Aku menulis ini untukmu [2]

Aku suguhkan kembali sekelumit pemikiranku untukmu, teruntuk kamu. Biarkan aku menulis dengan hatiku, pena, dan idealisme yang aku tumbuhkan di sini. Secara jujur, aku tekankan bahwa aku menulis untukmu. Kamu! Mungkin sedikit berbeda dengan pembawaan tulisanku dengan judul yang sama di bagian satu kemarin. Jadi, nikmatilah.

Aku adalah mahasiswa baru yang terkadang masih salah memilih jalan untuk pulang dari beberapa fakultas di kampusku. Terkadang juga masih salah kira tentang banyak hal yang terjadi seputar perkuliahan. Tapi aku bergerak untuk membebaskan diri dari belenggu kebodohan dan kemalasan yang biasanya menghinggapi para maba. Aku mencoba hal-hal kecil yang kukira bisa mengubah hidupku, minimal. Misalnya menulis seperti ini. Taukah kamu, aku memerlukan waktu 2 malam untuk mengumpulkan keberanian dan akhirnya memutuskan untuk menulis ini kembali, dengan judul sama, dan teruntuk kamu yang sama.

Tahukah kamu, segala sesuatu terikat menulis? Secara profesionalisme, kamu dan aku memang bukan mahasiswa di bidang kepenulisan atau kesusastraan. Bahkan sangat tidak menyinggung hal menulis. Tapi sewajarnya seorang mahasiswa pasti pernah membaca. Apapun buku yang kamu baca, sekalipun komik, aku apresiasi itu. Setidaknya kamu telah menghidupkan budaya literasi bagi dirimu sendiri. Tapi wahai kawanku yang budiman, aku mulai jengah kembali padamu ketika dengan mudah dan santainya kamu menganggap kegiatan menulis itu hal yang “gampang” yang seakan bisa dilakukan dengan serampangan. Sungguh menusuk di hati. Aku tahu, bahwa latar belakangmu mengeluarkan pernyataan itu adalah ketidaksepahamanmu terhadap salah satu tulisan dari kawanku. Terlebih tulisan itu mengenai politik dan negeri ini. Baiklah, aku menghargai pikiran dan otakmu yang telah mengeluarkan respon itu. Tidak bisa kupungkiri bahwa isu politik dan kebijakan Presiden adalah isu paling renyah akhir-akhir ini. Juga hakmu untuk berpihak pada siapa atau memilih netral (yang sedikit mencaci salah satu pihak) juga kuhormati. Tapi, yang membuatku tidak setuju adalah pernyataanmu yang menampik pemahaman temanku soal dunia kepenulisan.

Mungkin jika kalian pembaca tulisan ini, menaganggap penilaianku terlalu berlebihan, silakan. Pun bagi kalian yang setuju, silakan. Tapi izinkan aku untuk mengemukakan ketidaksetujuanku atas pernyataanmu yang menganggap menulis adalah hal biasa yang sangat gampang.

Aku memang bukan penulis hebat, yang disukai banyak orang. Bahkan untuk menaikkan statistik blogku ini, aku harus memposting url-nya di berbagai media sosialku. Selain menaikkan statistik tadi, juga dalam rangka menyebarluaskan pemikiranku dan menampung segala komentar untukku, tulisanku, bahkan pemikiranku. Jumlah buku yang kubaca pun masih sangat sedikit, belum mencapai 50 buah. Pun belum mencakup semua genre dan dari karya penulis terkenal. Bahkan aku belum berhasil menjuarai satupun lomba menulis di awal tahun ini. Dan yang perlu kalian tahu, aku pun bisa terjun dalam kepenulisan dan jatuh cinta di dalamnya juga karena seorang teman SMAku. Dalam arti lain, aku hanya dijerumuskan, bukan tertarik sejak awal. Tapi sepanjang keberjalanannya, aku mulai memahami sepenuhnya, menulis, membaca, dan berpikir. Ketiganya adalah kesatuan yang solid. Pada awalnya aku tergabung dalam komunitas penulis yang digawangi oleh teman SMAku tadi. Ruri namanya. Dia penulis konsisten dan cukup membuatku mengobarkan semangat menulis meskipun ala kadarnya. Ruri juga menyemangati semua temannya, termasuk aku untuk konsisten menulis, membaca, dan diskusi. Sebuah contoh sederhana yang patut diapresiasi. Aku akui bahwa tidak semua tulisanku sarat makna, mungkin masih sekadar curhatan hati semata. Tapi, setidaknya aku punya keberanian untuk mengabadikan pemikiranku dalam aksara. Dalam keberjalanannya, aku tidak seketika menjadi gemar menulis panjang lebar seperti ini. Ruri menyarankan untuk gemar baca buku dulu, baru menulis. Karena menjadi pembaca yang cerdas akan membuatmu mempunyai pandangan yang benar.

Karena dengan kamu mencintai karya orang lain, kamu akan mencoba membuat karya untuk dicintai orang lain.

Aku tidak ingin membencimu karena kamu kurang suka dengan karyaku. Justru aku membutuhkan orang-orang sepertimu untuk membuatku semakin semangat menulis dengan konten yang berbobot, bukan sekadar daily life. Tapi kumohon pengertianmu. Silakan kamu tidak menyukai tulisan orang lain karena temanya, seperti tema politik dan sebagainya. Tapi jangan menganggap tulisan itu lahir karena sudut pandang sang penulis yang kamu kira sebagai “penguatan kekuasaan”. Jika kamu memang pembaca yang cerdas, sekalipun kamu tidak menulis, kamu pasti bisa memosisikan dirimu sebagai penulis itu. Kamu bisa menilai sudut pandang dan segala opini bahkan data yang disuguhkan oleh penulis tersebut.

Ketahuilah menulis itu teramat susah. Aku menyatakan ini bukan karena sedang gaung hoax, UU ITE, dan makar. Sudah sejak zaman kolonial bahwa kegiatan menulislah yang paling ditakuti oleh siapapun penguasa. Misalkan Pramoedya yang dengan gigih menulis meskipun berada di balik terali besi. Bahkan banyak dari karyanya tak sempat diselamatkan karena sudah menjadi buruan pihak yang merasa disudutkan. Hingga kini, karya-karya beliau memang masih bertengger di hampir banyak negara. Dan karena tulisannya, pemikirannya, pergerakannya, kita bisa belajar banyak hingga kini. Ada lagi, Wiji Thukul. Beliau sejatinya hanya seorang penarik becak, rakyat kecil seperti kita adanya. Tapi kebenaran membuka matanya, menggerakkan tubuhnya, turut andil dalam goresan karya-karya penggugah semangat pergerakan. Bukan hanya ancaman yang beliau dapat, bahkan hingga saat ini keberadaannya pun hanya Tuhan yang tahu. Sebegitu besar risiko yang mereka terima demi sebuah karya besar berpondasi kebenaran. Seharusnya kamu paham, seharusnya kamu tersadar. Jika kamu menulis tanpa belajar, membaca, dan memahami, kuakui intelegensimu tinggi. Tapi, jangan semena-mena merendahkan kekuatan dan alasan di balik seorang menulis, kegiatan menulis, dan segala hal tentang menulis. Karena dirimu pun sendiri belum pernah menyebarluaskan karyamu untuk konsumsi khalayak banyak dalam bentuk tulisan. Dan menurutku, sebagai penulis karbitan yang masih harus digembleng kritikan menganggap sikapmu yang seakan “menganggap gampang” segala hal tentang kepenulisan, sehingga membuatmu tidak menghargai tulisan orang lain sebagai karyanya, buah pikirannya, adalah hinaan yang luar biasa kejam. Bukan hanya untukku yang pemula, tapi bagi mereka yang notabene penulis hebat dan rela mengorbankan diri mereka demi “tulisannya” yang bisa saja merubah negeri ini. Kukira semua penulis tidak akan serampangan dalam membuat karyanya. Jika memang mereka tulus dan berniat baik menyebarkan dan memropagandakan kebaikan, kurasa tak mungkin ada hal yang patut disepelekan. Terlebih ancaman perundang-undangan saat ini yang mengikat kuat informasi-informasi dan penggunaan media, termasuk tulisan. Karena kita hidup di atas negara hukum, maka semuanya harus sesuai dengan hukum. Itulah mengapa kini aku lebih berpikir panjang ketika aku hendak menulis sesuatu, bahkan untuk membuat tulisan dengan tujuan balik menyerangmu. Jika kamu masih tidak sependapat denganku, silakan. Aku tidak pernah memaksakan sedikitpun. Jika spesialisasimu adalah mengritik, cobalah untuk menjadi mereka para penulis. Mereka tidak egois! Mereka adalah manusia pemurah, yang rela membagi ilmunya, pengalamannya, dan hidupnnya kepada siapapun. Coba berkacalah. Apakah dirimu pernah menulis pengalamanmu? Tidak! Bahkan kamu tidak pernah tertarik membaginya. Dan jika kebahagiaanmu adalah dengan mengritik, baiklah. Tapi apakah kamu telah benar dalam membaca tulisan itu? Kamu telah benar paham apa maksud, tujuan, dan arah pandang sang penulis? Sudahkah kamu khatam akan bahasan yang penulis itu angkat? Kurasa jawabannya tidak. Bahkan ketika aku menyebarkan karyaku yang kurasa wajar, kamu dengan mudah membalas,

“Ah, dowo banget. Males maca” (re: “Ah, panjang banget. Males baca”

Jadi beginikah, budaya mengritik? Bahkan membacanya saja tidak kamu lakukan. Mengapa kritik itu bisa keluar dengan mudahnya? Tak merasa berdosakah kamu?

Sekali lagi kuperjelas, menulis bukanlah hal mudah! Ada banyak elemen yang terkandung di dalamnya. Ada banyak kriteria yang harus dipenuhi untuk membuat tulisan itu bisa menjadi baik dan berbobot. Menulis dan mengetik itu BERBEDA! Camkan! Ada perbedaan besar di sini. Menulis adalah melahirkan pikiran atau perasaan yang sejatinya tak berwujud, kasat mata, bahkan bisa saja hilang dalam hitungan detik. Sedangkan mengetik yang berarti menulis dengan mesin tik. Sampai di sini kiranya kamu harus paham. Menulis pun membutuhkan media, misalnya pena dan kertas atau jika saat ini bisa mengetik di ponsel. Tapi kegiatan mengetik hanya untuk mesin yang mempunyai spesifikasi tik. Sedangkan menulis bisa dilakukan di media lain selain dengan mesin tik. Dan yang harus kamu pahami lagi adalah, menulis itu MELAHIRKAN, MEMBUATNYA BERWUJUD, MEMBUATNYA ABADI; PEMIKIRAN dan PERASAAN. Jadi bisa kamu bayangkan bahwa tanpa menulis, seperti apakah negeri ini. Dan renungkanlah, bahwa pergerakan yang paling aman dan tepat sasaran adalah menyebarkan pemikiran melalui tulisan.

Aku tidak berhak mencapmu buruk dengan segala idealisme dalam otakku. Tapi mari kita berjalan di jalan yang kita anggap benar. Dan cukupkanlah merasa hebat dengan mengambil posisi netral tapi lebih sering mencaci satu pihak. Itu sangat menjijikkan.

Aku menulis ini untukmu, teruntuk kamu! Kamu yang ingin kucerdaskan. Meskipun tak pernah ada niat di hatimu untuk membuka lamanku ini. Tapi, biarlah mereka yang berkesempatan membaca ini, semakin mengerti. Bahwa jalan pikiran kita berbeda! Pun kuucapkan beribu maaf untukmu, teruntuk kamu! Dengan segala kerendahan hatiku, jika tulisan ini membuatmu berubah di suatu masa nanti.

 

Klaten, 11 Januari 2017

Dariku, penulis karbitan

Teruntuk kamu, spesialis kritik tanpa saran

Siapa suruh menabuh genderang perang!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s