Salam Cinta

Salam cinta dariku yang masih bisa hidup (re: menulis). Salam di penghujung malam seperti biasanya. Kuteruskan kehidupanku dengan untaian kata ini. Dan salam cinta untukmu yang telah kutemui, mengenalku, dan mencintaiku di sepanjang kehidupanku.

Tulisan ini berbau cinta, mungkin. Bisa juga keluhan, atau sarat rasa kantuk luar biasa. Setahun berjalan dan aku masih mencoba bertahan hidup. Aku pernah punya mimpi seperti kalian. Aku juga pernah punya kebanggaan seperti yang kalian punya sekarang. Aku juga sempat terkagum-kagum seperti kalian saat ini. Tapi aku juga pernah terbuang sia-sia di jalan. Aku pernah mengemis iba bagi mereka yang berjalan di depanku. Aku pun pernah mengutuk keras kerja Tuhan saat itu. Aku gagal di setiap jalanku. Aku lemah di semua keadaan yang kulalui. Aku tak berguna di hampir semua sisi kehidupan yang kujalani saat itu. Mungkin kalian tak akan percaya ini, silakan. Tapi nyatanya, aku pernah ditampar mentah-mentah oleh orang terbaikku, oleh yang kusayangi, oleh yang kukagumi. Dan semua itu sudah berlalu.

Mungkin kalian yang baru saja mengenalku, atau sudah lama tak berkabar denganku, bisa jadi menilaiku pada saat terakhir kalian bertemu denganku. Yang baru akan menilaiku saat ini, dan yang lama akan mengutip yang kemarin. Hidup ini asik, dan Tuhan lebih asik. Terkadang apa yang kita inginkan tak selalu terwujud, dan apa yang kita takutkan tak selalu terjadi. Terkadang kita benar-benar merasa mudah dalam segala hal, terkadang berada dalam hal tersulit dan hina.

Aku pun tak berniat mengorelasikan apa yang kudapat kini dengan masa lalu dan perjuanganku dari jatuh, tersungkur, terinjak, sampai kini aku memberanikan diri menatap awan. Tidak. Semua itu tidak bersinggungan, tidak berjalan satu arah. Hanya aku adalah manusia yang perlu gagal, manusia yang perlu dibuang, manusia yang perlu ketakutan, dan perlu Tuhan. Bukan berarti aku gagal dan aku bisa berhasil. Bukan soal aku bisa dan aku mampu. Tapi soal siapa aku ini.

Banyak lagi hal yang bahkan tak pernah kupikirkan akan terjadi. Tak pernah kuinginkan akan menghampiri. Tak bisa masuk dalam akal dan pikiranku, bahwa ini bisa terjadi begitu mudahnya, atau justru begitu rumit. Banyak kutemui orang-orang, tempat, dan problematika yang tak habis pikirku olehnya. Dan semakin jauh kumelangkah, semakin lebar kuberbicara, semakin luas kuberpikir, menyadarkanku bahwa sekecil ini diriku. Sebesar apapun aku mencoba mengeluarkan seluruh pengetahuanku, dan cukuplah dibantah dengan satu kalimat oleh satu orang saja. Dan ini cukup menjadi bukti yang menyedihkan, yang menjijikkan, yang sangat memalukan bahwa diriku bukanlah apa-apa, dan yang dapat kulakukan saat ini adalah belajar, mendengar, dan berpikir. Semakin aku berjalan baik bersama seorang, banyak orang, atau sendiri adalah kesempatan aku melihat lebih jauh. Inilah akhirnya kiranya salam terhangat dariku. Dari yang masih menjadi pendengarmu, pembacamu, dan penonton setiamu. Juga salam cinta yang selalu kusebut dalam doa.

Teruntuk kalian, yang kurindukan.

Yang pernah sejalan dan berjalan,

yang tersungkur dan masih belum hancur,

yang berdiri karena harga diri,

dan menepati janji Illahi.
Salam hangat,

Hera W. Pangastuti

Advertisements

7 thoughts on “Salam Cinta

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s