Perlukah kita meng-Indonesia-kan diri kita?

Sekitar seminggu lamanya sudah tidak menyentuh surga ini. Dan terakhir menulis menyoal pada ziarah yang terhenti hujan. Kali ini, untuk memenuhi janji pada diriku sendiri dan membahagiakan imajinasiku, kuputuskan untuk menulis soal diriku, dirimu, atau bahkan kita semua dan tentunya Indonesia.

Kemarin Sabtu adalah Sabtu paling sibuk selama aku menjadi sepersil penuntut ajar di Solo. Paginya aku harus mengikuti sosialisasi di SMK 1 Pedan dengan komunitas daerah UNS-Klaten. Acara ini berakhir hampir tengah hari. Karena saat itu aku sedang tidak melaksanakan sholat, maka aku langsung memacu gas Reddo dan menuju Kampus Mesen untuk mengikuti sebuah screening. Screening berjalan cepat hingga aku bisa kembali pulang ke Klaten tepat pukul 3 sore. Di tengah perjalanan yang melelahkan itu, aku sempat terhenti karena ada mobil yang hendak putar balik dengan panduan seorang juru parkir. Seperti kita tahu, semua juru parkir di Solo menggunakan baju khas lurik hitam coklat. Saat memandu sang sopir, juru parkir tadi berbicara sangat keras dan menggunakan bahasa Jawa. Namun, anehnya sang sopir tidak mau menggerakkan stirnya seperti arahan juru parkir tadi. Setelah kulihat plat nomornya, ternyata berplat luar kota yang tidak menggunakan bahasa Jawa seperti di Solo. Sejenak aku berpikir bahwa telah jadi kebiasaan dalam kita berbicara bahasa daerah, bahkan dengan siapapun. Meskipun hanya logat dan cara bicara saja. Tapi mengertilah, bagaimana jika terjadi miss komunikasi antar dua pihak yang mungkin bisa terjadi antara sopir tadi dan sang juru parkir.

Belum jauh dari kisah sang juru parkir tadi, aku sempat terpancing amarah ketika sampai di lampu merah Tegalgondo. Saat almpu merah menyala terang, seorang dengan mobil Brionya membuka pintu dan hendak keluar. Sedangkan ada seorang bapak pengendara motor Scoopy yang bermaksud menyalip mobil Brio yang berhenti tadi. Tak sengaja keduanya bersinggungan. Untung saja bapak pengendara motor tadi tidak sampai jatuh. Keributan hampir terjadi. Sebelum aku tahu masalah yang melibatkan keduanya adu mulut, aku melihat plat mobil Brio putih yang terparkir tidak benar-benar di pinggir jalan itu. Kudapati plat nomor luar kota bahkan luar pulau, sedangkan sang motor berplat AD. Yang membuatku terpancing amarah ialah sang pemilik mobil tidak mengakui kesalahannya dan justru menganggap pengendara motorlah yang salah mengambil jalan. Hampir saja aku turun dari motor karena maksudku membuka mata si sopir Brio agar melihat letak parkirnya. Dan tindakan membuka pintu saat lampu merah itu sangat bodoh dan salah. Sadar jika perdebatan terus berlanjut dan jika diusut akan memojokkan dirinya, sang sopir mobil memilih menyudahi perdebatan itu saat bapak pengendara motor membela dirinya. Yang membuat saya semakin malu melihat kejadian itu adalah, sang sopir tidak sedikitpun merasa bersalah dan meminta maaf. Lebih buruknya lagi, ketika lampu menyala hijau dan semua pengendara menarik gasnya masing-masing, si mobil Brio ini tadi tiba-tiba menyalakan sein ke kanan tanpa melihatku di serong belakangnya. Sontak kubunyikan klakson dengan nyaring dan panjang. Aku berusaha menyejajarkan Reddo dan pintu sopir yang kacanya masih terbuka. Kuberanikan berbicara meski aku tak tahu dia dengar atau tidak.

“Indonesia, bukan?”

Langsung kutarik gas Reddo dalam-dalam dan meninggalkan mobil itu.

Sederhana sebenarnya mengapa aku menulis ini untuk kalian dan untuk pengingat diriku sendiri. Bahwa yang aku tahu sejak masih duduk di Sekolah Dasar hingga kini menapaki diri dalam perkuliahan, Indonesia adalah sebuah negara yang dikenal hangat masyarakatnya, tutur kata yang ramah, dan toleransi. Dan yang kualami selama ini adalah soal-soal ujian yang selalu menyebutkan bahwa Indonesia sebagai negara yang ramah. Tapi jangan pernah lupa bahwa Indonesia adalah akumulasi kultur, masyarakat, dan agama yang kompleks. Akumulasi inilah yang menyatukan kita atas nama NKRI yang berdiri atas lautan darah pahlawan. Bagaimanapun juga Indonesia adalah satu dari persil-persil kehidupan rakyatnya. Indonesia jika menjadi kata benda ialah pemersatu di antara ribuan pulau dan perbedaan. Di mana dalam kasus sang juru parkir, dosakah kita ketika menggunakan bahasa Indonesia kepada seluruh orang, baik Jawa, Jakarta, Sumatera, Kalimantan, atau Papua? Perlukah kita kembali meng-Indonesia-kan diri kita dalam hal bahasa? Yang mana bahasa juga menjadi pemersatu kita? Kemudian si pengendara mobil yang tidak tertib. Mengapa aku teriakkan “Indonesia, bukan?” Karena aku pun sebagai Indonesia berusaha tertib baik di lalu lintas ataupun di mana saja aku berdiri. Mengantre misalnya, hal yang paling rentan untuk membuktikan seorang itu tertib atau tidak. Lebih sering aku mengantre di suatu tempat perbelanjaan, yang paling kubenci adalah ketika seorang menyerobot antreanku dan sang kasir yang tak berdaya atau malah masa bodoh membiarkan hal bodoh ini terjadi. Susah memang membuat diri ini tertib, itu kuakui. Contoh lain adalah buang sampah. Mengapa orang dengan mudah meninggalkan sampah dari jejak di mana dia berada. Tapi ketika suatu bencana ditimbulkan dari sampah, ia justru menyumpah serapah pemerintah yang dinilai tidak becus bekerja. Dan lagi, soal petani Kendeng yang terancam tergusur oleh pabrik semen. Bisa jadi anakku kelak tidak kenal Indonesia melalui negara agraris. Atau anakku tak kenal mengapa kerbau membajak sawah, mengapa nenek tua membungkuk, dan berbagai musim tanam-panen dan jenis tanaman di sawah. Sebetulnya ini salah siapa? Lalu yang harus diubah yang mana? Kebijakan pemerintah atau diri kita sendiri yang bukan seorang Indonesia? 

Kian lama aku memendam tulisan dan pemikiran ini, justru aku berpikir bahwa Indonesia bukan lagi negara dengan penduduk yang ramah, sopan, dan bersahaja. Tapi penduduk yang masa bodoh, jika bukan kepentingannya ia tak ambil andil besar, dan jika tak ada imbalannya ia enggan menjadi partisipan. Atau mungkin Indonesia telah menjelma menjadi negara yang bermasyarakat apatis terhadap tindakan positif apapun tapi cerdas dalam menilai kelemahan orang lain dan tidak paham cara introspeksi diri. Atau kemungkinan lain adalah rakyat Indonesia sendirilah yang mengubah stigma bahwa Indonesia bukan lagi negara yang santun dan tertib. Pertanyaanku adalah, kini aku berada di negara mana dan sebagai siapa? Jika aku berhenti di lampu yang masih berwarna kuning dan lainnya menbunyikan klaksnon nyaring, atau jika aku memungut sampah yang berserakan di sekitar tempat sampah.

“Kita tidak mungkin memahami keseluruhan Indonesia. Indonesia adalah potongan2 informasi yang kita baca. #KitaYangMilih bahan bacaan :)” – I Made Andi Arsana (Dosen Geologi UGM)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s