[Refleksi Part 2]; Perempuan dan Make Up

Percuma cantik, pakai make up fresh setiap menit, la wong disenyumi malah mlorok i. Hmm, aku ncen klumut he Mbak. Ngapunten lo, bar nglajo~

Menjadi pribadi yang slow itu sulit lo ya, misalnya ikhlas disinisi sama Mbak yang syantik tapi harus tetep senyum. Biar first meet kita asoy. Pun menjaga etika bahwa saya lebih muda dan Mbak lebih tua, sehingga saya memang harus menjadi pribadi yang ramah. Toh tidak ada ruginya saya mengulas senyum, meskipun tidak berbalas senyum.

Begitupun Ibuku mengajariku bahwa make up hanya topeng. Yang mana hidup dengan bertopeng itu menjijikkan. Jadi Ibuku menyarankan untuk ber-make up setelah aku menjadi diriku sendiri. Ketika aku sudah mempunyai tokoh dalam diriku, maka tokoh itu tidak akan tertutup oleh make up. Dan tetap menjadi identitas utamaku. Nah ini menjadi alasanku mengapa sampai detik ini aku hanya sebatas menggunakan pelembab dan bedak bayi. Karena baru keluar kamar kos saja, sudah balik buluk lagi wkwkw.

Dan Ibuku selalu berujar bahwa yang terpenting adalah kesehatan wajah, bukan menarik atau tidaknya. Kesehatan, kebersihan, dan kerapian itu teramat penting di mata Ibuku. Lebih dari apapun. Sehat, agar aku selalu hidup dalam kebaikan dan maksimal. Sekalipun hanya wajah, harus terlihat sehat. Bersih adalah awal dari wajah sehat. Menjaga kebersihan tubuh adalah piranti yang penting, apalagi seorang perempuan. Rapi, perempuan itu cermin dari apapun; bangsa, rumah tangga, dirinya sendiri, latar belakang keluarga, apapun. Penampilan yang cacat sedikit saja, akan berbeda nilainya. Perempuan adalah cermin hidup, yang bernilai dan berharga.

Ibuku juga berpesan bahwa aku boleh ber-make up secantik apapun, tapi dari hasil kerjaku dan tetap beretika (Misalnya tetap ramah dan senyum). Artinya, aku harus bekerja dan menghasilkan uang untuk memenuhi kebutuhan kecantikan-ku. Apa alasannya?

Karena Mama beli bedak, lipstick, apa saja setelah Mama kerja. Dan semua itu mahal. Tapi Mama masih bisa ngasih makan kamu, sekolahin kamu. Jadi kalau mau cantik ya cantikan dirimu pakai apapun yang kamu punya. Mama hanya bisa menjaga kamu agar tetap sehat! Makanya, kamu harus bisa mencari uang, bekerja, mandiri. Biar kalau mau beli bedak, nggak usah minta suami.

Sebenarnya tidak ada yang salah dari seorang perempuan yang berdandan. Malah mereka terlihat cantik. Banyak pun laki-laki di masa muda beridealisme bahwa perempuan yang berdandan tebal, berwarna, terlalu berlebihan dan menjadi ilfeel. Tapi masa iya, mau sama yang buluk kalau yang seger ada? Haha.

Ini bukan kontradiksi antara saya dan perempuan lain yang sudah pandai berdandan. Bukan. Saya justru suka melihat mereka. Ada yang garis matanya lugas, bulu mata lentik, dan gincu yang duhay. Saya juga perempuan, saya juga kelak akan berdandan. Tapi belum sekarang. Saya pun bukan berarti tidak setuju dengan perempuan yang berdandan dengan warna yang berani. Mereka cantik, sungguh. Semua perempuan cantik. Itulah pedoman saya. Meskipun saya tidak seputih mereka, saya tetap merasa cantik. Ini pun bukan bentuk pembelaan karena ketidakmampuan saya dalam berdandan. Tapi memahamkan laki-laki bahwa semua perempuan dianugrahi kecantikan baik ber-make up maupun tanpa make up itu sulit.

Bahkan ada yang berpikir bahwa perempuan adalah racun dunia. Menyedihkan. Perempuan adalah cermin, warna, dan ibu. Perempuan sebagai warna dalam kehidupan secara luas. Warna yang hadir bukan merah, hitam, putih, dan lainnya. Tapi warna dalam hati. Perempuan adalah ibu bangsa. Seperti prakata Soekarno bahwa perempuan itu tiang negara. Jika perempuan itu baik, maka jayalah negeri. Jika perempuan itu buruk, maka hancurlah negeri. Perempuan memang tidak memanggul senjata. Tapi perannya di balik layar lebih besar.

Mengilhami pesan dari Ibuku, bahwa cantik bukan berarti harus berdandan dan berwarna. Tapi beretika yang utama. Ketika make up itu menghiasi wajah kita (perempuan) tetapi etika tidak punya, atau malah menggunakan tampilan cantik ini di jalan yang salah, maka seperti kata Soekarno; hancurlah negeri.

Perempuan itu berlian, yang bercahaya ketika ditimpa sinar, yang tetap bernilai tinggi meski berada di kubangan. Perempuan itu matahari, meski tidak semua perempuan sumber penghasilan, tapi minimal dari satu perempuan kita mendapat kasih sayang (ibu). Perempuan adalah garda kekuatan, yang tak surut meski kesetaraan ia sandang, tapi kewajiban rumah tangga tetap ia emban.

Dalam: Refleksi 3 Tahun Sukma Pangastuti

 

Advertisements

3 thoughts on “[Refleksi Part 2]; Perempuan dan Make Up

    • Maunya sih lipstick mate sekalian ajaaah. Biar ada kesan basah lembab gitu. Tapi entahlah, kayanya blm punya naluri keperempuannan. Karena selalu “eman-eman” kalau beli kosmetik yg harganya selangit. MENDING BUAT BELI PENTOL, MIE AYAM, PEPAYA. Wuahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s