Pantaskah Aku Iri?

Hari itu, saat aku baru menonton berita bersama Papaku. Masih soal negara, perampokan rumah mewah, dan sidang kepala daerah. Jadi, menurutku biar semua orang bekerja dan bertindak sesuai kewajiban dan haknya (kalau bisa jangan sampai mengganggu dan menyalahi perundang-undangan). Ketika aku kembali fokus pada buku cerita menahun “Sherlock Holmes” yang populer itu. Tertunduk kepalaku dan mendapati notifikasi grup WA. Ternyata salah satu pegawai TU prodiku mengirim daftar nilai UAS kemarin. Kupencet gambar itu. Kau tahu, menunggu perputaran upload gambar itu seperti menunggu kekasihku mengucap ijab dan qobul. Wkwkw, sayangnya nggak punya kekasih dan belum mau ijab qobul. Setelah ter-upload secara penuh, reflek tanganku memencetnya dan terbukalah daftar nilai itu. 

Bbhhaaaankkk!

Untuk bahasa Inggris, aku lolos. Alhamdulillah. Untuk PKn, Agama, dan ISBD lolos juga. Alhamdulillah. Seketika aku terkejut kala melihat namaku diblok merah untuk mata kuliah Fisika Kesehatan. Baik nilai UAS dan responsi kurang dari KKM, yang berarti mewajibkanku untuk mengikuti remedial. Ya Allah:(

Well, nggak apa. Menurutku, akj memang kurang belajar Fiskes kemarin. Pun untuk materi responsi, sama sekali tidak membaca bahkan membuka catatannya. Jadi, wajarlah nilaiku menjijikkan.

Kemudian, kudapati banyak teman seperremedial yang kecewa. Yaa, ini pasti terjadi pada kalian juga. Baik di duni perkuliahan, sekolah menengah, bahkan sekolah dasar. Fenomena mencontek atau mengepek kini menjadi realitas tak berbatas. Tidak ada perundang-undangan yang melarang percontekan atau perbuatan curang dalam ujian. Memang, telah ada peraturan mengenai percontekan di tata tertib ujian. Tapi, ya begitulah realitasnya. Aku terhenyak ketika salah satu temanku yang (disinyalir) mencontek, mendapat nilai bagus atau lumayan bagus. Pokoknya lulus KKM. Dulu sewaktu SMA, aku juga merasakan hal ini. Aku berusaha jujur, dengan konsekuensi nilaiku seadanya. Sedangkan temanku mencontek malah mendapat nilai bagus. Tapi bagiku, fenomena ini wajar di SMA, karena keketatan penilaian masih berorientasi pada nilai akhir . Yang mana mengharuskan siswanya berjuang apa saja demi nilai akhir yang sempurna. Tapi, pikirkan sekali lagi. Pantaskah aku iri untuk nilai temanku yang (disinyalir) mencontek itu tadi? Aku tak menampik bahwa aku juga berdosa. Aku juga mencontek temanku. Aku bertanya jawaban yang tidak aku ketahui. Bahkan di bangku perkuliahan ini. Tapi itu tidak semata-mata aku berusaha membohongiku, membuatku berhenti belajar, dan menjagakan jawaban temanku. Bukan. Terkadang mahasiswa baru masih menyesuaikan sistem soal ujian, jika di SMA semua soal ujian hampir sama persis dengan di catatan. Tapi di perkuliahan, kita harus rajin-rajin baca jurnal, baca power point, baca berita tentang materi itu. Karena mahasiswa dituntut tidak hanya pintar dalam akademik, tapi juga peka terhadap keadaan sosial dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu. Itulah yang membuatkj mencontek, bertanya pada teman. Aku manusia, dan manusiawi. Aku bersalah, dan aku mengaku salah.

Kembali lagi, pantaskah aku iri?

Ketika UAS Fiskes dengan soal begitu luas, dan power point pun tak banyak membantu. Pengawas yang hebat, dan tempat dudukku yang strategis, di barisan ke dua dari depan. Wow. Jika masa SMA ku begitu berani membuka mesin pencari di tempat ujian barisan terdepan, kini aku sadar. Bahwa semuanya harus berubah. Masalah IPK, itu hanya hitungan manusia. Well, toh aku di sini belajar, bukan mencetak ijazah dengan nilai bodong. Dengan kesungguhanku, keikhlasan, dan niat baik, yaa baiklah aku mengalah. Aku remed. Remed. Sedih? Kecewa? Nggak. Iri? Haha.

Jadi, menurut kalian dengan tulisan seperti ini aku iri tidak?

Lalu, jika menurutmu aku iri, pantaskah itu? Padahal aku tidak bisa mencontek kala itu, dan aku remed.

Bagaimana pikiran kalian tentang fenomena akademi korupsi ini?

*Akademi Korupsi: Suatu sistem pembelajaran yang mendidik anak didiknya menjadi koruptor sedini mungkin. Akademi ini terselubung, berbentuk kebiasaan yang tanpa disadari menjadi keahlian. Satu-satunya akademi tanpa tes, hanya perlu keberanian dan rasa malu dan berdosa yang hilang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s