Bermain Cantik Tidak Selalu Membuatmu Panen Kritik

Akhir-akhir ini keadaan negara memang sedang bergoyang. Seperti ombak mendayung, lebih sering mengombang-ambingkan bahkan membuat kapal karam. Banyak polemik hilir mudik, tak kenal lelah, tak mau permisi, langsung ambil posisi. Tak pilih kasih, siapa saja dirundung masalah dan intrik. Mulai dari Jaksa besar, Mentri, Ketua dewan, Gubernur, bahkan sekelas Bupati. Lucunya, justru masyarakat kecil yang tetap bergidik dingin ketika malam, dan mengurut perut kala siang. Kami lapar, kami tepar. Bahkan hingga rakyat kecil mengungkapkan telah dibelenggunya kebenaran di negeri ini, mereka tetaplah berpaling muka. Kejadian buruk tak sekali dua kali menampar rakyat kecil. Kukira rakyat Indonesia adalah manusia paling tegar dan mudah menaruh percaya juga pemberi maaf. Mereka tak sungkan memaafkan dan tetap menyambut hangat petinggi negeri yang sedang mampir ke daerah mereka. Pun ketika musibah terjadi, mereka tak sungkan juga untuk mendoakan yang terbaik dan tetap berbuat baik demi kelangsungan hidup. Sedangkan ada jenis manusia lain yang tetap anteng-anteng saja di antara banyak gonjang-ganjing perkara dan nasib negara yang seakan sudah di ujung tanduk saja. Saya pikir, mereka tetap fokus pada masa jabatan mereka masing-masing.

Tapi Indonesia tetap bisu, hanya rakyatnya yang bisa bicara. Mewakilkan sebagian orang dari berbagai organisasi berkebutuhan tak ubahnya seperti titip absen di perkuliahan. Bagi yang nitip ya nggak dapet apa-apa, bagi yang dititipi ya maruk sebanyak-banyaknya. Bukan berarti mereka yang nitip absen nggak boleh dapet bagian dari perkuliahan. Yaa, memang begitu konsekuensinya kalau diwakilkan. Pasti ada lebih dan kurangnya. Nah, apa iya rakyat harus urun rembug semua? Indonesia itu luas, lho. Rakyatnya berjuta-juta, tapi yang penghasilannya ribuan rupiah per hari juga masih banyak. Saya bukan ahli tata negara, hukum, atau peradilan. Tapi beginilah adanya. Saya sedang berada di surga, yang jika mau menikmatinya harus rekasa dulu.

“Indonesia sedang tidak baik-baik saja, kawan. Mari kita kerjakan. Bukan saatnya tidur atau duduk ngopi saja. Mahasiswa itu garda terdepan perjuangan. Hari Minggu bukan berarti tanggal merah untuk pergerakan. Ayo kita diskusi biar kalau aksi nggak kosong mlompong, plonga-plongo, dan keliatan goblok.”

Propaganda menjadi racun-racun dan bius yang indah di masa seperti  ini. Media memegang arti penting apa itu sebuah informasi. Ada yang berdalih netral, ada pula yang enggan mengusut tuntas polemik negara karena perusahaannya dipegang orang partai. Banyak orang menilai propaganda sebagai ujaran bernafsu dan berpengaruh signifikan, instan, bahkan terkesan grusa-grusu. Sebenarnya jangan. Jangan nodai nama antik propaganda sebagai bentuk kiasan untuk memengaruhi secara massiv tapi pasif. Membentuk massa yang instan, tapi kurang berkembang. Biasanya yang seperti ini bisa gampang goyah pendiriannya, pemikirannya, apalagi semangatnya. Kalau sudah goyah, dikira memecah belah, dan akhirnya kubu ini memang akan pecah. Jangan sampai. Sangat disayangkan. Propaganda ditujukan agar sebuah pandangan, pemikiran dari seorang, atau suatu golongan agar terang terhadap orang lain atau golongan lain. Bisa bersifat memengaruhi dan mengarahkan pandangan. Namun, belakangan propaganda sebagai ujaran yang instan, prematur, dan seruan yang kosong. Ini tidak boleh diteruskan. Tapi ada pula propaganda yang semangat, berkobar, berapi-api, tulis sana sini, mengumbar opini lugas, tapi lupa satu perkara. Perkara publik, perkara bahwa publik tak mesti mudah menerima ujaran itu, menerima opini itu. Atau, kubu-kubu lain akan terbentuk. Yang akhirnya, propaganda bukan menghasilkan kesepahaman, melainkan melahirkan perlawanan. Mari dicermati kembali. Bukan hanya propaganda mahasiswa yang terkadang loyo atau malah menggebu. Terkadang memang pengenalan pandangan kepada masyarakat atau sesama itu sulit. Bukan hanya terjadi pada mahasiswa, pun seperti Tan Malaka yang mencoba mengenalkan dirinya pada masyarakat, untuk lebih mendekatkan diri pada elemen pembentuk negara ini. Namun, belum selesai pula, masalah lain sudah melintang, membatasi gerak aktor Marxis ini. Tak banyak masyarakat yang sepakat dengan pemikiran Tan sendiri. Meski berkali-kali melakukan diskusi dan perundingan.

Maksud saya, bukan berarti propaganda itu salah, tidak baik, atau berdosa. Yang jelas, dalam menerangkan pikiran masyarakat luas, mari kita sejajarkan harkat kita sebagaimana tujuan propaganda kita. Halus, tapi masuk. Tidak menimbulkan kecemburuan, tapi merajut persatuan. Jika memang terdapat beberapa linting pemikiran atau individu yang alot, tetapkan janji bahwa pergerakan bukan mematahkan persaudaraan sesama rakyat, sesama mahasiswa, tapi tetap memanggul tanggung jawab untuk kebenaran dan keadilan bagi rakyat banyak. Bukan juga amlem, toh jangan disangka mereka yang dingin tidak tahu apa-apa, tidak bisa urun rembug apa-apa. Bisa jadi, mereka menjadi pendengar dalam diam, mata yang nyalang dalam gelap, atau sosok yang hadir dan pulang bawa cerita. Jangan remehkan itu.

Bergerak itu harus cepat, iya. Berpikir juga harus teliti. Apa lagi menyangkut hal banyak, orang banyak, soal banyak, bukan cuma biar terlihat gerak karena yang lain sudah gerak. Jadi bukanlah saya mengajakmu bersantai ria, bersanjung hati, atau bernyanyi menirukan artis di TV. Tapi ayo, mbok kita banyak belajar dulu. Katanya nggak mau dikontrol media, berarti kita harus lebih cerdas dari media. Kalau sekadar gerak tanpa ada yang tahu, itu seperti sholat tanpa niat. Terlaksana, tapi kosong.


Sekelumit saja. Jika salah banyak, keliru pula. Maafkan.

Mari segera tuntaskan, jangan gegabah. Kesannya seperti koruptor kalau liat uang proyek. Gas-gasan, angah-angahen, war wor. Cuma untuk korupsi. Jangan sampai.

Kalau bisa mengelus ayam sambil membakar dagingnya, kenapa tidak?



Sepanjang siang memikirkan apa itu propaganda~

Hera Pangastuti

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s