Seuntai Kata Maaf

1458035447545

Jangan menjelaskan tentang dirimu kepada siapapun. Karena yang menyukaimu tidak butuh itu dan yang membencimu tidak percayai itu. (Ali bin Abi Thalib)

Apa saja yang kutulis di sini adalah sebenar-benarnya keadaan hati, pikiran, dan simpatiku teruntuk kalian; teman seperjuangan, kawan seperkuliahan.

Bukan kehendakku menyusahkan kalian, sungguh. Aku berani bertaruh pada Tuhan untuk kalimatku ini. Aku pun tak menyangka akan seperti ini pada akhirnya. Tapi beginilah Tuhan bekerja, untukku, dan kamu. Aku tak menuntutmu membaca penuh untaian kalimat yang mungkin kalian rasa alay ini. Tapi tujuanku menulis kata demi kata hingga menjadi kalimat maaf ialah usahaku berkomunikasi pada Tuhan. Biar Tuhan yang memulai, biar Dia yang membimbing apa yang kita jalani, dan hanya Tuhanlah yang berhak mengevaluasi.

Teruntuk kalian yang harus membuat 1 judul lagi, ayo semangat! Kita masing-masing nggak pernah tahu nasib & ketentuan Tuhan. Salah satunya puncak kesabaran. Puncak kesabaran untuk ketentuan-ketentuan Tuhan yang mendadak menampar kita. Terkadang kita merasa berada di ketidakadilan yang menyedihkan. Namun, sesungguhnya Tuhan dengan cara seperti ini telah memberi keadilan luar biasa yang memang tidak kita sadari.

Aku bukan Sang Dewi yang Mahaagung, bukan pembaca nasib, bukan malaikat suci. Aku sama seperti kalian. Kita dalam jalan yang sama. Posisi, kedudukan, dan perlakuan yang kita dapatkan adalah sama, setara. Tidak ada yang kuharapkan dari serentetan tugas ini. jadi mari kita pikul bersama; beban, tanggung jawab, dan pembelajaran ini. Untuk masa kini dan depan kita bersama.

Tanggung jawab, pengorbanan, pertaruhan ini dalam satu bidak yang tidak begitu luas, dalam satu rentang waktu yang tidak begitu lama. Kita berada pada satu sirkuit yang sama. Jika diumpamakan laga balapan, kita adalah pembalapnya, perkuliahan ini adalah sirkuitnya, dosen sebagai komentator, dan keluarga adalah kru. Sirkuit hanya akan membentuk skill kita pada arena itu. Komentator pun hanya pengamat yang tak lebih hanya penjual buih pembicaraannya. Lalu pembalap, sebagai sentra utama dalam laga ini. Kita yang menentukan kecepatan, skill, dan manufer yang diterapkan pada sirkuit ini. Bukan sirkuit yang menyesuaikan skill kita, BUKAN! Bukan pula komentator atau kru. KITA, hanya kita yang bisa menyesuaikan segala kondisi, ruang, dan waktu. Dan sebagai pertanggungjawabannya, kita harus menang untuk kru yang telah berjuang di balik layar. Perumpamaan sederhana ini, seharusnya kalian pahami wahai kawanku.

Jadi kumohon berhentilah mengeluh, mengutuk, dan mencaci tanpa membuat solusi. Mengawali memang sulit, menjalaninya pun lebih berat, menyelesaikan pun harus cermat. Aku yakin, kalian bukan remaja menjelang dewasa yang mudah menyerah apalagi kalah. Bahkan kalian menang banyak dariku yang sekadar melaksanakan ujian Tuhan. Kalian pun melaksanakan perintah Tuhan, tapi kalian lebih menggebu daripadaku. Dan itulah semangat yang kalian miliki. Jadi, kobarkan semangatmu, ini bukan ajang untuk menjadi kecil!

Aku punya dosa besar dari setiap keluh, kesal, dan kutukan kalian meskipun bukan atas namaku. Tapi biarlah kita jalani terlebih dahulu. Ini belum merupakan ujian terberat dalam hidup kita. Kalian dan aku hanya mesti membuat 1 judul lagi, tak lebih. Pun hanya sampai mengikuti  saja sudah mendapat nilai B. Aku selalu merasa bersalah ketika kalian mengeluh dan merasa semua ini adalah hal yang berat untuk dijalani. Tapi percayalah, Tuhan tak pernah tidur, tak pernah menolak doa, dan selalu bersama di hati kita. Percayalah!

Bukankah kalian selalu mengagungkan kalimat ini; “Yang penting itu cara kita berproses. Hasil itu urusan akhir”. Lalu mengapa proses yang singkat ini kalian caci? Jangan membenci Tuhan ketika kalian berada di posisi sulit. Karena aku pernah membenci Tuhan ketika aku kesusahan, tapi Tuhan tak pernah membenciku. Jangan menolak segala keputusanNya. Karena tanpa ketetapannya, kita hanyalah seonggok daging menjijikkan nan tak berguna.

Mengertilah kawanku. Bahwa di hari di mana kita bekerja kelak, bukan hanya lembaran kertas yang kita pertanggungjawabkan, tapi amanah dari Tuhan. Begitupun selama perkuliahan ini. Bukan hanya uang kuliah saja yang kita bela untuk berangkat setiap paginya. Tapi doa yang telah Tuhan kabulkan dari malam-malam sebelumnya, ketika kalian kalang kabut mencari sekolah lanjutan. Renungkanlah!

Maka, maafkan temanmu yang nista ini, yang membuat liburan kalian penuh pikiran dan desakan nilai. Maafkan, sungguh biar Tuhan membimbing kita. Aamiin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s