Doa yang selalu ku-aamiin-i dan sedikit kutangisi

“Hoplaa sudah dapat setengah semester! Gimana rasanya jadi mahasiswa?” Teriak wanita berumur sekitar setengah abad sambil menyiapkan sayur dari dapur.

“Aku merasa bebanku belum terasa. Terlebih semuanya masih dalam batas keberuntungan karena Allah, bahkan usahaku tak lebih dari laju Solo-Klaten. Aku masih menikmatinya.” Jawabku.

“Sudah dapat berapa banyak teman? Dari mana aja mereka? Kamu cocok?”

“Alhamdulillah, mereka lebih baik daripada yang kubayangkan. Apalagi ini kali pertama aku mengenal teman dari luar kota bahkan seberang pulau. Adaptasi itu wajar, bahkan aku lahir pun harus adaptasi. Aku masih menikmatinya.”

“Besok UTS ya? Dah belajar apa aja kamu?”

“Yaa selama yang aku lupa dan baru, itu yang kupelajari.”

Kemudian hening menyelimuti, berganti denting garpu dan sendok menyapu makanan di piring kami masing-masing.

“Aku bingung, antara takut atau terbebani. Sudah sekolah 12 tahun, ujian puluhan kali, tapi tetep aja grogi.” Celetukku sambil mengambil minum dari lemari pendingin.

“Nggak papa. Itu wajar. Yang penting kan sudah belajar. Ditambah ibadah, ikhlas. Jadi gimana lagi?” Jawab seorang ayah di seberang meja.

“Dijalani aja. Kamu rasain, kan? Tau-tau dah setengah semester. Besok dah semesteran, besok lagi dah trisemester dan akhirnya lulus. Mas mu juga nggak kerasa dah mau lulus. Kamu juga cepet lulus, biar cepat kerja. Mama bisa tenang.”

“Aamiin. Ya doaku juga gitu. Tapi tiap berkurangnya hari, bertambahnya ilmuku, berarti bertambah tua juga Mama Papa. Kan aku jadi sedih.”

*Hening*

“Belajar aja yang benar, Papa pasti senang, jadi umur panjang.”

“Aamiin”~

Sepulangnya, aku belajar. Kedua orang tuaku memang tidak melihatku belajar, tapi tanggung jawab yang ku bawa, 47 km dari tanah warisan itu, dari sindiran orang-orang itu, dari perlakuan mereka, dan dari doa kedua orang tuaku.

Mungkin banyak atau bahlan semua dari kita dapat berbangga telah beranjak dewasa, menggapai asa, dan merealisasikan cita-cita. Meskipun kedua orang tua selalu berkata bangga, ku tahu bahwa semua orang tua akan semakin khawatir.

“Besok cari suami yang deket aja. Biar bisa nemenin Mama. Aku wedi nek neng omah dewe.”

Sepele memang. Dan jawabanku hanya bergurau sederhana.

“Halah, kan masih ada Papa. Lo masa aku dari kecil sampe besar di sini terus?”

Dan lagi, ketika pertama melihat rumah singgahku.

“Kamu bisa to tidur sendiri di sini (kos)? Berani? Duh Mama kok gak tega ya? Soale Mama nggak pernah ngekos. Nggak papa kan?”

“Halah, kan aku dah biasa kemah to. Kan besok mesti pulang.”

Tersadar bahwa setiap sujudku, kalian, pasti menyoal masa depan, keinginan, cinta, dan ampunan. Tidak salah, tidak. Tapi waktu sangat kejam. Memberiku jaminan masa depan, dan hendak merebut kesayangan. Waktu menggerogoti kesempatanku, hingga masa berganti, generasi telah berganti.

Aku paham, tidak satupun anak yang tidak menginginkan masa depan terbaik. Dan tidak satupun anak menginginkan orang tuanya tak bahagia di masa tua. Tapi berkacalah, bahwa ketika duniamu berganti, semua mungkin akan berubah tanpa sisa, atau mungkin tetap saja dengan sedikit kesamaan.

“Cepatlah dewasa”

“Jangan, nanti Mama Papa makin tua, aku sama siapa?”

Dan tetaplah menengok rumahmu~

Advertisements

6 thoughts on “Doa yang selalu ku-aamiin-i dan sedikit kutangisi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s