“Jangan biarkan aku tenggelam, bersamalah untuk saling menggenggam”

Aku Hera yang lebih suka dipanggil Hera Pangastuti. Senja di kota seberang kulewati tak terasa berminggu-minggu, berbulan-bulan, hingga pada puncaknya nanti. Berada di tempat yang baru bukan berarti meninggalkan yang lama dan juga bukan berarti harus terlunta-lunta dengan kenangan lama. Teman-teman semakin jauh. Dzaki yang bersikeras dengan mata studi kedokteran, Tiwi yang semakin hedon di ibu kota, Lita Kartika yang tenggelam ditelan kabar burung, Unna yang satu kota rantau tapi jarang bertemu, dan diriku sendiri yang merasa semakin jauh karena kabar hanya sebatas sinyal provider. Aku merindukan susu hangat sehabis bimbingan belajar malam itu. Aku merindukan nyanyian malam ketika kita bakar-bakar daging qurban tahun lalu. Atau berebut tempat ter-epic untuk foto bersama. Buku tahunan? Sekali lagi kenangan yang paling kusayang adalah suara temanku. Bukan fisik dan fotonya.

Lingkungan baru kurasa tidak begitu buruk. Hanya mungkin aku belum bisa meninggalkan kenangan lama dan kembali terlunta-lunta kisah lama. Aku berprinsip bahwa semakin banyak teman berarti menguatkan diriku. Dan inilah saatnya. Bukan untuk menciut karena minoritas dan bukan untuk meninggikan karena sombong saja. Aku teringat Asti yang bercerita soal teman barunya dari China, dan satu lagi dari Korea. “Baru itu saja. Yaa taulah di luar bagaimana, tetap berbeda. Tapi aku yakin, aku akan punya teman banyak” katanya. Jadi kurasa nasibku tidaklah mengenaskan. Tapi mungkin Tuhan menginginkanku merubah strategi dan cara memikat kawan yang budiman. Karena Indonesia bukan Ind(one)sia yang hanya ‘berdiri satu’ tapi kita ‘bersatu’.

Untukmu temanku yang sempat membaca ini, aku baik-baik saja. Kuharap dirimu pun juga. Temanku, baik yang sudah kukenal dekat maupun sedang kudekati. Dirimu adalah jaring sarangku, dan aku adalah laba-labanya. Kalian yang menguatkan keberadaanku, dan aku yang menyatukan kalian untukku, dan untuk kalian. Wahai temanku yang budiman, ketidakmunculanku di forum forum lucu akhir-akhir ini bukan berarti aku menenggelamkan diri dan menyusuri habitat baru jauh di dasar sana. Bukan. Percayalah ketika kita bertemu, maka tawaku adalah yang paling lebar dan bising. Bersiaplah.

Kawanku yang kusayang, bertemu dengan orang baru bukan membuatku lupa. Justru aku sering menyebut mereka teman baruku mirip dengan kalian. Baik wajah, perilaku, bahkan nada bicara. Teman, sudah lama blogku usang dan berdebu. Aku mulai sadar, bahwa keketatan menulisku masih karena pengalaman bermain bersama Ruri, Yuti, Ofik atau Adel. Dan kini aku bingung harus menulis apa. Tapi kuyakin, kerinduan bukan lagi candu ketika kau tahu, bahwa memantaskan diri sebelum bertemu kembali adalah hal yang luar biasa. Tetaplah menjadi temanku, dan genggamlah tanganku. Biarkan langit tetap biru dan tawa kita meledak karena tingkah lucu.

Jangan cuma ‘see you on top’, karena kita ketemu bukan cuma waktu udah top! 🙂

Surakarta, 14 September 2016

Karena aku menyukaimu melalui tulisan lucu senja kala itu.

Advertisements

3 thoughts on ““Jangan biarkan aku tenggelam, bersamalah untuk saling menggenggam”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s