Aku menulis ini untukmu [1]

Besok ada hajatan besar. Banyak yang bergerak, membawa masa yang banyak, menggugat di jalan atas nama rakyat. Aku memang pemula, dan kuakui itu. Masih banyak diamku ketika diskusi, karena aku harus banyak mengerti sebelum banyak basa basi. Itu aku. Lebih nyaman sebagai pendengar dulu, karena berbicara itu mudah, tapi memahami itu pun tidak susah, tapi butuh keikhlasan. Banyak orang berbicara, menulis, dan bertindak dengan baik, dengan akurat, dan bermakrifat. Itulah yang menjadi panutanku. Dan aku tahu, bahwa mereka tidak terlahir seperti itu. Hidup mereka tidak semata-mata menjadi seperti itu. Ibu, Ayah merekapun jarang menyebut doa seperti itu. Jadi mengapa mereka bisa sebegitu mengagumkan? Karena mereka belajar. Karena belajar tidak memaksamu untuk pandai bicara, tapi tak bersubstansi. Belajar juga tidak menuntutmu selalu bisa unggul di antara yang lain, tapi lemah ketika bersaing. Belajar yang sebenarnya juga tidak membentukmu menjadi seorang pembenci, tapi mendidikmu menjadi seorang yang simpati. Kamu belum seperti itu? Baiklah, mari kita belajar bersama.

Besok akan ada hajatan besar, pesta rakyat katanya. Aku akan mendapat tugas baru, sebuah kesempatan untuk belajar dan mengoreksi diri. Aku penulis awam, sering salah ketik, dan keliru paham. Tapi aku mempunyai banyak teman, yang suatu saat aku bisa bertanya dan meminta masukan. Besok dia digugat, oleh sebagian besar yang mencintai keadilan, perindu kesejahteraan, pecandu kebenaran. Mereka meminta, menyebut namanya di depan banyak orang, dan menantang raja siang. Kamu ingin tergabung dalamnya? Tahukah kamu, bahwa jalan mereka, tapak kaki mereka, dan suara pekik mereka itu berbeda dengan yang kamu dengar, dengan yang kamu percaya selama ini, dengan yang kamu iguh-iguhkan selama ini. Beda. Di mana letak bedanya? Di semua hal. Kamu adalah satu di antara sekian banyak orang yang percaya dan berujar terima kasih, maka aku tidak. Ketika mereka menyerang dia, tapi kamu menyerang mereka. Ketika kamu bilang Ya, dan mereka teriakkan Tidak. Sudahkah kamu baca koran tadi pagi? Sudah lihat berita sore ini? Sudah dengar saudaraku yang tidak berkendara dan tidak pernah membeli bahan bakar di pulau seberang, mereka memang bukan makan bensin! Bukan! Mereka seperti kita, makan nasi! Ya nasi yang sudah tidak lagi diimpor, katamu. Tapi apa nasi bisa terbang sendiri? Bisa tanak sendiri, setelah saudaraku berkata “aku ingin makan”? Bisa? Tidak!. Saudaraku tidak berkacamata sepertiku. Matanya masih normal, sepertimu. Tapi separuh harinya dia habiskan untuk menerka gelap, menanti bulan, berharap tak hujan agar sinar bintang pun bisa masuk ke gubugnya. Dan dia tetap diam dan gelap malam.

Besok mereka menggugat. Menuruni jalan yang biasa kamu lewati untuk ke kampus, menemuiku dan yang lain. Besok mereka tumpah ruah, atas namamu –rakyat Indonesia. Kamu rakyatku, bukan? Apa yang kamu dapat dariku? Apa yang kamu telah berikan untukku? Uang, harta, benda, janji, mimpi, ucapan manis, harapan, atau keyakinan? Mana, di mana? Aku mau lihat. Pernahkan kamu berkata terima kasih untuk 1 buah cabai yang gratis kamu ambil di hutan? Atau kangkung yang segar di pinggir rawa. Atau bayam yang nikmat disayur. Atau kayu yang kuat dari tanahku. Semuanya milikku. Jadi apa milikmu yang berhak kumiliki?

Aku menulis ini bukan untuk mereka yang besok menggugat, tapi untukmu. Untuk kesetiaanmu menjejak tanahku, menghirup enak udara milikku, menganggap hal benar mengganti tanahku menjadi semen, membuat mereka yang mlarat menjadi semakin sekarat. Aku tidak ingin sombong terhadapmu, juga pemikiranmu. Tapi aku ingin bilang, bahaya jika manusia seusiamu hanya berdiri di pojok lapangan saja. Matamu lebar, isi otakmu masih sedikit, beban hidupmu belum begitu rumit, ayo keluar dari garis ketiak Ibumu. Keluarlah mencari pegangan baru. Karena yang kamu lihat saat ini benar, besok akan berubah. Dan yang kini kamu anggap baik, mungkin tidak untuk yang lain.

Surakarta, 08 Januari 2017

Membalasmu, yang meragukan kepemilikanku!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s