Mengisahkan Cinta

Siapa makhluk yang tidak merasakan cinta, kasih sayang? Hewan pun menciptakan interaksi dan kondisi untuk saling menyayangi, hidup berdampingan, saling menjaga ekosistem dan lain sebagainya. Manusia pun sama bahkan lebih dari itu. Manusia menjadi makhluk paling sempurna secara fisik maupun mental. Dan oleh karena itu, seharusnya cinta dan kasih sayang yang timbul dari interaksi manusia akan lebih bermakna dibanding cinta yang ada di antara kawanan hewan.
Mengisahkan cinta adalah kelucuan. Bahwa cinta hadir di beberapa waktu berbeda bahkan tak pernah bisa dikira. Tapi cinta selalu ada, selalu berwujud, dan memiliki makna. Indahnya seperti bunga di musim mekar, energinya seperti matahari, dan ranumnya bak rembulan di pertengahan bulan. Banyak yang menafsirkan cinta menurut perasaan, pengalaman, dan pengertiannya masing-masing. Tapi mengisahkan cinta hanya perlu satu kalimat; merindu adalah pekerjaannya,  menjaga seperti kekuatannya, dan tumbuh seiring waktu memakannya.


Cinta menyoal hati, menerjemahkan rindu, dan menafsirkan keadaan hati. Cinta itu mampu memilih, dan tidak buta. Cinta dapat memilih siapa yang menurutnya pantas. Bukan menutup segala logika, tapi logika yang telah mengizinkannya untuk menetapkan pilihan. Cinta tidak membuat manusia gelap mata, tapi nafsu yang sedang berkobar menguasai pikiran. Cinta tidak pernah berteman dengan cemburu, tapi ego yang menguasai kalbu. Menyoal cinta itu seperti memberi wujud keikhlasan. Ini berlaku dalam cinta terhadap apapun. Orang, atau saya dengan mudah mengelus dada dan berkata “saya ikhlas, kok” tapi selalu mengungkit, berpikir, atau sekadar terbayang hal itu. Tapi ketika ditanya benci atai tidak? Terkadang kita mengangkat frasa manusiawi, sebagai tameng untuk membenci, untuk tidak suka, untuk merusak hati ini perlahan -merusak cinta. Seharusnya frasa manusiawi-lah yang menjadi alasan mengapa kita harus menguatkan cinta menjadi ikhlas yang sebenarnya. Mengapa membalikkan faktanya? 


Membuktikan cinta tak melulu pada pasangan, tapi banyak objek yang bisa kita bagi kebahagiaan padanya. Mengisahkan cinta tidak luput dari perhatian, simpati, dan mempekerjakan hati. Cinta tidak menutup hati untuk satu objek saja. Tidak. Tapi cinta menumbuhkan banyak variabel dan alasan untuk membagi rasa suka, bahagia, atau sekadar simpati. Jika kita mampu mengejawantahkan cinta sebagaimana porsinya, saya yakin interaksi antar makhluk hidup semakin membaik dan terjalin hubungan positif. Bahkan saya kira akan mampu mengembangkan diri terhadap banyak individu di ranah yang lebih luas.

Mengisahkan cinta, seperti menceritakan nikmat Tuhan. Seperti diriku yang pernah sakit hati. Dada ini terasa nyeri, tapi tidak satupun urat atau otot ini putus. Lalu apa yang membuatku nyeri? Terkadang cinta pun berwujud kesedihan. Bukan berarti menjatuhkan, tapi cinta akan menguat seiring usaha kita untuk bangkit. Karena tanpa jatuh, bangkit tidak ada artinya.


Mengisahkan cinta, sama seperti mengisahkan kehidupan. Bahwa tujuan hidup adalah hidup yang memiliki tujuan.

Mengisahkan cinta seperti mengeja rencana Tuhan, terkadang benar, lebih sering keliru. Tapi cinta adalah perwujudan dari kasih sayang, yang tak perlu diragukan, tak melulu soal degup jantung yang “sar ser” di depan dia, juga tak selalu genggaman tangan yang menjerat. Cinta itu perkara ikhlas, terhadap apapun.

Surakarta.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s