun tak bisa memengaruhi keputusanku untuk memilih Solo, meskipun ia sangat ingin aku satu alamamater dengannya. Wahai kawanku, inilah bagaimana alasanku meninggalkan segala harapan dan cerita yang telah kubuat di tulisan yang lalu. Mungkin ada yang salut, karena aku tidak mencuri-curi kesempatan orang lain dengan membuang salah satu jalan jika aku diterima di dua tempat. Namun, aku yakin pasti ada yang mencibir, berkata bahwa aku tidak konsisten, asal diterima, yang penting sekolah, dan lain sebagainya. Duhai kawanku yang sangat budiman, berbahagialah kalian bisa berjalan di jalan kalian. Tersenyumlah kepada semua orang mulai saat ini. Karena ada banyak manusia lain tidak bisa sebahagia kalian sekarang. Maka, percayalah, bahwa Tuhan tak pernah mengingkari janjiNya. Mahasiswa bukan ajang menjadi ‘maha’ di antara mereka yang bukan ‘maha’. Menjadilah ‘maha’ dari dirimu yang kecil, berkeyakinan besar, dan berusaha penuh. Maka, kelak ‘maha’ bukan lagi kau yang mencarinya, tapi orang-oranglah yang akan menyebutmu dengan sukahati sebagai ‘maha’.

wp-image-1765862978jpg.jpeg

Foto bersama Kelompok 3, di mana kami menjadi pemenang Pensi Recognition K3 2016

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s