[Refleksi Part I]; Indonesia Adalah Peta-Peta

Kita telah dipeta-petakan, dipagar-pagari oleh pemikiran dan pendapat masing-masing yang dioperatori media. Sehingga kita terlihat pandai, tahu, tapi tidak peduli kebenaran yang sebenarnya. Mengerikan. Kita seolah menjadi pelaku tapi selalu terpaku dalam kendali. Kita menjadi pecinta yang fanatik dan buta sebelah mata. Atau menjadi pembenci gelap mata.

Kita telah ditempatkan pada bilik-bilik besar, yang berdinding tebal, tinggi, dan rapat. Apapun tidak mampu terjamah oleh individu dari dalam maupun luar. Sehingga yang kita tahu adalah apa yang jatuh dari atas, apa yang terjadi di antara kita. Tanpa mengerti siapa yang menjatuhkannya, dan apa penyebabnya. Yang kita pahami adalah langit menciptakannya, menjatuhkannya, untuk kita -yang terkurung selamanya. Juga yang terjadi antara kita. Buah dari kontak antar individu, antar beberapa orang -yang sebenarnya satu pemikiran, yang entah venar atau salah. Kita adalah makhluk-makhluk yang terbunuh logikanya, dihabisi akal dan kemampuan berpikirnya hanya karena dinding ini, dan hidup bergantung pada apa yang jatuh dari atas.

Kemudian terjadi kisruh luar biasa. Yang secara tidak kita sadari, semua itu terjadi karena kebodohan dan kekuasaan. Kita telah dipaksa menjadi individu dalam ruang sempit yg selalu disetting dalam satu ruang, pemikiran, suara. Dan hanya membela satu opini -yang jatuh dari langit. Terkadang kita beradu pendapat, gagasan, tapi semuanya sirna ketika drama kembali diputar. Kita dicekoki sekuel-sekuel yang rumit, yang sebenarnya tiada pengaruh bagi kita.

Apa yang kita dapat bagaikan hujan berlian, ternyata hanya tipuan. Mengacau, mencabik, merusak kebebasan berpikir dan bersuara. Dan yang paling menyedihkan adalah dinding itu sangat kuat. Sehingga pergerakan seperti apapun akan lumpuh, meski menghadap pada kebenaran. Dinding itu tak ubahnya seperti cetakan manusia. Kita dipaksa menjadi satu macam saja. Seperti roti dalam kaleng.

Satu hal yang saya masih dengungkan, bahwa kebenaran tak boleh tandus di tanah ini. Meski harus membusuk di dalam ruang ini, aku tetap suarakan yang benar pada mereka yang masih bertahan. Meski bergetar saja dinding itu, tak urung aku mati di situ. Menjadi suara tak terkendali, mengimbangi mereka yg berada di posisi tinggi. Agar bisa subur kebenaran itu. Mewakilkan keberanian, kesucian, dan segaal bentuk pemikiran dari kami yang parlemen jalan. Atas izin Tuhan.

Mau dibungkam dengan cara apa pun, mau disudutkan dengan isu apa pun, kebenaran tetaplah kebenaran. Ia akan hadir dengan caranya sendiri (Fiersa Besari)

Indonesia adalah peta-peta, yang tidak terpisahkan. Satu skala, satu pencipta, satu penghuni. Hanya saja, ada sebuah dinding yang kian kemari kita bangun sendiri terhadap sesama kita. Ada sebuah keinginan untuk berdikari, tapi cenderung menjatuhkan harga diri orang lain. Indonesia adalah peta-peta yang tergambar luas. Yang tak habis kita nikmati hanya dengan memandang tiruannya. Hanya saja, kita seakan membuat sekat di antara banyak keindahan. Menilainya dengan faktor perbedaan. Merefleksikannya menjadi pemikiran-pemikiran yang buram. Indonesia adalah kita, kita adalah refleksi peta-peta. Saat ini.

Dalam: Refleksi 3 tahun Sukma Pangastuti

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s