SPB [Part 2]: Moving Class 1 “Ekonomi Kerakyatan”

Mocas atau Moving Class merupakan agenda rutin siswa SPB, di mana akan ada pembicara keren yang akan membagikan ilmu bermanfaat bagi siswa SPB. Nah, kali ini Mocas 1 bertemakan ‘Ekonomi Kerakyatan’ yang akan dibawakan oleh 2 pembicara. Berikut resume yang saya dapat ketika Mocas 1 tanggal 25 September 2015 bertempat di Ruang Sidang Umum FT UNS.

1. Ekonomi Kerakyatan

Seorang wanita yang memulai usahanya demi membantu perkeonomian para pedagang terkhusus pedagang pasar tradisional Beringharjo. Ialah Ibu Musida Rambe, bersama ke dua temannya yang sama sekali tidak memiliki latar belakang ekonomi, manajemen, maupun keuangan, berjuang membantu para pedagang kecil, asongan, dan lainnya untuk terbebas dari jeratan hutang dan rentenir.

“Di sana, hutang 200 ribu bisa jual sertifikat rumah untuk melunasinya. Betapa ngerinya”

Dalam sesi ini, Ibu Musida Rambe menjelaskan sistem ekonomi kerakyatan dan BMT Beringharjo yang ia kelola. Ekonomi kerakyatan yang berdasarkan jejaring dan berbasis rakyat berbeda halnya dengan ekonomi kapitalis. Di mana ciri dari Ekonomi Kerakyatan ialah:

  1. SDA dikuasai negara
  2. Pemerintah dan swasta saling support agar tidak terjadi Ekonomi Liberalis
  3. Masyarakat terlibat penuh
  4. Ekonomi berdasarkan asas kekeluargaan

Sedangkan tujuannya ialah:

  1. Membangun negara berdikari secara ekonomi
  2. Mendorong pemerataan perdagangan
  3. Mendorong pertumbuhan ekonomi berkesinambungan
  4. Dan meningkatkan efisiensi pemasuakan

Ibu Musida Rambe menegaskan bahwa tidak ada yang salah dalam ekonomi Indonesia, hanya saja rakyat membutuhkan bantuan demi terus berkembangnya usaha kecil dan menengah seperti di pasar Beringharjo.

Beliau memberi wejangan pula, jadilah aktivis yang berprestasi, yang tanpa meninggalkan kuliah tapi dalam bermanfaat di bidang lain bagi masyarakat sekitar.

Berikut kutipan yang menurut saya favorit ala Ibu Musida Rambe founder BMT Beringharjo

“Masa depan pada dasarnya ialah ghaib dan milik Allah. Tapi Allah memberi kesempatan untuk bermimpi dan berikhtiar.”



2. Serikat Dagang Islam (SDI)

Semua hampir mengenal Serikat Dagang Islam, karena nama ini sering disebut dalam buku-buku sejarah, soal ujian, maupun hasil browsing-an. Namun, sudahkan kita mengenal lebih dalam pergerakan yang bercokol di Solo ini?

Ya, SDI merupakan pergerakan perdagangan pertama di bumi Indonesia dengan seorang pemrakarsa yaitu Samanhudi. Beliau merupaka orang asli Solo yang tepatnya di Laweyan. Laweyan sendiri terkenal akan batik khasnya. Di mana pada zaman dahulu kala, Samanhudi hendak melindungi pedagang dan produksi batik Laweyan agar tidak tergerus pedagang dari negeri penjajah.

Usaha beliau begitu panjang dan berat. Bersama kawannya yaitu HOS Tjokroaminoto, beliau mendirikan SDI pada tahun 1905 atau 3 tahun sebelum pergerakan Budi Utomo. SDI terus berkembang dan menjalar ke pelosok negeri karena notabene zaman dahulu mayoritas rakyat ialah berdagang. Hal ini menyebabkan SDI bertransformasi menjadi SI atau Serikat Islam yang lebih sering tercetak dalam buku pelajaran sejarah.

SI memiliki cabang di seluruh penjuru negeri terkecuali Papua. Seluruh anggitanya terlibat dalam perjuangan melawan kolonialisme. Dan pada zamannya, SI merupakan organisasi dengan anggota terbanyak seantero nusantara. Berikut tujuannya:

  1. Memajukan semangat dagang bangsa
  2. Boleh ada perdagangan dari luar, tai perdagangan Indonesia harus mendominasi
  3. Memajukan kecerdasan rakyat sesuai agamanya

Namun, terkadang doktrin sejarah yang kita dapat tidak terlalu mengagungkan nama SDI, melainkan Budi Utomo. SDI bukanlah organisasi perdagangan yang melulu soal berdagang dan pasar. Namun, organisasi yang juga bergerak dalam mengusir penjajahan melalui dominasi pasar. Sedangkan Budi Utomi berdiri 3 tahun setelah SDI. Dan yang kita sebut sebagai motor kebangkitan negeri ialah Budi Utomo. Terselip dalam pernyataan Bapak Rosnendya Yudha Wiguna bahwa ‘Budi Utomo ialah bentukan Belanda’. Kalimat ini mencengangkan pikiran saya dan menarik syaraf ingatan jangka panjang saya. Beliau berkata bahwa

“Kebangkitan negeri berdasarkan BU, sedangkan SDI telah lahir lebih dulu dan pergerakannya menyeluruh. Sedangkan BU hanya terbatas young java, young sumatera, young borneo dan beberapa daerah saja. Lalu yang lain? Seharusnya kita sadar, bahwa SDI adalah motor penggerak bangkitnya bangsa ini dengan kemudian memunculkan pergerakan-pergerakan baru di berbagai bidang.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s