SPB 2016 [Epilogue]

Hampir semua manusia mencintai pertemuan, yang berlanjut hingga keakraban, kemudian tercipta kenyamanan dan tak ingin dipisahkan. Begitu kiranya. Tapi bagaimanapun sebuah rencana, pasti semua akan berakhir di satu titik. Baik itu berupa goal, pilihan, atau perpisahan. Kukira semua pasti akan berakhir. Bahkan Tuhan pun berencana akan mengakhiri dunia, aku, kamu, dan apapun yang Ia telah ciptakan sebaik-baiknya.

Begitulah kehidupan, yang setiap orang jalani sebenarnya hampir sama. Tapi entah bagaimana Tuhan adalah seniman terbaik yang memberi sentuhan cantik di bilik-bilik sanubari makhlukNya.

Pun denganku yang telah terjun atau lebih tepatnya sedikit ingin menengok sesuatu yang ada dan menjadi minat ribuan mahasiswa. Kini kukisahkan dari awal perjalananku hingga grand closing yang sangat berkesan. Semoga bermanfaat.

Tulisan ini sudah bukan syarat lulus, atau tugas harian Siswa Sekolah Penerus Bangsa. Tapi tulisan ini kudedikasikan untuk kalian yang baru mengenal, sudah pernah merasakan, atau ingin merasakan bagaimana SPB berjalan. Khususnya tahun 2016.

Kuawali dengan screening di Porsima lt. 2 tepatnya di sekre BEM UNS sore hari selepas kelas PKn. Bersama Dina Monita dan Berliana, kami bertiga melakukan wawancara singkat dengan salah satu anggota BEM UNS. Ini kiranya pertanyaan yang diajukan oleh BEM:

  1. Apa kelebihan dan kekuranganmu?
  2. Kenapa kamu tertarik ikut SPB?
  3. Jika kamu dibutuhkan di dua tempat, antara kuliah dan keperluan lain, mana yang kamu pilih?
  4.  Apa itu ‘degradasi moral’?
  5. Menurut kamu apa itu ‘pergerakan mahasiswa’?

Nah kiranya 5 pertanyaan yang masih saya ingat. Hanya dengan waktu 30 menit, saya dan Dina sudah mengakhiri screening sore itu. Sedangkan Berliana menghabiskan 45 menit.

Kemudian kira-kira 2-3 minggu selepas screening pengumuman diupload di akun instagram SPB. Dan alhamdulillah saya dan Berliana lolos, sedangkan Dina tidak.

Forum selanjutnya adalah Pra SPB yang dilaksanakan di Joglo FK UNS. Di mana kami dibagi kelompok dan berkenalan dengan kambing atau kakak pembimbing.

Setelah itu, kegiatan selanjutnya adalah Grand Opening yang sudah saya tulis juga resume-nya di blog ini. GO dilaksanakan selama 3 hari. Dengan berbagai materi yang bermanfaat, dan baru bagi saya.

Kemudian, selama 1 bulan kami mengikuti Mocas atau Moving Class yang resume-nya juga sudah saya  post di blog kesayangan ini sebagai tugas wajib. MOCAS SPB berlangsung 4x dengan materi berbeda.

Setelah MOCAS 4 selesai, berselang 2 minggu kiranya, Grand Closing SPB dilaksanakan. Bertempat di Desa Gubug, Kecamatan Cepogo, Kabupaten Boyolali. Kami berangkat dengan bus Solo-Semarang selama 2 jam. Dilanjutkan berjalan kaki menuju penginapan selama 2 jam. Kemudian kami disambut di rumah warga yang menjadi penginapan sementara kami selama 3 hari ke depan.

Hari kedua GC, kami awali dengan lari pagi atas hukuman kesalahan kami yaitu terlambat berkumpul. Lari sebangak 4x putaran lapangan Desa Gubug. Namun, baru sampai di putaran ke-2 banyak siswa perempuan yang menyerah. Kemudian di putaran ke-4 yang baru berjalan 1/4putaran, sudah dihentikan panitia. Lalu kami diingatkan untuk selalu disiplin dan tepat waktu. Setelah itu kami dibagi untuk kerja bakti dan pengabdian masyarakat. Ada yang membersihkan masjid, halaman masjid, GOR, posyandu, lapangan, dan ada yang mengeruk pasir di sungai. Setelah kegiatan pagi, kami melanjutkan sarapan. Kemudian membahas pensi untuk malam harinya. Lalu setelah waktu dzuhur, kami melakukan presentasi social project mengenai masalah di Indonesia. Saya mengusung masalah Tambang Pasir di Keningar, Magelang.

Setelah presentasi kami mengikuti materi dari Pak Eka mengenai Wawasan Kebangsaan. Sampai waktunya Magrib tiba. Malamnya kami memeriahkan lapangan yang gelap gulita dengan riuhnya pensi dan musik. Tapi yang pasti untuk acara seperti ini adalah penekanan mental dan pikiran. Wajarlah jika acara seperti ini selalu diikuti evaluasi yang keras. Beberapa kakak BEM yang menjadi bagian kesiswaan memberi beberapa sentilan keras kepada kami untuk kebaikan kedepannya.

Pagi harinya, di hari terakhir, di 1/3 malam kami mengikuti muhasabah yang dipimpim Mas Wildan. Kemudian pengumuman kelulusan SPB yang dibacakan langsung oleh Kepala SPB 2016. Alhamdulillah Keluarga Melinting lulus semua ayeeee! Kemudian pagi harinya kami mengikuti outbond yang panas dan lama -.- sayangnya lagi, saya mendapat kloter terakhir. Ada 3 permainan yang sarat ilmu dan manfaat. Bagi saya, ini permainan yang baru.

Di ujung acara outbond kami satu angkatan SPB 2016 diberikan permainan seperti betengan namun, yang diperebutkan di sini adalah Bendera Merah Putih bukan benteng. Dengan amunisi plastik berisi air, kami dibagi 2 kubu, yaitu Merapi dan Merbabu. Saya tergabung dalam kubu Merbabu. Permainan berjalan seru, karena keduanya tidak ingin kalah. Ketegangan menerpa kubu saya karena 3 laki-laki dari kubu lawan merangsek dan hampir merebut Bendera Merah Putih kami. Namun, belum sempat dicabut, tanpa disadari oleh pihak bertahan kubu Merapi, salah satu teman saya telah mencabut Bendera Merah Putih milik Merapi. Walhasil, Merbabulah yang menang. Yeaaay!

Tapi tidak sampai di situ. Panitia mengumumkan bahwa kami telah gagal dalam permainan ini. Karena sebenarnya, permainan ini telah memecah belah kami, dan panitialah yang menajdi pihak keduanya. Oleh karena itu, panitia mengingatkan bahwa SPB 2016 tetaplah satu. Eaaak

Sebagai penutup kami makan siang dan mendengarkan wejangan dari kepala SPB 2016 mengenai keberlanjutan kami. Setelah itu, kami pulang menggunakan bus umum yang kami temui di jalan.

Tentu saya tidak bisa mengungkiri bahwa di tengah perjalanan selama SPB berlangsung, rasa malas, ingin mbolos, dan sebagainya pasti menghinggapi otak dan raga ini. Tapi, saya sadar bahwa sampai saat ini saya tidak mengikuti UKM lain selain magang di UKM FK sendiri. Dan oprec pun masih lama. Kemudian saya membayangkan jika daya benar-benar tidak tergabung dalam satupun UKM, maka saya akan menjadi mahasiswa per-gabut-an. Hmm, dengan sedikit semangat, dan doa agar menghasilkan manfaat, saya mengikuti SPB ini sampai di titik terakhir, di pertemuan terakhir, di jargon terakhir, dan di cerita lucu terakhir.

Mungkin bagi kalian, ini bukanlah hal mengesankan, atau cerita yang saya tulis kurang menggambarkan kesan yang saya alami. Yaa memang benar. Karena kesan yang saya dapat baru muncul ketika saya menulis ini. Ketika keluarga Melinting saling memenuhi grup karena keakraban kami sewaktu GC kemarin. Ketika saya mengatahui bahwa tujuan saya mengijuti SPB telah saya dapatkan, bahkan lebih dari yang saya bayangkan.

 

Mungkin ini belum seberapa dibandingkan pengalaman teman-teman pembacaku. Tapi bagiku yang baru, masih, dan terus belajar, sedikit apapun ilmu itu, sesingkat apapun itu, semuanya akan bermanfaat di lain waktu, di lain kesempatan. Dan bagiku, adalah anugrah Tuhan yang tiada tara. Nikmat yang luar biasa.

Kupikir kusudahi saja cerita ini. Seperti perjalanan SPB yang telah berlalu. Tapi tanggung jawab ilmu yang telah kudapatkan harus kumanfaatkan selanjutnya lebih lama dibanding keberjalanan SPB sendiri.

Kukira sedikit untukmu, semoga bermanfaat.

SPB 2016, Kami Generasi Penerus Merah Putih!

Hidup Mahasiswa! Hidup Rakyat Indonesia!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s